Sepasang yang (Seharusnya) Mendengar
Ada yang menempel di samping kepala, sepasang jumlahnya. Ia yang selalu terbuka, tetapi tak selalu mampu menggetarkan gendang. Ia yang lunak, tetapi kadang begitu keras hingga tak mau menerima. Adalah telinga yang seharusnya mendengar, tetapi tak selamanya bisa menangkap radar, membuat sadar; jiwalah yang saling bertukar kabar.
Dan apa yang aku butuhkan itu sejatinya “telinga”, bukan satu mulut yang menyepelekan, "Ah, masalahmu belum seberapa."
Tak bisa kita bandingkan masalah setiap orang karena semua terlahir berbeda. Tak ada yang tahu seperti apa beban yang ada di balik tawa, tangis yang ditahan di balik senyum, masalah yang menggelayuti langkah kaki.
Orang lain mampu mencapai seratus dalam rasa penasaran saking tinggi, tetapi sebatas nol perihal memahami.
Jika bebanmu berkurang setelah bercerita, dialah orang yang dengan jiwanya mendengarkan juga memahami. Jika tak ada yang berubah setelah ceritamu seluruhnya tercurah, dialah yang hanya besar rasa penasarannya, tetapi tidak ada pedulinya.
Sebuah kolaborasi dari tempat pergi jua kembali, pada hari hujan turun begitu deras agar pesannya terdengar keras.