Ada sebuah cerita tentang bagaimana manusia bersikap layaknya seseorang yang paling benar dalam memiliki persepsi. Bahkan apa yang menjadi persepsinya merupakan hasil dari proses ia berpikir dan bernalar secara pribadi. Begitupun dalam menafsirkan sesuatu, ia dengan sesuka hawa nafsunya menjadikan sebuah peristiwa yang awalnya tercapai keteraturan sampai terjadi ketidakseimbangan antara batas berfikir manusia dengan nalar Tuhan semesta alam.
Seperti beberapa kasus, setiap tahun yang begitu-begitu saja terulang. Entah itu tentang ucapan, perilaku, tindakan, sampai sikap dari insan yang memilih ceroboh terhadap apa yang ia yakini secara buram.
Indonesia seperti kalian ketahui memilki 6 agama resmi terdaftar negara, yang mungkin banyak diluar sana mengaku agama atau kepercayaan kebatinan mengaku berasal dari nenek moyang bangsa Indonesia dan diyakini merupakan agama asli dari Nusantara itu sendiri. Perihal agama yang masuk, bahwa sebelumnya kita pahami dulu makna sebuah agama. Karena agama merupakan sarana, dan Tuhan menjadi tujuannya. Agama merupakan pedoman untuk menuju Tuhan, dan sejatinya hanya ada satu agama yang paling benar atas kehendak Tuhan itu sendiri. Sisanya bagaimana? mereka berjalan dengan hawa nafsu mereka sendiri, diperkuat dengan godaan-godaan bahwa merekalah yang paling benar.
Oke baiklah, disini kita sudah mulai memasuki ranah terkait akidah dan keyakinan seseorang. Bahwa keyakinan tersebut ada dari manusia terdahulu yang menerima wahyu langsung dari tuhan, hal inilah yang seharusnya menjadi paling make sense untuk membuktikan bahwa agama dan tuhan itu ada. Setidaknya hanya sebagian kecil saja tentang pembuktian keberadaan Tuhan, yang selama ini ditentang oleh kaum ateis yang berfikir pendek melalui nalar mereka yang salah.
Akidah merupakan pegangan paling awal, yakni mengesakan Tuhan. Tiada Tuhan selain Allah Azza wa Jalla. Mengakui keberadaan tuhan selain Allah merupakan bentuk kesyirikan yang nyata. Karena sesungguhnya bentuk toleransi yang benar adalah bukan mempercayai bahwa agama selain Islam itu benar, tapi menyerahkan kehendak mereka untuk mempercayai apapun yang mereka percaya tanpa kita memaksa untuk memeluk agama Islam. Kadang beberapa masyarakat, yang mungkin akhir-akhir ini mencuat lagi bahwa ia dengan semborono menafsirkan makna toleransi seenak nalar mereka sendiri, dengan alasan ada beberapa yang katanya Ulama membenarkan tindakan mereka. Perlu anda ketahui, memahami agama tidak sebercanda itu.
Orang-orang terdahulu sampai berjuang mati-matian hanya demi mendapatkan sepenggal kisah dan hadist, lalu mengumpulkannya. Lalu pada hari ini kamu memegang teguh penafsiran salahmu itu?
Saya disini tidak ingin membahas bagaimana ucapan selamat natal, bagaimana huku terompet, bagaimana jika seseorang merayakan tahun baru masehi sampai larut malam. Tapi hanya ingin memberi perspektif lain dari sebuah peringatan. Bahwa kalian berfikir kenapa rakat indonesia masih saja berkutat pada hal-hal itu saja, sedangkan negara lain sudah menerbangkan roket sampai ke Bulan. Rakyat Indonesia yang dimaksud sebagaimana data BPS bahwa mayoritas beragama Islam, perlu anda ketahui bahwa apakah pendaratan di Bulan merupakan cita-cita bangsa ini? apakah membuat artificial intellegence dan robot yang canggih merupakan arah gerak bangsa ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan para pahlawan pendahulu? apakah kalian yang berkoar-koar bahwa indonesia bukanlah arab lantas kalian lupa apa yang kalian pahami sekarang ternyata bukan paham Indonesia seutuhnya?
Cobalah dari kalian yang katanya paling open minded berfikir ulang atas apa yang kalian jalani dalam kehidupan sampai hari ini, tak ada yang sempurna dari manusia itu, maka ada konsep bagaimana kita saling mengingatkan tentang kesalahan atas apa yang kita perbuat. Bukan malah mengeneralisasi konsep tentang suatu kaum bahwa kaum itu paling salah. Bisa jadi apa yang mereka perbuat, suatu hari nanti apa yang anak cucu kalian ikuti. Sebagai seorang dewasa seharusnya kalian berpikir lebih jernih, lebih visioner bukan hanya tentang dunia, tetapi juga bagaimana tanggungjawab di akhirat kelak. Karena ingin saya ingatkan kembali, terutama ini juga pengingat bagi saya bahwa kehidupan ini hanya permainan saja, sekarang bagaimana kita mempermainkan ini secara benar atau malah kita hanyut akan permainan yang fana ini.
Terima kasih, bila ada salah kata mohon dikoreksi dan dimaafkan. Allahu ‘alam bissowab.
Malang, 24 Desember 2019 - Meniti Pulang