Malam ini kamarku tertata rapi.
Kertas dan pena sudah menungguku diatas meja.
Entah tentang apa yang akan ku ukir disana, jeritan hati memaksa otak agar aku menulis tentangmu, untuk kesekian kali.
Kesaksian mereka menyaksi,
Disetiap uraian huruf yang mengeja
Nama, dari milyaran nama, bahkan sama
Diatas meja, nama itu berserakan
Menyaksikanku mewarnai luka.
Pernah ku coba menutup mata dan
Telinga agar tak pernah ku lihat lagi
Namamu, berharap agar aku tuli dari
Semakin ku paksa, semakin aku terluka.
Aku telah berlari ke semua sudut kota,
Ku jelajahi seluruh ruang yang
Sebelumnya tak pernah mau aku
Aku menangis sejadi-jadinya.
Sejauh apapun aku berlari menyerukan
Namamu, tak aka nada kebahagiaan
Yang akan kutemui tanpa kau disini.
Kujajal setiap jejakmu, berdiri disini menanti hadirmu
Tepat semua yang mereka lihat aku
Menggirang dalam pekat yang tersekat
Yang pun aku tak tahu rupa ku
Kau yang bilang, kau akan mati bila
Termakan syairku yang merintihmu.
Mereka yang berkata mustahil dan bagiku tak adil
Semua ini tentang perasaanmu yang
Acuh pada dalam dentuman music
Merdu, tak dengar jika aku sedang rindu.
Ku coba untuk tak merintih meski hati
Aku tersesat dalam perjalanan
Aku terjerat oleh perasaan lirih yang
Pernah ditenangkan olehmu
Biar ku rasakan sekali lagi
Kembali dan rengkuhlah aku yang
Hampir mati dibunuh perasaan yang ku
Lewati tanpa menuliskan namamu
Disetiap lembar buku harianku
Aku tidak peduli ditertawakan oleh udara
Biar dia yang menyampaikan lewat
Hembusan angin hingga menembus
Tentang bait terakhir yang telah ku tulis
Seluas apapun diluar sana, semoga tempatmu kembali adalah aku.