CREEPY STORY : Semarang & Gangguan Ibadah
Assalamualaikum.. Udah baca cerita sebelumnya tentang cerita horor saat di asrama? https://midwriter.tumblr.com/post/623860432972709888/creepy-story-dorm-hospital
Nah kali ini aku akan lanjutkan cerita creepy dan kali ini berlatar di Kota Semarang, tempatku melanjutkan studi selama 2 tahun. Sekilas info, di tahun pertama, aku tinggal di sebuah kost semi eksekutif dan sendirian. Setahun berikutnya, karena harus praktek dinas yang terkadang penempatan di luar kota, akhirnya aku dan keenam teman satu genk memilih mengontrak sebuah rumah. Kita akan bahas satu-satu ya.. ;)
Kuberi sedikit gambaran tentang skema kosanku yang pertama ini. Aku tinggal di kamar paling depan. Kamar kami semua berbentuk letter-U dan bertingkat 2 lantai dengan di bagian tengahnya terdapat kursi dan meja kayu untuk duduk-duduk dan di sepanjang kamar memiliki teras kecil berukuran lebar sekitar satu meter, lingkungan kosan ini rapih, bersih. Di depan kiri kamarku ada pintu lagi sebagai pembatas dengan teras dan ada halaman sangat luas disana, sehingga aku bisa melihat siapa saja yang keluar masuk kosan. Dari posisi kamarku, aku bisa melihat seluruh bagian kosan. Kosan ini termasuk tenang, jauh dari jalan raya, dan penghuni kamarnya pun rapih. Tidak banyak aktivitas dilakukan menjelang malam. Sehingga jika ada satu kamar yang menyetel musik dengan volume 50% saja bisa terdengar hingga ke kamar lain.
Hari itu, aku lagi bantuin kakak yang juga tinggal di kosan yang sama hanya berbeda dua pintu dan sejajar kamar denganku. Aku punya kebiasaan membuka pintu kamar saat sedang tidak tidur. Malam itu, kita begadang sampai malam karena aku bantuin si kakak ngerjain olah data skripsi ;)
Saat itu, waktu menunjukkan hampir tengah malam. Seluruh penghuni sudah sunyi senyap. Posisi kami duduk lesehan di lantai sedangkan laptop diatas kasur. Wajahku berhadapan lurus dengan pintu yang terbuka, sementara si kakak ada di posisi sebelah kananku. Kita berdua tidak sedang nyetel lagu apapun, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara “Ssstt.. Sssttt...” berulang. Si kakak pun kaget dan kami berdua langsung otomatis melihat ke arah pintu. Kami mendengar suara yang sama.
“Kamu denger ta, Dek?” Tapi kami gak berpikir apapun saat itu.
Menurut cerita dari penghuni kosan lain juga sering melihat seorang perempuan suka wara wiri di sepanjang depan kamarku, melewati kamar si kakak hingga ujung kamar lantai satu. Jika dipikir-pikir, kalo boleh jujur, dalam satu deret kamar di lantai bawah, kami berdua orang yang paling sering ngaji tapi kami sendiri gak pernah melihat sosoknya secara jelas ;)
Kita sepakat untuk pindah ke sebuah rumah yang sebenarnya posisinya hanya sebelah dari kosanku sebelumnya wkwk. Kami bertujuh dibagi menjadi 4 kamar. Posisi bentuk rumah ini memanjang seperti lorong. Jadi jika awal masuk pintu rumah, akan langsung bertemu dengan kamar satu yaitu kamarku paling depan sebelah kiri, kemudian di sebelah kanan ada kamar nomor dua punya si kakak. Kemudian satu meter, dari kalian berdiri, ada bagian ruangan sebelah kiri dan sebelah kanan ada bagian tengah rumah dengan dua kamar berjejer (kamar tiga dan empat) dan di depannya ruang kosong biasanya tempat parkir motor disana. Nah di ruang sebelah kiri itu adalah ruang makan yang disambung dengan dapur,, kamar mandi dan teras belakang. Dari ruang makan menuju dapur dibatasi pintu dan jendela. Kemudian sampai depan dapur, jika kalian ke arah kiri akan menuju kamar mandi, dan sebelah kanan kalian ada pintu lagi menuju teras belakang tempat jemuran, ada kran untuk wudhu/cuci piring dan menjemur baju.
Sekitar hari ketiga kita tinggal disana ada satu kejadian aneh. Malam itu, kita lagi berkumpul di kamar ketiga karena ada beberapa hal yang perlu didiskusikan tentang tugas kuliah. Saat itu, ada suami dari kakak kami sedang menginap di kamar depan (nomor 2) dan sdg tidur bersama anaknya, kami semua berkumpul di kamar ketiga dan tiba-tiba suami si kakak manggil dengan nada panik karena di dapur ada teflon dengan posisi kosong namun api kompor masih menyala dan tercium aroma gosong. Sementara kami di kamar gak mencium apapun langsung lari ke arah dapur. Hal yang aneh adalah, siapa yang nyalain? Jelas semua ada di kamar dan tidak ada yang berniat masak apapun malam itu.
Kali ini pengalaman pribadi, lupa tepatnya entah kapan, kejadian ini seringkali terjadi saat aku bangun malam. Saat itu aku sedang dinas di sebuah rumah sakit, dan kebetulan tidak mendapat jadwal shift malam. Awalnya saat bangun dan ingin wudhu ke teras belakang, aku tidak melihat apapun. Atau memang tidak berniat mencarinya. Sampai saat selesai wudhu dan mau mematikan lampu di ruang tamu, entah kenapa kepalaku menoleh ke arah jendela dapur dan menangkap sosok berambut hitam dan berkostum putih berada di balik jendela itu, posisi dia muncul tepat di dapur dan di depan kamar mandi, padahal kondisi nya terang karena dapur dan kamar mandi punya lampu masing-masing. Dalam posisi itu, aku seharusnya sudah melihat sosoknya saat wudhu karena jika ingin menuju teras belakang, pasti melewati dapur itu. Seperti apa wajahnya? Yang bisa kulihat di balik jendela adalah bagian atas hitam dan putih, tentunya itu rambut dan baju daster andalannya, kan. Kayaknya dia itu menghadap ke arah samping jadi wajahnya memang gak kelihatan. Atau... Memang karena aku bukan anak indigo dan gak punya kemampuan melihat makhluk seangkatan dengan dia hehe..
Jika dibilang itu halusinasi karena bangun malam rasanya gak mungkin, karena posisiku habis wudhu dan mata dalam kondisi melek paripurna hehe.. Bukannya lari, tapi malah tidak jadi kumatikan itu lampu. Sebelum sosok ‘mbak kukun’ itu muncul, setiap bangun malam memang aku merasa dingin dan ada yang memperhatikan setiap kali hendak wudhu dan setelah wudhu saat berjalan menuju kamar. Beberapa anak di rumah itu sering memilih untuk wudhu di kamar mandi karena merasa takut harus ke teras belakang yang remang-remang karena lampu tertutup sebagian baju cucian, memang notabenenya itu menghadap langsung ke kebun samping rumah yang tak terawat dan gelap. Tapi, bagiku meraih keafdholan wudhu lebih penting ketimbang rasa takut, dan kondisi bangun malam bukanlah sesuatu yang terpaksa, jadi aku selalu memilih wudhu dari keran teras belakang, sampai akhirnya dipertemukan dengan mbak kukun itu. Well.. belum banyak yang tahu cerita ini karena di rumah itu ada salah satu kakak yg sangat penakut wkwk. Toh menurutku itu tidak menganggu kok hehe
Cerita tentang sosok di rumah ini juga sudah dialami oleh salah satu ibu yang juga teman sekelasku yang pernah tinggal bersama kami. Sama sepertiku, beliau enggan bercerita sampai akhirnya memutuskan pindah. Seorang adik yang tidur di kamar ketiga juga punya kebiasaan puasa sunnah dan seringkali merasa diperhatikan justru dari arah depan kamarnya sendiri, yaitu ruang tengah yang kosong dan berisi motor dan barang-barang.
Beralih ke gangguan yang menurutku paling ekstrim dan pertama kalinya kurasakan sepanjang kehidupanku. Entah kenapa, seiring berjalan waktu, aku seperti dibuat lupa atas kejadian itu, karenanya sekalian kutulis disini. Sekitar bulan april 2020 lalu, hari itu, aku baru selesai periode haid dan berencana untuk sholat ashar. Dari awal niat tidak ada masalah, sholat seperti biasa, rakaat pertama berjalan lancar. Sampai di rakaat akhir, dan saat membaca tahiyat akhir, mendadak aku melupakan semua bacaan itu, benar-benar lupa! Astaghfirullahaladziim..
I Swear, ini sungguhan. Yang terjadi berikutnya adalah aku membatalkan sholatku dan mengulang kembali dari awal. Kejadian kembali berulang saat sholat maghrib dan isya. Kali ini gangguannya meningkat, yaitu mendadak aku sama sekali tidak mengingat surat alfatihah. Lagi-lagi kubatalkan sholat dan mengulang, namun yang terjadi, aku tidak mengingat apapun. Ku buka aplikasi quran dan mencoba membuka surat alfatihah, melihat huruf dalam al qur’an itu tidak membuatku bisa membacanya. Huruf qur’an itu terasa asing dan berusaha mencoba membaca, lidahku kelu. Panik, pasti! Ini pasti gangguan jin. Dan pikiranku sudah kemana-mana. Apapun jenis istighfar, dzikir sampai ayat kursi sudah kubaca demi menenangkan pikiran ini. Kembali coba kubaca qur’an itu dan memulai sholat, aku tak kunjung bisa fokus sholat.
Pikiran dan hati mendadak tak tenang. Bibirku tidak berhenti bertasbih dan memohon Allah untuk dijauhkan dari gangguan ini agar bisa kembali sholat. Kala itu, posisiku di kamar diam dengan mata terpejam dan tangan sambil menutup telinga, fokus untuk terus dzikir demi menghilangkan gangguan ini. Prosesnya memakan waktu agak lama, sekitar hampir satu jam aku berusaha menghilangkan gangguan itu, sampai akhirnya bisa kembali sholat dengan lancar dan tidak lagi diganggu.
Aku termasuk anak yang jarang keluar kamar, Saat harus wudhu berulang kali pun aku memiliki kamar mandi pribadi di kamar. Sehingga saat kejadian pun keluarga tidak ada yang tau. Sampai akhirnya, aku menghubungi salah satu sahabatku, dia merupakan hafidzah quran dan ku ceritakan segalanya. Sahabatku ini memberikan saran untuk membaca ayat 96-97 surat Al-Mu’minuun setiap setelah wudhu dan sebelum sholat.
“Wa Qur Rabbi ‘audzubika min hamazaatisy syayatiin.. Wa ‘audzubika rabbi ayyahdhuruun.” Ya Tuhanku.. Aku berlindung padaMU dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepadaMU pula, agar mereka tidak mendekatiku.
Jin dan seangkatannya memang suka menganggu manusia, namun dari beberapa gangguan jin, memang mereka memiliki target untuk mengganggu ibadah orang tersebut. Karena ibadah adalah satu-satunya cara setiap manusia dekat dengan Tuhannya. Terutama sholat yang seluruh isinya merupakan dzikir dan cara mengingat dan berdoa pada Allah. Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk lebih sering meminta perlindungan tidak hanya soal marabahaya, tapi juga gangguan jin yang bisa menyesatkan ummat manusia.
Jazakumullah khayran katsira.. bhay!