“Saat kau mulai jatuh cinta pada ayat-ayatNya, maka itulah jatuh cinta yang paling indah”
—
istjou
RMH

ellievsbear

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home

oozey mess
🪼
One Nice Bug Per Day

#extradirty
wallacepolsom
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
No title available

No title available
taylor price
todays bird
h
$LAYYYTER
No title available

Product Placement

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Finland

seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from Philippines

seen from United States
seen from Romania
seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Romania
seen from Malaysia

seen from Bahrain
seen from United States

seen from Canada
seen from Australia
seen from United States
seen from Kuwait
@missdjiw
“Saat kau mulai jatuh cinta pada ayat-ayatNya, maka itulah jatuh cinta yang paling indah”
—
istjou
Salah satunya screenshoot dari snapgram mba @tyasmomiji
Sekumpulan kontemplasi awal tahun
Tak ada yang bilang menjadi dewasa itu indah dan menjadi anak kecil itu selalu bahagia dengan rekah. Kalau menakar banyak keinginan dalam hidup dengan harapan semua hal akan berjalan sempurna, maka hanya akan lebih banyak menanamkan luka daripada menikmati setiap rute perjalanan dan ujiannya.
Ketika menyadari bahwa hidup seperti berjalan di dalam sebuah labirin takdir yang akan membawa kepada satu tujuan yang pasti, maka ambisi-ambisi, seakan memiliki batas untuk diperjuangkan dan beberapa mimpi seakan memiliki kata cukup hanya untuk dibayangkan saja. Karena beberapa hal yang terlalu dipaksa dengan keras kepala, jika bertabrakan dengan ekspektasi maka hanya akan membenamkan kita ke dalam kekecewaan yang panjang.
----
Menampilkan potongan-potongan hidup dalam ranah sosial, nampak seperti membiarkan orang lain mengunjungi diri tanpa permisi. Seakan-akan tampak menyenangkan atau sebenarnya haus akan rasa peduli? Menjadi hati-hati berhadapan dengan hasrat yang bergejolak tatkala ingin membagikan rasa senang yang sedang dicecap, apakah setiap hati yang melihat akan turut berucap syukur atau malah memantik rasa iri? Pun menjadi lebih tahu diri saat membagikan hal-hal yang membuat sedang sedih, apakah kepedulian sesaat dari orang lain akan menghapus rasa sedih itu? Bukankah Allah yang membuat kita tertawa ataupun menangis? Maka semoga dengan Allah sudah mengetahui segala isi hati itu sudah memberi rasa cukup.
---
Belajar bodoh amat dengan segala perspektif orang lain. Entah mengapa mengerdilkan diri dan seolah tak terlihat pada realita hidup jauh lebih menenangkan daripada menjadi sorotan padahal bukan pahlawan. Hidup rasanya menjadi lebih sesak tatkala mempertimbangkan apa pikiran orang lain tentang kita? Apakah kita sudah cukup baik di mata mereka? Lalu jika sudah baik, apakah kita akan mendapat medali juara? Semestinya segala niat diluruskan hanya untuk mengharap ridha Allah. Jika sudah dirasa benar dan tidak merugikan siapa-siapa dalam urusan pekerjaan, maka mau apa dikata orang, untuk apa kita pusingkan? Mari belajar kuat dan percaya kepada diri sendiri.
Jumat, 12 Januari 2023 10.59 wita
Menjodohkan Teman
Perkara jodoh-menjodohkan, sejujurnya aku pribadi tidak begitu berani menjadi perantara perjodohan secara langsung. Walaupun aku dan suami juga awalnya dikenalkan dengan teman, tapi entah kenapa, kalau aku sendiri mau jodohin orang, rasa waspadaku terlalu tinggi perkara ini. Di sisi lain, aku juga ingin membantu beberapa temanku yang belum Allah kehendaki bertemu jodohnya
Ada beberapa temanku sering bercanda, "Eh, San.. kalau ada kenalanmu dong, siapa tau ada yang cocok". Pernah sempat mau menjodohkan dengan temanku, tapi ternyata yang laki-laki (teman suamiku) redflag di tata kelola keuangan. Salah satu contohnya, suka berhutang (riba) untuk gaya hidup. Mohon maaf, berdasarkan prinsip aku dan suamiku, hal begitu wajib diskip
Pernah juga, saat mau menjodohkan dengan temanku, aku tanya ke suamiku. Si laki-laki ini kepribadiannya baik, pekerja keras, ga pelit, ibadah rajin, sholat di masjid, ganteng. Tapiiii ternyata boti :')) hehhhh itu gimana ceritanya sihhh! Siapaaaa yang nggak shic shac shock wkwkwk
Kemudian, aku juga sempat mau menjodohkan sahabatku saat mengajar di pesantren. Rencananya mau aku kenalkan dengan temanku, yang belum ku kenal begitu dekat. Saat itu entah kenapa aku sedikit ragu, sampai ku ulur waktunya, untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang si laki-laki ini. Padahal kalau di screening sih ya cocok. Orangnya zopannn gaes
Sampe akhirnya beberapa bulan, mulai sedikit terlihat karakternya seperti apa. Sampe akupun terlibat, dan tau bagaimana bermuamalah dengan dia, tau bagaimana dia bermuamalah dengan orang lain. Lalu, jdeeerrrr.. tipikal manipulatif dan NPD. Ngeri banget gaktuh!! Langsung skip skip.. ga kebayang sobiku punya pasangan NPD, udah gitu manipulatif. Huaa jadi kaya kecewa banget, apalagi sahabatku ini udah ngarep :') suamiku ikut kzl juga. Ngeriiiiii mending jangan. "Berurusan sama NPD itu capek. Udah capek, ga dapet hasil apa-apa, kan?", kata suamiku.
Mau sekeliatan shalih/shalihah seseorang, sudah ngaji atau spek hafidz/hafidzah, ustadz/ustadzah. Kalau sudah ada ciri mencolok NPD, pleaseee jangannnn!! Pengalaman suamiku dapet bos NPD dan manipulatif, kacau, dia juga sampe ikut terganggu mentalnya. Ga bisa berkutik. Cuma bisa berdoa, tawakkal bahwa Allah yang menghadirkan segala sesuatu untuk kita; Allah juga yang bisa mengangkat rasa tidak nyaman/kezaliman yang dilakukan manusia
Please normalisasi usia 30+ belum menikah, itu gapapa. Normalisasi belum nikah karena emang harus pilih-pilih. Mungkin sekarang aku akan TAMBAH MANGKEL, kalau ada yg nyinyirin orang belum menikah. Pilih-pilih gapapa banget, daripada harus tersiksa dengan pasangan yang menjadi ujian besar buat kita
Redflag enggaknya seseorang memang relatif, tapi kalau kita tau dia sudah redflag dan tetap lanjut, itu artinya kita telah siap memilih ujian yang akan kita hadapi di bahtera pernikahan
Pesan ustadzku dulu, "Menikah itu ibarat kita memilih ujian. Tidak ada manusia yang sempurna. Maka dari itu buatlah analisa, pilih seseorang yang kamu tau saat bersama dia nanti, kamu akan siap menghadapi ujian darinya"
Ya Allah.. mudahkanlah teman-temanku mendapatkan jodoh yang baik perangainya, shaalih ibadahnya, bapakable dan keinginan-keinginan lain yang sesuai dengan hati. Yassarallahu umuurana. Allahumma baarik~
Jakarta, 13 Agustus 2024 | Pena Imaji
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa peran kita saat ini adalah rangkaian takdir yang telah Allah tetapkan. Peran ini adalah pilihan Allah, dan ketika Dia memilihkan peran tersebut, pasti telah disertai dengan kemampuan untuk menjalankannya.
"Bahagia" yang seperti apakah yang aku lihat sebelum aku lahir, sehingga aku yakin menjawab 77 kali untuk tetap lahir di dunia ini?
Pernah ga sih kalian ada di fase yang rasanya udah husnudzon maksimal ke Allah tapi ternyata hasilnya ga sesuai sama apa yang kalian harapkan?
Kalo pernah, welcome to the gank!
Sempet ngerasa kecewa karena udah kemakan banyak quotes agama yang sering muncul, keyakinan yang udah apik banget dibangun tiba-tiba hancur.
Tapi mungkin ini yang mereka sebut "perjalanan spiritual". Dan setiap orang akan sampai di perjalanannya masing-masing, dengan ujian yang berbeda jenis dan levelnya.
Rasanya pengen marah, tapi rasanya juga ga berhak buat marah. Perang batin yang sengit ini akhirnya dimenangkan oleh ayat,
ولا تيأسوا من روح الله
Iya, ternyata selama ini aku cuman paham dan tersentuh sama segala quotes agamis itu secara tekstual. Tapi waktu Allah uji dalam kehidupan nyata? Nol. Implementasi pemahamanku remedi.
Ternyata aku masih gagal dalam memahami bahasa cintanya Allah. Kalo dibuat grafik, skala taat sama banyaknya permintaanku masih berbanding terbalik. Dan ini jelas ga adil, sampai akhirnya aku paham bahwa aku memang pantes dapet semua ini.
Syukurku jelas kurang banyak. Aku yang hanya fokus sama satu titik di mana Allah uji, tapi lupa sama ribuan nikmat yang udah Allah kasih sejak aku lahir. Bahkan sebelum itu.
Tiap ngerasa berdosa gini, balik lagi ke ayat di atas. Aku masih punya nafas dan kesempatan buat bertaubat. Buat jadi hamba yang lebih dan lebih baik lagi.
Yang penting, jangan nyerah dari Rahmat Allah ya. Perjalanan menuju Allah emang berat, tapi itu sebentar aja kok. Sisanya adalah keabadian. Dan kita harus tentuin dari sekarang, mau menghabiskan keabadian yang gak berujung itu di Surga atau Neraka?
Meniti peran sebagai hamba.
— @sepertibumi
apa kabar kamu di sana?
bahagiakah selepas tidak lagi bersama?
Ada perkataan dari salah seorang penyair :
امرأة ليس لها حد في الحنان، تداوي جرح إصبعك وكلتا يداها مجروحتان
"Perempuan tidak memiliki batas apapun dalam menyayangi. Dia bisa mengobati luka jarimu meskipun kedua tangannya sendiri terluka.
Sumber : kiriman pesan dari seseorang, semoga Allah سبحانه وتعالى menjaganya
sumber: projectmuslimah
Biar kuceritakan tentangku
Aku wanita yg keras kepala dan sangat susah diberitahu. Egoku besar dan aku banyak menjadi idealis atas apa yg aku yakini. Berdiskusi denganku akan banyak menguras emosimu, nantinya. Tapi hatiku lembut, aku mudah menangisi hal sederhana dan mudah merindukan pelukan.
Aku suka jajan dan jalan2, tapi aku juga menghabiskan sebagian besar waktuku untuk bekerja. Jika sudah menginginkan sesuatu, susah sekali menahannya "nanti". Sejak kecil aku sudah terbiasa bekerja keras mendapatkan apa yg aku inginkan dan aku selalu berhasil mendapatkannya. Hal itu terbawa sampai saat ini. Aku memperjuangkan apa yg aku inginkan.
Aku cuek, wanita dengan ego yg tinggi, tapi dibaliknya peduliku amat sangat besar. Hanya saja memang aku tak mudah mengalah. Aku selalu menepati ucapanku, karena itu aku sangat membenci orang2 yg mengingkari perkataannya padaku. Aku akan mengingatnya sepanjang hidupku.
Aku sangat posesif, apa yg menjadi miliku adalah milikku. Kamu tidak boleh terbagi karena akupun tak akan pernah membagi. Kamu tidak boleh begitu, karna akupun tak akan begitu. Egois, tp jika tidak sepakat boleh dihentikan sejak dini.
Aku, anak perempuan pertama. Sejak kecil berdiri sendiri, berjuang sendiri atas apa yg aku inginkan. Aku benci basa basi, menye menye dan banyak drama. Padaku, to the point adalah pilihan paling tepat karena berpikirku selalu sederhana. A ya A, B ya B. Aku selalu begitu, membenci hal2 yg menuntutku berpikir banyak karena waktuku jauh lebih berharga kugunakan untuk bekerja. Sederhana saja, tak perlu kode, katakan supaya aku paham.
Aku mengatakan semua yg ingin kukatakan, tak suka menyisakan masalah. Menyelesaikan sebaik baiknya sampai semua orang mengatakan aku terlalu perfeksionis. Yaaa... Bagiku segala sesuatu harus dituntaskan dengan baik, tidak disisakan. Aku akan mudah marah jika tidak sesuai ekspektasiku, parah. Tapi aku sedang berjuang untuk tak berekspektasi pada hasil siapapun, hanya diriku sendiri.
Aku mungkin banyak kurangnya, keras kepala, banyak maunya, tak sabaran, egois, dan banyak lagi. Tapi aku... Ketika sudah mencintai kadang berubah menjadi aku yg tak kukenali. Aku selalu bersetia pada kata hati. Hal paling kubenci adalah kebohongan dan penghianatan. Saat bersamaku, jangan pernah otak dan hatimu terganggu hal lain, aku akan sangat sedih dan tersinggung. Karena waktu bagiku sangat berharga, jika kuhabiskan waktu bersamamu artinya kamu sangat berharga dan aku sudah mengorbankan banyak hal atasmu. Kamu harus menghargainya, sebagaimana aku menghargai waktumu.
Kamu punya hak penuh untuk pergi atau tetap tinggal, kuberitahu sejak awal. Jika memilih tinggal kau harus menerima dua resikonya:
1. Sabar, sabar, terus sabar
2. Jatuh sedalam2nya karena kucintai sehebat2nya
Kita tidak pernah tahu seberapa kerasnya usaha orang lain untuk ridha dan mencintai takdirnya :). Maka, semoga Allaah Ta'ala senantiasa menjaga lisan kita dari ketidaksengajaan mengusik keridhaannya :).
Pada akhirnya, orang yang kita butuhkan bukanlah ia yang pandai berbicara di depan umum, bukanlah ia yang mahir berstrategi dalam berorganisasi, bukanlah ia yang memiliki capaian prestasi gemilang. Bukan. Tapi ia yang bisa menghargaimu, sesederhana apapun. Tapi ia yang bisa mendengarkanmu, tanpa judgement. Dia yang bisa mengayomi tanpa kamu merasa didominasi. Dia yang bisa mengarahkanmu tanpa kamu merasa ragu utk dibersamai. Iya, kan?
Berbicara di depan umum bisa dipelajari, namun mengerti cara untuk menghargai adalah bagian dari pribadi. Nanti, semoga kita dipertemukan, ya. Aku pun masih banyak belajar.
Bener banget ini.
Mau menambahkan dia yang mengapresiasi setiap mimpi kecilmu,sungguh aku terpukau.
Saya menggemari dimensi yang lebih dalam
Pikiran, emosi, dan hal-hal yang merayap dalam benak namun sulit untuk dipahami dengan kata-kata
Saya menikmati pesona yang terpancar dari keelokan alam
Saya suka sains dan memikirkannya
Saya suka mendengar nasihat dan merenunginya
Saya suka kedalaman
Karena saya sadar,
Hati dan pikiran tidak dibuat hanya untuk hiasan
Hanya ingin mengingatkan kepada diri sendiri :
"Tetaplah membumi meski disuguhi langit."
Jadi perempuan harus siap dengan posisi serba salah.
Perempuan dituntut untuk memeluk kekurangan dan aib keluarga.
Perempuan dituntut sholehah, cerdas dan selalu menarik.
Perempuan dituntut sempurna menjadi bidadari suami dan madrasah pertama keturunannya.
Sepertinya semua hal tersebut masuk akal berlaku ideal bila suami pun telah sempurna tahu dan faham menempatkan dirinya.
Ketika laki-laki telah absolut mumpuni sebagai imam, pembimbing dan kepala keluarga yang bertanggung jawab.
Tidak hanya bertanggung jawab soal materi, tapi juga soal religi, psikologi, emosional dan fasilitas seluruh anggota keluarga.
Sering kah dengar dan melihat perempuan sakit jiwanya?
Tubuh nampak sehat tapi jelas nampak ada tidak kestabilan psikologis dan emosional??
Atau akhlaknya menyejukkan tapi fisiknya ringkih sakit-sakitan??
Sering ya
Perempuan
Kalau berkoar kesengsaraan di umum, dikata tak pandai jaga rahasia.
Kalau dipendam, lama-lama jadi gila.
Lalu tidak jarang akhirnya makhluk terdekat lah yang jadi pelampiasan kekesalannya.
Yaitu anak-anaknya
Suami main tangan, ada
Suami lalai nafkah, ada
Suami abai kebutuhan keluarga, ada
Suami gila perempuan, ada
Suami tidak peka kewajiban, ada
Suami tak faham memimpin, ada
Suami jauh agama, ada
Tapi ketika suami selingkuh... perempuan dikata isteri tak luwes menyenangkan suami
Ketika suami KDRT...
Perempuan dikata tak pandai jaga sikap
Ketika suami marah...
Perempuan dikata tak cerdas jaga mulut
Perempuan terluka dalam diam, lalu semua hancur, ia dibodoh-bodohkan banyak orang.
Perempuan curhat dan berbicara, berbagi kesah mengurangi derita,
Dianggap tak punya iman dan tidak tahu malu.
Anak-anak kacau, yang disalahkan asuhan ibunya.
Anak-anak menonjol, yang dikenal dia anaknya bapak siapa.
Wanita dituntut untuk menjaga keseimbangan keluarga.
Sudahlah rusak badan karena hamil, melahirkan, dan suaminya.
Masih pula jungkir balik kaki jadi kepala, kepala jadi keset keluarga.
Namun bila terpaksa ada tuntutan karena kondisi yang belum layak...
Seringnya wanita juga terhakimi sebagai makhluk kurang bersyukur.
Ahh ibu, perempuan, wanita.
Pantas kau lebih cepat terlihat tua.
Surga dijanjikan di telapak kakinya,
Namun ancaman neraka juga ditakdirkan banyak dipenuhi oleh kaumnya.
Perempuan oh perempuan,
semilyar yang harus kau taklukkan dengan segala paradoksal-nya...
Bukan pengalaman pribadi saya, tapi semoga dapat sedikit menguatkan sesama perempuan-perempuan kuat dimanapun berada
Jika hanya sekedar mengikuti hati, pikiran, dan kemauan, mungkin sudah tau jawaban perihal siapa dan kapan. Sayangnya manusia tidak memiliki kapasitas perihal kepastian. Manusia pun tak bisa mengintervensi takdir yang berjalan di atas skenario-Nya. Sudah dan mari berprasangka dengan baik sebab Allah tau yang terbaik.
Ketika dewasa kita belajar mengkalibrasi semua sisi. Bahwa faktanya harapan harus berbagi ruang dengan realita. Alih-alih menyerah pada kegagalan, kita perlu ngasih ruang ke diri sendiri. Hal realistis apa yang bisa diupayakan.
Capek ya? Udah, menepi dulu :)
Bukankah seringkali kening lupa bahwa ia butuh membumi?
Hawa
Kulihat Hawa menatap ke arah waktu
Tangannya sibuk memutar kaleidoskop
Lantas dibenamkannya rupa di telapak tangan
Cerminnya pecah,
Curah darah berderai di genggaman
Hawa mendekap puing-puingnya sendiri
Seketika banjir tak kasat mata
Kemudian Hawa menyelam
Menarik jiwanya yang tenggelam
Koya, 7 Juni 2023