Kamu mengenalnya, sempat ada keraguan dari dalam dirimu bahwa tak seharusnya kalian bersama. Diantara ragu-ragu yang makin menjadi ambigu itu, percakapan-percakapan hebat tak lagi menjadi saru. Mulai dari sekedar saling ingin mengenal, hingga melempar perhatian.
“Diteruskan? Atau pergi tapi sudah nyaman?” Logika dan Rasamu berdebat panjang, kamu sebagai penengah justru memilih rasa alih-alih logika sudah berkata “Ini tidak seharusnya.”
“Semua bisa dicari caranya kalau mau berusaha.” Katamu meyakinkan logika.
Hari-hari selanjutnya, kamu lalui dengan dia dalam rentang yang baik-baik saja. Kamu mengingatkannya tentang ibadah dan kepercayaannya, sedang dilain pihak ia tak pernah lupa hanya sekedar menyemangatimu minggu pagi untuk beribadah dahulu
Sebuah rasa mulai tumbuh, antara kamu, dia, Tuhan-mu, dan Tuhan-nya.
Perlahan dia menjadi sebuah kebiasaan, keraguanmu mulai hilang. Beberapa masalah kembali datang, tapi bukan tentang kamu atau dia yang menghilang. Kerabat-kerabatmu mulai mengingatkan, mereka takut kalau-kalau nanti kamu tak lagi menjadi saudara seiman. Mereka takut tak ada lagi doa yang dapat disampaikan bersamaan, atau sekedar menyebutkan kalimat syukur yang sama dimeja makan.
“Tidak dapat dihentikan” katamu sekali lagi.
Kamu sudah terlanjur nyaman, jadi sekali-lagi kamu memilih melanjutkan. Masih ada kepercayaan yang datang sekedar mengatakan tidak ada masalah besar yang cukup memberatkan. Pemikiranmu mulai tumbuh, mencari pendukung-pendukung cerita tentang mereka yang berbeda tapi menyatu. Kamu merasa ini hanyalah awal yang susah, selebihnya akan indah.
Tapi yang tidak kamu mengerti, cobaan rasa terhebat bukan sekedar jarak pemisah antar rumah, tapi adalah kesenjangan tujuan doa dan tempat ibadah.
Ada beberapa pengandaian yang mulai datang, dari sekedar keinginanmu mengerti rasanya indah berdoa bersama, atau sekedar mengajaknya bercengkrama dengan orang tua dalam restu yang seratus persen untuknya.
Keraguanmu datang sekali lagi. “Atau perlu salah satu diantara kita mengalah agar senjang yang ada menjadi tiada?”
Aku mengerti, maksudmu bukan sekedar “menduakan” Tuhan, kamu hanya lelah dengan permasalahan keadaan. Hubunganmu sekarang malah makin dipenuhi keraguan, tapi bukan tentang dia yang tidak membuatmu nyaman, hanya tentang kamu yang mulai ketakutan bahwa semuanya akan berakhir di tengah jalan.
Coba kamu pahami ini baik baik sayang.
Pada akhirnya kamu harus memilih dan mengerti bahwa kamu melipatkan tangan sementara dia menengadahkan tangan, perang yang kalian perjuangkan sekarang adalah melawan kemustahilan yang mungkin tidak akan terkalahkan, dan mungkin akan memakan korban.