Diriku ini seorang pemimpi. Pemimpi besar. Pemimpi akan hal yang tidak mungkin. Pemimpi yang pandai mencapai sebuah strategi. Sehingga akhirnya, mimpi-mimpi itu jadi jejak hidupku kini.
Aku mendapat apa yang aku mau..
Tapi, aku belum mendapat siapa yang aku mau.
Aku pandai membual dalam dunia ilmiah tertentu. Tapi, aku bodoh dalam urusan membuat supaya bisa bercakap dengannya.
Aku pandai merancang ini dan itu, membuat momen yang tidak terlupakan dalam acara tertentu. Tapi, aku bodoh dalam urusan membuat momen antar aku dan dirinya.
Aku pandai membuat diriku tenang saat kalah dalam sebuah pertempuran. Tapi, aku bodoh dan tidak bisa membuat diriku tenang saat terus-terusan kalah untuk menjadi perempuan yang layak bagimu.
Aku tahu, dan kaupun memberitahuku perempuan seperti apa yang kau damba.
Dari segi diriku, aku tidak terkualifikasi, dan aku pasti didiskualifikasi.
Dari segi keluargaku, aku tidak terkualifikasi, dan aku pasti didiskualifikasi.
Dari segi ilmu agamaku, aku tidak terkualifikasi, dan aku pasti didiskualifikasi.
Dari segi ilmu duniawiku, aku tidak terkualifikasi, dan aku pasti didiskualifikasi.
Lepas dari bagaimananya diriku, aku juga sadar tentang bagaimana dirimu kepadaku.
Yang tatkala, tidak mungkin bertanya kabar, jika bukan aku yang duluan menanyakan kabarmu.
Yang tatkala, sekalipun kau menegurku duluan, itu pasti karena ada hal yang kau butuh.
Yang tatkala, ada seribu banyak alasan bahwa kita tidak usah bertemu, karena hal ini atau karena hal itu.
Serentetan bukti-bukti yang harus kutelan pahit-pahit.
Lebih baik pergi, pantaskan diri untuk lelaki lain yang mau menerimaku dengan segala kerendahan dan kehinaan ini.
Aku memang seorang pemimpi. Pemimpi besar. Pemimpi akan hal yang tidak mungkin. Pemimpi yang pandai mencapai sebuah strategi. Sehingga akhirnya, mimpi-mimpi itu jadi jejak hidupku kini.
Tapi, aku akan mundur dan hilangkan mimpiku yang satu ini.