Hal-hal yang Berhenti Dibicarakan.
Ada jarak yang tumbuh tanpa suara, bukan karena amarah, bukan pula karena peristiwa besar yang bisa ditunjuk dengan jari. Ia hadir seperti udara yang berubah dingin: perlahan, wajar, lalu menetap.
Rasa itu tidak pergi sekaligus. Ia menyusut. Menjadi kebiasaan. Menjadi sunyi yang tidak lagi ditanyakan. Kami tetap menyebut satu sama lain dengan nama yang sama, menjalani hari seperti biasa, namun kebersamaan terasa lebih seperti rutinitas ketimbang pulang.
Ada hari-hari berat yang kulalui sendirian, bukan karena ditinggalkan, melainkan karena aku tak tahu bagaimana caranya meminta ditemani tanpa merasa berlebihan.
Lalu hidup mengambil sesuatu yang ingin kupeluk sebagai rumah. Sejak itu, aku sering berdiri di tengah keramaian sambil bertanya ke dalam diri "ke mana seharusnya aku kembali ketika runtuh?"
Usaha datang. Perubahan menyusul. Aku melihatnya. Aku menghargainya. Namun perasaan bukan tanah yang selalu bisa ditanami ulang hanya dengan niat baik.
Aku hidup di antara dua hal: rasa bersalah karena bertahan tanpa utuh, dan ketakutan untuk mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang telah terlalu lama lelah. Kupelajari peran yang seharusnya kumainkan, namun semakin kupeluk erat peran itu, semakin aku menjauh dari diriku sendiri.
Kini aku memilih diam, bukan untuk menghindar, melainkan untuk mendengar apa yang selama ini tenggelam di kepalaku. Tidak semua yang retak langsung tahu cara kembali menyatu.
Tulisan ini tidak sedang menjelaskan apa pun. Ia hanya serpihan perasaan yang terlalu rumit untuk diringkas, dan terlalu rapuh untuk disebut terang-terangan.
Jika suatu hari jarak ini mengecil, mungkin karena dua orang belajar hadir dengan cara yang baru. Jika tidak, mungkin karena ada luka yang hanya bisa tenang ketika tidak lagi dipaksa utuh.
Beberapa hal hanya berhenti dibicarakan.
— dna. | 17 Desember 2025