Hal yang Seharusnya Bisa Selesai Lebih Awal: Catatan tentang Menunda dan Konsekuensinya
Lucu ya, bikin janji sendiri dilanggar sendiri.
Kenapa hal yang sebenarnya simpel justru kubuat rumit. Foto anak untuk rapotan sudah kupotret berbulan-bulan lalu, lebih dari tiga bulan. Tapi malah baru kuurus H-3 sebelum rapotan.
Aku mengeditnya terburu-buru: membenahi pencahayaan, merapikan kerudung yang miring, menghapus background satu-satu lalu menggantinya dengan warna merah. Benar-benar SKS, sistem kebut seharian.
Setelah itu aku minta cetak langsung jadi. Padahal sebelumnya sudah pernah ke sebuah percetakan dengan kasus yang sama. Anehnya, kali ini terulang lagi. Aku juga sudah terlanjur janji kirim maksimal hari ini ke Bu Kepsek TK. Rasanya makin nggak enak.
Aku datang ke percetakan membawa flash drive berisi foto anak-anak. Antrian cukup panjang, tidak seperti biasanya.
Ironisnya, aku justru melihat mas-mas yang dulu pernah melayaniku. Alih-alih berharap, aku malah ingin menghindar. Ada rasa malu, juga prasangka kecil: siapa tahu kali ini ada yang lebih cepat darinya.
Di ruang tunggu, mataku kemudian tertuju ke satu loket di pojok. Mas-masnya tampak tenang, cekatan, seperti sudah sangat paham apa yang ia kerjakan. Dalam hati aku berharap bisa dilayani di situ. Siapa tahu lebih cepat, lebih rapi.
Nomor antrianku dipanggil ke loket pertama. Aku menyerahkan flash drive.
“Masih file ya, Mas. Ini nggak bisa langsung jadi. Paling cepat dua sampai tiga hari,” katanya.
Aku sempat berharap bisa langsung digabungkan. Bisa, katanya, tapi lama. Dari caranya menjelaskan, aku menangkap kalau ia hanya melayani file yang sudah siap cetak. Diskusi berjalan beberapa menit, dan situasinya tidak banyak berubah.
Akhirnya aku mengambil antrian ulang.
Dan benar saja, aku justru dilayani mas-mas yang sejak awal ingin kuhindari—yang dulu pernah membantuku. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka Photoshop dan mulai meracik ulang foto-foto itu. Kurang dari satu jam, semuanya selesai dan siap cetak.
Di situ muncul rasa lega, sekaligus rasa lain yang sulit kusebutkan. Ternyata aku keliru menilai. Aku mengira semuanya akan selesai hari itu juga. Ternyata, itu baru jeda sebelum kabar berikutnya.
Di loket pengambilan, aku diberi tahu: cetakan tidak bisa ditunggu. Mesin sedang overload. Aku diminta menunggu kabar dari admin.
Di titik itu aku sadar, semua ini tidak terjadi mendadak. Ia terkumpul pelan-pelan, dari kebiasaan menunda, menggampangkan, dan merasa bisa mengatur segalanya di detik terakhir—termasuk menilai orang lain dari asumsi sesaat.












