Soal Ikhlas!!
Pernah bersama dengan seseorang bukan berarti selamanya akam bersama dengannya. Jarak dan waktu ikut berperan. Dan akhirnya, sabar menjadi taruhannya. Sabar menghadapi bahwa nyatanya semua yang pernah dijalani bersama telah berubah. Semuanya telah hilang sekejap tanpa jejak kecuali luka.
Dan pada akhirnya, waktu akan menunjukan bahwa ternyata kita sudah terlupakan. Pikiran berusaha menyangkal tapi hati masih penuh harap. Sungguh sesuatu yang tidak harus dan tidak perlu dilakukan. Untungnya, dulu saya tidak bergantung denganmu yang ternyata lebih memilih orang lain. Padahal kamu tau maksud dibalik itu semua. Jika memang kamu sudah melupakan saya, entah apapun penyebabnya. Baiklah. Artinya, sudah saatnya saya pergi. Kamu pun boleh pergi dari hidup saya. Dan seperti yang pernah saya ucapkan untuk diri saya sendiri. Saya menunggu hari itu tiba, dan sampai saat itu juga, kamu tidak ada. Iya. Saya akan menutup hati saya untuk siapapun untuk sementara dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Saya ingin menghapus namamu dihati saya agar tidak melukai orang lain. Dan saya harua ikhlas.
Ikhlas itu soal memaafkan dan menerima segala hal yang telah dialami. Ikhlas itu urusan saya dengan Tuhan. Jadi, kamu tenang saja. Tidak perlu merasa terbebani (lagi) oleh saya. Saya akan mencerna itu dengan baik dan InsyaAllah setulus hati saya. Memang sudah saatnya, saya membuka lembaran baru - tanpa kamu. Saya cukupkan sampai hari ini. Biarkan saya berproses dalam sabar dan ikhlas dengan apapun yang terjadi. Karena pada nyatanya, saya berjuang sendiri tanpa kamu.
Sekali lagi, untukmu yang masih mendahulukan ego, jangan menyesal jika ternyata nantinya saya dengan keputusan saya sendiri. Bukan karena ego, tapi karena saya sadar posisi saya bukanlah bagian dari prioritasmu. Bahkan sama sekali tidak ada. Tenang, soal ikhlas itu urusan saya dengan Tuhan. Yang penting, saya bisa menghapus namamu yang pernah hadir dihati saya.
Jika memang kamu inginkan saya, berjuanglah sekuat tenaga untuk dapatkan saya lagi seolah-olah kita tidak memiliki waktu lagi.
Tapi, bagaimanapun keadaannya, kamu juga tetap sahabat baik saya. Segalanya yang terbaik untukmu. Doa saya menyertaimu bersama dengan segala hal baik yang pernah kamu ajarkan pada saya.
Saya pamit. Selamat tinggal.










