BIDAN: Full Time Mother and Wife, Part Time Worker
Al Ummu Madrasah Al Ula: Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Pasti kamu sering mendengarkan kalimat seperti itu? Ya, selain mengandung dan melahirkan anak-anakmu, seorang perempuan memiliki tanggung jawab yang lebih berat lagi yaitu menjadi guru, rolle model pertama bagi anak-anaknya, walaupun tetap ada peran laki-laki dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut, tapi kamulah yang pertama dan utama wahai perempuan sekalian.
Jadi sudah seberapa siapkah kamu menjadi madrasah pertama bagi anak-anakmu?
Setiap anak berhak lahir dari rahim seorang perempuan yang cerdas.
Menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya pastilah membutuhkan ilmu. Ilmu disini bukan berarti kamu harus berkuliah setinggi-tingga hingga S3 hlo ya. Ilmu agama pastilah nomer satu. Islam memerintahkan bahwa ilmu yang dicari ada 3 yaitu: Ayat (Al-Qur'an) sebagai hukum, Sunnah (Al-Haddist) yang tegak / benar, ilmu bagi waris yang adil. Selain ketiga ilmu yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah ilmu sisa, ilmu dunia yang harusnya porsi kita cari adalah lebih sedikit dibanding ketiga ilmu wajib diatas. Pada kenyataanya, zaman sekarang malah terbalik bukan? ilmu dunia thok dikejar segigih-gigihnya, ilmu dunia-akhirat ditinggal. Sebagai madrasah pertama, seorang perempuan wajib mengajarkan ketiga ilmu wajib bagi anak-anaknya. Sebab, dari anak-anak sholeh & sholehah lah engkau para orang tua akan dibawa ke Syurga kelak melalui mereka. Meski ilmu sisa, ilmu parenting perlu kita pelajari juga sebagai seorang perempuan, melalui ilmu ini kita dapat mengajar anak-anak kita sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. Selain menjadi guru, orang tua, diharapkan dengan mempelajari ilmu parenting ini kita dapat menjadi sahabat buat anak-anak kita.
Nah, itu tadi adalah penjabaran sedikit dari aku mengenai ilmu, sekarang kita hubungkan dengan judul “BIDAN: Full Time Mother and Wife, Part Time Worker”. Perempuan zaman sekarang seringkali terjebak dalam keadaan yang mengharuskannya bekerja hingga lupa pada kewajibannya menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, serta menjadi istri idaman bagi laki-laki. Hal itu karena banyak faktor, salah satunya adalah pemerintah sendiri memberikan cuti ibu hamil dan melahirkan hanya 3 bulan. Bayangkan saja bahwa seorang anak mempunyai masa keemasan selama 24 bulan, sehingga terpaksalah 21 bulan anak harus merelakan sebagian waktu bersama ibunya dipakai untuk ibu bekerja. Kemudian faktor perempuan yang mengharuskan membantu mencari nafkah bagi suaminya akan membuatnya lelah untuk memikirkan sepenuh jiwa dan raganya menjadi istri idaman (hal itu karena aku pikir banyak laki-laki menginginkan mempunyai istri yang lebih sering tinggal dirumah, atau dengan kata lain menjadi Ibu Rumah Tangga. Iya enggak bapak-bapak? Hehe).
Dulu semasa SMA, aku berpikiran aku ingin menjadi bidan (gara-gara berkunjung ke rumah salah satu rekan ibu yang istrinya berprofesi bidan sih lebih tepatnya. Haha). Aku tak ingin menjadi seperti ibu ku yang seorang guru. Pagi jam 6 sudah harus ke kantor, pulang sore dengan wajah lelah, anak-anaknya dititipkan / harus dirumah sendiri dari jam 12 siang hingga 16 sore, kondisi rumah yang selalu tak rapi (karena kami memang tidak pernah menyewa asisten rumah tangga). Aku tak ingin seperti itu. Aku ingin menjadi bidan yang mengelola klinik dirumah, dengan harapan anak-anak ku, suami ku dan urusan rumah ku terjamin. Pagi membuatkan sarapan dan mengantarkan anak serta suami keluar halaman rumah sambil mengecup satu persatu mereka. Setelahnya mengurus rumah, atau jika ada pasien dahulukan pasien. Siang memasakkan mereka dan menyambut satu persatu anak pulang kerumah sambil memeluk dan menanyakan “Bagaimana sekolah hari ini jagoan dan cantiknya bunda?” Akhh so sweet…
Sorenya adalah waktu romantis bersama suami, menghadang di depan pintu menyambut kepulangannya sambil memberikan senyum terbaik dan memeluknya erat-erat, “Hari ini ada cerita apa ayah di kantor? terima kasih sudah bekerja keras untuk hari ini”. Malamnya, adalah waktu bersama keluarga untuk melepas lelah karena seharian beraktivitas, dan aku ingin menjadi telinga bagi mereka, mendengarkan tiap kejadian demi kejadian yang mereka ceritakan.
Aku belum membayangkan sih ya jika kelak berjodoh dengan suami yang ternyata sama-sama sibuknya di malam hari, Hehe. Mungkin bayangan seperti diatas akan berbeda, tapi meski berbeda hal itu takkan mengurangi komitmen, visi serta misi pada sebelum menikah. Selalu komunikasi yang baik, menahan ego masing-masing bisa menjadi kesuksesan suatu hubungan meski pada kenyataannya harapan indah tentang suatu hubungan tak semulus kenyataannya. Wajarlah. Ketika hal itu terjadi ingat saja di awal perjanjian sebelum berhubungan lebih lanjut, itu bisa membantu. Berbeda jika sudah diingatkan yang awal-awal namun pemikiran dari salah satu pihak sudah tak ingin berkomitmen lagi, "wes, cul no wae, dee wes wegah karo koe"(serius, kalimat terakhir curhatan abisss, HAHA)
Aku ingin menjadi bidan, maka itulah pekerjaan sampingan ku bisa jadi bekerja pada malam hari. Orang-orang mengetuk pintu tengah malam, dini hari bahkan subuh-subuh sudah pasti bakal terjadi dalam kehidupan ku kelak. Ya, tapi itu hanyalah pekerjaan sampingan ku. Meski pekerjaan sampingan, dedikasi tinggi terhadap pekerjaan sampingan ku pasti akan ku berikan. Sumpah jabatan yang sudah ku ikrarkan, pertanggung jawaban ku kelak di negeri akhirat pada pemilik ruh ini, aku ingat benar dan akan aku praktikkan.
Nah, cerita diatas adalah harapan ku, sebelum aku bertemu dengan seseorang yang mengharuskan ku mengubah arti menjadi seorang ibu, istri dan pekerja pada satu setengah tahun yang lalu. Kini, entah bagaimana ceritanya, harapan yang sudah ku pikirkan semenjak umur 17 tahun itu, harapan kuat yang membuat ku masuk pada jurusan kebidanan dengan segala keruetan prodi jurusan ku itu muncul kembali dalam memori dan meminta ku untuk mewujudkannya kembali. Semenjak itu.
Ya, Aku ingin menjadi bidan, maka itulah aku ingin bertemu dengan sosok mu yang menginginkan aku untuk menjadi bidan. Sungguh aku ingin menjadi BIDAN: Full Time Mother and Wife, Part Time Worker.
PS: Terima kasih Diny Lela Ramdani, teman kebidanan ku atas kalimat mu “Full Time Mother and Wife, Part Time Worker” menginspirasi ku ❤
Yogyakarta, 8 Februari 2017