Samar-samar ingatanku tentang masa lalu menari-nari dikepalaku, aku yang dulunya seorang kutu buku dan senang menulis puisi-puisi indah.
Sederhana, tapi membawa bahagia.
Rasanya rindu dengan diriku yang dulu, aku yang bisa tertidur dibawah bintang, dan menikmati senja dengan segelas kopi.
Sekarang, diriku yang dulu telah hilang, bahkan rasanya pun susah untuk kucoba hadirkan kembali. Entah kenapa bisa begini, aku bagaikan roh yang kehilangan tubuhnya.
Andaikan ada satu waktu, kesempatan untuk berlari kembali kepada masa yang disana kutemukan diriku sendiri, sungguh hati ini berjanji tidak akan menyia-nyiskan masa-masa indah itu. Karena ternyata semua hal punya masanya masing-masing.
Sekarang, kapalku telah berlayar jauh, meninggalkan semua kenangan termasuk diriku sendiri, ingin kembali kepada masa lalu, namun memutar haluan bukanlah sebuah hal yang bisa dilakukan oleh orang biasa sepertiku.
Kakiku terus kupaksa berjalan menjalani masa sekarang, bersama luka trauma yang menjadi teman setiaku, pikiranku berat memikul hal-hal sedih yang ikut dari masa lalu. Ya, harusnya yang ikut hal bahagia bukan? Tapi aku juga tidak tahu, kenapa hanya ada luka dan luka yang terus menerus semakin menganga didadaku.
Berharap peri bahagia datang menyembuhkan luka ini, namun semakin kutunggu, tak juga ia datang. Kemanakah sebenarnya ia ? Tidak kasihankah dia kepadaku yang memikul beban selama bertahun-tahun dan tak berteman juga?
Ya, mandiri lah jawabannya.
Kau harus kuat, tidak usahlah menunggu peri-perian itu. Ia tidak peduli denganmu. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Jadi, sibuklah dengan dirimu juga sendiri. Do’akan lah dirimu sendiri agar bisa sembuh dan menemukan kembali cahaya yang hilang itu. Kau pasti bisa !