Seberat-beratnya lelah adalah ketika tidak melakukan apapun.
Fai_Ryy
$LAYYYTER
Cosmic Funnies
Lint Roller? I Barely Know Her
KIROKAZE
🪼

#extradirty
RMH
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo
Game of Thrones Daily
Show & Tell

Kiana Khansmith

gracie abrams
tumblr dot com

titsay

Discoholic 🪩

No title available

blake kathryn
No title available

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Australia
seen from Singapore

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Colombia

seen from Nicaragua

seen from United Kingdom
seen from Iraq
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from Syria
seen from Australia
seen from Germany

seen from Ireland

seen from United Kingdom
@merklaptop-blog
Seberat-beratnya lelah adalah ketika tidak melakukan apapun.
Merendah untuk Meroket
Apa yang kamu katakan demi merendah untuk meroket adalah apa yang kamu tak mampu capai.
"Apa atuh gue mah, ga ada yang mau temenan sama gue makanya temen gue cowo semua."
Mungkin yang kamu harapkan adalah tanggapan "wah, keren sekali mempunyai teman lelaki banyak, pasti obrolannya seru, ya?" namun tidak, sayang, kalimatmu adalah bentuk ketidakmampuan dalam membangun relasi dengan berbagai gender. Kalimatmu hanya penyelamat atas keenggananmu mengeksplor kalangan lain, yang mungkin lebih "girly".
Jika situasinya saya balik menjadi "apa atuh saya mah, teman saya perempuan semua". Apakah respon yang didapat akan sebaik kalimatmu di atas? Bisa jadi responnya ikut berbalik menjadi "itu sih kalau kumpul-kumpul pasti topiknya ngegosip, atau bahas make up, atau ngomongin cowo, ih!" Hanya respon negatif yang didapat.
Pelukan Khayalan
Aku pernah kecewa, marah, sedih. Di situ aku merasa sendiri. Kepada siapa aku akan berbagi, agar kesalku tak meluap-luap. Saat itu aku hanya ingat kamu, sayang. Bahkan di saat biasa pun aku hanya ingat kamu. Lalu aku mulai bercerita, tentang hariku, yang membuatku sendu. Mungkin kesalku karena kesalahanku, yang hanya mengerti apa mauku, tanpa menyadari kaidah hidup bersama orang lain di dunia ini. Orang lain tak sepenuhnya menyebalkan seperti dia, ada juga yang membuatku merasa berharga, seperti kamu. Iya, bahkan ketika aku bercerita, aku telah siap dengan petuah apa yang akan kau lontarkan, siap pula untuk menyangkal semua tuduhan darimu yang menyatakan aku yang salah.
Beberapa jam kemudian, muncul notifikasi terpampang di layar ponselku.
"unread message(s) from (your name)"
Aku menarik nafas panjang. Aku bahagia seketika. Aku masukkan kata sandiku, tak sabar melihat apa balasanmu. Klik.
*stiker karakter Line, Brown dan Connie berpelukan*
Itu saja?
Namun entah apa aku ini. Dari sekian puluh kata yang aku ketik, hanya dibalas dengan stiker line. Aku kira aku akan kecewa melihat responmu, tapi mengapa aku malah lega?
Rasanya seperti aku datang bercerita ke rumahmu, aku bercerita dengan ekspresif, menuangkan segalanya, yang kamu lakukan di sana hanya mendengar tanpa sekalipun memotong. Lalu ketika aku membuang nafas setelah selesai bercerita, kau tidak berkata apapun. Melainkan hanya pelukan yang kau beri.
Aku mengartikan sebuah stiker peluk itu sebagai "hey, tenang saja. Aku di sini. Aku tidak akan memberi komentar tentang siapa yang salah dan yang benar. Kamu datang kepadaku untuk bercerita kan? Terima kasih telah mempercayakan aku untuk menjadi tempat ketika kau bahkan bingung hendak ke mana. Aku ada untukmu. Jika aku peluk seperti ini, apakah perasaanmu dapat lebih baik?"
Lalu aku menangis, seperti menangis di peluknya. Pikirku penuh imajinasi. Namun aku lega. Ya, orang-orang kadang hanya ingin meluapkan emosinya. Petuah-petuah tidak akan didengar, pasti akan disanggah.
Sayang, sekarang aku sedang kecewa, marah, sedih lagi. Namun kamu kini sudah pergi. Aku rindu kamu peluk. Aku rindu kamu di sini.
Ruang Tunggu
Dalam temaram cahaya kuning kejinggaan, ia duduk menepi. Bersandar pada sebuah kaca, entah itu dinding ataukah jendela. Kakinya selonjor dengan simetris. Yang pasti kepalanya menunduk. Menatap sebuah buku yang terbuka di genggamannya. Matanya lihai. Bibirnya terkatup. Ia mencari setiap makna di balik yang ia baca. Tak terpengaruh oleh desas-desus kecil di kanan kirinya. Sesekali sambil melirik jam tangannya. Hitam berukir corak-corak merah pada talinya. Jam yang ia beli dari jatah beasiswanya beberapa tahun lalu. Matanya terpejam sedetik. Kepalanya tak mengarah pada buku lagi, ia mencoba membaca suasana. Di kanannya adalah perempuan seusianya. Bercakap dengan seorang berkacamata, mungkin temannya. Belum sempat ia menengok ke kiri, hidungnya menangkap bau yang tak biasa. Tajam. Ia tak menyukainya. Wewangian ini membuatnya menutup bukunya. Di bawah temaram cahaya kuning kejinggaan, ia menutup matanya. Gelap. Yang mampu ia dengar adalah sebuah suara langkah kaki menghampirinya, pelan kemudian menjadi cepat. Pemilik langkah kaki segera histeris memanggil namanya. Dalam hitungan detik, ia tak mampu mendengar apa-apa lagi. Sunyi.
Bahaya Sakit Hatinya Seorang Lelaki
Wanita lebih sering mengekspresikan perasaannya di depan umum maupun tulisan. Wanita mengikuti nalurinya. Sementara berbeda dengan lelaki. Ia mengesampingkan naluri. Bahkan ia sulit menunjukkan ekspresi. Hal itu menjadikan lelaki lebih suka bertindak ketimbang berbicara. Seperti halnya ketika lelaki merasa kecewa dalam hidupnya, apalagi dalam hal percintaan. Jika wanita hanya bisa merenungi kisah cintanya yang kandas dan lalu menangis. Sebagian lelaki akan melakukan beberapa tindakan agar sakit hati tak merajainya lagi. Bunuh diri merupakan salah satu keputusan yang diambil lelaki untuk mengakhiri masalahnya. Namun ada juga beberapa tindakan yang ia lakukan yang berakibat merugikan orang yang menyakitinya. Saya akan menceritakan tindakan-tindakan nekat yang benar-benar terjadi di kehidupan orang lain di sekeliling saya. Saya akan bercerita dari pihak wanita alias korban. Yang pertama, dialami oleh teman adik saya yang juga tetangga saya. Sebut saja namanya Julie. Usianya sekitar 19 tahun. Sebagai wanita, saya pun mengakui kecantikan Julie, kulitnya putih, matanya sipit, dan alisnya bagus. Bukan seperti orang Tionghoa, melainkan seperti orang Bandung. Kepribadian Julie pun menyenangkan. Ia bukan hanya akrab dengan teman seusianya, tapi juga dengan bayi-bayi sampai orang-orang tua. Julie mempunyai seorang pacar bernama Faisal. Usianya terpaut cukup jauh, sekitar 5-6 tahun. Rumahnya dekat juga dengannya. Mereka berpacaran selama hampir 3 tahun. Bahkan Faisal sudah melamar Julie tahun lalu. Kecintaan Faisal terhadap Julie sangatlah besar. Dari semenjak Julie lulus sekolah tahun lalu, Faisal dengan setia menemani kemanapun Julie akan interview. Lalu setelah Julie diterima kerja, Faisal bahkan berniat membelikan Julie sepeda motor agar mempermudah perjalanan Julie menuju tempat kerjanya. Namun Julie tolak dengan alasan Julie tidak mau berhutang budi. Bulan demi bulan Julie bekerja di tempat itu, sebagai petugas kasir pintu parkir. Walaupun melelahkan, namun Julie bahagia karena teman-temannya menyenangkan. Sebagai orang yang ramah dan cantik, tak khayal jika ia banyak penggemar di kalangan laki-laki. Ajakan traktir sering ia terima dari beberapa teman lelakinya. Menjalin hubungan selama tiga tahun tak mudah mereka lewati. Faisal sering kali mengajak Julie untuk menikah. Namun Julie yang masih menikmati masa mudanya, tak mau. Lama-kelamaan hubungan mereka sampai pada titik jenuh yang dirasakan Julie. Faisal merasa tak lagi jadi prioritas. Sampai suatu saat kabar tak menyenangkan sampai ke telinga Faisal. Bahwa ada seorang lelaki di tempat kerja Julie yang dekat dengan kekasihnya itu. Faisal geram. Saya pribadi tidak tahu apakah Faisal sempat mendiskusikan gosip ini dengan Julie. Yang saya dengar hanya cerita tentang Faisal mendatangi tempat kerja Julie. Ia datang dengan emosi yang meluap-luap. Dengan sebuah pisau di tangan kanannya. Ia menunjuk-nunjuk teman-teman kerja Julie dengan pisau. Mencari siapa lelaki yang berusaha mencuri Julie darinya. Teman-teman Julie sontak ketakutan dengan kejadian itu. Terutama Julie, ia merasa sangat malu. Faisal berhasil ditangani oleh satpam di gedung itu. Kemudian mereka berdua, Faisal dan Julie, dibawa ke sebuah ruangan. Disitu mereka disidang, manajernya ikut turun tangan. Sampai akhirnya pada sebuah pertanyaan, "Julie, saatnya keputusanmu untuk memilih. Kamu lebih pilih pekerjaan atau tunanganmu?" Sang manajer tak mau kejadian serupa terulang lagi. Dan akhirnya Julie memutuskan Faisal dan memilih pekerjaan. Hingga kini, saat Julie telah bersama lelaki lain, Faisal masih terus berharap pada Julie. Berharap agar semuanya dapat diperbaiki. Namun Julie bersikeras menolak. Julie berharap, Faisal pun segera mendapat pengganti Julie, agar tak ada tindakan nekat lainnya yang dilakukan Faisal terhadapnya. Kedua, adalah kejadian yang dialami oleh Salsa. Salsa anak kelas 3 SMA semester awal. Ia supel dan mempunyai teman dari manapun. Saya mengenalnya karena ia masih merupakan tetangga satu komplek. Salsa tinggal bersama kedua orang tuanya yang sudah sepuh. Mereka tak bekerja lagi, kehidupan keluarganya ditopang oleh saudaranya. Kejadiannya hampir serupa dengan Julie. Seorang lelaki, sebut saja namanya Jajang, datang membawa-bawa sebuah samurai ke rumah Salsa. Jajang meminta Salsa untuk mau menerima cintanya. Salsa dan kedua orang tuanya kalang kabut di dalam rumah. Tak tahu apa tindakan yang harus dilakukan untuk menangani lelaki bersenjata tajam tersebut. Sampai ibunya mempunyai ide untuk mengirimkan broadcast ke tetangga-tetangga. Isinya tentang meminta tolong kepada para tentara untuk segera ke rumahnya, karena ada seorang lelaki yang mengancam anaknya dengan samurai. Kebetulan di komplek kami, ada beberapa keluarga marinir yang tinggal. Broadcast itu langsung menyebar dari grup-grup whatsapp sesama penghuni komplek. Tak butuh waktu lama, para tentara telah berkumpul di rumah Salsa. Tak ada pertarungan apapun. Nyali Jajang ciut ketika melihat segerombolan tentara. Akhirnya Jajang pun disidang. Ia disuruh menandatangani surat perjanjian di atas materai yang menyatakan bahwa ia tidak akan mengancam Salsa lagi. Okay. Case closed. Ketiga, ini dialami oleh teman ibu saya. Sebut saja namanya Bu Tinah. Kejadian ini berlangsung saat Bu Tinah masih belia, ia baru lulus SMA. Ia menaiki bus, hendak ke suatu tempat. Tiba-tiba ada supir bus yang menggodanya. Dengan rasa jijik, Tinah memandang rendah supir itu, menghina, kemudian meludahinya. Supir bus yang terpaut 20 tahun lebih tua itu sakit hati. Ia memutuskan untuk pergi ke dukun. Pelet ia layangkan pada Tinah. Di hari kemudian, Tinah yang berbalik mengejar-ngejar si supir. Padahal si supir telah memiliki istri sah dan anak-anak. Tinah pun berhasil merebut si supir. Ia bahkan datang di sidang perceraian lelaki itu dengan istrinya. Setelah cerai, si supir menikahi Tinah. Tahun ke tahun, Tinah mulai sadar ia tak mencintai suaminya. Mereka telah mempunyai seorang anak. Namun suaminya main gila lagi dengan mantan istrinya sampai hamil. Tinah kecewa, hendak menceraikan suaminya. Pernikahannya tak didasari cinta. Namun petuah-petuah dari sahabatnya menguatkannya. Ia tetap bertahan. Bahkan hingga sekarang, saat suaminya sudah lumpuh karena usianya yang telah renta, Tinah masih disana. Itulah sebagian cerita-cerita yang saya dapat dari orang-orang yang saya kenal. Apakah kalian pernah menjadi korban sakit hati seorang pria? Saya pribadi untung saja tidak pernah mendapatkan hal tidak menyenangkan seperti kejadian di atas. Hanya saja saya pernah mengalami kasus pencemaran nama baik oleh mantan pacar saya. Ia menulis nama saya dengan lengkap dan menurutnya betapa saya menyakiti hatinya di sebuah sosial media. Saya ingin klarifikasi juga terkait tuduhan tersebut. Bahwa saya, atas nama Amida Redella, menyatakan bahwa tuduhan tersebut adalah tidak benar adanya. Saya berhenti menghubunginya ketika kami bahkan tidak memiliki ikatan apapun selain pertemanan, dan saya memutuskan meninggalkannya adalah karena saya ingin memulai sesuatu yang baru, sementara ia masih menganggap saya pacarnya. Dan lelaki lain bukan menjadi alasan saya meninggalkannya, karena di waktu tersebut saya sedang sibuk-sibuknya Kerja Praktek di luar kota. Karena jejak digital di zaman sekarang adalah alat yang berbahaya. Sejak tulisan mantan saya diposting pada 2016, masih saja ada yang berkomentar pada tahun 2017. Saya sudah memohon kepada mantan saya agar menghapus tulisan tersebut. Namun katanya, lupa password. Saya juga sudah melaporkan terkait postingan tersebut. Semoga cepat terselesaikan. Semoga siapapun dari kita, baik wanita maupun lelaki, bisa menjaga mulut dan perilaku kita. Agar tidak sampai mengalami kejadian tidak menyenangkan karena menyakiti hati orang lain.
Materi Sensitif
Indonesia memiliki beragam umat beragama. Di antaranya lima yang diakui, yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu. Sementara sisanya dikategorikan sebagai penganut kepercayaan. Sering orang-orang penganut kepercayaan nenek moyang ini mencatutkan salah satu dari agama yang diakui di Indonesia agar memudahkan administrasi. Sering juga orang yang mengaku mengambil agama tertentu sebagai pilihannya, namun tidak menjalankan perintah agama dan ritual-ritual ibadah lainnya. Kebanyakan orang berpegang pada suatu agama adalah karena mengikuti keyakinan orang tua. Seperti saya, dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga muslim di lingkungan yang mayoritas muslim. Dilahirkan pun belum tentu akan dibesarkan dari keluarga yang sama pula. Saya merasa beruntung karena tidak ada orang yang dapat memilih akan dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga macam apa. Saya sering tertegun ketika saya mengikuti kajian-kajian agama. Tidak jarang ada yang berceramah bahwa non muslim akan masuk ke dalam neraka sebanyak apapun kebajikan yang ia kerjakan. Kemudian saya kecil bertanya, lalu bagaimana yang dilahirkan dari keluarga non muslim? Ia menjawab, semoga mereka mendapatkan hidayah. Hidayah menurut pandangan saya adalah sebuah karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya, dan tak lain adalah sebagai penuntun agar hamba-Nya semakin dekat kepada-Nya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa mendapatkan hidayah. Saya kecil berpikir, orang yang terlahir di keluarga non muslim tidak pernah meminta ia dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga seperti itu, ia tak bisa memilih. Yang saya sanksikan adalah mengapa di kajian agama dapat dengan mudah menentukan siapa-siapa yang masuk surga dan neraka. Bukankah lebih baik jika dalam kasus ini untuk memperbanyak syukur kita? Daripada menilai kaum beragama lain tak lebih baik dari kita. "Marilah anak-anak, kita mengucap hamdalah, karena kita termasuk orang-orang yang beruntung dilahirkan dari keluarga muslim dan dibesarkan di antara lingkungan mayoritas muslim. Bukan berarti yang non muslim tidak lebih baik. Namun setidaknya takdir kalian mempermudah langkah kalian dalam beribadah," begitulah seharusnya yang diajarkan tenaga pendidik kepada murid-muridnya. Karena usia dini adalah di mana karakter mulai terbentuk. Seharusnya doktrin-doktrin kebencian terhadap agama lain tidak ditularkan pada anak-anak. Mereka akan mengiyakan segala materi yang ia terima. Karena merasa orang dewasa lebih tahu segalanya. Saya ketika kecil disekolahkan di sekolah berbasis keagamaan, lebih dikenal dengan sebutan Madrasah Ibtidaiyah. Saya kecil selalu menari-nari di atas pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu saya sampaikan. Tentang apakah orang non muslim sejahat itu? Bahkan teman sekolah dasar saya, sampai saat ini, jika mengatai temannya dengan sebutan Kristen. Apakah agama lain telah menjadi kata umpatan? Sementara ayah saya menjadi pencuriga, lantaran teman sekolahnya yang pindah agama. Temannya tersebut menikah dengan seorang pria beragama lain yang menjadi mualaf karena ingin menikahi wanita tersebut. Singkat cerita, setelah mereka memiliki buah hati, sang pria non muslim kembali lagi kepada agamanya. Ia mengancam akan mengambil hak asuh anak jika istrinya tidak mengikuti agama suaminya. Akhirnya istrinya pun terpaksa berpindah agama. Ayah saya telah melabeli agama tersebut jahat. Karena tipu muslihatnya yang menjadikan temannya tersebut terpaksa berpindah agama. Padahal, saya pikir, memang iman sang wanita itu saja yang goyah. Bukan berarti iman saya kuat. Namun apa yang ditakutkan dari sebuah perpisahan? Ia sangat menyayangi anaknya? Maka ia dapat mengajukan di pengadilan bahwa ialah yang berhak mendapatkan hak asuh. Atau takut jika tak bersama suaminya ia tak dapat menopang ekonomi keluarganya lagi? Jika ia percaya, ada Tuhan sang pemberi rezeki. Atau ia terlalu cinta suaminya? Jika takdir berkata mereka harus berpisah, bukankah Tuhan telah menjanjikan akan menggantikan sesuatu dengan yang lebih baik? Begitupun jika keluarga kami mendapatkan undangan jamuan makan malam dari keluarga non muslim. Was-was akan mereka menggunakan minyak babi dalam memasak telah menghantui keluarga kami. Minyak babi sulit didapat dan mungkin lebih mahal juga harganya. Entahlah. Namun apa untungnya bagi mereka menghidangkan jamuan dengan menggunakan minyak babi. Bukankah lebih baik jika datang awal, ikut membantu memasak, sehingga yakin yang kami makan adalah makanan halal. Lain lagi dengan proses pemakaman dari agama lain yang memperlakukan jenazah dengan cara dibakar, atau yang sering disebut dengan kremasi. Guru saya menilai itu sebagai perbuatan yang tidak manusiawi. Telah dibakar di bumi, nanti terkena api neraka pula. Saya menahan diri saya untuk tidak berkomentar apapun. Bagaimanapun ia adalah guru saya. Walaupun saya kurang setuju dengan apa yang disampaikannya. Seperti yang pernah saya baca, reinkarnasi adalah simbol bahwa jasad tak dapat dibawa, kesucian hati lah yang mampu membawa mereka ke level selanjutnya, maka dari itu jasad dikremasi. Ada juga yang membuang abu jasad ke sungai, karena semua akan kembali ke alam dan air adalah zat yang suci dan mensucikan. Pikir saya, tak dapat kita menghakimi agama tertentu. Fokus saja pada ritual ibadah yang kita jalani. Pada dasarnya semua agama membawa umatnya dalam kebaikan. Dan pemeluk agama merasa bahwa agama mereka yang paling benar. Bersinggungan itu sah dalam hidup di bumi. Namun tidakkah lebih baik jika kita berdamai? Tulisan ini hanyalah sebagian ekspresi saya yang tak mampu saya ungkapkan dalam kehidupan nyata. Saya menyadari ada banyak kekurangan. Sehingga saya meminta maaf jika ada golongan yang tersinggung. A.R. - 03 Februari 2018
Sembuhkan aku dari segala nafsu Angan untuk menemuimu Aku bukan bayi cengeng yang masih menyusu Sungguh ingin meraih, bukan diraih aku
True Love?
Fenomena yang marak terjadi sekarang ini, hanya dalam hitungan hari berkenalan, kemudian langsung mengajak menikah. Netizen be like, “wow, the power of love. I wanna be like them omg.” Ya emang subhanallah banget sih. Gue liat di televisi ataupun media sosial banyak kasus kaya gitu. Apalagi pasangan muda yang ta'aruf. Terus kemaren gue tonton di sebuah reality show, ada pasangan muda, yang cewe bercadar, yang cowo musisi. Nah si cowo ini ngeliat instagram si cewe dan tiba-tiba katanya hatinya langsung berdegup. Dan dalam waktu 3 jam setelah kenalan, langsung ngajak nikah. Padahal ya si cowo itu gatau muka asli cewenya juga kan. Tapi gue perhatiin sih cewenya cakep juga, dilihat dari matanya bagus dan hidungnya mancung.
Yang kaya gitu bisa goes viral karena jarang terjadi kan ya. Sampai saatnya gue kenal sama seorang cowo. Dia baru pertama kali chat gue nih semalem. Kebetulan juga dia segrup. Tiba-tiba minta foto close up. Ya kali dia petugas kelurahan. Mau gue mintain e-KTP tuh. Gue bikin tahun lalu belum jadi juga. Apalagi emak bapak gue. Udah dua tahun kali dah, masih aja megang selembar kertas HVS kemana-mana. Haha.
Tapi dia tetep maksa kan tuh. Padahal gue udah ngeles seribu jurus. Sampe gue jujur kalau gue nggak nyaman kalau dipaksa-paksa gitu. Dia bilang cuma mau tau doang lah. Habis diliat mau dihapus lah. Tetep aja kan risih aku tuh jadi cewe kalau digituin.
First impression, he was very nice. Tapi lama-lama kok gini sih. Kok garing. Kalau garing ya kuahin lah. Hehe. Apalagi pas minta foto maksa gitu. Okay I changed my mind. I don’t respect him anymore.
Akhirnya gue bilang kalau gue mau upload di Whatsapp story. Sama aja sih. Tapi kan at least gue jadi lebih ikhlas gitu. Daripada gue upload khusus buat dia lewat chat. Emang siapa dia. Hadeeh. Lebih baik upload di Whatsapp story. Sekalian memuaskan mata para fans aku yang nomernya udah sama-sama saling simpan. Hehe.
Aku sengaja tuh upload story nantian aja ah. Lama-lamain. Eh bener dia chat lagi biar aku upload sekarang. Ya okay aku upload. Dan dia langsung komen dong.
“Cewe secantik ini kenapa nggak aku pepet dari dulu ya?”
Pelecehan.
Pertama, gue nggak ngerasa cantik.
Kedua, lah jadi lu maunya kenal sama yang cakep doang?
Ketiga, ooh jadi lu kenalan sama cewe tuh modus biar bisa nyari pacar ya?
Mana nanyain lagi apa lagi apa terus lagi. Sudah tercap. Basi.
Okay, kita lanjut ke topik utama ya gengs.
Tadi dia baru saja mengumumkan di media sosial kalau dia itu udah jadian. Sama cewe yang jadi korban pepetannya. And you know what. Mereka aja baru saling follow lima hari yang lalu. Yes. L - I - M - A. Dan saat ketemuan, si cowo ini nembak cewe ini. Padahal baru beberapa jam ketemu. Dan cewe ini mau aja. OMG.
Gue be like, “Hellaw mba, lu baru kenal dia beberapa hari yang lalu. Ketemuan baru sekali dan langsung jadian? What?” (dalam hati). Ehehe.
Ngeliat dari kisah-kisah percintaan sekarang. Emang lagi zaman sih model begituan. Dianggapnya romantis. Takdir mempertemukan. Dan si cowo emang gentleman juga, berani nyamperin cewe itu dan langsung nembak. Kaya kisah di film-film.
Tapi gue kenapa masih nggak percaya. Like cewenya itu, kalo kata orang jawa, ora ngutek. Lu belum kenal kepribadian dia gimana dalam waktu beberapa hari aja. Dan lu terima aja gitu di tempat, lu bilang yes I do? Nggak pakai adegan, “ummm, nanti ya aku pikir-pikir dulu. Aku kasih jawabannya setelah pesan-pesan berikut ini.”
Dan bisa-bisanya cowo ini masih aja ngerayu aku kemaren, terus sekarang udah jadian sama cewe lain?
I’m not jealous at all. Please, dear.
Gue cuma merasa lagi menonton drama in real life. And it’s right in front of my eyes. I mean, on my phone. Haha.
Aku cuma bisa hufttt.
Jadi bertanya-tanya apakah true love ada? Dan apakah gue mempercayai true love, sementara cara pandang gue aja gini. Tapi cinta emang ajaib sih.
Akhir kata, saya kata-katain. Nggak deng, bercanda. Saya mau ucapin selamat aja. Semoga semuanya bukan settingan dan kalian akur-akur aja yes. Kalau bisa sih buktikan sampai jenjang karir, eh, jenjang pernikahan maksud saya.
Gue Komo undur diri. Peace, love, and gaul!
Aku membolak-balik halaman demi halaman. Mencari sebuah sobekan kertas yang menyelip. Di halaman ke 58, aku menemukannya. Aku ambil. Membacanya sekilas. Kemudian wajahku segera berpaling padamu. Kau tersenyum simpul. Matamu tak hentinya menatapku dari balik kacamatamu. Aku menunduk. Ku baca lagi tulisan di kertas. Di sini. Lagi lagi di sini. Tempat kita bertemu. Setidaknya sebulan sekali. Beraroma kertas-kertas lapuk. Di sebuah ruangan di lantai dua gedung ini. Kita duduk di kursi kayu bercat coklat. Berhadap-hadapan. Dipisahkan oleh sebuah meja kayu berbentuk persegi. Sesekali kita berbisik. Tenang saja, karena petugas penjaga terlalu sibuk berkutat dengan komputernya. Dalam hening, kita hanyut dalam suasana ini. Tinggimu yang melebihiku, membantuku menggapai isi rak yang tak mampu kucapai. Kebiasaan ini, menyelipkan sajak-sajak di antara dua halaman, sudah kau lakukan setelah kali ke-tujuh kita bertemu di sini. Dan sajak pertama yang kau sampaikan adalah ajakan untuk menjadikanku sebagai teman hidupmu. Atas jawaban yang kau tunggu-tunggu, aku menganggukkan kepala. Pipiku tak mampu menyembunyikan rona merahnya. Aku merapikan mejaku. Mengembalikan beberapa yang kupinjam ke tempat semula. Kau juga melakukan itu. Tiba-tiba tanganku telah ada di dalam genggamanmu. Kita melangkah ke luar pintu bertuliskan exit. Seperti hari-hari yang lalu, aku bahagia. Aku berjanji, esok kau akan kujumpai lagi di tempat yang sama. Sebuah tempat dengan aroma kertas lapuk yang kau suka.
Nginep di Suryalaya Bandung
Hari Minggu kemaren gue ada tes kerja di Bandung (nanti gue ceritain tentang tesnya di postingan selanjutnya). Tepatnya di jalan Suryalaya. Kebetulan temen-temen kampus gue juga ikut dipanggil tes. Yaudah dah tuh kita janjian mau berangkat bareng, nginep bareng, makan bareng, boker bareng, nyari kutu bareng.
Tesnya itu dibagi jadi 7 kloter dalam sehari. Gue sama Ndahoy kebagian kloter 2, jam 9.30. Dan satu lagi temen gue, sebut saja Tanul, kebagian kloter 6, jam 16.00.
Karena gue sama Ndahoy kebagian kloter yang pagi, yaudah tuh kita bertiga memutuskan untuk cari penginapan. Buat cari aman juga sih, jadi berangkatnya hari Sabtunya, biar pas Minggu ga telat.
Gue sempet nanya-nanya juga sih sama temen-temen gue yang domisili di Bandung. Pada kasih rekomen hotel murah. Rekomen dari Fayid yang paling ngehe sih. Dia rekomen Wisma GPKRI.
Tapi pertama-tama dia tanya dulu, “lu orangnya takutan ga, Del?”. Loh ngapa. Gue ga ngerti kan, akhirnya gue tanya kenapa. Dan dia jawab, “soalnya hotel itu terkenal angker.” Tapi murah sih katanya disitu, cuma 100K semalem.
Dan lagi, Fayid rekomen hotel lain. Hotel Melati. Gue liat di maps sih emang banyak hotel melati ini, jadi ada hotel melati 1, hotel melati 2, hotel melati 3. 1 2 3 sayang semuanyaaaa. Gue ga ngerti hotel melati mana yang Fayid maksud. Clue-nya cuma di deket rumah dia. Sedangkan rumah dia ada di gang Pangarang. Ada tapinya lagi. Kali ini tapinya adalah “Tapi itu tempatnya suka dipake buat mesum.” Buset dah. Ini mah lebih serem daripada hotel angker yang tadi dia sebut. Huhu. Katanya sih, sejak tempat lama, Saritem, dilokalisasi, jadi pada pindah dah tuh “mereka” ke gang Pangarang itu.
Terus ada lagi temen gue, Agis, rekomen penginapan juga. Pas banget sih karena tempatnya di jalan Suryalaya juga. Nama hotelnya, Suryalaya Inn. Gue langsung dikasih linknya sama Agis. Kebetulan ada blognya, yaudah mampir dah. Yang pertama dilihat itu harganya. Wkwk. Lumayan sih, di postingan blognya pas tahun 2015 tercantum harga 250K.
Yaudah gue lempar kan tuh ke forum, temen-temen gue pada mau ga nginep disitu. Kebetulan di blog ada nomer telponnya juga. Ada nomer kantor, nomer hp, sama pin BBM.
Tanul, yang masih punya BBM, invite pin itu dulu dah. Tapi kaga di-accept. Mungkin yang punya udah kaga pake BBM kali. Akhirnya gue telpon. Sekalian gue share kontaknya aja deh ke klean. Siapa tau kan berfaedah dikit.
Bentar, gue scroll kontak dulu.
Scroll.
Masih scroll.
Apa ya nama kontaknya yang gue save?
Hmm.
Scroll.
Scroll.
Nungguin ya?
Hehe.
Ok, ini dia.
Suryalaya Inn: 0851-0073-2020 (Bu Kicky)
Gue telpon Bu Kicky. Dan dari percakapan kita, didapat kesimpulan.
Harganya masih 250K. Tapi dia bilangnya gini, “harganya 300 sih, tapi buat mbaknya jadi 250 aja deh.” Ini adalah trik marketing semata. Termasuk murah sih, karena dari tahun 2015 sampe 2017 ini harganya belum naik-naik, tetep di 250K.
Kamarnya cuma boleh buat 2 orang. Kalo ada lebih dari 2 orang harus pake extra bed, dengan tambahan harga 90K. Kalo kalian gerombolan dan duit klean minimarket, eh minim maksudnya, alias males banget pake extra bed, sebaiknya ikuti saran gue nih. Klean dateng ke tempat itu cukup 2 orang aja. Yang lain kemana dulu kek. Kalo udah dikasih kuncinya, baru dah tuh masuk satu-satu. Kalo ditanya, bilang aja lagi main, nengokin temen, mumpung temennya lagi di Bandung. Pinter-pinter kalian ngeles lah. Wkwk.
Sampailah gue di penginapan itu. Di depan meja resepsionis udah ada tulisan: “Check in jam 13.00 Check out jam 12.00”
Fasilitasnya ada kamar mandi di dalem kamar, AC, sama TV. Tapi TV nya jadul gitu yang tabung. Ga kaya yang ada di blognya. Gue kedapatan kamar bawah sih, gatau kalo kamar atas gimana. Biasanya kamar atas kan bangunan baru, jadi fasilitasnya lebih bagus.
Kalo mau cari jajanan, bisa jalan dikit ke arah jalan Buah Batu. Jadi di Suryalaya ini kaya komplek perumahan. Rumahnya cakep-cakep Masya Allah. Bikin setiap langkah selalu bergumam, “semoga bisa punya rumah kaya gini.” Nah di jalan Buah Batu ini banyak banget tukang jualan, dari rumah makan tradisional sampe j.co juga ada. Ada juga yang jualan seblak, tukang seblak tetanggaan dah tuh banyak banget. Bingung gue juga, kaga pada santet-santetan apa yak gegara saingan gitu. Wkwk.
Besokan paginya dapet sarapan. Dua porsi nasi kotak. Lauknya pake ayam goreng, telur, sama saos sachet. Dapet 2 gelas teh manis juga.
Ngobrol-ngobrol, gue dan temen-temen gue diskusiin tuh masalah check out. Mana Tanul kelar tes jam 5 kan. Masa iya check out jam 1. Kita kedipin bapak-bapak penjaga hotel, dia tetep keukeuh kalo harus check out jam 1, soalnya udah peraturan disitu. Dia ngasih saran juga sih, check out jam 1 dan barang-barang kita boleh dititipin di meja resepsionis sampe tesnya kelar. Kalo lebih dari jam 1 bisa kena denda minimal 100K.
Kita telpon dah tuh Bu Kicky. Bu Kicky ini emang jarang banget ke hotel, secara udah punya karyawan banyak ya buat apa. Kongkalikong kalo kita mau check out jam 5. Awalnya kena denda 100K. Tapi dengan rayuan maut Tanul, akhirnya kena cuma 75K doang. Mayan lah. 25K kan bisa buat naik grab car ke terminal. Wkwk.
Oiya di Bandung ini transportasi online masih jadi pertentangan. Sebenernya pak walikota Bandung udah ngeluarin surat gitu, intinya agar yang online sama yang konvensional berhenti kelahi. Tapi tetep aja, kata abang grab, kalo ada grab yang jemput di terminal bisa-bisa digebukin. Makanya abang ojol ga ada yang pakai jaket seragam ijo. Terus pembayaran juga di awal, bukan pas pengen turun. Supaya ga dicurigai, pas turun ya turun doang gitu, ga pake transaksi, biar kaya dianggep saudara yang nganter.
Itu dia cerita singkat yang bisa gue bagi ke klean. Semoga yang bingung-bingung sama penginapan jadi dapet pencerahan. Biar kaga pada nginep di mesjid. Kasian kan karpet mushola jadi berceplak iler-iler klean. Kalo ada yang sholat, pas sujud eh nyium bau-bau sesuatu, akhirnya sholatnya nutup hidung. Gimane caranye yeh. Wkwk.
Menghadapi Temen yang Curhat
Setiap orang ga lepas dari masalah. Mau itu masalah cinta atau masalah di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, tempat nongkrong, tempat main bilyar, tempat jep ajep, tempat sampah, ataupun tempat-tempat misterius versi on the spot. Masalah-masalah tersebut bikin kita pusing sampai geger otak. Berbagai cara dilakukan orang yang kena masalah. Mulai dari dengerin musik, nonton drama korengan, eh Korea, terus ada juga yang harus ke tempat wisata. Paling enak sih kalau ada masalah tuh tidur. Ini hobi aku banget. Lebih tepatnya sih nangis sampai ketiduran. Haha. Ga deng, canda. Aku ga secengeng itu meski kalau ngupas bawang aku berurai air mata turun ke hati. Walaupun udah ngelakuin hal-hal yang dirasa menghilangkan stres itu, tapi pasti aja masih ada yang kurang. Curhat. Belum plong kalau belum ada yang dicurhatin. Alhasil muncul korban-korban tak berdosa. Mereka adalah yang dicurhatin. Aku sebut korban karena mereka bisa dengan sabarnya dengerin curhat orang-orang galau itu. Bayangin aja, masalah kita aja udah berat, segala dengerin masalah orang lain, mana ceritanya diulang-ulang pula. Sampai lelah, letih, lesu, lunglai, lemas dengerinnya. Huhu. Tapi jangan menghindar juga dari orang-orang yang mau curhat. Mereka curhat karena mereka percaya sama kita. Menurut mereka, kitalah solusi terbaik untuk mereka. Jadi hargai, siapin aja telinga kalau ada teman yang galau detected. Teman yang baik itu yang mau dengerin keluh kesah temannya. Sebelum dan saat sesi curhat-mencurhat, ada baiknya kita lakuin beberapa langkah agar yang curhat merasa nyaman sama kita yang dicurhatin. Ok, here we go... Siapin Kopi dan Snack Mau curhatnya pagi, siang, sore waktu Uruguay pun, lebih baik siapin kopi. Atau apapun yang bikin kamu ga ngantuk. Pokoknya mata harus tetep melek dan ga boleh nguap selama sesi curhat. Biar yang curhat merasa didengar dan dihargai. Kalau perlu siapin snack juga. Ngemil-ngemil cantik bikin ga ngantuk juga loh. Modal sih, tapi gapapa lah demi menjaga hubungan pertemanan. Atau kalau mau gratis mah kamu sepik-sepik ke temen kamu itu, "Ok ayo kita sharing, tapi jangan lupa ya siapin makanan, gue belum makan dari TK." Syukur-syukur kalau temen kamu pengertian sebelum diminta. Haha Jangan Menguap Menguap itu kan tanda bosan atau jenuh dengan situasi kondisi. Makanya sebisa mungkin jangan menguap saat sesi curhat. Mau kamu ga tidur seminggu pokoknya tahan nguap. Atau nanti bisa-bisa teman kamu anggap cerita dia membosankan dan males cerita ke kamu lagi. Jangan Meleng Bukan di jalan raya doang aturan jangan meleng dicanangkan. Tapi juga dalam kasus ini. Jangan Meleng yang dimaksud disini tuh mata kamu jangan kemana-mana. Yang dicurhatin di depan kamu, tapi mata kamu lagi ikut latihan militer di Korea. Pokoknya jangan. Fokus ke matanya. Suruh deh teman kamu yang curhat itu baca mantra, "tatap mata saya, tatap mata saya, semakin dalam, dan kamu akan tertidur dalam pelukan saya." Eeaak. Jangan Menyela Gimana rasanya lagi asik-asik ngomong eh tiba-tiba dipotong. Dipotongnya pakai gunting rumput lagi. Ga enak banget kan. Jadi lupa tadi mau ngomong apa. Nah begitu juga orang yang curhat ke kamu, dia pengen dia bisa curhat tanpa ada yang nyela. Jadi perhatiin aja dia ngomong apa. Kalaupun ada pertanyaan, simpan dulu. Dan tanyain kalau dia lagi diem sejenak. Jangan Main Hp Walaupun kamu multi talent. Bisa dengerin sambil ngerjain sesuatu yang lain, tapi tetep aja ya itu ga boleh. Makanya sebelum curhat. Hp dipakein mode silent, atau matiin aja sekalian. Dan jangan lupa kabari dulu orang tua dan pacar kamu (kalau masih ada), kalau kamu itu ga bisa diganggu dulu. Jadi mereka juga jadi ga bakal nyariin kamu. Kasih Solusi Ini adalah akhir dari sebuah curhat. Kasih solusi. Jangan sampai solusi kamu menggurui ya. Apalagi sampai menyalahkan orang yang curhat. Mereka pengen curhat biar plong, kok malah disalahin. Ckck. Sebenernya orang yang curhat tau apa solusi yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kalau aku sih biasanya ngasih solusi dengan bertanya. Contohnya nih dia curhat tentang diselingkuhin pacarnya. Nah kita tinggal tanya dah tuh, "Hmm. Sekarang ngerasain kan rasanya diselingkuhin itu sakit?" "Iya." "Mau digituin lagi?" "Nggak." "Terus masih mau pertahanin hubungan?" "Bingung." "Coba lu pikir-pikir lagi apa manfaat dan resiko kalau lu masih pertahanin hubungan." "Iya deh nanti gue pikirin." Nah, liat kan? Tanpa kamu kasih solusi pun dia bisa pilih solusi yang tepat buat dia. Kalau dia pilih solusi yang salah, jangan terburu-buru judge dulu. Tapi coba lihat dari sudut pandang dia. Kenapa dia memilih ngelakuin hal itu. Itu dia yang bisa aku bagi tentang cara-cara mendengarkan orang curhat. Bisa kamu praktekin. Ga juga gapapa sih. Jangan lupa quote berikut. "Teman adalah teman. Temen adalah temen."
Ga Mood? Sampai Kapan?
Tugas menumpuk, deadline sebentar lagi, ada juga yang mau dikerjain tapi susah cari waktunya. Hmm yakin tuh ga ada waktu? Atau sebenernya banyak waktu tapi kamu sia-siakan? Iya sih banyak waktu, tapi terkadang males, cape, butuh istirahat, ga mood. Duh banyak deh alasannya. Ga mood? Sampai kapan? Judul tulisan ini juga sebenernya menyindir diri aku sendiri. Mau ngerjain ini, tapi nanti aja deh siang. Pas udah siang, nanti aja deh malem. Pas udah malem, ngantuk, dan akhirnya berencana untuk ngerjain besok. Dan kejadian ini akan berulang dari hari ke hari. Akibatnya? Pasti akan kelabakan pas sehari sebelumnya. Susah emang kalau udah nurutin rasa malas. Malas itu ga akan hilang sampai kita sendiri yang nyingkirin. Here's some tips when laziness hit you: 1. Ketahuilah deadline-nya Apa yang kamu kerjakan? Tugas, skripsi, laporan, atau tayangan presentasi? Pasti ini semua ada deadline-nya kan. Kalau perlu, lingkari di kalender tanggal deadline tersebut. Kira-kira berapa waktu tersisa yang kamu punya? 2. Jika tak ada deadline? Ada kegiatan yang emang ga ada deadline-nya sih dari pihak lainnya. Contohnya seperti kalau kamu punya target bisa memasak, atau ingin membereskan kamar, atau juga ingin punya pacar baru. Itu kan keinginan kita, jadi kita pula yang harus menentukan kapan deadline-nya. Setidaknya dalam hitungan bulan atau tahun lah walaupun ga spesifik kapan. Misalkan, target bisa memasak. Targetkan di minggu pertama kamu belajar masak tumis-tumisan. Lalu di minggu kedua belajar masak ikan-ikanan. Minggu ketiga belajar masak balado-baladoan. Dan seterusnya. Niscaya kamu akan mendapatkan hasilnya. Entah hasil baik atau buruk. Haha. Misalkan lagi, target punya pacar. Kamu cari tau dulu kapan waktu yang pas buat punya pacar baru. Apakah itu setelah lulus. Apakah itu tahun depan. Atau bahkan 3 bulan lagi, karena mau wisuda, biar ada pendamping wisuda gitu. Uhuk. 3. Tentukan deadline sebelum deadline Loh ini gimana kok deadline sebelum deadline? Biar ga ribet kita ambil contoh soal aja ya. Kaya soal UN aja mba. Haha. Maksudnya contoh kasus. Jadi gini loh, tadi kan sudah kamu ketahui/tentukan deadline sebenarnya. Misalkan proposal skripsi kamu deadline-nya 5 minggu lagi. Kamu buat deadline-nya menjadi tinggal 3 minggu lagi. Jadi selama 3 minggu ini kamu kerjakan terus. Dengan waktu deadline yang sempit, otomatis kamu juga akan lebih giat lagi kan ngerjainnya. Jika telah selesai selama 3 minggu, sisa waktu selama 2 minggu bisa kamu pakai untuk melengkapi yang kurang-kurang sedikit lah, seperti penambahan nomor halaman atau daftar pustaka. Dengan begitu kamu bisa mengumpulkan proposalnya dengan waktu yang ga mepet. Terus gimana kalau setelah 3 minggu ternyata masih banyak yang belum dikerjain, padahal kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Hmm kamu harus bikin deadline sebelum deadline tambahan. Dengan rentang waktu yang lebih sempit. Entah itu 3 hari atau bahkan seminggu kemudian. Kalau aku sih lebih suka buletin kalender di aplikasi Google Calendar. Karena handphone kan selalu dibawa kemana-mana. Dan pula bisa set alarm beberapa jam sebelum waktu yang ditentukan. Sangat disarankan buat orang pelupa seperti aku. Haha. Jadi itu yang bisa aku bagikan pada kamu-kamu sekalian. Semoga bermanfaat ya. Karena kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu moody harus dihapuskan.
EPT (English Proficiency Test)
Buat yang cari kerja, daftar kuliah, atau sekedar tes kemampuan bahasa Inggris kamu, biasanya kamu akan pilih untuk tes toefl. Well, tes toefl ga main-main ya harganya (bagi kamu, sobat miskin atau sobat pengangguran) kayanya harus mikir dua kali kalau mau ikut tes toefl. Harganya mulai dari Rp 500.000,- bahkan sampai Rp 2.000.000,- (sumber: searching di internet, gatau harga udah naik atau malah turun). Kalau kamu yakin dengan kemampuan bahasa Inggris kamu yang aduhai, aduh manisnya membuat jantungku berdetak kencang, duh malah nyanyi. Hehe. Lanjutin ya. Jadi kalau kamu udah merasa yakin banget dengan kemampuan bahasa Inggris kamu, boleh silakan ikut tes toefl. Tapi kalau belum yakin, hmm, aku saranin jangan ikut tes toefl dulu ya. Daripada udah ikut tes toefl dan pas keluar hasilnya jeng jeng, kurang dari hasil yang kamu harapkan. Kamu pasti bakal kecewa, marah, sedih, apalagi udah keluar uang jutaan tapi selembar kertas itu tidak berguna untuk kamu apply kerja atau kuliah. Aku ga larang kalian untuk ikut tes toefl. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kalian ikut sebuah tes yang dinamakan EPT terlebih dahulu. Apa itu EPT? EPT atau English Proficiency Test adalah serangkaian tes yang mirip banget sama tes toefl, tes prediksi untuk menguji berapa skor yang akan kamu dapat jika ikut tes TOEFL beneran. Sama-sama ada tes listening, reading, dan structure. Lalu apa bedanya EPT dengan tes TOEFL? Pertama, adalah lembaga yang mengeluarkan sertifikatnya. Kalau TOEFL yang mengeluarkan lembaga TOEFL, mereka punya standar soal dan penilaian yang sama walaupun kamu tesnya dimanapun. Kalau EPT yang mengeluarkan sertifikat adalah lembaga tempat kamu tes. Misalnya tempat les, universitas, dan sebagainya. Tiap tempat punya soal yang berbeda-beda. Jadi kamu dapat hasil yang bagus di tempat tes EPT yang satu, belum tentu kamu dapat hasil yang sama di tempat tes yang lain. Aku, dua kali ikut tes EPT. Ikut di LBI UI dan di event job fair Mercu Buana. Sama sekali berbeda soalnya. Di UI, aku akuin sulit banget bagi aku, bahasa Inggrisnya bukan bahasa Inggris sehari-hari, kosa katanya jarang aku dengar. Nah kalau di Mercu, lumayan lebih mudah dari yang di UI. Bahasanya lebih easy listening. Kedua, harganya. Ini paling utama sih. Kalau tadi aku bilang harga tes TOEFL bisa sampai jutaan. Kalau EPT cuma berkisar ratus ribuan. Untuk EPT yang di UI, aku bayar seharga Rp 100.000,-. Dan untuk yang di Mercu, aku bayar cuma Rp 25.000,-. Nah beda jauh kan harganya! Cocok buat sobat miskin yang ga pede-pede amat sama kemampuan bahasa Inggrisnya. Hehe Kenapa EPT bisa murah? Karena lembaga yang mengeluarkan adalah lembaga tempat tes. Beda sama TOEFL, yang ngeluarin pihak ketiga (bukan lembaga tempat tes TOEFL). Ketiga, lamanya periode pengambilan sertifikat. Kalau TOEFL bisa sampai sebulan nungguin sertifikat itu turun. Beda sama EPT, sertifikat bisa sehari langsung jadi, paling lama juga cuma 2 minggu. Kok bisa? Sekali lagi dijelaskan ya. TOEFL itu yang ngeluarin sebuah lembaga, camkan kata sebuah ya. Jadi tes dari manapun, yang bikin cuma 1 lembaga TOEFL itu. Harus sabar. Ngantri lah ya. Banyak yang mau bikin sertifikat juga. Lagian cuma beberapa bulan doang kok. Ga sampai bertahun-tahun kaya e-KTP. Ups. Oiya, aku mau jelaskan sedikit tentang soal pada EPT ini. Ada listening, structure, kemudian reading. Listening terdiri dari 3 bagian. Bagian 1 adalah mendengarkan percakapan singkat, biasanya antara 2 orang. Nanti akan ditanya, apa yang dimaksud oleh laki-laki tersebut? Atau apa yang akan dilakukan wanita tersebut? 1 percakapan untuk 1 soal. Bagian 2 adalah diperdengarkan percakapan yang lebih panjang antara 2 orang. 1 percakapan untuk 3-5 soal. Jadi kamu harus ingat-ingat apa yang menjadi poin-poin penting dalam percakapan tersebut. Bagian 3 adalah diperdengarkan sebuah berita atau artikel ilmiah. Nanti akan ada pertanyaan, biasanya sih tentang apa kesimpulan dari berita tersebut, atau pertanyaan yang lebih kompleks seperti apa yang dilakukan gubernur dalam mengatasi bla bla bla. Bagian 3 ini paling susah sih menurutku. Karena bahasanya bahasa berita bro. Berat berat berat. Lalu structure, ini terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 adalah sebuah kalimat yang ada titik-titik di depan, tengah atau belakangnya. Tugas kita adalah mengisi yang paling sesuai. Lebih ke pemahaman tenses sih, pakai verb 1, 2, atau 3. Bagian 2 adalah sebuah kalimat yang beberapa kata-katanya ada yang digarisbawahi. Kita harus pilih kata yang tidak sesuai/salah dari keempat kata yang digarisbawahi tersebut. Dan terakhir reading. Demi Neptunus ini yang paling susah. Huhu. Pusing banget baca artikel panjang kali lebar sama dengan luas. Untuk reading ini biasanya diberikan waktu lebih banyak sih. Kaya tes bahasa Indonesia, yang artikelnya selembar penuh tapi pertanyaannya cuma kesimpulan. Masya Allah. Apalagi ini tes yang terakhir kan ya, otak udah ga singkron, badan udah menggigil karena dinginnya AC ruangan tes, dan tenggorokan udah merindukan air. Yang paling penting nih ya, siapkan pensil dan penghapus, karena lembar jawabannya pakai LJK. Jadi inget masa UN kan. Hihi. Pensilnya jangan cuma 1, siapkan 2 atau 3 yang sudah diraut. Karena ga ada waktu untuk ngeraut pensil. Dan ga boleh keluar ruangan juga selama tes berlangsung. Jadi buat jaga-jaga aja sih, takutnya lagi ngebuletin LJK tiba-tiba patah ya kan. Repot cyin. Lebih baik sedia payung sebelum hujan. Eh salah. Maksudnya sedia pensil sebelum kelabakan. Hehe. Kalau sudah selesai tes, jangan lupa ucapkan terima kasih ke penjaga tes sebelum keluar ruangan. Hehe. Biasanya jangka waktu pengambilan sertifikat akan diumumkan oleh penjaga tes. Kalau kamu sudah terima hasilnya, coba perhatikan apakah hasil EPT tersebut sudah sesuai dengan yang kamu harapkan? Kalau sudah, atau bahkan lebih, kamu bisa dengan percaya diri ikut tes TOEFL. Loh gimana? Kan saya sudah punya sertifikat dengan nilai yang serupa dengan tes TOEFL? Jadi gini loh, tes EPT bisa saja digunakan untuk lamar kerja, tapi sertifikat EPT kurang menjual, apalagi untuk perusahaan BUMN. Percuma dong ikut EPT? Tau gitu sekalian aja ikut TOEFL? Ga gitu ya, cinta. EPT ini kan tes prediksi pra TOEFL. Daripada kamu ikut TOEFL langsung kan, kalau hasilnya jelek sayang-sayang uang. Huhu. Kalau hasil EPT kamu jelek gimana? Tenang gaes, kamu ga sendiri, karena skor aku juga jelek. Kray sekebon. Huaaa. Kalau skor kamu jelek juga, kamu bisa latihan lagi, latihan terus, bisa dari buku ataupun aplikasi di hp kamu. Udah canggih, gausah bingung hidup di zaman sekarang. Nah itu dia sekilas yang bisa aku gambarkan tentang EPT. Semoga yang bingung ga jadi bingung lagi. Semoga yang lagi cari kerja, cepat mendapatkan yang sesuai. Dan semoga yang mau daftar kuliah, dapat jurusan dan universitas yang sesuai. Hehe. Maafin kalau aku kebanyakan hehe dan huhu. Dan terima kasih udah baca artikel aku yang banyak unfaedahnya ini.
Keajaiban Meminta Maaf
Tiap manusia pasti pernah punya suatu konflik, masalah, kasus yang ga enak sama seseorang. Dan ga jarang orang yang nyalahin orang lain. Karena sifat dasar manusia memang tak mau disalahkan. Kita merasa kitalah yang berhak, kitalah yang benar, kitalah yang menang. Meskipun kadang kita tahu bahwa tindakan kita tak benar, dengan absolut kita akan mencari kambing hitam mengapa kita melakukan tindakan tersebut. Terus kasusnya jadi merembet lagi karena si kambing hitam juga tak mau disalahkan. Kejadian yang saya alami hari ini, pada hari Jumat siang, cukup memberikan saya pelajaran tentang pentingnya meminta maaf. Saya akan membuat SKCK di Polsek, setelah saya meminta surat pengantar dari balai desa, saya memesan ojek online agar diantarkan ke Polsek. Saya mendapat driver bernama Udin, dari fotonya sepertinya pak Udin ini sudah sangat berumur. Pak Udin kemudian menelepon saya, memastikan posisi saya dimana. Saya bilang saya menunggu di depan stasiun Cilebut. Namun dia berkata jangan di stasiun, karena disitu banyak ojek konvensional, ojek online dilarang lewat situ. Di tengah keramaian angkutan, dan suara si bapak yang cukup renta, saya kurang konsentrasi mendengarnya. Beliau menyuruh saya jalan kaki dulu ke arah Bojonggede. Maka saya berjalan ke arah sana, namun saya liat di maps motornya berada tepat di depan stasiun Cilebut. Untuk sejenak saya berpikir, apakah bapak ini mengerjai saya. Saya mengirim sms menanyakan posisi pak Udin, namun dia tak membalas. Saya sudah bolak-balik di daerah stasiun tapi tidak menemukan pengendara dengan jaket gojek. Saya semakin curiga, lalu mengirimkan SMS lagi, Bapak tidak mau ambil orderan saya? Baru pak Udin menelepon lagi. Lagi-lagi menyuruh saya berjalan ke arah Bojonggede. Saya pikir, masa iya saya jalan sejauh itu? Dan saat saya bilang saya masih di depan stasiun Cilebut, nada bicaranya menjadi tinggi. Mungkin ia kesal karena saya tak mengerti. Saya bisa saja lebih marah dan membatalkan pesanan, namun saya coba mempraktekkan tentang bagaimana meminta maaf terlebih dahulu. Dengan nada bersalah, saya berkata, "maaf bapak suaranya tadi tidak jelas karena disini bising, posisi bapak sekarang dimana, saya akan kesana." Baru ia menjelaskan bahwa dia di depan JNE. Maka saya jalan ke arah sana. Saat saya sampai di tempat, ia tersenyum, kemudian meminta maaf, entah meminta maaf karena apa. Yang jelas, senyumnya melemahkan ego saya. Eits bukan karena beliau tampan mempesona, tapi semua karena keajaiban meminta maaf. Dari sudut pandang saya, pak Udin lah yang bersalah, karena: 1. Ia tak memberitahukan posisinya dimana sedari awal. 2. Ia tidak membalas SMS saya. Namun dari sudut pandang pak Udin, mungkin saya lah yang bersalah, karena: 1. Saya tidak menuruti instruksi untuk berjalan ke arah Bojonggede. 2. Saya memiliki pendengaran yang buruk, entah dikarenakan telinga saya ataupun dikarenakan bisingnya kendaraan. Nah, menurut kalian siapa yang salah? Jika mau disalahkan ya salah dua-duanya, namun tidak terlalu salah juga. Semua terjadi karena miskomunikasi. Lihat betapa semuanya menjadi damai hanya karena meminta maaf. Sehingga kami berdua menjadi nyaman dan menikmati perjalanan. Halah, apalah itu. Haha. Coba kalau kalian memiliki masalah dengan seseorang, dapat mempraktekkan seperti yang saya lakukan. Yaitu dengan meminta maaf terlebih dahulu. Untuk penutup saya kutip lagu Sherina: "Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, hanya yang berjiwa satria yang mampu memaafkan" Dan lebih satria lagi yang mampu meminta maaf :)
Masalah Saat Ini
Saya sedang menyelesaikan membaca buku “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”, sebuah buku terjemahan karya Dale Carnegie. Dan di dalam buku itu bukan hanya tentang menyuruh kita melakukan ini dan itu, namun memberikan contoh-contoh dalam kehidupan nyata tentang hubungan sesama manusia.
Buku memang memiliki pengaruh yang besar bagi pembacanya. Melatih daya imaji dan kemampuan mencerna kata-kata. Maka dari itu, walaupun di zaman sekarang sudah banyak cara praktis untuk mendapatkan informasi, namun negara-negara di dunia menggencarkan minat baca buku sedari dini. Keabsahan buku juga sudah jelas lulus uji pertimbangan dari berbagai aspek. Berbeda dengan berita online, orang-orang tak bertanggung jawab mampu menulis apapun yang mereka mau tanpa mempedulikan isi, kebenaran dan kredit kepada sang penulis yang menjadi bahan acuan.
Baiklah, mari kembali lagi ke topik tentang buku Carnegie tersebut. Saya pribadi, tertarik tentang hubungan kemanusiaan. Saya mempelajari sedikit tentang typography. Tentang perbedaan karakter orang-orang yang menulis dengan besar-besar, pulpen ditekan, cara mereka menulis O dan i dan sebagainya.
Jika ada suatu masalah pun saya biasa mengambil sudut pandang dari kedua sisi, sehingga netral. Sering kesalahpahaman ditimbulkan karena ego masing-masing, padahal dari keduanya tidak ada yang salah.
Yang jadi permasalahan yang belum bisa saya tangani adalah saya kurang bisa mengontrol diri sendiri di hadapan orang banyak. Tidak hanya orang banyak, tapi saya juga gugup jika berhadapan dengan seseorang yang baru. Tidak peduli berapa banyak buku yang saya baca. Entah saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Takut kalau apa yang saya katakan tidak menarik, terlihat bodoh atau bahkan menyinggung perasaannya.
Saya sudah tahu trik agar dapat menghadapi kelemahan saya tersebut. Namun trik-trik itu seakan menghilang dari pikiran saya ketika menghadapi orang lain.
Nanti jika saya sudah bisa mengalahkan kelemahan saya, saya akan berbagi caranya. Atau jika kalian mempunyai tips untuk saya, saya akan dengan senang hati menerimanya.
Something smells so bad So you just cover your nose Never figure it out Something goes wrong You drag it down But you can't find anything Your eyes are rolling Looking for somebody's eyes There's nothing So you just asking yourself For what you come here Just drinking cola And calling pizza delivery You are too enjoying your life No, baby You don't do something bad Fall asleep And I'll sing a lullaby for you Till Monday morning Wake up but not get up yet Don't regret it Destiny brings you to the good situation Do what you want You deserve something better And never mind what smells bad
Anak Mama
Ambisi tak lagi ia rengkuh
Tanpa degupan yang berarti
Sehingga jenuh mengalahkan cita
Dan terik mengalahkan asa
Hey mama
Bilang pada anakmu
Jangan berhenti sebelum melangkah
Jangan tengok sebelum memandang
Ada harapan yang layak
Ada api dalam dirinya
Ada kelok yang harus dilalui
Bilang pada anakmu
Jika kau mau diperjuangkan, maka berjuanglah
Dari aku, anakmu, mama.