Takdir Mubram dan Takdir Muallaq
Sebelum kita membahas apa itu takdir mubram dan muallaq, kita harus tahu dulu apa itu qada dan qadar.
Pengertian Qada Dan Qadar โย Islam sebagai agama yang paling mulia telah mengatur segala kehidupan umatnya. Baik dalam hal besar sampai dengan detail kehidupan yang akan dijalani oleh manusia. Secara terinci telah disampaikan dalam kitab Alquran dan al Hadist.
Begitu juga mengenai ketetapan yang telah digariskan. Bekal tersebut akan dapat memberikan pemahaman mengenai pengertian qada dan qadar dalam kehidupan.
Mengapa harus paham tentang pengertian qada dan qadar? Karena pemahaman inilah yang akan membekali dalam mengarungi samudra kehidupan. Mengajarkan tentang rasa syukur dan penerimaan.
Qada dan qadar merupakan dua kata yang memiliki hubungan yang sangat erat. Sama-sama memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Namun sebenarnya qada dan qadar memiliki arti yang sangat berbeda. Pengertian qada dan qadar kemudian akan dibahas secara terpisah,
Kata qada sebenarnya merupakan sebuah kata yang tidak asing. Beberapa kali kata ini disebutkan dalam Al quran. Arti kata qada secara bahasa adalah ketetapan. Yaitu sesuatu kepastian yang telah dibuat sejak sebelum kelahiran, yaitu di jaman Azali.
Ketetapan yang membawa setiap kehidupan manusia. Kesempurnaan Allah SWT terlihat dari betapa rinci Allah SWT telah mengatur kehidupan setiap umat. Bahkan ketetapan telah diberikan jauh sebelum kelahiran manusia-manusia ke bumi.
Qadarย secara bahasa diartikan sebagai sebuah ketentuan atau kepastian dari Allah. Sedangkan secara istilah, qadar berarti sebuah penentuan yang pasti dan sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
Qada dan Qadar sangat identik dengan Islam. Namun ternyata Qada dan Qadar berlaku umum untuk seluruh manusia di bumi ini. Istilah qada dan qadar lebih sering didengar dengan istilah takdir. Yang dimaksud dengan pengertian qada dan qadar dalam keseharian tak lain adalah takdir itu sendiri.
Takdir menjadi satu yang mengikat pada kehidupan. Merupakan suatu ketetapan dan bergantung dengan kegiatan manusia itu sendiri. Hukum takdir akan berkesinambungan dan saling berpengaruh dengan hukum sebab akibat.
Meskipun semua telah ditetapkan oleh Allah SWT sebelum kelahiran, manusia menjadi penentu dalam kehidupan yang dijalaninya.
Setelah dibahas mengenai pengertian qada dan qadar atau takdir. Untuk berikutnya akan dijelaskan mengenai macam-macam takdir. Takdir sendiri tidak mutlak tanpa pembagian. Namun takdir akan dibagi lagi menjadi dua jenis
Muallaq secara bahasa artinya sesuatu yang digantungkan. Takdir muallaq yaitu ketentuan Allah SWT. yang mengikut sertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Manusia diberi peran untuk berusaha, hasil akhirnya akan ditentukan oleh Allah SWT.
comtoh takdir muallaq di antaranya:
Seseorang yang ingin pandai maka harus berusaha meraihnya. Usaha-usaha tersebut antara lain dengan cara rajin belajar dan disiplin membagi waktu.
Seseorang yang ingin sehat maka harus berusaha dengan cara berolahraga teratur, menjaga kebersihan, menjaga gizi dan pola makan. Jika melakukan usaha-usaha tersebut maka tubuh akan sehat.
Kemakmuran atau kekayaan bisa diraih dengan giat bekerja, kreatif, pantang menyerah, rajin menabung, dan hemat.
Seseorang yang beriman kepada Qada dan qadar akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. di antaranya ia pantang berpangku tangan, justru sebaliknya ia akan giat berusaha dan bekerja guna meraih cita-cita. Allah SWT. telah mengkaruniakan beragam potensi kepada manusia untuk digunakan sebagai bekal hidup. Setiap manusia dikaruniai akal untuk berpikir, dan organ-organ tubuh untuk bergerak. Allah SWT. juga menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia di antara makhluk-makhluk-Nya.
Mubram secara bahasa artinya sesuatu yang tidak dapat dielakkan atau sudah pasti. Jadi, takdir mubram adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT. yang pasti berlaku dan manusia tidak diberi peran untuk mengubahnya.
Contoh takdir mubram di antaranya:
Kapan ajal menjemput, dan dimana tempatnya semua sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jika sudah tiba saat ajal menjemput semua orang tidak bisa mengelak, tidak bisa lari, tidak bisa diundur atau dimajukan. Inilah salah satu ketentuan Allah SWT. yang disebut takdir mubram.
Pembahasan tentang takdir adalah salah satu tema yang tergolong rumit sebab dalil-dalil yang sampai pada kita sepintas saling bertentangan satu sama lain. Sebagian dalil Al-Qurโan dan hadits mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz dan pena yang mencatatnya telah kering sehingga tak mungkin berubah. Sebagian dalil lain menegaskan bahwa doa manusia dapat mengubah takdir, demikian juga silaturahim dapat memperpanjang umur dari waktu yang telah ditentukan. Sebagian dalil lainnya memerintahkan kita untuk melakukan aneka perbuatan baik sehingga bisa meraih kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat, ini semua mengisyaratkan bahwa ikhtiar manusia punya andil besar dalam menentukan jalan takdir yang akan ia tempuh. Sebenarnya bagaimanakah takdir itu?
Sepintas pembagian takdir menjadi dua kategori, mubram dan muโallaq, ini sudah cukup memecahkan masalah. Tetapi faktanya tidak sesederhana itu. Masalahnya, sama sekali tak ada informasi dari hadits yang menyatakan hal-hal apa saja yang masuk kategori mubram dan muโallaq. Adapun keyakinan sebagian orang awam bahwa takdir mubram hanyalah tiga macam, yakni rezeki, jodoh, dan kematian, adalah anggapan yang sama sekali tak berdasar. Klasifikasi mubram dan muโallaq ini tetap saja tidak aplikatif. Misalnya kemiskinan, apakah termasuk mubram atau muโallaq? Kita melihat ada orang miskin yang seumur hidupnya berdoa dan berusaha keras keluar dari kemiskinannya, tetapi hingga akhir hayatnya dia tetap miskin. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang itu sudah mubram. Namun kita juga melihat orang miskin yang dengan usahanya dapat mengubah nasibnya secara drastis menjadi orang kaya, bahkan sangat kaya. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang tersebut masih muโallaq. Hal yang sama berlaku pada semua kasus di dunia ini, mulai sakit, keberuntungan, kecelakaan bahkan kematian sekalipun. Bagian manakah di antara semua itu yang mubram dan bagian mana yang muโallaq? Kita takkan pernah tahu sebelum terjadinya. Sebenarnya, semua kerumitan di atas dapat terurai dan mudah dipahami apabila kita melihat takdir (qadlaโ) dari tiga perspektif yang berbeda. Kerumitan dan kerancuan itu hanya terjadi akibat ketiga perspektif ini dicampur menjadi satu, padahal seharusnya dibedakan dengan tegas. Tiga perspektif yang dimaksud adalah perspektif Allah, perspektif malaikat, dan perspektif manusia. Takdir dalam perspektif Allah Al-Qurโan, hadits dan dalil-dalil rasional telah memastikan bahwa Allah Maha Mengetahui. Sifat al-โilmu yang dimiliki Allah dapat menjangkau apa pun tanpa batas, baik hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Tak ada satu pun kejadian, bahkan yang paling kecil sekalipun semisal kejadian di inti atom, yang tak Allah ketahui.
Allah berfirman: ููุนูููุฏููู ู
ูููุงุชูุญู ุงููุบูููุจู ููุง ููุนูููู
ูููุง ุฅููููุง ูููู ููููุนูููู
ู ู
ูุง ููู ุงููุจูุฑูู ููุงููุจูุญูุฑู ููู
ูุง ุชูุณูููุทู ู
ููู ููุฑูููุฉู ุฅููููุง ููุนูููู
ูููุง ููููุง ุญูุจููุฉู ููู ุธูููู
ูุงุชู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุง ุฑูุทูุจู ููููุง ููุงุจูุณู ุฅููููุง ููู ููุชูุงุจู ู
ูุจูููู โDan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).โ (QS. al-Anโam: 59)
Dalam perspektif Allah ini, seluruh takdir (qadlaโ) adalah mubram tanpa kecuali. Seluruhnya telah diketahui sebelumnya dan akan berubah menjadi kenyataan (qadar) pada waktunya. Sisi inilah yang tak mungkin mengalami perubahan sama sekali sebab adanya perubahan di level ini sama saja dengan adanya hal-hal yang tidak diketahui Allah. Ketidaktahuan Allah ini mustahil adanya. Takdir dalam perspektif Malaikat Para Malaikat mempunyai tugas yang beragam, sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan mereka. Di antara tugas malaikat yang kita ketahui adalah: membagi-bagi rezeki, ini adalah tugas Mikail; ada yang bertugas mencabut nyawa, ini adalah tugas Malaikat Maut (Izraโil); ada yang bertugas mencatat amal baik dan amal buruk, ini adalah tugas Raqib dan Atid. Dan, banyak sekali jumlah malaikat yang info tentang tugasnya tak sampai pada kita. Dalam perspektif malaikat inilah, takdir setiap manusia yang tercatat di Lauh Mahfudz ada yang sudah mubram (paten tak bisa berubah) dan ada yang masih muโallaq (kondisional). Mereka bisa melihat apakah rezeki Si Fulan sudah merupakan hal paten yang tak bisa diganggu gugat ataukah masih tergantung pada beberapa kondisi yang di pilih Fulan tersebut, misalnya apabila Fulan bekerja keras, maka takdirnya adalah kaya sedangkan apabila memilih bermalasan maka takdirnya menjadi orang miskin. Demikian juga dengan hidayah, penyakit, umur atau apa pun yang terjadi pada Fulan tersebut.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan: ููุงููู
ูุญููู ููุงููุฅูุซูุจูุงุชู ุจูุงููููุณูุจูุฉู ููู
ูุง ููู ุนูููู
ู ุงููู
ููููู ููู
ูุง ููู ุฃูู
ูู ุงููููุชูุงุจู ูููู ุงูููุฐูู ููู ุนูููู
ู ุงูููููู ุชูุนูุงููู ููููุง ู
ูุญููู ููููู ุฃูููุจูุชููุฉู ููููููุงูู ูููู ุงููููุถูุงุกู ุงููู
ูุจูุฑูู
ู ููููููุงูู ููููุฃูููููู ุงููููุถูุงุกู ุงููู
ูุนูููููู โPenghapusan dan penetapan takdir itu adalah dalam perspektif apa yang diketahui para malaikat dan apa yang tercatat di Lauh Mahfudz (Ummul Kitab). Adapun dalam pengetahuan Allah, maka tak ada penghapusan sama sekali. Pengetahuan Allah ini disebut takdir mubram, dan pengetahuan malaikat itu disebut takdir muโallaq.โ (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bรขri, juz X, halaman 430)
Takdir dalam perspektif manusia. Bila malaikat bisa melihat sisi takdir yang mubram dan muโallaq, manusia hanya sepenuhnya hanya bisa mengetahui sisi muโallaq saja apabila belum tiba waktu kejadiannya. Dalam konteks ini,
Imam Ibnu Hajar menjelaskan: ููุฃูููู ุงูููุฐูู ุณูุจููู ููู ุนูููู
ู ุงูููููู ููุง ููุชูุบููููุฑู ููููุง ููุชูุจูุฏูููู ููุฃูููู ุงูููุฐูู ููุฌููุฒู ุนููููููู ุงูุชููุบููููุฑู ููุงูุชููุจูุฏูููู ู
ูุง ููุจูุฏูู ููููููุงุณู ู
ููู ุนูู
ููู ุงููุนูุงู
ููู ููููุง ููุจูุนูุฏู ุฃููู ููุชูุนูููููู ุฐููููู ุจูู
ูุง ููู ุนูููู
ู ุงููุญูููุธูุฉู ููุงููู
ููููููููููู ุจูุงููุขุฏูู
ูููู ููููููุนู ููููู ุงููู
ูุญููู ููุงููุฅูุซูุจูุงุชู ููุงูุฒููููุงุฏูุฉู ููู ุงููุนูู
ูุฑู ููุงููููููุตู ููุฃูู
ููุง ู
ูุง ููู ุนูููู
ู ุงูููููู ููููุง ู
ูุญููู ููููู ููููุง ุฅูุซูุจูุงุชู โSesungguhnya yang telah diketahui Allah itu sama sekali tak berubah dan berganti. Yang bisa berubah dan berganti adalah perbuatan seseorang yang tampak bagi manusia dan yang tampak bagi para malaikat penjaga (Hafadhah) dan yang ditugasi berinteraksi dengan manusia (al-Muwakkilรฎn). Maka dalam hal inilah terjadi penetapan dan penghapusan takdir, semisal tentang bertambahnya umur atau berkurangnya. Adapun dalam ilmu Allah, maka tak ada penghapusan atau penetapan.โ (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bรขri, juz XI, halaman 497).
Manusia hanya bisa mengetahui adanya takdir mubram yang menimpanya hanya ketika suatu hal sudah terjadi. Misalnya, hal-hal yang berhubungan dengan kelahirannya, apa-apa yang sudah atau belum dicapai pada usianya sekarang ini dan segala hal yang telah terjadi di masa lalu dan tak mungkin diubah. Manusia bisa tahu umur seseorang telah mubram hanya ketika orang itu sudah positif meninggal. Apabila orang itu masih hidup, maka usianya masih sepenuhnya terlihat muโallaq sehingga ia dituntut untuk menjaga diri dan berobat bila sakit. Ia dilarang menenggak racun atau melakukan hal yang mencelakakan jiwanya yang membuat usianya menjadi pendek (dalam perspektif manusia tentunya). Demikian juga, ia dituntut untuk hidup sehat dan menjaga diri sehingga usianya bisa semakin panjang (dalam perspektif manusia). Kaidah yang sama berlaku pada segala hal lainnya. Dengan memahami ketiga perspektif ini, maka segala kebingungan tentang takdir akan mudah terjawab. Seorang muslim dituntut untuk beriman bahwa segala hal sudah diketahui Allah sejak dulu dan pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya, tetapi dia tak boleh menjadikan itu sebagai alasan untuk berdiam diri atau menjadikan takdir sebagai alasan sebab ia tak tahu apa takdirnya. Yang wajib dilakukan oleh manusia adalah berusaha saja menyambut masa depannya. Dalam konteks inilah
Nabi bersabda: ุงุนูู
ููููุง ููููููู ู
ูููุณููุฑู โBerusahalah, semua akan dimudahkan.โ (HR. Bukhari โ Muslim).
Lalu bagaimana kedudukan doa didalam qada dan qadar. Lantas bagaimana kita menyikapi sebagai mukmin yang beriman lagi bertakwa.
Didalam kitab tuhfatul murid 'ala jauharatut tauhid lil imam Al-baijuri dalam syarahnya,
ูุงูุฏุนุงุก ูููุน ู
ู
ุง ูุฒู ูู
ู
ุง ูู
ููุฒู ูุฅู ุงูุจูุงุก ูููุฒู ููุชููุงู ุงูุฏุนุงุก ููุชุนุงูุฌุงู ุฅูู ููู
ุงูููุงู
ุฉ. ูุงูุฏุนุงุก ูููุน ูู ุงููุถุงุก ุงูู
ุจุฑู
ูุงููุถุงุก ุงูู
ุนูู. ุฃู
ุง ุงูุซุงูู ููุง ุงุณุชุญุงูุฉ ูู ุฑูุน ู
ุง ุนูู ุฑูุนู ู
ูู ุนูู ุงูุฏุนุงุก ููุง ูู ูุฒูู ู
ุง ุนูู ูุฒููู ู
ูู ุนูู ุงูุฏุนุงุก.(ุต. ูขูฅูค)
Artinya, โDoa bermanfaat terhadap apa yang datang dan apa yang belum datang (dari langit). Bala pun akan datang dan bertemu dengan doa. Keduanya (bala dan doa) senantiasa โberperangโ hingga hari qiamat. Doa bermanfaat pada qadha mubram dan qadha muallaq. Perihal yang kedua (qadha muallaq), maka tidak mustahil menghilangkan apa (putusan) yang penghilangannya digantungkan pada doa dan tidak mustahil mendatangkan apa (putusan) yang penghadirannya digantungkan pada doa,โ
Meskipun takdir terbagi dua, muallaq dan mubram, kita sebagai manusia tidak mengetahui mana takdir muallaq dan takdir mubram. Oleh karena itu, ahlusunnah wal jamaah memandang doa sebagai ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan sebagaimana pada umumnya aliran ahlusunnah wal jamaah memandang perlunya ikhtiar dalam segala hal, bukan menyerah begitu saja pada putusan takdir. Dari sini, kita dapat memahami tiga permintaan atau doa yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia di malam nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar dalam menolak bala dan ikhtiar dalam mendatangkan kemaslahatan.
ูุงููุณุงู
ุงููุถุงุก ุฅูู ู
ุจุฑู
ูู
ุนูู ุธุงูุฑ ุจุญุณุจ ุงูููุญ ุงูู
ุญููุธ ูุฃู
ุง ุจุญุณุจ ุงูุนูู
ูุฌู
ูุน ุงูุฃุดูุงุก ู
ุจุฑู
ุฉ ูุฃูู ุฅู ุนูู
ุงููู ุญุตูู ุงูู
ุนูู ุนููู ุญุตู ุงูู
ุนูู ููุง ุจุฏ ูุฅู ุนูู
ุงููู ุนุฏู
ุญุตููู ูู
ูุญุตู ููุง ุจุฏ ููู ูุง ูุชุฑู ุงูุดุฎุต ุงูุฏุนุงุก ุงุชูุงูุง ุนูู ุฐูู ูู
ุง ูุชุฑู ุงูุฃูู ุงุชูุงูุง ุนูู ุฅุจุฑุงู
ุงููู ุงูุฃู
ุฑ ูู ุงูุดุจุน
Artinya, โPembagian qadha menjadi mubram dan muallaq itu tampak pada Lauh Mahfuzh. Adapun dari sisi ilmu Allah, semua putusan itu bersifat mubram karena ketika Allah mengetahui datangnya putusan muallaq, maka hasillah muallaq tersebut, dan tidak boleh tidak ketika Allah mengetahui ketiadaan putusan muallaq, maka tiadalah muallaq tersebut. Tetapi manusia tiada jalan lain, seseorang tidak boleh meninggalkan doa hanya karena bersandar pada putusan qadha tersebut sebagaimana larangan seseorang untuk meinggalkan makan karena bersandar pada putusan Allah perihal kenyang,''
Sementara aliran muktazilah tidak mempercayai peran dan manfaat doa karena kata โdoaโ dalam Al-Quran itu adalah ibadah secara umum. โSiapa saja yang beribadah, niscaya Allah akan menerimanya,โ menurut mereka. Mereka tidak mengartikan ayat itu demikian, โSiapa saja yang berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya.โ
ูุฃู
ุง ุนูุฏ ุงูู
ุนุชุฒูุฉ ูุงูุฏุนุงุก ูุง ูููุน ููุง ูููุฑูู ุจุฐูู ูุฃููู
ูู
ููุฐุจูุง ุงููุฑุขู ููููู ุชุนุงูู ุงุฏุนููู ุฃุณุชุฌุจ ููู
ุจู ุฃูููุง ุงูุฏุนุงุก ุจุงูุนุจุงุฏุฉ ูุงูุฅุฌุงุจุฉ ุจุงูุซูุงุจ
Artinya, โBagi kalangan muktazilah, doa tidak memberikan manfaat. Tetapi mereka tidak jatuh dalam kekufuran dengan pandangan demikian karena mereka tidak mendustakan Al-Quran perihal ini seperti ayat โSerulah Aku, niscaya Aku membalasnya.โ Mereka menakwil kata โseruanโ dengan ibadah, dan โbalasanโ dengan pahala.โ
Meskipun demikian, kelompok ahlusunnah wal jamaah asyโariyah tidak menempatkan aliran muktazilah ke dalam aliran kufur karena mereka masih meyakini Al-Quran sebagai wahyu Allah. Semua pengertian yang diangkat oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asyโariyah ini dimaksudkan agar umat Islam tidak salah paham menempatkan signifikansi doa, peran ikhtiar manusia, dan dapat meningkatkan keimanan terhadap takdir di tengah peran atau ikhtiar manusiawi. Semua ini dijelaskan oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asyโariyah agar masyarakat sunni tidak bersikap su'ul adab dan su'uzzhan kepada Allah. Wallahu aโlam.