“Entah memang kita sudah sama-sama lelah berusaha atau sesungguhnya kita masih banyak berkorban dan giat berjuang—namun sama-sama dibutakan oleh prasangka dan perasaan yang belum terselesaikan.”
– Jenuh
Xuebing Du
Monterey Bay Aquarium

if i look back, i am lost
Today's Document
Three Goblin Art
AnasAbdin

#extradirty
DEAR READER
I'd rather be in outer space 🛸
cherry valley forever
sheepfilms
🪼
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
hello vonnie
No title available
Not today Justin
KIROKAZE

izzy's playlists!
Cosmic Funnies
Alisa U Zemlji Chuda

seen from Malaysia
seen from Chile
seen from United States

seen from Argentina

seen from Kosovo
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from India

seen from TĂĽrkiye

seen from United States
seen from France

seen from France
seen from Saudi Arabia

seen from India
seen from Ukraine
@nismara
“Entah memang kita sudah sama-sama lelah berusaha atau sesungguhnya kita masih banyak berkorban dan giat berjuang—namun sama-sama dibutakan oleh prasangka dan perasaan yang belum terselesaikan.”
– Jenuh
Seringkali membuka tulisan lama menjadi cara menjenguk diriku yang lain; menenangkan perasaan yang terjebak dalam satu fragmen waktu yang membeku—menolak tergilas masa depan.
Kadang kala berlaku sebaliknya, diriku yang lain itu yang merengkuhku di tengah hening dan kosong—membantuku menempatkan tanda baca pada hidup yang bertutur tanpa henti dan tanpa jeda.
Sabda Kaki pada Tangannya
“Lelaki melindungi wanitanya bukan karena sang wanita tidak mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi laki-laki itu tau seorang wanita harus melindungi muara kasih miliknya dari kerasnya persaingan, dinginnya pemikiran dan tajamnya keputusan.
Wanita menerima kecukupan melalui usaha lelakinya bukan karena wanita tidak mampu berusaha untuk dirinya sendiri, tetapi sang lelaki tau bahwa wanita lebih layak dihindarkan dari berbagai bentuk keletihan atas kemampuannya mengandung dan melahirkan angin segar bagi letih lelah kehidupan.
Sungguh, jika lelaki adalah dua kaki yang kokoh maka wanita adalah dua tangan yang mampu meraih apapun. Lantas kendati dua tangan mampu dipakai berjalan sebagaimana dua kaki mampu dipakai meraba, akankah kita jalani hidup demikian?”
Perihal Sadar Diri
“Bukan tentang merendahkan diri, melainkan menempatkan diri pada tempatnya; mereduksi bias, menguatkan akal dan hati lantas menundukkan ego, mengasah ketajaman berpikir serta kepekaan memaknai apa yang kita lalui—alami, rasakan.”
Ketika seruan untuk “sadar” ditegaskan pada saya setahun belakangan, perjalanan penuh resistensi belasan tahun sebelumnya terus berputar dalam pikiran. Perjalanan penuh pencarian, pertanyaan, kebuntuan, kegamangan. Satu waktu saya tercerahkan, di waktu lain ekspektasi saya dijatuhkan. Terdengar seperti perjuangan tapi sama sekali tidak heroik. Ternyata memang bukan saya heronya.
Bukan tentang merendahkan diri atau merendahkan perjalanan saya selama ini—walaupun dalam hidup jelas keberuntungan ketika derajat kita hari ini lebih tinggi dari hari kemarin—seruan “sadar” yang berdengung di kepala saya adalah perihal pijakan saya yang ternyata tidak membawa saya bertumbuh. Sadar diri adalah perihal mengenali dan membaca diri: apa yang bisa dan tidak bisa saya lakukan, atau apa yang bisa mengubah tidak bisa menjadi bisa, atau bagaimana saya menempatkan diri di antara bisa dan tidak bisa?
Hingga di satu titik, saya sadar sudah harus menancapkan pijakan. Tidak lagi takut jalan buntu sebab kini saya bertumbuh, bukan lagi berputar(-putar). Kalimat ini menjadi terdengar heroik, namun bukan saya heronya. Bukan saya yang mempersiapkan pijakan terbaik untuk saya mengakar. Bukan saya yang memberi diri saya pemikiran untuk tidak memilih jalan memutar. Bukan juga saya yang memberi diri saya kekuatan untuk tetap bekerja dalam tenang, menikmati terang gelap kehidupan, lantas pelan-pelan menancapkan akar yang menyerap nutrisi-nutrisi terbaik yang telah dititipkan pada tanah terbaik—pijakan terbaik.
“Katakanlah: Dialah Allah, Al-Ahad,” (QS. 112:1)
Rasanya menyenangkan melihat blog ini masih dihidupkan oleh para pembaca. Aku sungguh berharap penulisnya segera kembali pada kehidupannya yang seharusnya.
Terima kasih dukungannya.
Telaga Do’a
sekali aku berlari sekian kali (lagi) aku digapai (kembali) pada telaga biru yang menengadah (selalu) meramu do'a yang dirapalkan ibu membungkam air mata dari pasang-pasang yang menjerat sepanjang jalan
sementara peta hidupku dirampas ombak sementara nafsu menderu-deru sementara nyali menanti pasang sementara itu ibu—
—menunggu dan percaya putrinya baik-baik saja
Him: What's the point of having fun if you had never took things seriously?
Also him: What's the point of taking a break if you already doing nothing all the time?
Everyone keep telling you how to be right, but have anyone ever told you how to be wrong? How to take responsibility on your own?
grown up notes
Mengendap
Atas bumi yang berputar hebat, waktu bergulir cepat. Ada yang terus mengalir dari hati-hati yang berteriak sehari-hari. Ada yang terus berbisik dari hati ke hati kendati hanya lewat sementara kita semakin gawat.
Atas malam yang temaram, rasa kita kian masam. Di bawah purnama yang berulang catatan luka kembali datang. Di antara dua goresan belum ada yang benar-benar hilang sementara antara kita tinggal sayang yang semakin tanggal.
Atas hari yang sudah jarang, muara kata telah kedap. Jika mengeluh adalah dosa maka aku sebenar-benar pendosa. Jika letih adalah salah maka aku sudah lelah bersalah. Seluruh yang diam berujung pendam, sementara kutukan takkan berakhir tanpa kita saling mengatakan.
Dinding rumahmu bukan hanya menyimpan dingin, rangkanya merekam seluruh sunyi yang meluap-luap setiap kamu dan pikiranmu terjebak di dalamnya.
Kotak suara
Hidup dalam Kepastian akan Ketidakpastian
Bicara tentang takdir menjadi suatu yang abstrak—jika tidak ingin disebut rumit. Tentang kehilangan banyak hal dan menemukan banyak hal menjadi suatu yang samar-samar; apakah suatu keberuntungan atau kesialan? Kebanyakan energi dalam riwayat hidup kita dialokasikan untuk menimbun harapan sementara kita yang polos sama sekali tak paham besarnya resiko kecewa. Malam-malam berlalu penuh ketar-ketir, padahal ego kita hanya butuh terjamin.
Berbicara jaminan menjadi suatu yang riskan; antara pikiran dan pengalaman begitu tipis kaitnya. Semua hal adalah mungkin termasuk apa yang tak masuk ingin. Anggota dunia macam apa kita yang berharap dipastikan kemauannya? Sementara mau kita sudah pasti menindas mau lainnya.
Bicara satu dan yang lain menjadi ketersinggungan tiada akhir. Tidak ada yang paling berhak tapi satu yang jelas wajib: melanjutkan tatih. Cukup dengan angan yang membuat buta ingin. Halo 21, aku siap untuk tidak siap.
Langit
Matamu, ruang di mana para do’a tersesat di dalamnya Sebab apa kau bersikukuh menyimpan beban sendirian; dalam matamu?
Takkan sampai kau mengira sebanyak apa pasang mata menaruh pandang; curiga pada misteri bola matamu Menyihir milyaran jiwa. Menuntun milyaran do’a
Matamu menyapu Desember dengan gemuruh dengan apa-apa yang telah terbakar sejak kemarau; juga apa-apa yang dikirimkan mata angin, abadi menjadi sinar matamuÂ
Tak semua orang bisa bicara tentang mimpinya.
Mungkin dia harus mewujudkan mimpi orang lain,
Mungkin dia harus mendahulukan mimpi orang lain,
Mungkin dia hanya harus bertahan hidup, karena mimpi tak penting jika esok tak bisa makan
Mungkin ada kehidupan lain yang harus ia tanggung, jadi mimpinya tak penting
Mungkin, bisa bicara tentang mimpi dan mewujudkannya, itu juga privilege.
Apa yang Kau Cari, Wanitaku?
*title credited to Noah - Wanitaku
Melalui riuh rendah tahun pertama berkepala dua, saya terlalu banyak membenamkan diri dalam petak rancu antara yang lampau dan yang akan datang. Saya berada di usianya pengembara, penuh dengan bekal yang menuntut dihabiskan namun terus-menerus lapar akan kemungkinan. Saya representasi naif dan agresif; melebur dan melebar. Menimbulkan perasaan lucu yang menggambarkan ambisi seolah-olah berdiri gagah alih-alih penuh endapan emosi. Saya emosional, terus-menerus mengenang apa yang terlewat di belakang.
Saya emosional, sementara kerap jadi gila dalam kegagalan untuk diam di tempat. Saya berada di usianya tubuh dan pikiran tidak bisa diam, penuh dengan aksi menjemput kecelakaan. Cedera jadi latihan, tapi tak siap menjemput kematian. Saya bimbang, terus-menerus mempertanyakan apa yang selama ini saya petik dari jalan.
Saya bimbang. Dari pagi sampai petang sibuk merapal, “cukup sampai di sini.” Sepanjang malam sibuk saling jagal dengan nurani. Ada apa besok pagi?
Rindu Sendiri
Rindu menyendiri Merindu sendiri Rindu tersendiri
Rindu saat sendiri Kerinduan milik sendiri Rindu ulah sendiri
Is There Someone Special?
Pertanyaan itu dilempar pada saya, dan saya kembali bertanya pada diri sendiri hingga berjam-jam bahkan setelah kelar memberi jawaban. Ada. Jelas ada. Pikiran saya maraton panjang untuk sampai pada “siapa”. Banyak nama. Banyak kenangan. Adalah prinsip dasar saya bahwa tiap manusia itu spesial, sekalipun keterbatasan bagi saya menghargai tiap-tiapnya dengan layak. Saya jatuh hati pada manusia; bagaimana mereka berinteraksi, passion mereka, falsafah individual dan cita-cita mereka. Saya bisa menjawab siapapun dan itu merupakan jawaban yang tulus. Tapi mengapa sebagian nama muncul teratas terhadap pertanyaan ini mengalahkan sebagian lain?
Banyak hal bisa membentuk chemistry: kecocokan minat, wawasan, visi hidup hingga pola pikir. Banyak hal bisa melahirkan sayang: proses berbagi pengalaman, rasa empati, atau sebab terbiasa. Itu semua tidak spesial bagi saya. Itu alamiah. Seseorang jadi spesial karena bertahan. Ada begitu banyak celah pada saya untuk digunjing, tapi ada orang-orang yang bertahan untuk tidak mengutuk saya dari belakang. Ada begitu lebar parit yang dibangun di sekitar kediaman saya, tapi ada orang-orang yang bertahan untuk tetap mendekat. Ada begitu banyak manusia yang saya lihat, tapi ada orang-orang yang bertahan untuk menyapa walau tak terlihat. Dunia saya mungkin ramai cinta, tapi saya belajar bagaimana merayakan cinta dari mereka yang bertahan.
Barangkali orang lain punya definisi yang beda, tapi berdasar pada pandangan saya, saya tahu bahwa kita semua pernah atau sedang berjuang dan diperjuangkan. Saya paham jika seseorang ingin menjadi spesial bagi orangtuanya, rekan kerjanya, atau sahabat kecilnya. Bagi yang bertahan, semoga mendapat tempatnya. Jika belum, tengok dulu aja tempat kita. Is there someone special?