Ia, Hamzah (bin Abdul Muthalib) kami
Tentu masih lekat dipikiran kita mengenai salah satu teladan terbaik yang pernah ada, seorang paman dari manusia terbaik umat ini, Hamzah bin Abdul Muthalib.
Kisahnya selalu saja membuat hati orang-orang yang membaca perjalanan hidupnya menjadi bergetar hebat-- dan tentunya cemburu berat. Ketika bukan lagi harta, namun jiwanya ringan sekali beliau pertaruhkan untuk Rasulullah dan tegaknya agama Islam saat itu. Tubuhnya terpotong menjadi beberapa bagian, namun jiwanya yang utuh telah mendahului menghadap Allah, membawa sebanyak kebahagiaan dan kerinduan akan sebuah perjumpaan.
Hamzah, manusia terpilih, kesayangan Allah.
---
Setiap kali membuka lembaran sirah mengenai Hamzah bin Abdul Muthalib, seketika itu pula ingatan ku melesat kepada salah satu santri di Sekolah Tahfizhul Qur’an Tingkat Dasar (STTD) Al-Busyro, lagi-lagi, seseorang yang istimewa itu bernama, Hamzah. Hamzah Fahmi.
---
Berkali-kali ia mengajakku berbicara di hari pertama aku mengajar. Suasana yang begitu riuh-- karena setiap dari mereka sibuk memperkenalkan diri dan kerap kali memberitahuku tentang hal-hal yang belum banyak ku ketahui tentang kegiatan belajar di kelas itu-- membuatku belum bisa fokus berbicara face-to-face.
Hingga ketika pelajaran mendikte dimulai, ku bacakaan soal satu per satu hingga selesai dan setelah itu mereka mulai mengerjakan. Kemudian, pandanganku tertuju pada salah satu santri yang diam saja ketika yang lain sibuk menulis, kulihat nama dadanya bertuliskan Hamzah Fahmi.
"Hamzah nggak nulis?" Tanyaku
"Sudah selesai, Us." Jawabnya yang membuatku seketika mengernyitkan dahi, bagaimana mungkin ketika soal baru saja selesai dibacakan namun ia telah purna menyelesaikan jawabannya.
Kulihat bukunya dan aku tidak bisa membaca apa yang ia tulis :")
Sontak temannya berkata, "Hamzah harus pakai lampu kodok, Us. Lampu yang buat nyari kodok itu lho Us, yang ditaruh di kepala." Barangkali headlamp yang ia maksud. Ternyata headlamp menjadi kawan setia hamzah selama ini untuk mengeja kata, mengurai makna, dan menghitung angka.
Setelah dipakaikan headlamp, kuminta dia untuk membaca apa yang ia tulis. Dan tepat sesuai dugaanku, ia begitu istimewa. Seluruh jawabannya tepat!
---
Setelah kejadian pagi itu, aku semakin penasaran dengan segala apa yang ia miliki. Barangkali Allah berikan ia kekurangan, namun Allah berikan pula banyak kelebihan. Hari itu, dua kali air mataku mengalir deras ketika membaca buku catatan komunikasi antara wali murid dan wali kelas sebelumnya.
---
Bersambung.