Untuk Kamu yang Menderita Tapi Sulit Pergi dan Mengira Itu Cinta
Jika hubungan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru lebih banyak menyakitimu, mungkin itu bukan cinta, tapi trauma bonding.
Itu adalah kondisi di mana kamu (korban kekerasan) membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pelaku, seringkali sebagai respons terhadap siklus kekerasan dan rekonsiliasi (pemulihan hubungan setelah bertengkar atau mengalami masalah) yang berulang.
Pasanganmu (pelaku) mungkin melakukan kekerasan fisik atau emosional, tetapi kemudian menunjukkan kebaikan atau kasih sayang, menciptakan harapan bagimu bahwa situasi akan membaik. Siklus ini membuatmu merasa bingung dan terperangkap dalam hubungan tersebut.
Patrick Carnes (1997) menggambarkan trauma bonding seperti kecanduan: semakin sering siklus ini terjadi, semakin sulit bagi korban untuk pergi.
Kalau kamu merasa hubunganmu seperti ini, bukan berarti ada yang salah denganmu. Pola ini memang dirancang untuk membuatmu tetap terikat, dan menyadarinya adalah langkah pertama untuk keluar.
Untuk memahami bagaimana pola ini bekerja, penting untuk melihat bagaimana trauma bonding terbentuk secara bertahap. Proses ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui beberapa tahapan yang membuat korban semakin terikat dengan pelaku. Berikut adalah tahapan yang umum terjadi:
Love Bombing: Di awal hubungan, dia mungkin membuatmu merasa seperti satu-satunya orang di dunia yang berarti baginya. Dia menghujanimu dengan cinta, perhatian yang berlebihan, dan kata-kata indah. Dia membuatmu merasa istimewa dan dicintai. Tapi seperti api kembang api, keindahannya cepat berlalu dan berganti dengan kegelapan.
Kepercayaan dan Ketergantungan: Setelah membangun kepercayaan, dia mulai menciptakan ketergantungan emosional, membuatmu merasa bahwa hanya dia yang dapat memenuhi kebutuhanmu.
Kritik Mulai Muncul: Dia mulai mengkritik dan merendahkanmu, merusak harga dirimu dan membuatmu meragukan diri sendiri.
Gaslighting: Dia memanipulasimu agar meragukan realitas dan persepsimu sendiri, membuatmu merasa bingung dan tidak berdaya.
Pengunduran Diri/Pasrah Terhadap Keadaan: Kamu berhenti membela diri atau menetapkan batasan, karena setiap kali melawan, justru berujung pada konflik atau kekerasan lebih lanjut. Kamu mulai menyerah dan menuruti tuntutannya dalam upaya menjaga hubungan tetap utuh. Kamu meyakini bahwa bertahan lebih baik daripada kehilangan, meskipun hubungan itu menyakitkan.
Kehilangan Diri Sendiri: Kamu kehilangan identitas dan batasan pribadi, seringkali mengisolasi diri karena kehilangan kepercayaan diri dan harga diri.
Kecanduan Emosional: Kamu terbiasa dengan pola konflik dan rekonsiliasi, menjadi mati rasa terhadap kekerasan yang dialami dan sulit untuk pergi.
Setelah memahami bagaimana trauma bonding terbentuk, penting untuk mengenali tanda-tandanya dalam hubunganmu. Berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa hubunganmu didasarkan trauma bonding, bukan cinta yang sehat:
Ada siklus penyiksaan dan rekonsiliasi dengan pola seperti : Awalnya sangat baik (love bombing), lalu menyakitimu secara emosional atau fisik → kamu merasa hancur → dia meminta maaf dan bersikap sangat manis → kamu memaafkannya → siklus terulang.
Kamu selalu memaafkan perilaku buruknya, berulang kali. Dia sering menyakitimu secara emosional, bahkan mungkin secara fisik, tapi kamu tetap mencari alasan untuk membenarkannya. Kamu percaya bahwa dia akan berubah meskipun dia terus mengulangi pola yang sama. Itu bukan karena kamu lemah, tapi karena manipulasi ini memang bekerja dengan cara seperti itu.
Kamu merasa bergantung secara emosional, bahkan saat tahu hubungan itu toksik. Kamu merasa takut atau cemas membayangkan hidup tanpa dia. Bahkan ketika dia menyakitimu, kamu merasa lebih aman bersamanya dibandingkan saat sendirian.
Kamu mulai meragukan diri sendiri (Gaslighting). Dia sering mengatakan bahwa semua masalah adalah salahmu. Kamu mulai mempertanyakan ingatan, emosi, atau perasaanmu sendiri karena dia sering memanipulasimu.
Kamu Mengabaikan Kebutuhan dan Batasan Pribadimu. Kamu terus mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan mentalmu demi mempertahankan hubungan. Kamu takut mengekspresikan perasaan sebenarnya karena khawatir membuat pasangan marah atau menjauh.
Kamu merasa seperti tidak bisa melepaskan diri atau mengakhiri hubungan, meskipun tahu itu tidak sehat. Kamu sering berpikir untuk meninggalkannya, tapi ada rasa takut atau kecanduan emosional yang membuatmu tetap bertahan. Kamu merasa tidak akan menemukan seseorang yang lebih baik atau tidak layak dicintai oleh orang lain.
Hubungan itu mengisolasimu—membuatmu terpisah atau menjauh dari orang lain. Kamu mulai menjauh dari keluarga, teman-teman, dan lingkungan sosial karena pasanganmu mengontrol siapa yang boleh ada dalam hidupmu. Kamu takut berbicara dengan orang lain tentang hubunganmu karena takut dihakimi atau takut pasanganmu marah.
Tulisan ini dibuat untuk membantumu mengenali hubungan yang sedang kamu jalani. Percayai perasaan dan intuisimu—jika kamu sering merasa tidak aman, tertekan, atau tidak dihargai, itu bukan hal sepele. Itu tanda serius. Kamu berhak mendapatkan dukungan. Mulailah dengan berbicara pada seseorang yang membuatmu merasa aman—entah teman, keluarga, atau seorang profesional.
Keluar dari trauma bonding memang butuh keberanian dan kesabaran. Setiap langkah kecil yang kamu ambil adalah kemenangan, adalah bukti kekuatanmu untuk mendapatkan kembali kehidupan yang lebih sehat dan tenang.
Catatan : Trauma bonding tidak hanya berasal dari trauma masa lalu atau masa kecil, tetapi juga bisa terbentuk dalam hubungan yang sedang berlangsung saat ini. Bahkan, seseorang bisa mengalami trauma bonding tanpa memiliki latar belakang trauma sebelumnya. Artinya, meskipun trauma masa lalu bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap trauma bonding, hubungan yang toksik saat ini pun bisa menciptakan trauma bonding.