Ini Bukan Tentang Pisang Goreng
Indonesia kaya akan jenis pisang. Sejujurnya aku sendiri masih belum hafal benar dengan berbagai jenis pisang. Jika disuruh beli pisang, dapat dipastikan aku akan banyak bertanya.
Saat masih SD, ada satu mata pelajaran bernama Kertangkes atau Kerajinan Tangan dan Kesenian. Buat kamu yang enggak asing dengan nama mapel tadi, artinya kamu dan aku sama-sama generasi millenial😅. Hampir setiap tingkat pasti ada praktek memasak. Kami diminta membentuk kelompok dan memilih menu yang akan dimasak.
Di antara semua menu, dengan cepat kami memutuskan untuk membuat pisang goreng. Alasan kami sangat lah sederhana. Tentunya sesederhana membuatnya. Sampai aku mendapat cibiran dari kakakku. "Ah bikin pisang goreng mah gampang!." Akupun menimpalinya, "Biarin, yang penting praktek masak, wek!"
Aku dan temanku Siti pergi ke pasar untuk membeli pisang. Sesampai di pasar, kami mencari penjual pisang. Berhasil menemukan lapak dengan banyak pisang, kami menghampirinya dan tentu bertanya.
"Bu, mana pisang yang enak untuk dibuat pisang goreng?
Ibu penjual menjawab, "Ini mba, namanya Pisang Raja".
Aku bertanya kembali, " Kalau ada Pisang Raja, apa ada juga Pisang Ratu, Bu? Terus apa juga ada Pisang Putri dan Pisang Pangeran?".
Si ibu penjual tertawa terbahak-bahak. "Emangnya mau bikin kerajaan pisang?"
Aku pun ikut tertawa kencang😂. Sebuah pembicaraan yang sangat berfaedah, bukan? Jelas, bukan lah! 🤣
Back to main topic. Setelah selesai dengan urusan membeli pisang, besoknya acara memasak pun dimulai. Kami sekelompok terdiri dari empat personil membagi tugas. Si Irus menyiapkan kompor dan peralatan memasak lainnya. Sementara si Isal mengupas pisang dan memotongnya. Siti kebagian membuat adonan dan aku yang menggorengnya.
Kami berekspektasi pisang gorengnya akan berbentuk seperti kipas. Isal mencoba membelah pisang menjadi 3 lalu di buat seperti kipas. Namun ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Berkali-kali pisangnya justru putus ketika dipaksa melebar seperti kipas. Aduh gawat! Pisangnya tinggal 2. Harus hati-hati nih!
Aku pun gemas dan akhirnya turun tangan mencoba membuatnya seperti kipas tanpa mematahkannya. Dengan penuh perasaan dan sangat perlahan, aku mencoba membelah dan melebarkannya, namun gagal! Lihat lah! Perasaan yang lembut saja tidak cukup kawan!
Bu guru nampaknya melihat kesulitan yang kami hadapi. Kami pun dihampirinya dan diberi tutorial yang benar. Bu guru membelahnya menjadi tiga namun tidak langsung melebarkannya, melainkan dilebarkan menggunakan sodet saat pertama kali dimasukkan ke wajan berisi minyak panas. Wow!
Bu guru menunjukkan sebuah kesalahan yang kami lakukan. Pertama, kami memilih jenis pisang dengan tekstur yang cenderung lembek ditambah lagi sudah terlalu matang sehingga sulit untuk dibentuk seperti pisang. Kedua, kami terlalu memaksakan untuk membentuknya menjadi kipas, sementara pisangnya sangat rapuh. Seharusnya tidak perlu dibuat seperti kipas. Cocoknya cukup dibelah saja jadi dua. Ingat ya!
Kini, saat aku menceritakannya kembali, aku menyadari bahwa perkara menggoreng pisang ternyata tidak sesederhana yang aku dan teman-temanku pikir. Dan aku menyadari, ternyata itu bukan hanya tentang pisang goreng, tapi tentang pelajaran dalam hidupku.