Tiga Belas Hari Yang Hilang & Keajaiban Sesudahnya
Aku sudah demam dan tidak enak badan sepuluh hari semenjak ayah ibuku di luar kota. Sebelumnya aku ke dokter sendirian untuk konsultasi, tetapi siang itu aku pergi follow up bersama ayahku yang mau konsultasi juga. Namun, di tengah perjalanan aku mual. Aku minta ayahku menepi lalu aku turun dan muntah.
Sampailah aku di rumah. Lalu ketika aku membuka pintu, seisi rumah adalah keluarga besarku yang sedang menangis memandangku. Ketika aku mencoba bergerak, aku kaget. Ternyata aku di atas kursi roda. Dan ternyata pengelihatanku menjadi double. Seraya aku menangis dan bertanya kepada mamaku, âIni kenapa?â.
Ternyata, tiga belas hariku menghilang.
Mungkin sebelum aku melanjutkan ceritanya perlu aku tekankan bahwa semua yang aku ceritakan tentang tiga belas hari itu adalah hasil aku merangkai kisah dari orang-orang di sekitarku karena aku benar-benar taktahu apa-apa. Bahkan sampai sekarang pun aku lupa kenangan aku dari SMA sampai kuliah, kecuali jika ada recalling memori.
Semua yang terjadi di hari yang hilang itu dimulai setelah aku muntah ketika turun dari mobil itu, ternyata aku pingsan. Aku langsung dibawa ke rumah sakit. Aku langsung diam terus seperti kehilangan emosi. (Pencerita lupa hari apa si aku masuk rumah sakit. Kalau tidak salah hari Sabtu, tapi yang pasti hari minggunya terjadiâŚ) Hari Minggu sampai Senin katanya aku  tertidur sangat lelap sampai-sampai dilakukan kejut jantung karena aku dikira akan meninggal. Keluargaku pun sudah pasrah dan ikhlas kalau harus kehilanganku. Namun Alhamdulillah, seninnya aku bangun dan menanyakan perihal kakekku karena kata mama aku bilang bahwa kakekku ada di sana barusan. Tapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah aku tak ingat satu orang pun yang ada di sekitarku, bahkan ibuku sendiri. Kata mama, aku lupa ingatan.
Senin malamnya ketika aku bangun tidur tiba-tiba kata mama pupilku berputar 360 derajat. Setelah itu salah satu mataku takbisa kembali ke posisi semula, aku juling. Ketika mama bilang ke suster, susternya malah bilang âWah, Bu. Kita harus panggil orang pinterâ. Mamaku marah lah susternya ngajak musyrik gitu. Paginya ketika dokter check up dan ternyata kata dokter semalam aku mengalami kejang. Setelah kejadian itu aku langsung diperiksa berbagai macam karena tak kunjung dtemukan pula apa penyakitku. Ternyata tes mantoux TBC aku positif, tetapi paruku bersih. Kemudian dokter menyuruh aku CT scan. Ternyata ditemukan gambaran flek-flek di selaput otakku. Dokter tidak memintaku pungsi lumbal karena katanya kasihan aku akan kesakitan. Namun saat itu dokter yakin, aku terkena meningitis TBC.
Semua orang terdekatku datang menengok, mereka sedih bahkan takjarang menangis. Mereka menangis karena aku takbisa mengingat mereka. Selain itu, aku bisa bertanya hal yang sama setiap setelah aku mengedipkan mata. Aku juga bisa lupa bahwa aku sudah makan setiap aku mengedipkan mata, sampai-sampai sahabatku menyuapi aku anggur setengah kilo karena setiap aku selesai berkedip dan meilhat anggur aku minta anggur itu. Kalau kalian pernah nonton fim 50 first dates, kalian pasti tau kalau pemeran utamanya lupa ingatan setiap bangun tidur. Dan itu nyata terjadi pada aku, setiap kali mengedip.
Kejadian yang lucu sebetulnya terjadi ketika aku lupa ingatan. Banyak orang yang dating mencoba menanya-nanya hal yang dikiranya dapat memancingku, misalnya âTiya kuliah di mana?â. Nah, kata mama setiap aku ditanya begitu aku selalu melihat ke arah mama untuk minta bantuan dijawabkan. Ketika mama menjawab, âdi ITBâ, aku tersenyum. Namun ketika orang itu bertanya lagi, âJurusan apa?â, lalu mama menjawab, âMatematikaâ, aku langsung mengeluarkan lidahku mendengar kata matematika. Ternyata alam bawah sadarku masih takrela aku kuliah di matematika, bukan di teknik industri hehe.
Ada dua hal yang mengharukan ketika aku lupa ingatan. Pertama walaupun aku takpernah tahu bahwa wanita yang selalu menemaniku adalah mamaku, setiap bangun tidur ketika aku melihatnya aku langsung minta Ia peluk. Kedua, orang-orang sangat setia mencintaiku bahkan ketika aku tak akan bisa mengingat rasa cinta mereka kepadaku. Itu luar biasa.
Lalu, bagaimana ceritanya aku diijinkan pulang? Karena kondisiku sudah stabil dan ingatanku belum pulih benar, dokter menyarankan aku untuk pulang. Dengan tujuan untuk menumbuhkan memori aku. Dan hasilnya adalah sambungan memori dari tiga belas hari yang hilang setelah aku membuka pintu rumah. Ini kemajuan pesat untukku.
Selepas 13 hari itu, aku jalani hari-hariku dengan bedrest berhubung saat aku sakit itu adalah libur panjang kuliah. Setiap aku membuka mata, aku pusing. Ditambah lagi dengan pengelihatan gandaku, aku semakin ingin tidur terus. Sampai suatu hari-aku ingat sekali 1,5 bulan setelah itu, mataku tiba-tiba kabur. Aku langsung ke kamar mandi ngesot karena ingin cuci muka yang siapa tahu dapat mengurangi keburaman pengelihatanku. Kemudian setelah cuci muka aku mengaca, mataku takjuling lagi. âMama!!!â. Tapi, pengelihatanku buram. Ibuku langsung membawa aku ke dokterku, lalu aku dirujuk ke Rumah Sakit Mata. Beruntung satu dari dua dokter mata di Indonesia yang menguasai saraf mata sedang ada di rumah sakit tersebut, aku langsung diperiksa. Aku dihadapkan dengan alat bernama kampimeter. Ketika mata kiriku ditutup, mata kananku tidak dapat melihat choco chip yang ada di tengah alat itu. Ketika mata kananku ditutup, mata kiriku dapat melihat titik hitam itu. Namun ketika dokter memberi rangsangan sinar di beberapa titik, mata kiriku hanya bisa melihat satu kali.
Beberapa saat setelah pemeriksaan, orang tuaku dibawa ke dalam ruangan oleh para dokter. Ya, banyak dokter. Aku menunggu di luar ruangan. Sambil menunggu, aku mencoba membaca brosur-brosur dan poster-poster. Lalu aku melihat poster âGangguan Mata Akibat Kelainan Selaput Otakâ yang sepertinya aku banget. Kubaca âgangguan ini dapat menyebabkan penurunan fungsi pengelihatanâ wah aku banget. Kubaca lagi âmenyebabkan penyempitan lapang pandangâ hmmm kebetulan tadi di dalam aku dengar suster berbicara seperti itu. Kemudian di line terakhir kubaca suatu tulisan berwarna merah âKebutaan dapat dicegah sejak diniâ. Ketika orang tuaku keluar, aku langsung berkata âEneng akan kaya gini ya?â sambil menunjuk poster. Lapang pandang mata kiriku tinggal 12,5% sedangkan lapang pandang mata kananku tinggal 0,5%. Aku lemas. Ya Allah, apa ketika aku lumpuh sulit berjalan harus pula aku menjadi buta? Aku tak pernah setakut itu dalam hidupku.
Setelah itu aku langsung diopname. Beruntung salah satu temanku merupakan anak dokter mata sehingga aku langsung mendapat tempat. Aku diberikan obat dengan dosis yang sangat tinggi. Sampai suatu hari tiba-tiba ketika bangun tidur, aku dapat melihat suatu kotak di atas dinding yang biasanya buram. âMamaaaa, sekarang jam 3?â aku bisa melihat jam di dinding. Ibuku langsung mengontak suster dan langsung memeluk dan menciumku sambil menangis.
Liburan panjang kuliah usai, aku ingin merasakan langsung semester 5-ku tanpa cuti. Aku sehat. Aku tidak sakit. Aku hanya perlu mengingat kembali gedung mana tempat aku berkuliah dan juga hanya perlu mengingat ulang apa itu konvergen, divergen, dan kawan-kawannya. Aku pasti bisa.
Sembilan bulan setelah pemeriksaan TBC-ku selesai, aku follow up. Dokter saraf, dokter penyakit dalam, dan dokter mata yang merawatku sangat senang. Bahkan dokter mataku menangis bahagia karena beberapa hari yang lalu pasiennya baru saja mengalami kebutaan karena penyakit yang sama sepertiku. Pasiennya itu harus transfer sekolah langsung ke sekolah orang buta karena dia harus melakukan UN SMA sebentar lagi. Ya Allah, betapa besar pula perlindunganMu jika mengingat  cerita bahwa tetangga temanku pusing dua hari, pingsan, dan langsung meninggal. Betapa besar pula ridho dan kesempatan yang Engkau berikan padaku sehingga pengelihatan ini masih Kau ijinkan padaku dan aku sudah bisa berjalan lagi.
Kesembuhanku membuat aku semakin bersyukur atas hidup yang aku punya. Aku pernah tak bisa berjalan, bahkan aku pernah mengalami suatu ketakutan terbesarku selama hidup ketika aku tahu bahwa aku bisa buta. Dan sekarang, tak akan kubiarkan kesempatan ini aku sia-siakan. Akan kujaga diriku, sehatku karena dokter berpesan bahwa penyakitku ini bisa tumbuh lagi jika aku selemah orang DM atau HIV. Satu pesan untuk orang-orang di luar sana
Jangan takut, penyakit meningitismu pasti bisa diusahakan sebaik mungkin untuk sembuh.
Itu adalah kisah senior taekwondoku, Teh Tiya. Barusan aku bertemu dengan dia lagi setelah 4 tahun tidak ada kabar. Dia bercerita bahwa dia sempat sakit meningitis TBC. Itu adalah sepotong kisah penting dari perjuangannya untuk survive. Sebagai seorang adik, aku menangis karena terharu dapat melihat Teh Tiya di depanku saat itu. Aku takbisa menahan diri untuk langsung memeluknya. Tapi sebagai seorang calon dokter, kisah ini membuat aku merinding dan memikirkan sesuatu yang sangat jauh. Prakteknya nanti memang tidak akan mungkin semudah teori kaku kuduk, kernigâs sign, burdzinskiâs sign, dan kawan-kawannya. Namun, aku harus bisa menjadi dokter yang tidak berhenti meyakinkan pasiennya bahwa Ia mampu melewati cobaan ini dan aku juga harus bisa memotivasi keluarganya untuk selalu memberi dukungan penuh kepada pasien.
Atas ijin Teh Tiya, aku post ini. Dia bilang âAku malah seneng Nad bisa membagi harapan kepada orang-orang yang sakit kaya aku duluâ.
Teh Tiya, dunia akan jadi semuram apa jika orang seceria Teh Tiya harus pergi? Terima kasih masih di sini.
Aku kasih sedikit video yang mungkin bisa membantu yang masih sangat awam terhadap meningitis. Semoga cerita ini menjadikan kita lebih waspada dan tentunya lebih bersyukur. Aamiin.