Jujur saja, saya sebetulnya sering takut menuliskan pemikiran saya di ruang publik. Pertama, takut dinilai. Iya, ini hasil pemrograman yang sudah usang tapi ternyata sampai sekarang belum berhasil diprogram ulang seutuhnya. Gapapa, minimal sadar ya, terus berproses aja. #pukpukdirisendiri Kedua, takut orang lain asal mengikuti pemikiran dan kata-kata saya karena menganggapnya sebagai kebenaran. Ini sebetulnya bikin saya lebih takut, karena kalau bener bermanfaat, bisa jadi amal jariyah, tapi kalo ternyata salah dan menyesatkan, bisa jadi dosa jariyah. (Hadeh berasa inpluensyer ae 😅) Tapi ya… orang-orang yang pikirannya ga pake difilter atau bahkan ga pake mikir sama sekali aja rajin ngoceh, nulis, joget-joget, dlldsb buat meramaikan linimasa media sosial. Lha masa yang rajin mikir tentang hal-hal substansial malah diem-diem bae? Kalau media sosial terus dibanjiri oleh low-quality thinking dan ga ada yang ngajak mikirin hal-hal penting dan serius yang berhubungan dengan hakikat jiwa dan fitrah kehidupan manusia, gimana media sosial ga dinilai toksik, berbahaya, merusak kesehatan mental, dlldsb? Gimana realita kehidupan manusia ga makin menyedihkan dengan berbagai kasus absurd yang meramaikan kanal berita? Dari situ saya malah jadi merasa lebih takut kalau saya justru mangkir dari tugas berpikir dan menceritakan hasil olah pikir saya. Takut kalau-kalau populasi pemikir di bumi ini makin langka. Takut kalau-kalau manusia punah dan digantikan oleh robot dan AI karena gagal memberdayakan kemampuan berpikir yang diberikanNYA. Berkat belajar tentang Power Zone ala #neurosemantics saya jadi sadar bahwa saya tidak bertanggungjawab atas pikiran, perasaan, perbuatan dan kata-kata orang lain. Saya bertanggungjawab atas diri saya sendiri. Jadi… ya sudah, untuk apa mentakutkan apa yang akan orang lakukan dengan hasil olah pikir saya? Itu kan pilihan mereka. Mau dianggap sebagai kebenaran, silakan. Mau dianggap salah, silakan. Mau diikuti, boleh. Mau diabaikan, terserah. Semua itu pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya. Tanggungjawab ada di diri masing-masing. Silakan pilih yang sanggup dihadapi resikonya. Jadi... met berpikir ya 🙃 - #observinghumanbeing https://www.instagram.com/p/CpU5vYlvOhO/?igshid=NGJjMDIxMWI=