:: MENILIK KOPI, SEBAGAI POTENSI UNGGULAN PARIWISATA DI TENGAH PANDEMI ::
Pandemi COVID19 telah membawa dampak yang luar biasa bagi sendi kehidupan ekonomi dan relasi sosial kemasyarakatan pada 215 negara yang terkena imbasnya, termasuk Indonesia. Negara di berbagai belahan dunia tengah terjerembab ke dalam resesi ekonomi, di mana sebagian besar lainnya tengah berjuang keras untuk mengarungi wilayah yang penuh dengan ketidakpastian (unchartered waters) dengan lebih dari 18 juta penduduk dunia yang terinfeksi COVID19. Di tengah perjuangan keras menghadapi dampak pandemi COVID19, Indonesia seyogyanya dapat dijadikan momentum dengan memanfaatkan golden opportunity, terutama dengan memanfaatkan strategi dan memastikan seluruh aksi baik itu Indonesia Sehat, Indonesia Bekerja, dan Indonesia Tumbuh dari hulu ke hilir.
Pandemi COVID19 telah mengubah cara dan kebiasaan kerja, terjadi transformasi digital dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. Dengan cara-cara yang lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel, tramsformasi digital ini diharapkan dapat terus ditingkatkan pada masa-masa mendatang. Transformasi digital menjadi salah satu faktor determinan dalam menggapai Indonesia Maju. Bila merujuk pada hasil survei Institute for Management and Development (IMD), Indonesia masih kalah dari negara-negara lain di Asia Tenggara atau ASEAN. Hal ini tentunya dapat mengurangi daya saing bangsa di tengah persaingan antara bangsa yang semakin kompetitif. Perkembangan situasi global yang kurang menguntungkan akibat dampak pandemi COVID19 hendaknya dapat menjadikan kita semakin Bersatu dalam keberagaman, gotong royong, tangguh dalam menghadapi tantangan, mendorong kecepatan, mentransformasikan Indonesia Sehat, Indonesia Bekerja dan Indonesia Tumbuh dengan dukungan akselerasi transformasi digital guna bangkit untuk Indonesia Maju.
Sejarah Kopi Sumedang
Kopi Sumedang merupakan salah satu tanaman kopi asli peninggalan zaman Belanda. Pada tahun1808, Herman Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di wilayah Indonesia mengemban tugas untuk mempertahankan wilayah Jawa dari serangan pasukan Inggris. Berbagai upaya dilakukan oleh Daendels untuk mempertahankan wilayah Jawa mulai dari memperkuat pertahanan hingga membangun infrastruktur yang memadai. Selain itu, pada masa Daendels, produksi kopi termasuk dalam perhatiannya. Daendels melakukan segala reformasi dengan cara yang lebih baru dan cepat. Kawasan Priangan dibagi menjadi wilayah penghasil kopi dan bukan penghasil kopi. Wilayah penghasil kopi yaitu Kabupaten Sumedang, Bandung, Cianjur dan Parakanmuncang. Sumbangsih Daendels paling legendaris adalah pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Panarukan. Jalan tersebut menghidupkan dan mempercepat arus distribusi kopi ketika dibawa ke Gudang pemerintah. Jalan Raya Pos ini melewati Bandung, Sumedang dan Cianjur. Sebagai wilayah penghasil kopi utama Priangan.
Contoh nyata adanya perkebunan kopi di Sumedang adalah kerangka-kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran. Di masa silam, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang tumbuh subur di sekitar wilayah tersebut. Dan pembuatan jalan Cadas Pangeran dibuat untuk akses pengangkutan kopi keluar daerah Sumedang untuk diekspor ke Eropa. Ditemukan tiga jenis tanaman kopi yang diduga selamat dari serangan penyakit yang membuat perkebunan kopi Jawa Barat hamper punah pada tahun 1922. Tanaman kopi unggulan tersebut adalah jenis arabika yang jumlahnya masing-masing kurang dari 20 pohon, yang ditemukan di Sumedang dan Garut. Dari hasil uji cita rasa terhadap tiga tanaman tersebut, mendapatkan hasil yang unggul, dengan nilai 85. Cita rasa yang diperoleh berupa cita rasa caramel, bunga dan kacang-kacangan. (BalaiPengembangan Benih Tanaman Perkebunan,2015).
Kopi Sumedang merupakan salah satu Kopi Jawa (Java coffee) yang sangat diperhitungkan kualitasnya. Salah satunya kopi dari Gunung Manglayang yang sudah mendapatkan pengakuan Indikasi Geografis, Java Preanger Coffee oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Khususnya masuk kategori Spesialty Coffee. Pengakuan Indikasi Geografis dibutuhkan untuk melindungi kopi Jawa Barat, dengan kriteria tertentu tidak bisa dimanipulasi sebagai kopi Java Preanger (Arief Sofyan, 2015). Di mana dengan pengakuan dan penilaian tersebut, kopi Manglayang, khususnya dari Gunung Manglayang Timur yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumedang, telah diakui keunggulan dari kualitas cita rasa dan aroma dari kopi tersebut. Selain Gunung Manglayang, yang mempunyai potensi perkebunan kopi diantaranya Gunung Tampomas, Gunung Cakrabuana, Gunung Lingga dan Gunung Kareumbi.
Musim panen kopi di Indonesia biasanya dimulai pada bulan Mei/Juni dan berakhir sekitar Agustus/September. Periode panen raya berlangsung 4-5 bulan dengan frekuensi pemetikan buah kopi bisa setiap 10-14 hari sekali. Tanaman kopi berbunga tidak serempak sehingga buah pun matang tidak serempak, oleh karena itu buah kopi dipetik secara bertahap. Buah yang berwarna merah dipetik satu persatu dengan tangan. Ciri-ciri buah kopi yang telah matang bisa dilihat dari warna kulitnya. Buah kopi yang paling baik untuk dipanen adalah yang telah matang penuh, berwarna merah. Panen buah kopi pertama umumnya sedikit. Jumlah tersebut meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya setelah tanaman berumur 7–9 tahun. Tanaman kopi berumur 7–9 tahun jika dikelola secara intensif produksinya mencapai 2.000 kg/ha/tahun. Buah kopi mulai masak bulan April/Mei sampai September/Oktober. Dengan adanya program pemerintah dalam hal pembagian benih kopi setiap tahunnya, termasuk pembagian bibit ke wilayah Kabupaten Sumedang, akan menambah produktivitas kopi di Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat sangat mendukung pengembangan Kopi yang telah dan sedang diprogramkan untuk rakyat Jawa Barat. Sesuai dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat yang telah dan akan memberikan benih Kopi terhadap para petani, dimulai tahun 2014 dengan pemberian benih kopi 1 juta pohon, dari tahun 2015 s/d 2016 sudah dilaksanakan pembenihan kopi 4 juta benih untuk penanaman kopi di Jawa Barat dan selanjutnya pada tahun 2017-2018 direncanakan akan dilaksanakan pembenihan 10 juta benih sehingga berjumlah 15 juta benih kopi. Dalam mendukung pengembangan tanaman kopi Jawa Barat sejak tahun 2014 s/d 2018 harus menyediakan lahan seluas 7.500 Ha. Pada tahun 2017, pemerintah membagikan 5 juta pohon kopi kepada para petani se-Jawa Barat melalui Jabar Lautan Kopi. Pemberian kopi tersebut dimaksudkan untuk melestarikan sebagai tanaman konservasi di dataran tinggi, selain meningkatkan kesejahteraan para petani. Seperti halnya perkebunan kopi di wilayah Kabupaten Sumedang, bahwa penanaman kopi pada umumnya menggunakan lahan pemerintah yang notabene merupakan kawasan hutan yang diantaranya hutan Pinus, di bawah pengelolaan Perum Perhutani Kabupaten Sumedang. Menurut Dr. Dadan Mulyana, ahli Ekologi yang berasal dari Sumedang mengatakan bahwa tanaman kopi memiliki fungsi pada aspek biodiversity dan lingkungan. Sebatang pohon kopi memiliki peranan atau fungsi dalam mendukung ekosistem lainnya. Hal ini disebabkan oleh komposisi yang terdapat dalam sebatang pohon kopi menyokong terhadap keberlanjutan biodiversity sekitarnya. Oleh sebab itu kopi tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, namun lebih dari itu tanaman kopi juga memiliki peranan bagi keberlangsungan biodiversity di sekitarnya. Maka di saat seseorang mengusahakan kopi di suatu kawasan, berarti juga telah mengusahakan keberlanjutan dari biodiversity di kawasan tersebut.
Tentang Kopi Indonesia dan Nasib Petaninya
Tren pertumbuhan ekspor kopi Indonesia diprediksiakan terus berlanjut. Produksi kopi Indonesia di 2017 sebesar 650 ribu ton, yang terdiri dari jenis robusta sekitar 75 persen dan arabika sebanyak 25 persen. Industri di dalam negeri paling banyak menyerap kopi dengan jenis robusta, 65 persennya berasal dari wilayah Sumatera seperti Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi. Sebagian besar kopi yang dihasilkan didalam negeri memang diperuntukkan untuk kebutuhan ekspor. Data dari Kemenperin ekspor biji kopi pada periode Januari-November 2017 mencapai 432 ribu ton dengan nilai US$ 1,094 miliar. Biji kopi tersebut diekspor ke Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Italia dan Malaysia. Sementara ekspor kopi olahan pada periode yang sama sebesar 152,98 ribu ton dengan nilai US$ 416,319 juta. Kopi olahan tersebut telah memiliki pasar di sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Iran, Uni Emirat Arab dan Singapura. Selain mengekspor, Indonesia juga mengimpor biji kopi dan kopi olahan dari negara lain. Namun jumlahnya, baik berupa volume maupun nilai, tidak sebesar ekspor yang dilakukan, untuk impor biji kopi pada periode Januari-November 2017 tercatat sebesar 10,077 ribu ton dengan nilai US$ 24,54 juta. Biji kopi tersebut berasal dari Vietnam, Brasil, Timor Timur dan India. Sedangkan impor kopi olahan mencapai 10,772 ribu ton dengan nilai US$ 63,72 juta. Indonesia mendatangkan kopi olahan ini dari lima negara seperti Brasil, Malaysia, India,Vietnam dan Singapura. Konsumsi kopi di dalam negeri terus mengalami peningkatan. Hal tersebut didorong oleh gaya hidup masyarakat dan menjamurnya kedai-kedai kopi di berbagai daerah di Indonesia. Dengan munculnya kedai kopi dapat dilihat dari tingginya konsumsi di dalam negeri namun juga porsi penyerapan masih lebih besar di rumah tangga. Meski dengan adanya kedai kopi ini membantu konsumsi di dalam negeri. Ada banyak permasalahan yang di hadapi oleh petani kopi, mulai dari permasalahan lahan yang tidak cukup (hak atas tanah tidak terjamin), lokasi geografis yang ekstrim, pengurusan tanaman yang semakin harus teliti, pengelolaan buah kopi yang sangat cermat untuk mempertahankan mutu hingga penghargaan nilai jual yang tidak adil. Pemerintah perlu memberikan perhatian serius dalam pengembangan kopi dengan sistim agribisnis modern yang berkelanjutan, mengingat besarnya peluang dan tantangan ke depan. Inovasi baru perlu terus ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar dunia, sehingga kopi Indonesia menjadi pilihan konsumen domestic dan internasional pun mampu menjawab tantangan dan peluang perubahan dan persaingan dunia tersebut dengan bekerja keras dan serius dalam mengelola produktivitas dan kualitas kopi nasional.
Indonesia mempunyai beberapa indicator yang menunjukkan adanya potensi besar untuk dikembangkan secara ekonomi yang digerakkan oleh kreatifitas/ide berbasis kekayaan budaya dan lingkungan alam, dengan memanfaatkan teknologi informasi yang semakin maju dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia yang diprediksi akan memiliki bonus demografi. Dengan proporsi penduduk usia produktif sangat besar mencapai 60% (enam puluh persen) dari total penduduk. Ini merupakan modal dasar dalam pengembangan ekonomi kreatif yang hadir dari ide dan kreatifitas manusia yang tidak terbatas. Pemerintah gencar berencana untuk memaksimalkan potensi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dan pengusaha rintisan (startup) Sumedang dengan meningkatkan kesiapan dalam mengakses pembiayaan non perbankan maupun investor. Peluang Sumedang dalam mengembangkan ekonomi kreatif sangatlah besar mengingat berbagai potensi yang dimilikinya. Sebab Sumedang mempunyai latar belakang sejarah dan budaya yang cukup kuat. Begitu juga dengan letaknya yang strategis, dekat dengan ibu kota provinsi, ditambah pembangunan mega nasional di Kawasan Sumedang, seperti Kawasan Bendungan Jatigede. Belum lagi sumber daya alam dan manusianya. Itu semua modal utama dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Jika seluruh potensi tersebut digarap dengan serius, Sumedang beberapa tahun ke depan akan menjadi Kabupaten yang benar-benar maju.
Ekonomi kreatif di pedesaan akan semakin berkembang dengan dukungan anggaran yang semakin besar dari pemerintah sesuai dengan UU Desa yang baru, alokasi anggaran ke desa desa akan sangat besar dengan prosentasi 70 % infrastruktur dan 30 % pemberdayaan masyarakat. Keenam belas sub sector yang pernah digerakkan oleh Badan Economi Kreatif (Bekraf) yang sekarang menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) terdiri dari: 1) Aplikasi dan pengembangan game, 2) Arsitektur, 3) Desain Interior, 4) Desain Komunikasi visual, 5) Desain Produk, 6) Fashion, 7) Film, Animasi dan Video, 8) Fotografi, 9) Kriya (Kerajinan Tangan), 10) Kuliner, 11) Musik, 12) Penerbitan, 13) Periklanan, 14) Seni Pertunjukan, 15) Seni Rupa, 16) Televisi dan Radio.
Kabupaten Sumedang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terletak sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung, berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di Utara, Kabupaten Majalengka di Timur, dan Kabupaten Garut di Selatan. Sumedang terkenal sebagai lingkungan pendidikan karena banyak lembaga perguruan yang sekarang menempatkan kampusnya di Jatinangor. Maka dari, itu Sumedang juga terkenal sebagai tempat transit bagi para wisatawan yang akan menuju Bandung atau Cirebon. Memiliki daya tarik akan pariwisata dan mempunyai komoditas unggulan yang menjadi oleh-oleh Khas Sumedang. Seperti banyak daerah di Indonesia, Kabupaten Sumedang saat ini juga sedang membenahi diri dari segala bidang pembangunan, termasuk yang menjadi prioritas adalah pengembangan sumber daya manusia yang dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan edukatif, termasuk penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kualitas pelaku kreatif dari segala usia, agar dapat meningkatkan ekonomi. Dalam meningkatkan kapasitas SDM, diperlukan kerja keras dan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah,dan masyarakat itu sendiri. Sumber Daya Manusia kreatif menjadi focus pembinaan. Lembaga pemerintah pusat berkewajiban untuk mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki penduduk usia produktif yang diharapkan akan menjadi pelaku kreatif sesuai minat dan bidang yang digeluti. Tidak hanya generasi muda, kalangan generasi diatas 50 tahun pun tak luput dari perhatian seharusnya. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa banyak produk kreatif berkualitas tinggi justru dihasilkan dari tangan-tangan penduduk usia emas. Produk-produk yang dihasilkan bisa didapatkan dengan mudah di berbagai took makanan dan souvenir, dalam bentuk makanan, kerajinan, dan barang-barang lainnya. Namun, ketiadaan informasi dan kurangnya binaan dari pihak terkait, membuat tidak mengikuti trend yang terjadi dalam mengemas menjadikan produk yang dihasilkan terkesan monoton pun sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Untuk itu, diperlukan pelatihan khusus sebagai upaya dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi produk dan menjangkau pasar yang lebih luas. Bupati Sumedang, Doni Ahmad Munir, mengatakan ada 3 tantangan pengembangan pariwisata di Kabupaten Sumedang yakni: Atraksi atau pertunjukan yang belum dikemas dengan baik, Aksesibilitas menuju objek wisata serta Amenitas yakni berbagai fasilitas pendukung yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berada di tempat wisata.
UMKM Indonesia menerima dampak yang cukup signifikan pada terjadinya pandemi COVID19 ini. Bagaimana tidak, jalan untuk terus bertahan dan berpenghasilan terputus seketika. Para pelaku UMKM ini mau tak mau harus memutar cara bagaimana untuk dapat bertahan, termasuk untuk menjadi lebih kreatif dari sebelumnya. Beberapa fakta mengejutkan bahwa kondisi UMKM sebelum COVID19 dialami cukup baik oleh hampir seluruh pelaku usaha. Namun, saat terjadi COVID19 keadaan berbalik. 56.8 persen UMKM berada dalam kondisi buruk, hanya 14.1 persen UMKM yang masih dalam kondisi baik. Dampak pandemi terhadap usaha mencatat 82.9 persen dampak negative, dan hanya 5.9 persen dampak positive, sisanya 11.2 persen pihak-pihak tidak terdampak. Pandemi ini bahkan menyebabkan 63.9 persen dari UMKM yang terdampak mengalami penurunan omzet lebih dari 30 persen. Hanya 3.8 persen UMKM yang mengalami peningkatan omzet.
UMKM berusaha sedemikian rupa melalui offline, online atapun kombinasi keduanya. Berbagai cara dilakukan agar terus bertahan melewati pandemi. Namun, cara ini tidak dapat serta merta dilakukan jika para pelaku UMKM masih gagap teknologi (gaptek) dan atau kurangnya pengetahuan digitalisasi.
Beberapa indikator digunakan untuk mengukur Indeks Kesiapan Digital dari UMKM tersebut yaitu indicator optimism, kompetensi, keamanan, dan kenyamanan. Indeks Kesiapan Digital dari UMKM ini memiliki rata-rata di angka 3.6. Indeks Kesiapan Digital ini juga menunjukkan bahwa generasi yang semakin tua memiliki indeks kesiapan digital yang lebih rendah dibandingkan dengan generasi yang lebih muda, hal ini diperkuat dengan ide-ide segar mengenai digitalisasi ekonomi yang datangnya dari kalangan-kalangan pengusaha milenial.
Potensi Start-up Kopi di Sumedang
Menurut Neil Blumenthal, startup adalah perusahaan yang memiliki visi untuk menyelesaikan masalah sosial. Sementara menurut Eric Ries (The Creator of Lean Startup Methodology), perusahaan startup adalah perusahaan yang di desain untuk menciptakan produk atau jasa baru dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Indonesia menjadi salah satu penyumbang startup terbesar di Asia Tenggara. Tak mengherankan, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi diatas 5% selama lima tahun terakhir karena melakukan digital inclusion. Memiliki usaha rintisan dari membentuk tim, brainstorming, idea pitching, hingga presentasi di depan investor dengan bimbingan mentor, maka Indonesia dapat membantu menyumbang lebih banyak peranan dalam mensejahterakan petani kopi. Keberadaan startup kopi di kabupaten Sumedang didukung dengan aktivitas masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Tinggal bagaimana cara membuat produk kopi lebih kreatif dan bertahan seiring berkembangnya jaman.
Perusahaan startup adalah perusahaan yang mencoba untuk mendobrak pasar dengan produk/ jasa baru. Nah, kata “mendobrak” ini akan menimbulkan dua reaksi. Yang pertama adalah sukses menembus pasar/market penetration succeed. Yang kedua adalah terpental karena tidak mampu untuk mendobrak pasar. Maka, kekuatan tim perusahaan rintisan yang harus diperkuat. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan demi mendukung keberadaan petani kopi di Sumedang, mendukung terciptanya usaha maupun produk ekonomi kreatif dalam menjawab tantangan jaman. Pertama, lihatlah suatu masalah secara menyeluruh Misal, kurangnya kesinambungan kemampuan pengetahuan dan berkebun antara petani kopi yang daerahnya sulit dijangkau dengan petani kopi yang dengan mudahnya menjangkau kota adalah salah satu masalah mengapa pemasaran masih sangat sulit dilakukan. Hal ini berujung pada transaksi harga kopi yang sangat merugikan para petani. Selanjutnya adalah analitis. Setelah bertemu dengan masalah pemicu maka analisis masalah pemicu perlu dilakukan, mulai dari alternatif solusi, hingga kemungkinan masalah terburuk yang bisa muncul. Seperti faktor-faktor gagal panen, penggunaan bibit/benih, perlakuan saat berkebun sampai proses pemasaran produk. Apakah biaya penjualan produk sudah mampu menutupi biaya produksi atau belum. Setelah semua teranalisis dengan baik lalu,lakukan kerjasama dengan berbagai pihak, membangun jaringan. Produk hadir sebagai perantara dalam melakukan delivery idea dan nilai.
Oleh sebab itu, harus benar-benar teliti dan berhati-hati dalam mengembangkan produk sebagai media dalam mendemonstrasikan ide adanva value perusahaan rintisan nantinya. Sumedang memiliki potensi yang sangat kaya, sebagai puseur budaya Sunda pun sudah seharusnya kopi tak luput dari perhatian masyarakatnya sebagai salah satu potensi unggulan pariwisata. Terakhir jangan lupa untuk memperhatikan poin legalitas, mendaftarkan brand kepada HAKI untuk menghindari plagiarism dan lain sebagainnya. Selain itu, pastikan legalitas perusahaan jelas dan memiliki no.NPWP. Taat pajak,ya! Apalagi kalau sudah punya revenue untuk dilaporkan. Berkembangnya suatu daerah adalah selain kepedulian masyarakatnya untuk berdaya pun memperhatikan hal-hal kecil sebagai bekal dalam memperkuat nilai keberadaan suatu produknya. Sumedang tengah didukung dalam promosi wisatanya. Mari mendukung dengan promosi kopi dari petani-petani lokalnya. Sejahtera petani kopi Sumedang, sejahtera petani kopi Indonesia, mendunia kopi Sumedang.(12/9)




















