Menjelang berangkat i’tikaf dini hari ini, ingatan saya mundur jauh ke masa remaja.
Waktu itu, saya tidak pernah merasa sedang “mencari” Tuhan. Ia seperti sudah dekat saja. Atau mungkin, saya yang belum cukup sadar untuk menyebutnya sebagai jarak.
Ibu rutin membangunkan saya di sepertiga malam. Satu kalimat yang diulang-ulang: Allah akan memeluk doa-doa di waktu tersebut. Saya ikut saja. Salat, duduk, berdoa. Selesai.
Saya juga ingat pernah menyisihkan waktu istirahat sekolah untuk salat dhuha di masjid. Cukup sering untuk menjadi kebiasaan. Puasa Senin-Kamis pun berjalan tanpa menjadi beban, bahkan ketika ada pelajaran olahraga.
Tidak ada yang terasa istimewa dari semua itu. Justru karena biasa.
Baru sekarang saya menyadari: mungkin yang membuatnya terasa ringan adalah karena saya tidak sedang mengukurnya.
Semakin saya tua, saya merasa semuanya berubah. Praktik yang dulu saya jalani tanpa beban tidak lagi datang sebagai kebiasaan, melainkan keputusan. Kadang ditunda, kadang ditimbang, sering kali dinegosiasikan dengan hal-hal lain yang terasa lebih mendesak.
Saya tidak yakin apakah ini soal waktu, usia, atau hal lain yang lebih sulit dijelaskan. Yang jelas, rasa “dekat” itu tidak lagi otomatis.
Saya teringat sempat mengutip cerita dari Paulo Coelho kepada adik-adik kelas di sebuah forum. Tentang seorang pastor yang tidak memaksa jemaatnya datang rutin. Ia hanya meminta mereka hadir sekali saja.
Alasannya sederhana: pertemuan itu seperti api unggun. Orang datang membawa kayu, menaruhnya, dan api menyala. Ketika orang-orang pergi, kayu berkurang, api mengecil, lalu padam dan tersisa setitik bara yang menunggu dikipasi kembali.
Waktu itu saya menyampaikan cerita itu sebagai ajakan untuk datang ke liqo, ke ruang-ruang ibadah, ke pertemuan-pertemuan sederhana di akhir pekan sekolah.
Sekarang, saya membacanya berbeda.
Bukan soal datang atau tidak datang. Tapi soal apakah saya masih ikut menaruh sesuatu ke dalam unggunan itu.
Saya selalu percaya kehadiran Ilahi tidak ke mana-mana. Yang berubah mungkin hanya intensitas perjumpaan, atau bahkan, kesediaan saya untuk hadir.
Kerinduan yang muncul belakangan ini sepertinya bukan sekadar rindu masa lalu. Tapi rindu pada cara beriman yang tidak banyak effort, tidak perlu banyak ditimbang.
Dini hari ini saya berangkat ke masjid sembari mengenang masa itu.