Menjadi dokter itu...
Dahulu saat masih menjalani pendidikan kedokteran, tidak ada mata kuliah tentang kesabaran dan keikhlasan. Namun saat mulai bekerja dan pengabdian, baru sadar diri, profesi ini harus selalu menanamkan niat ikhlas dan modal sabar yang luas.
Berhadapan dengan banyak pasien beserta ragam keluhan dan beraneka sifat manusia, ada yang kadang membuat hati terharu ada pula yang membuat kesabaran seakan diperas hingga hati terasa ngilu.
Ada pasien yang menghargai dokternya dan ini amat menghangatkan hati. Tetapi ada pula pasien yang sudah di edukasi dari A-Z namun jika terjadi perburukan menyalahkan dokternya.
Ada pasien yang mendengarkan dokternya, ketika ditanya sudah mengerti, jawabnya mengerti, ternyata besok pemahamannya berbeda dengan penjelasan dokter dan ujung-ujungnya kembali lagi, dokternya yang seakan salah dan kurang jelas mengedukasi.
Pasien seringkali lupa, bahwa dokter juga manusia, yang bisa tiba-tiba sakit dan keliru.
Pasien seringkali lupa, bahwa dokter juga manusia, yang memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan dan bukan tabib yang bisa dengan sekejap menyembuhkan apalagi menegakkan diagnosa dengan akurat. Beberapa penyakit perlu pemeriksaan penunjang secara menyeluruh dan beberapa penyakit harus mengikuti tahap pemeriksaan lanjutan sebelum sampai pada penegakkan diganosa. Bukan bim salabim langsung tahu sakitnya apa hanya dengan sekali pandang dan sentuh.
Pasien seringkali lupa, bahwa dokter hanya menolong untuk meringankan gejala sedangkan kesembuhan adalah kuasa Tuhan sepenuhnya. Di balik tangan-tangan dokter yang bekerja, ada takdir Allah yang menyusuri setiap bentuk ikhtiar manusia.
Namun dibalik seluruh warna-warni dan lika-liku profesi ini, insyaAllah ada ladang amal shalih yang terbentang luas untuk kita yang selalu mengupayakan kebaikan untuk orang lain. Semoga Allah terima amal ibadah yang jauh dari putih dan bersih ini. Aamiin ya Rabb
Jumat, 10 Mei 2024 13.37 wita














