"Enak ya dulu waktu kita masih di rumah." atau "Enak ya dulu waktu kita masih sekolah." atau "Enak ya dulu waktu masih jadi anak-anak." Seorang anak yang hampir menginjak 26 tahun, seringkali mengucapkan hal demikian ketika banyak sekali masalah datang. Ketika tidak ada lagi rasa aman dan rasa nyaman yang datang. Bagi kami kaum perantau, kenyataan ini terasa tidak mudah.
Masa-masa menyenangkan dan terasa mudah itu acap kali terputar secara tiba-tiba ketika kita terpaksa harus menangis karena tak mampu lagi menanggung beban. Padahal dulu sewaktu kita masih berada seratus persen di bawah pengawasan orangtua, kita suka berkata, "Ingin deh aku menjadi orang gedhe. Enak bisa kemana-mana sendiri. Enak bisa belanja ini itu. Enak boleh pacaran. Enak boleh dandan pake lipstik." Ternyata yang 'tampak' memang terkadang hanya 'tampaknya', ternyata jadi anak gedhe juga punya tanggung jawab dan pikiran yang lebih njelimet.
Kadang ingin sekali balik ke masa-masa menyenangkan dulu. Namun kan ya semakin lama kita akan semakin dewasa. Masak iya, umur makin tua tapi perilakunya masih kayak bocah, masih terus ingin berlindung di belakang badan orang tua.
Disadari atau enggak, semakin tahun, umur orang tua kita semakin menua. Kekuatan mereka juga tidak seperti saat kita masih kecil. Harapan mereka mungkin sederhana yaitu menikmati masa tua dengan melihat anak-anaknya bahagia.
Proses membahagiakan orangtua itu pasti berbeda di antara kita. Definisi 'anaknya bahagia' dari setiap orang tua juga pasti berbeda.
Suatu hari nanti, insyaAllah kita juga akan menjadi orangtua. Mungkin salah satu definisi bahagia dari orangtua kita yaitu melihat anak-anaknya membangun rumah tangga dan memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Ketika aku rindu rumah dengan sangat dan rasanya ingin menyerah dengan kehidupan keras yang terjadi hari ini, aku tiba-tiba tersentak, "Orang tuamu makin tua, kini tugasmu membuat orangtuamu bahagia - seperti dahulu kamu yang merasakan kebahagiaan ketika ibu dan bapak membelikanmu mainan atau sepatu baru."
Kepada siapapun yang masih terus berjuang dan terancam tidak bisa berkumpul dengan keluarga pada hari raya kali ini, mari kita saling menguatkan. Semoga jalan yang kita hadapi ini adalah jalan yang diberkahi oleh Allah. Semoga pula kita terus diberikan kesehatan dan umur yang panjang, sehingga setelah semua ini mereda, kita bisa dengan segera kembali bertemu dan mencium tangan kedua orangtua kita.
Dari aku, yang masih selalu menangis ketika sadar bahwa tahun ini tidak bisa mudik.