*noted* 💅💅💅
Color Me Curious

@theartofmadeline
Not today Justin
Cookie Run:Kingdom Official!
I'd rather be in outer space 🛸
official daine visual archive
todays bird

tannertan36

gracie abrams

Origami Around
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du

Kiana Khansmith

pixel skylines

No title available
Game of Thrones Daily
★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
h
The Bowery Presents

seen from United Arab Emirates
seen from United Kingdom
seen from Peru
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Pakistan

seen from Ukraine
seen from Türkiye
seen from Philippines

seen from Ireland

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Ukraine

seen from United States
seen from Ireland
seen from United States

seen from Vietnam

seen from United States
@naadiinaa
*noted* 💅💅💅
taufiqsuryo:
mari kita lawan pornografi, mulai dari lingkungan terdekat kita !
Belajar menjadi orang tua,
barangkali bangku kuliah tidak mengajarkannya ,tapi menjadi orangtua yang baik dan telada bagi generasi di zaman masi kini lebih menangtang dari profesi apapun yang ada..
...... mengetahui lalu menyebarkan. Mari!
Inspirational pokemon photos.
Kadang, hasrat ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kita mampu, mengalahkan niat baik dari apa yang kita lakukan. 😉
Dan semoga besok, segalanya menjadi lebih baik, termasuk keimanan dan keislaman kita. Selamat memejam, rekan.
Untukku, takdir kubagi dua. Setengah tentang apa yang sudah ditentukan. Setengahnya lagi, tentang apa yang telah kulakukan.
(via karizunique)
Berjilbab itu bukan pernyataan bahwa aku sudah taat, tapi pernyataan bahwa aku ingin taat.
Oki Setiana Dewi
Belajar Menginspirasi dalam Kelas Inspirasi
Kelas Inspirasi! Siapa yang pernah menjadi bagian dari dua kata itu, atau mungkin pernah mendengar sebelumnya? Ya, singkatnya, kelas inspirasi adalah temannya Indonesia Mengajar. Dalam hari inspirasi, para inspirator (red. yang memberikan inspirasi) memperkenalkan profesi mereka pada murid-murid SD, sehingga diharapkan adik-adik itu menjadi bisa membuka mata dan sadar akan banyaknya ragam profesi yang bisa mereka jadikan ladang dalam mencari rezeki.
Begini sedikit ceritaku tentang Hari Inspirasiku, 19 Februari 2014 lalu........
"Hai, saya Dina Hafizah, Ibu dan Ayah saya adalah seorang guru tapi ntah kenapa tak ada hasrat dalam diri saya untuk menjadi seperti mereka. Saya tahu dan sadar benar bahwa itu adalah profesi yang sangat mulia namun menjadi guru adalah sesuatu yang berat menurut saya sebagai perempuan yang (tak) terlalu sabar. Mendidik murid-murid bukanlah hal yang mudah, fikir saya.
Tapi, ketika membaca ajakan menjadi inspirator di Kelas Inspirasi 2 Bandung, saya seakan-akan yakin akan apa yang akan saya lakukan, mendaftarkan diri menjadi salah satu relawan disana. Jujur saya sangat bersemangat tapi saya tak terlalu yakin bisa lolos. Namun Allah berkata lain, mungkin ini adalah kesempatan saya untuk sekedar memberikan cerita akan apa yang telah saya lakukan hingga bisa menjadi seperti sekarang. Dari awal saya tak menggebu-gebu untuk memberikan inspirasi, tapi saya hanya ingin berbagi pengalaman, berbagi suka dan duka, menularkan semangat, dan membuka mata mereka akan banyaknya pekerjaan yang dapat mereka lakukan nanti, akan bervariasinya cita-cita yang bisa mereka gantungkan dan raih 15 tahun lagi.
Pertemuan pertama para relawan Kelas Inspirasi 2 Bandung adalah briefing yang dilakukan di Pendopo Bandung, namun saya tak bisa hadir. Rasa ketakutan untuk tak bisa turut serta pada 19 Februari 2014 menyeringai dalam diri. Rasa deg-degan tak karuan menimbun tebal dalam jiwa. Saya sama sekali tak berpengalaman dalam berucap selama 60 menit di depan anak-anak kecil. Dulu, saya pernah melakukan penyuluhan tentang obat untuk ibu hamil dan tanaman obat keluarga (toga) di Desa Sukamekar, Cianjur, tempat KKN saya. Tapi ini anak kecil, berisik, tak bisa diatur, suka berteriak, dan hal-hal negatif lainnya yang ada dalam ketakutan-ketakutan saya. Semakin kesini, semakin saya menguatkan diri akan niat baik saya. Ya, anak kecil itu menyenangkan namun bisa juga menyebalkan, namun satu yg pasti mereka adalah cikal bakal adanya orang besar di Indonesia ini. Ada begitu banyak variasi profesi yang bisa mereka pilih. Dan menurut saya, saya yg sekarang adalah saya yg harus bisa membuat mereka yakin akan masa depan cemerlang di usia dewasa mereka.
Jengjengjeng, hari H datang. Mengenal nama-nama dan wajah-wajah baru dalam kelompok saya memberi angin segar bagi saya untuk mengenal lebih dekat anak-anak kecil itu. Anak-anak yang selalu bahagia walaupun baru saja dimarahi gurunya, anak-anak yang bisa dengan ringannya bermain walaupun PR belum dikerjakan. Lain dengan kami para pekerja yang langsung BT seharian sehabis dimarahi bos, yang tidur pun terbawa mimpi akan pekerjaan. Ingin rasanya kembali kecil seperti mereka, tapi saya sadar bahwa orang besar ada dari hal-hal besar yang dia lakukan setiap harinya.
(senyum, tawa, bahagia)
Kembali ke kelas, saya kebagian kelas 3, 4, lalu 5. Psikologi anak kelas 3 tentu berbeda dengan kelas 5, anak kelas 4 tak sama dengan anak kelas 3, pun anak kelas 5 dengan anak kelas 4. Jadi, pendekatan yang saya lakukan juga berbeda. Misi saya tentu memperkenalkan profesi saya, apoteker, kepada mereka. Dengan bermodalkan jas apoteker putih saya, saya masuk ke dalam kelas. Dan apa yang terjadi? Kelas 5 memaksa saya untuk mengakui bahwa saya adalah seorang dokter walaupun berkali-kali saya bilang bukan. Semakin saya menyalahkan dugaan mereka, semakin pula mereka yakin bahwa tebakan mereka adalah benar. Miris hati saya, terkoyak-koyak jiwa saya, ingin rasanya menangis tersedu-sedu di pojokan kelas itu. Tapi eh, saya drama. Saya meminta mereka untuk menyimpan baik-baik dugaan mereka sampai akhirnya saya memperkenalkan siapa saya di depan kelas. “Saya adalah apoteker!” begitulah dengan lantang saya berbicara di depan kelas. Kemudian mereka tak sesemangat ketika pertama kali mengerumuni saya berteriak “KAKAK DOKTER KAN? IYA KAN? KAKAK DOKTER KAN?SAYA MAU JADI DOKTER LO KAK”. Tapi saya tak kehabisan akal, saya memang bukan dokter seperti apa yang mereka harapkan. Saya apoteker dan saya bangga akan profesi saya. Setelah bermain membuat pola, saya review lagi tentang hubungan antara dokter, apoteker, dan pasien.
(nametag kebanggaan)
(oknum yang memaksa saya untuk mengaku dokter)
Dari sana, saya berharap mereka sadar bahwa cita-cita tak melulu seorang dokter. Jika semua orang mendiagnosis penyakit, lalu siapa yang memberikan obat. Jika semua orang menulis resep, lalu dengan siapa pasien menebus resep. Cita-cita itu berasal dari niat, niat kita adalah baik, membantu penyembuhan penyakit para pasien. Dengan menjadi apa? Bisa sebagai seorang dokter, apoteker, maupun perawat. Ada berbagai cara untuk membantu penyembuhan penyakit pasien. Intinya begitu.
(belajar mengajarkan)
Berbicara masalah niat yang baik, di kelas 4 saya pernah bertanya cita-cita mereka apa, ada yang ingin jadi model, polisi, pemain sepakbola, astronot, dan lain sebagainya. Tersentak hati saya ketika bertanya kepada dia, kenapa ingin menjadi polisi, jawabnya “Supaya bisa nilang orang, Kak. Duitnya banyak”. Apa dia salah? Mungkin tidak. Karena apa yang mereka simpulkan adalah dari apa yang mereka baca, lihat, dan dengar. Membaca di media cetak tentang oknum yang menilang lalu menyimpan rapat uang hasil tilangan ke dalam dompet pribadi, melihat di jalanan oknum yang sedang melakukan aksinya, dan mendengar keluh kesah saudaranya yang memaki maki oknum yang telah menilang dengan seenaknya. Nah, tugas kita sebagai yang lebih dulu lahir adalah meluruskan apa yang telah belok, menjelaskan dan meyakinkan kepada mereka bahwa polisi tak melulu tentang menilang, tapi juga tentang mengayomi masyarakat, menjaga ketertiban berlalu lintas, dan jika ada pelanggaran, semuanya ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku.
(salam HAI HALO dari anak-anak SD N Kopo Bandung)
Sesuai dengan jargon Kelas Inspirasi, Membangun Mimpi Anak Indonesia, kami ingin menularkan keyakinan dan perluasan mimpi yang mereka punya. Mereka masih kecil, masih banyak tahun yang akan mereka lalui, tak sedikit jenjang yang akan mereka tempuh untuk bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Dan YAKIN adalah kunci yang harus tertanam dalam diri. Kami, mengajak mereka untuk mengirimkan surat kecil untuk Tuhan yang ditempelkan di balon dan diterbangkan di udara. Lalu, tugas mereka selanjutnya adalah meraih balon itu dan membuatnya menjadi nyata.
(surat kecil untuk Tuhan)
Tak terasa, hari itu tlah usai. Namun semangat dan apa yang telah diceritakan kepada anak-anak itu semoga tak pernah usai. Menjadi satu dari sekian ratus relawan mengajarkan saya bahwa memberikan hal kecil yang banyak dan berkelanjutan adalah sesuatu yang menyenangkan dan semoga bisa membuat kita menjadi besar. Mengenal Mbak Christa sang announcer, Mas Febri sang insinyur, Gita si creative, Bu Ina sang penakluk gempa, Irfan si traveller sejati, Novi si guru, Ochat si purchasing, Pak Taufiq sang manager, Anggun si journalist, Sendi sang ahli manajemen, Kang Taufan sang pejabat negara, Mbak Wira sang master pemilu, Zydni si (penakluk hati murid-murid cewek) motivator, Diles dan Ulliest si videografer handal, Teh Bella dan Teguh, dan tentu saja Yogi dan Faiz duet fasilitator, dan Tantry, Yudha, Merta, Pipit, sang relawan yang sayangnya tak bisa hadir ketika hari H, adalah sebuah syukur yang tak pernah saya usaikan. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita hidup saya. Teruslah menginspirasi. Karena menginspirasi tidak cukup hanya sekali!"
(guru bertahun-tahun dan guru sehari)
Everything you love is here
Noted!
☆ gypsy/indie blog ☆
Balloooon ❤❤
Karena kita cuma bisa ngeluh. Tanpa bisa bercermin dulu sebelumnya :/
Lelah itu tugas malam. Untuk menidurkan lalu menguatkan.
And I know that feeling :3
Ha ha ha
HAHAHA <3
Wkwkwkwkwk..
Kikikikikikiiiikkkk
Rintik hujan jatuh, lalu menguatkan massa tanah. Masalah jatuh, kemudian menguatkan tali cinta kita.
Dina Hafizah
Asal niat.
Indonesia. Berkibar. Di langit senja Indonesia.