Diaz tak berada di penjara—ia berada di apartemen polisi yang tak berseragam dinas itu. Ia bersantai di sofa, menyelonjorkan kakinya yang panjang, sambil mengganti-ganti channel TV dengan remote yang ada di tangannya.
“Diaz, you know,” polisi itu menghampiri Diaz dengan dua cangkir kopi di kedua tangannya.
Diaz menoleh, menerima cangkir itu dengan senang hati, “Thanks.”
“You know, you’re very bad at those things,” polisi itu menyingkirkan kaki Diaz yang ada di atas sofa dengan kakinya, kemudian ia duduk di samping Diaz.
“Thanks,” Diaz menyeringai.
“That’s not a compliment,” polisi itu menggelengkan kepalanya heran. Ia hanya bisa menyesap kopinya perlahan, sambil membiarkan aroma kopi itu menenangkan dirinya. Ia menoleh, Diaz sedang melakukan hal yang sama.
Keduanya diam, keduanya menatap televisi, namun keduanya sama-sama sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kau tahu, aku seharusnya sudah membawamu ke psikiater setelah kasusmu yang pertama,” polisi itu mengembuskan napas berat, “Kelainanmu ini sudah merepotkanku.”
“Ini bukan kelainan, ini hobi,” Diaz mengelak dengan santai, ia menyesap kopinya lagi.
“That’s a bullshit,” polisi itu nampaknya sudah bosan dengan jawaban yang diberikan Diaz.
Diaz hanya diam, perlahan bibirnya membentuk senyum kemenangan.
“Dan yang kau perlukan sebenarnya adalah seseorang yang bisa mendampingimu,” perkataan polisi itu membuat Diaz menoleh heran, “Girlfriend.”
Diaz menaikkan salah satu alisnya, “That’s much more a bullshit.”
Polisi itu tertawa. Diaz mendengus sebal. Kemudian ia berdiri, menuju pantry, menaruh cangkir kopinya di sana.
“Kau tahu, aku sudah siap untuk aksi selanjutnya,” Diaz berkata santai bersama gerakannya membuka lemari es—siapa tahu ia bisa menemukan sepotong roti atau apapun yang bisa mengganjal perutnya.
“Jangan bertindak bodoh, aku akan menangkapmu lagi,” Polisi itu pun berkata santai—sesantai Diaz yang tak peduli membagi informasi untuk aksi selanjutnya.
“Ben, aku akan lebih pandai kali ini,” Diaz menemukan apel dan ia menggigitnya.
“Lalu?” Ben, polisi itu, mulai memasang telinga untuk ucapan Diaz selanjutnya.
“Aku akan menciptakan sedikit keramaian—buatanku sendiri—aku sudah bosan mendengar teriakan teman-temanmu saja yang membuat aksiku menjadi ramai,” apel di tangan Diaz tinggal tepinya saja.
“Aku juga akan memerlukan seorang teman. Seperti katamu tadi, aku butuh seorang pendamping.”
“Agar?”
Diaz melempar sisa apelnya ke tempat sampah di sudut pantry, “Agar kau sedikit berpikir untuk menangkapku lagi.”
Kalau aku bisa berkata-kata, aku akan memakinya. Ya, dia.
Aku tahu kamu menyukainya karena dia berhasil mencentang semua list fisik pada checklist pria idamanmu. Tapi di list yang lain, aku yakin dia akan susah payah memenuhi list-mu. Dia tak sesempurna itu. Tapi kamu belum tahu.
Coba perhatikan saat kalian—kamu dan dia—keluar dari café seberang toko buku itu. Dia dengan carefree-nya merangkul pinggangmu. Lalu pada saat kalian memilih buku, saat kamu berada di antara dua rak buku yang tingginya melebihi tinggimu itu, aku sebenarnya tahu kalau dia ingin melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu.
Tapi aku hanya bisa melihatmu dalam diam. Aku menemanimu memandangnya, yang sedang memilih-milih buku-buku bergambar jenaka yang hanya kau baca jika memang tak ada buku lain lagi untuk dibaca. Aku bersamamu ketika memilih buku tebal yang kini kamu pegang itu—entah apa judulnya, aku tak bisa membacanya dengan jelas—dan aku tetap bersamamu memilih novel terbaru, saat ini. Aku yang tetap bersamamu, bukan dia.
Aku tahu kamu pelan-pelan meragukannya.
Ini tak seperti yang kamu bayangkan ketika kamu menunggu di depan café seberang toko buku waktu itu. Tak ada momen memilih buku berdua. Tak ada momen perdebatan kecil—yang hangat—karena selera kalian yang mungkin sedikit berbeda. Dan kenyataannya, selera kalian terhadap buku memang sangat jauh berbeda.
Aku juga tahu kamu sebenarnya merasa risih dan tak begitu nyaman dengannya.
Karena aku tahu, kamu sebenarnya lebih menyukai seseorang yang berpikiran lebih sulit dari kamu. Bukan yang membahas hal-hal ringan yang semua orang tahu dan semua orang bisa tertawa karenanya. Seperti yang dia lakukan tadi, saat di café seberang toko buku itu.
Kamu menghela napas berat, kemudian mendekap buku tebal dan novel terbaru itu di dada. Kamu berjalan mendekatinya yang masih sibuk memilih buku bergambar jenaka. Hei, kamu mau apa? Aku harap kamu meminta pulang dan memutuskan untuk tak menemuinya lagi.
Pada akhirnya kamu benar-benar meminta pulang. Aku merasa lega.
Kalian—kamu dan dia—berpisah setelah membayar buku di kasir. Kamu menolak usahanya untuk membayar bukumu. Kamu juga menolak untuk diantar pulang. Kamu bahkan menolak untuk ditemani hingga pintu keluar mall. Kamu kenapa? Bukannya aku tak bahagia, tapi bukankah perubahan perasaanmu ini terlalu cepat?
Kamu hanya bisa diam, sekitar tiga menit pertama; kamu memperhatikan dia. Memperhatikan bagaimana dia melihatmu. Memperhatikan bagaimana wajahnya yang tegas—seperti laki-laki yang selama ini hanya kamu idamkan. Memperhatikan jambang yang tipis-tipis menghiasi jawline-nya. Memperhatikan Adam’s apple-nya yang seksi. Memperhatikan bajunya yang—tunggu.
“Kenapa? Ada yang salah sama aku?”
Dia memperhatikan dirinya sendiri, kemudian melempar pandang kepadamu, seakan bertanya mengapa. Kamu menggeleng cepat, menghindari kalau-kalau dia menuduhmu sebagai freak.
Padahal aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu menyadari bahwa baju yang kalian—kamu dan dia—kenakan, senada. Warna outfit kalian sama. Dan hebatnya, desainnya sedikit ada kemiripan. Seperti baju couple.
Padahal kalian tak membuat janji apapun tentang ini.
“Ah, aku tahu. Baju kita warnanya sama, ya?”
Dia tersenyum gembira—tapi tak se-berlebihan senyum gembiramu—ketika menyadari hal itu. Oh, lihat! Ada dimples di kedua pipinya!
Sial. Seharusnya aku tahu hal ini lebih awal. Aku sekarang paham betul alasanmu menyukainya. Check-list pria idamanmu berhasil tercentang seluruhnya oleh orang di depanmu ini. Tapi aku masih bisa tenang, yang tercentang sempurna baru terjadi pada list fisik saja. Belum terjadi pada list yang lainnya.
“I-iya,” akhirnya kamu angkat suara juga, “A-aku heran, kenapa bisa kebetulan seperti ini.”
Dan kamu tersenyum gembira—senyum yang tepat untuk mengungkapkan kamu yang benar-benar gembira saat ini.
Kamu terus tersenyum karena mengingat kesamaan itu, walaupun dia kemudian mengajakmu mengobrol. Obrolannya ringan. Dan dia benar-benar tahu ranah mana yang harus dia bawa untuk bisa terus mengobrol denganmu tanpa kehabisan bahan pembicaraan. Ungkapan-ungkapannya yang kadang lucu juga membuatmu tertawa secara alami. Oh, warm. The list is checked.
Pada akhirnya kamu menghabiskan lebih dari setengah isi gelas berisi cokelat panas yang tadi diantar waiter di sela obrolan panjangmu dengannya. Kamu menengok jam di pergelangan tangan kirimu—yang kebetulan—dia pun secara tak sadar sedang melakukan hal yang sama pada pergelangan tangan kirinya.
“Bahkan jam tangan kita pun sama,”
Katanya ketika kamu mendongakkan pandanganmu dari jam analogmu ke arahnya. Dia tersenyum gembira lagi, kemudian menunjukkan jam tangan analog di pergelangan tangan kirinya dengan bangga. Warnanya persis sama, perak, dan modelnya pun sama. Bisa dikatakan kalian membeli jam tangan couple secara terpisah. Selera kalian sama. Again, other list is checked.
Posting aku kali ini dalam rangka menjawab (dan ikutan) event-nya GagasMedia “Kado untuk Blogger”. Event ini diadakan untuk memeriahkan ulang tahunnya GagasMedia yang ke-12. Cie cieee, GagasMedia ulang tahun cieee... :3
Hehe. Selamat ulang tahun ya, semoga semakin sukses dan semakin keren buku-buku yang diterbitin di GagasMedia.
Yasuds, sekarang langsung aja aku jawab pertanyaan yang dikasih sama GagasMedia. Cus!
1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
Hmm, buku-buku yang aku baca berkesan semua. Tapi yang paling berkesan buat aku, yang jelas, yang emang selalu aku bawa kemana-mana, adalah (1) Restart karya Nina Ardianti. Itu novel keren banget dah, sepanjang sejarah itu mah. Pas baca itu ya, menimbulkan kegalauan yang memunculkan konspirasi hati karena emosi yang tercampur aduk asam-manis yang dibuat oleh Mbak Nina. Kueren pokoknya.
Terus (2) Memori, oleh Windry Ramadhina. Novel Memori itu ya, detaaaaiiiil banget. Si Mahoni (tokoh utama) kan arsitek tuh, ya dijelasin sama Mbak Windry every little things tentang kerjaannya si Mahoni. Tapi make sense lah ya, Mbak Windry kan dulu arsitek. Hehe. Btw, tulisan Mbak Windry yang lain juga detail dan keren, dan mengesankan, kok. Seperti Montase, (3) London: Angel, (4) Interlude, sama (5) Walking After You. Nah, yang Walking After You ini juga mantap abis. Kerjaan si An sama si Juju juga dibikin detail sama Mbak Windry. Duh, mana ceritanya mengaduk-aduk hati, lagi. Mana tahan pokoknya sama tulisan Mbak Windry.
Aku juga suka (6) Paris: Aline tulisan Prisca Primasari. Novel yang ditulis Mbak Prisca dalam waktu satu bulan ini keren banget. Susahnya ngeluarin Sena dari rumah Monsieur dan Madamme Poussin bikin gregetan, dan cerita cinta antara Kak Ezra-Aline-Sena juga bikin gregetan banget.
(7) Fly To The Sky, tulisan duetnya Nina Ardianti sama Moemoe Rizal ini juga masuk ke deretan buku yang paling berkesan buat aku. Terus tulisannya Kak Moemoe Rizal sendiri, yang (8) Bangkok: The Journal juga kueren buanget. Karena novel ini, masalah transgender yang sempet mengganggu di pikiranku, jadi lebih clear dan bikin aku memahami bahwa perbedaan antarmanusia itu hanya perlu dipahami dan dimaklumi, nggak perlu dibikin ribut.
Tulisan kakak tingkat aku juga masuk list, dong! (9) Dance For Two dan (10) Tentang Waktu karya Tyas Effendi sangat-sangat manis dan menimbulkan plak di gigi hati jadi susah hilang.
Dan nggak lupa, (11) Divortiare dan (12) Twivortiare tulisan Ika Natassa juga berkesan buanget sampe nggak bisa terlupakan. Yang nggak terlupakan juga pengalaman pas PO Twivortiare 2 itu, sampe stress nggak dapet-dapet bukunya. Hikz.
2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?
Hiks *sambil elap air mata* ini pertanyaan susah. Karena aku orangnya melankolis banget, jadi gampaaang banget nangis. Tiap aku baca novel, sampe di bagian yang mellow gitu, aku nangis deh.
Baca Restart, pas Syiana lagi mergokin Yudha, aku nangis. Pas Syiana sakit dan tiba-tiba Ian muncul dan ngekhawatirin Syiana itu, aku nangis. Terus Memori, pas Mahoni sama Simon ketemu lagi di rumah yang bagian akhir itu loh, aku nangis. Terus Interlude. Buanyak banget aku nangisnya waktu baca novel itu. Sama Divortiare, Twivortiare, dan Twivortiare 2. Bagian-bagian kehidupan setelah berumah-tangga yang aku belum tau ternyata kayak gitu. Aku bacanya sampe tersentuh dan kadang bikin mikir plus baper gitu (sambil nangis, of course). Intinya aku nggak bisa tahan sama adegan(?) yang manis, bikin envy, dan menyentuh hati. Kadang pas adegan bahagia aku juga nangis kok. -_-
3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
“Ada hal-hal dalam hidup yang lo tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan tapi lo nggak akan benar-benar tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan—karena satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kesalahan adalah dengan membuat kesalahan itu terjadi.” — Aulia, Banker. Diambil dari Restart, oleh Nina Ardianti, halaman 49.
4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya. Hehehe.
Ini juga pertanyaan susah. Soalnya aku... (mau nulis ‘belom punya pacar’ kok rasanya berat. Gengsi, euy). Hehe. Here’s the list!
(1) Fedrian Arsjad a.k.a Ian! Gitaris Dejavu pacarnya Syiana di novel Restart itu sangat menggoda iman untuk ditikungin. Aura hitam sama smirk-nya itu loooh. Dear Ian, aku auranya putih loh. Terus aku itu tipe yang disukai sama emak-emak. Boleh lah, kita ketemu sama Om dan Tante Arsjad terus langsung lamaran di tempat(?). Hehe.
(2) Beno Wicaksono a.k.a Om Bulu a.k.a Daddy Bear. Om Bulu di Divortiare dan Twivortiare itu dewasa bangeeet. Tipe imam yang baik lagi. Apalagi kerjaannya mapan buanget (dokter bedah jantung gitu loh). Aku kan masih kecil(?), kadang childish gitu, terus sedang mencari sosok imam gitu deh. Ya si Om Bulu ini calon yang tepat. Duh, bawaannya pengen ngajak jalan si Om ke KUA aja deh.
(3) Badai Bratadikara si brondong kece badai dari Beautiful Liar-nya Dyah Rinni. Si Badai itu tipe bad boy kece tapi bikin gemes bikin pengen nyubit pipinya. Dia, kan, butuh bimbingan dan arahan gitu ya. Jadi cocoknya jadian sama nuna-nuna (kakak perempuan) kayak aku. :3
5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!
Aku suka banget sama ending-nya Paris: Aline. Kan si Sena akhirnya muncul setelah dua tahun menghilang dari Aline. Munculnya pas Aline lagi bengong karena ngangenin si Sena lagi. Terus Sena-nya tanya Aline duduknya di pesawat di mana, terus dia menghilang lagi, si Aline jadi ngerasa kehadiran Sena tadi cuma halusinasi. Eh, si Sena nggak lama balik lagi, ternyata dia abis nuker tempat duduknya di pesawat jadi sebelahan sama Aline. Aline-nya antara bengong, seneng, sama kesel ke Sena yang doyan muncul-ilang-muncul-ilang gitu, akhirnya ngamukin Sena deh. Sena-nya mohon-mohon minta maaf ke Aline yang ngambek setengah mati sama Sena. Terus Sena inget, dia pernah ngasih hadiah 3 permintaan buat Aline. Aline belum minta permintaan yang ketiga. Nah, Sena bilang deh dia bakal kabulin permintaan yang ketiga itu, apapun, pokoknya Aline maafin dia. Terus Aline bilang deh permintaannya, ‘Menikah’. Si Sena-nya langsung shocked, speechless. Sena nggak nyangka banget, walaupun mereka berdua saling suka, ya kali permintaannya nikah. Ngelihat Sena yang nggak siap untuk ngambil keputusan ke jenjang superserius itu, Aline masang badan ‘Cukup tau’ gitu, dan ‘Cowo emang gitu’. Mereka diem-dieman dah, tuh, selama di perjalanan di pesawat mulai Paris sampe Cengkareng. Padahal terbang berapa jam tuh. Mana Sena udah bela-belain nuker tempat duduk di sebelah Aline lagi. Eh, malah awkward gitu. Betapa menyenangkannya.
Sampe di Cengkareng, Aline cuma bisa ngedorong trolinya tanpa harapan tanpa tujuan gitu. Terus Aline deketin si Sena sibuk nelepon seseorang, yang ternyata Kak Abel, kakaknya Sena. Eh kayaknya Sena lagi curhat plus diskusi soal permintaannya Aline, deh. Kak Abel cerewetin Sena, ‘Ya udah, apalagi. Dia baik banget sama kamu, dia rela berkorban buat kamu, blablabla...,’ yang Sena ngelak kalo dia tuh belum siap, nanti apa kata temen-temennya. Kak Abel cuma nyahut, ‘Kalo gitu Kak Abel juga nggak mau Aline nungguin kamu yang nggak ngasih kejelasan, lebih baik Kak Abel bakal jodohin sama temen Kak Abel,’ si Sena langsung nyahut ‘JANGAN!’ pake teriak gitu, saking nggak terimanya. Dan blablabla setelah tutup telepon, Aline bilang ke Sena, kalo nggak bisa ngewujudin nggak masalah kok, aku tahu diri. Si Sena malah nanya Aline dijemput sama siapa dan sampe mana. Aline nggak ngeh, jawab aja dijemput Mama sama Adik, mereka masih kena macet. Terus Sena bilang suruh mereka ke mall deket situ dan nggak usah jemput, dia sama Aline bakal ke sana. Aline bingung, emang Sena nggak jetlag gitu, pulang-pulang langsung nge-mall? Sena bilang dengan santai, ‘Aku mau beli cincin, sekalian mau kenalan sama Mama dan Adik.’ Aiiiih, Senaaaa >//<
p.s. Dear Mbak Prisca, maaf ending-nya jadi gini banget bahasanya. Maafkan dakuuu *bow*
6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?
Rain Over Me punyanya Arini Putri. Jujur waktu itu aku belum tau banyak tentang novel-novel yang bagus yang mana, yang hits yang mana, yang penulisnya terkenal yang mana, jadi asal ambil aja. Aku ambil Rain Over Me soalnya cover-nya bagus, adem gitu ngelihatnya. Warnanya biru lagi. Ada tulisan hangul-nya lagi (yeah I’m a K-Pop fan). Jadi ya... aku beli. Terus aku baca deh.
7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?
Fly To The Sky tulisan duetnya Nina Ardianti dan Moemoe Rizal! Karena aku suka tagline-nya: Terbang Bersama Cintamu :3 Unyuuu bangeeet! Apalagi setelah baca novelnya yang Ardian-nya pilot ganteng-kece-perfect-badai, jadi makin terbang deh :3
8. Sekarang, lihat rak bukumu... cover buku apa yang kamu suka, kenapa?
Ada beberapa sih ._.
Yang paling suka sama cover-nya Restart-nya Nina Ardianti. Soalnya simple, merah, ada alat-alat musiknya, terus ada tagline yang menohok hati sampai yang terdalam: “Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on.” Itu cover ngenaaa banget di aku. Dari cover-nya aja udah mencerminkan, kalo novelnya itu bakal tentang kehidupan anak manusia(?) yang lagi on fire (karena warna merah), berhubungan dengan musik dan anak band (karena ada alat musik), dan cerita novel itu berusaha menjadi sangat dekat dengan kehidupan orang-orang normal pada umumnya (karena background-nya yang simple dan tagline-nya yang mengangkat tema umum yang banyak dirasakan oleh orang-orang). Hebat dah!
Terus Beautiful Liar-nya Dyah Rinni. Cover dengan warna dasar putih dan tulisan yang timbul dan menyala(?) bikin novelnya terlihat mahal dan elegan. Warna tulisannya merah terus ada huruf L sama gambar kancil, ini kode banget kalo novelnya tentang seorang liar (karena ada huruf L) yang menggebu banget (karena pake warna merah), dan penuh kelicikan seperti kancil yang ada di cover-nya. Sukaaa.
Btw ini kenapa jadi analisa cover -_-
9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
Aku paling suka romance, soalnya bikin iriii. Aku jadi suka imagine gituuu. Padahal, kan, aku... (mau nulis ‘jomblo’ sih, tapi nggak jadi deh). Apalagi kalo adult-romance. Terus ditambahin action-action dikit gitu. Atau ditambah tentang dunia pekerjaan yang ditulis detail, kayak tulisannya Mbak Windry di Memori sama Walking After You.
Eh, bukan berarti aku nggak suka comedy, loh, ya. Aku suka kok sama tulisan komedi. Aku punya novel-novelnya Raditya Dika. Aku juga selalu nonton film-filmnya Bang Radit. Ketemu sama Bang Radit juga udah (pamer dikit gapapa kan, hehe).
10. Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
Aku jawab dulu pertanyaan yang paling belakang, ya. Kamu mau apa? Mau foto bareng, lah! Hehehe.
Oh, aku pengen ketemu sama Mbak Nina Ardianti sama Kak Moemoe Rizal! Aku pengen nongkrong bareng sama mereka, ngobrol-ngobrol panjang tentang novel mereka, dari mana idenya, terus gimana ceritanya mereka bisa nulis keren kayak gitu. Terus ngobrol-ngobrol yang lain deh, sama mereka. Kayaknya hidup mereka warna-warni banget gitu, seru buat diceritain.
11. Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?
Aku lebih sangat suka buku cetak daripada buku digital. Aku nggak suka buku digital (kecuali kalo kepepet, misalnya modul kuliah yang tebel bingits dan lagi kekurangan duit buat ngecetak itu modul, aku baru bakal milih bentuk digitalnya).
Kenapa? Karena, I’m still a conventional at heart. Waciat bahasanya badaaai... Hahay. Aku nggak puas kalo buku itu nggak aku pegang, nggak bisa aku elus-elus cover-nya, nggak bisa aku balik halamannya dengan cara memegang lembaran kertasnya yang ngangenin itu... Aku tuh nggak bisa digituin :( Pokoknya aku suka buku cetak. Titik.
Hehe, panjang banget yak jawaban aku. Ya gitu deh, aku mah gitu orangnya... Makasih udah rela baca tulisan aku yang panjang ini, ini ditulisnya pake perasaan loh. Ciyus.
GagasMedia, #TerusBergegas ya!
Paipai, Love.
P.S. titip salam buat Tim GagasMedia Goes To Campus, application dari UKM Mata Pena FIB Universitas Brawijaya, atas nama Nisrina Dyah Wulandari, tolong di review yaaa. Aku berharap banget GagasMedia bisa main ke fakultas akuuu. Makasiiih :)
Diaz menempelkan punggungnya di tembok. Dadanya turun naik—napasnya terengah-engah. Keringat mengalir sangat deras di pelipis, di kaos putih tanpa lengannya, di sekujur tubuhnya. Polisi-polisi berteriak dari kejauhan bersama suara keras sirine yang mengganggu.
Sejenak Diaz memejamkan matanya, memikirkan rencana untuk keluar dari situasi ini. Suara polisi kian mendekat, Diaz bergerak cepat menjauh—menuju ujung lorong gang antara dua flat ini. Gerakan kaki Diaz semakin cepat—ah, sial, suara sirine terdengar dari ujung lorong. Diaz tak ambil pusing, ia langsung meraih pegangan tangga darurat flat sebelah kanan. Ia memanjat dengan cepat, tak peduli lelah, ini petualangan seru baginya.
Polisi berteriak—polisi itu menemukan Diaz yang sedang memanjat—dari kejauhan, masih di ujung lorong.
Ada jendela terbuka di kiri tangga, jaraknya masih tiga meter di atas Diaz. Ia memanjat semakin cepat, ia meraih tepi jendela itu—bergelantung dengan kuat padanya. Diaz melihat ke bawah dengan cepat—kemudian mendongak, ia baru menyadari kalau ia sudah memanjat terlalu tinggi. Deru jantungnya semakin kacau. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk mengangkat tubuhnya yang bergelantung untuk masuk ke dalam flat melalui jendela itu. Otot-otot lengannya menegang, menahan berat tubuhnya.
Separuh badannya telah masuk ke dalam flat, bersamaan dengan keluarnya si penghuni flat yang keluar dari salah satu kamar.
Gadis penghuni flat itu memekik kaget, kemudian menunjuk Diaz yang berhasil masuk sempurna ke dalam flat, “Apa yang sedang kau lakukan?!”
Diaz hanya menyeringai sinis sambil menempelkan telunjuknya di bibir—menyuruh gadis itu untuk diam. Diaz melangkah mendekati gadis itu, sementara gadis itu perlahan melangkah mundur dengan gemetar.
“Sembunyikan aku,” suara berat Diaz nampaknya berhasil membius si gadis.
Punggung gadis itu sudah menempel pada pintu kamarnya, tak berdaya melihat Diaz yang kini hanya sepuluh senti di depannya. Gadis itu gemetar, Diaz yang tinggi-padat-berotot itu membuatnya takut.
“T-t-tapi ini rumahku...”
Derap kaki terdengar dari depan rumah si gadis. Diaz menyadari suara itu—ia langsung mendekap si gadis dan masuk bersembunyi di balik pintu kamar si gadis. Brak!
“Freeze!”
Polisi—yang tak berseragam dinas itu—mendobrak pintu depan dengan menodongkan pistolnya. Di belakangnya, polisi-polisi berseragam juga menodongkan pistolnya.
Kamu membuat janji bertemu dengannya di seberang toko buku yang kamu maksudkan. Tapi kamu tak melihat siapapun berdiri—ataupun terlihat seperti sedang menunggu seseorang—di depan café seberang toko buku itu. Kamu mulai cemas. Aku bisa memperkirakan beberapa kemungkinan yang sedang kamu pikirkan sekarang.
Mungkin kamu mengira dia terlambat. Mungkin kamu mengira dia tak mengerti toko buku yang ini dan tersesat di toko buku yang lain. Mungkin kamu mengira dia batal datang karena ada urusan mendadak. Atau yang terburuk, mungkin kamu mengira dia batal datang karena tertidur dan melupakan janji yang kalian buat tiga jam yang lalu. Atau yang ter-kreatif, mungkin kamu mengira dia sudah datang, tapi karena kamu yang terlambat datang, dia pergi meninggalkanmu.
Kamu menggeleng-gelengkan kepalamu cepat, seperti kamu mendengar apa yang aku pikirkan, dan menganggap hal-hal itu tak akan terjadi padamu. Kamu mengangkat tangan kirimu, melihat jam tangan analog di pergelanganmu. Ini sudah lewat tiga menit dari waktu perjanjian. Aku melihatmu mendengus, aku tahu kamu selalu sebal dengan orang yang tak tepat janji.
Kamu mencoba menunggu. Kamu melangkahkan kaki ke depan café seberang toko buku itu, memperhatikan toko buku itu, dan berimajinasi: kalian—kamu dan dia—memasuki toko buku itu berdua, bersama memilih buku yang terbaik, kadang terlibat perdebatan kecil—yang hangat—karena selera kalian yang mungkin sedikit berbeda. Membayangkan itu saja sudah bisa membuatmu tersenyum.
Tapi itu semua tak akan terjadi jika dia tak datang. Oh, betapa menyenangkannya.
Kamu kembali sebal. Kamu menunduk, kemudian melihatku. Aku hanya bisa diam, ah, seandainya aku punya kekuatan untuk berkata-kata.
Tak disangka, kamu sedikit terkejut karena terdengar ketukan teratur dari arah belakangmu. Seperti orang mengetuk kaca. Kamu segera menengok ke belakang. Dan, benar, seseorang mengetuk kaca di belakangmu untuk mencari perhatian darimu. Kamu tersenyum.
Aku baru menyadari bahwa orang yang mengetuk kaca tadi adalah dia. Senyummu benar-benar terkembang, apalagi setelah dia—yang sedang duduk menikmati cokelat panas di meja samping jendela—melambaikan tangan ke arahmu untuk datang kepadanya dan mengajakmu minum cokelat panas juga. Kamu melangkah ke dalam café seberang toko buku itu dengan langkah ringan yang gembira. Aku hanya bisa ikut bahagia dan tetap setia menemani langkahmu.
Pada akhirnya kamu duduk di seberangnya. Dia memanggilkan waiter untukmu dan membiarkanmu memesan minuman yang sama dengannya. Entah, aku merasa kamu berubah. Sedikit.
Aku tahu kamu lebih suka kopi.
Dan ternyata kamu belum berubah. Kamu hanya diam dan tersenyum melihat dia. Padahal dia ada di depan matamu sekarang.
Kamu tahu, kamu merindukannya. Tapi kamu tak bisa menggapainya—mengungkapkannya saja susah. Walaupun kamu bisa saja selalu di sampingnya: tiap Senin hingga Jumat, let’s say. Tapi kamu tak bisa mengungkapkannya.
Kamu berdua seperti sepasang item: jika membeli satu, satunya juga harus dibeli.
Sore itu kamu mengangkat ponsel, kemudian menelusuri ponsel untuk mencari kontaknya. Lihat, bagaimana kamu masih memikirkannya walaupun ini bukan hari di antara Senin dan Jumat. Dan kemudian kamu mengetik pesan untuknya.
Aku sempat membacanya sekalipun kamu cepat-cepat menyembunyikan ponselmu di bawah bantal setelah pesan itu terkirim. Aku melihatnya dari pantulan di cermin yang ada di belakangmu. Seperti yang kamu tahu, aku tak setinggi itu.
Kamu mengajaknya membeli buku, kan? Aku tahu, aku membacanya—meskipun aku tak menghafalkan rangkaian katamu yang membuat ajakan itu menjadi panjang. Lihat, kamu mengajaknya membeli buku saja harus bertele-tele seperti itu. Coba ungkapkan dengan cara yang lebih lugas. Dia laki-laki, mengerti?
Aku bahkan akan lebih berani menyatakan perasaanmu padanya—jika saja aku memiliki kekuatan untuk berkata-kata—agar kamu bisa berbahagia bersamanya. Tak seperti kamu saat ini, mengambil ponselmu lagi dari bawah bantal saja, kamu takut.
Ting.
Tuh, ponselmu berdering. Kamu membulatkan matamu yang sipit karena dering pesan masuk itu. Terlihat lucu, by the way. Kamu ragu-ragu untuk mengambil ponselmu dari bawah bantal, tapi tanganmu telah terulur ingin menggapai bantalmu. Kamu seperti—tunggu! Pipimu memerah? Serius? Sebegitu dahsyatnya-kah efek balasan smsnya?
Oh, ya. Aku tadi ingin bilang, kamu seperti yang orang-orang katakan: malu-malu kucing. Aku baru melihat ungkapan itu secara nyata di dunia nyata ini. Baru kamu.
Pada akhirnya kamu mengambil ponselmu juga. Tanganmu sedikit shaky. Aku tahu jantungmu sekarang berdegup lebih kencang daripada biasanya, kan?
Kamu melonjak gembira dengan senyum terlebar yang pernah kulihat selama aku bersamamu. Dia mengiyakan ajakanmu? Bagus. Akhirnya kalian kencan juga.
Aku turut berbahagia, kau tahu?
Dan dua jam kemudian, kamu meraihku, mengajakku ke luar rumah untuk bertemu dengannya. Semoga apa yang kamu inginkan dengannya bisa terwujud. Aku hanya bisa diam dan menemani langkahmu, serta mendoakan yang terbaik untukmu.
Yang jelas, setelah memastikan tumblr aku yang sepi ini aman dari ancaman plagiarism, aku jadi sangat ingin sekali untuk memajang tulisan fiksiku di sini. Aku udah punya draft yang siap disempurnakan buat di-post di sini sih, tapi aku takutnya bakal jarang update gitu. Hehe. Biasa, orang sibuk, tjoy.
Aku pengen nulis pendek-pendek aja, sih. Dan aku pengennya dalam bentuk vinyet. Atau orang lain akan menyebutnya flash fiction. Ya karena emang ceritanya sepanjang flash fiction sih. Tapi aku lebih suka bilangnya sebagai vinyet karena ceritanya satu babak gitu.
Ya udah sih, terserah Anda mau menyebut tulisanku itu vinyet atau flash fiction. Terseraaah.
Hai! Udah lama nggak nge-post, nih! Huhu, maafin yaaak.
Entahlah, sepanjang jeda posting-an terakhir sampai posting-an ini, aku sebenernya punya banyak hal untuk ditulis di sini. Tapi... tapi males nulisnya. Hueeee... Dan pada akhirnya aku punya bahan yang emang sangat menarik untuk dibagi di sini. So, monggo dibaca yaaa :)
Hari Sabtu dan Minggu, tanggal 9 dan 10 Mei 2015 kemarin, di fakultas aku ada acara Japan Total Festival: Isshoni Tanoshimimashou X. Acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB. Seperti acara festival kebudayaan Jepang pada umumnya, selain ada lomba-lomba untuk high-schoolers, di acara ini rame dengan stan bazaar dan display pernak-pernik khas Negeri Sakura itu.
Btw, aku datang di dua hari berturut-turut itu loh *ga ada yang nanya* *sedih*.
Yang hari Sabtu, FIB masih terasa sepi, tapi rame *halah yang bener gimana sih*. Jadi gini, stan-stannya rame makanan dan aksesoris ala Jepang gitu deh, tapi nggak ada performance di stage utama. Cuma ada pertunjukan-pertunjukan kecil di teras Gedung FIB aja. Kata salah satu orang panitia sih, emang yang hari Sabtu itu emang difokuskan untuk lomba-lombanya anak SMA itu dan stan-stan bazaarnya. Dan yang hari Minggu-nya tuh, yang bakal penuh dengan festival Jepang-jepangan. Japan total festival, cuy!
Dan jadilah, yang hari Sabtu itu aku cuma disibukkan dengan muter-muter di area FIB untuk lihat-lihat pernak-pernik khas Jepang yang dipajang oleh panitia di Hall Gedung FIB, dan icip-icip makanan yang dijual di stan. Makanannya enak-enak, cuy. Aku icipin okonomiyaki sama gorengan Korea(?). Hehe nggak tahu juga, kenapa di acara Jepang-jepangan malah ada yang jual makanan Korea. Aku beli mandu goreng, twigim, sama entahlah apa itu namanya gorengan yang dari ikan dibalut sama nori. Terus dikasih kimchi sama Japanese salad sama Mbak yang jual. Yah, jadi berasa datang ke acara Jepang setengah Korea lah, ya.
Di hari Sabtu itu baru ada satu-dua cosplayer yang datang pake kostumnya. Aku ngelihatinnya agak aneh gitu. Di antara orang-orang normal(?) seperti kita orang, ada orang yang strange pake kostum nyentrik yang nggak normal dan bukan dari dunia nyata lagi. Kayaknya mas-mas cosplayernya itu salah hari, deh.
Soalnya, cosplay dan acara festival Jepang-jepangannya itu di hari Minggu-nya. Btw aku datang kesorean pas hari Minggu itu. Hiks. Aku datang sekitar pukul setengah empat gitu, dan makanan di stan-stannya udah hampir habis *ini kenapa yang dibahas makanannya*. Jadilah aku beli gorengan Korea itu lagi, sambil nonton performance anak-anak kurabu (club) Jepang di stage. Lucu-lucu sih. Oh iya, di hari ini banyaaaaaaaak banget cosplayer yang datang. Aku sempat foto-fotoin mereka dikit, sih.
Dan, of course, nggak lengkap rasanya kalo datang ke acara Jepang-jepangan kalo belum foto sama cosplayernya. Niiiih, aku foto sama dua cosplayer kece.
Hehehe. Mereka kostumnya rapi, jadi kelihatan kece abis. Terus ya, selain cosplayer-cosplayer tadi, masih baaanyaaaak cosplayer yang lain lagi. Ada yang pake baju casual terus pake bando diamond-nya game The Sims, jadi mereka jalan-jalan biasa tapi kita lihatnya kayak ada character dari The Sims yang lagi keluar dari game gitu. Hihihi. Terus terus, ada yang pake kostum kaleng kerupuk warna biru cobaaaa. I called him as ‘Kaleng Kerupuk-kun’. Tapi aku nggak punya fotonyaaaaa :( Waktu aku mau fotoin dan minta foto bareng, Mas Kaleng Kerupuk-nya pergiii :( Sediiiih :( Jadi dia kostumnya kayak robot Gundam gitu tapi kotak-kotak di badannya dari replika kaleng kerupuk gituuu. Lucu pokoknyaaa. Sedih nggak foto sama diaaa :(
Ehm. Terus ya, selain ada cosplay, ada stan komunitas di sebelah utara FIB. Komunitasnya macem-macem. Ada komunitas action figure, gamer, cosplayer, ada juga komunitas 48Family. Hehe biasa lah ya, wota-wota itu selalu eksis di manapun ada acara Jepang-jepangan.
Terus di jalan depan FIB, ada gantungan wishes gitu lah, apa sih namanya? ._. Wishes-nya lucu-lucu, yang paling greget yang ada di foto ini nih.
Hihihi. Sebenernya masih banyak sih yang mau aku share di sini. Tapi segini aja postingannya udah panjang bingits, ya sudahlah ya, di akhiri saja sampai di sini.
Terima kasih udah baca postingan aku. Ketemu lagi di postingan selanjutnya.
Akhirnya berjumpa kembali dengan saya, setelah sekian lama kita tak berjumpa *halah* hehehehe :D
BTW, saya sekarang udah semester 3, lho! Haha informasi yang penting sekali. But, that's not the point, fellas. Ternyata waktu bergulir begitu cepat, sehingga tidak terasa saya sudah setahun menjadi mahasiswa :')
Setahun yang lalu, ketika saya baru saja menjadi mahasiswa, Universitas Brawijaya masih dipimpin oleh rektor yang lama, yaitu bapak Yogi Sugito. Tentu, saat itu peraturan yang diterapkan untuk mahasiswa barunya masih mengikuti kebiasaan lama. Maklum, si Bapak kan udah menjabat selama dua periode. Jadi, saat saya masuk UB, mahasiswa lama dan mahasiswa baru bisa hidup berdampingan dengan tenang dan tentram, karena paham yang kami anut(?) semuanya sama, sesuai dengan titah(?) Bapak Rektor tercintah.
Namun, semuanya berubah, ketika negara api mulai menyerang. Bam! Bukan, deng.
Semuanya berubah ketika bapak rektor tercinta harus turun jabatan karena masa jabatannya udah habis. Hiks.
Posisi rektor UB kemudian diduduki oleh Bapak Rektor yang baru, bapak M. Bisri, melalui proses Pilrek UB 2014 yang penyelenggaraannya sempat tertunda (atau mungkin sengaja ditunda) beberapa kali.
Nah, Bapak Rektor yang baru ini banyaaaak banget pembaruannya, dalam rangka membongkar kebiasaan lama. Bongkar! *jadi semacem iklan kopi gitu ya*
Mulai dari masalah yang kecil-kecil, kayak administrasi, gitu-gitu deh, sampai masalah yang udah mengakar dan membudaya di UB, yaitu tentang kegiatan ospek. Berkaca pada kegiatan ospek tahun-tahun sebelumnya, si Bapak menerapkan beberapa peraturan yang membuat proses ospek para mahasiswa baru sedikit lebih ringan dan transparan.
Tapi...
Kayaknya mahasiswa baru dan mahasiswa lama kali ini nggak bakal hidup dengan tentram dan damai, dan akan mengalami sebuah kesenjangan sosial yang terjadi dalam ke-bhinneka-an kita. *halah apa sih*
Why? Why?
Karena si Bapak menerapkan peraturan baru untuk mengatasi masalah susahnya mencari tempat parkir di dalam lingkungan kampus UB dengan cara: mahasiswa baru nggak boleh bawa kendaraan pribadi ke kampus selama satu semester, coy! SATU SEMESTER!
Nih, kalo nggak percaya.
Surat edaran tersebut dipublikasikan oleh akun twitter resmi Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (@EM_UBOfficial) pada 1 September 2014.
Nah, loh.
Kalo dilarang membawa dan memarkir kendaraan di dalam kampus, mereka ke kampusnya gimana, dong? Iya kalo dedek-dedek maba semuanya nge-kos di sekitaran kampus UB, misal di daerah yang nama jalannya berawalan 'Watu' ataupun 'Kerto'. Jalan ke kampus mah, nggak berasa.
Nah, kalo dedek mabanya nge-kos nun jauh di sana kayak aku dulu, gimana? Apakah mereka harus naik angkot tiap hari? Kasihan, Pak. Uang jajan mereka abis di jalan dong. Kalo misal mereka terpaksa bawa kendaraan pribadi, dan mereka parkir di luar kampus, apa nggak makin bahaya? Di dalam kampus aja belum tentu aman, apalagi di luar. Nah, ini nih yang saya maksud dengan kebijakan yang WOW.
Memang sih, bisa mengurangi jumlah kendaraan yang berseliweran dan nangkring di dalam kampus. Tapi, apakah kebijakan ini akan benar-benar efektif?
Gimana cara kontrolnya, apa udah dipikirkan? Misal dedek-dedek maba nekat bawa kendaraan pribadi dengan boncengin kakak senior buat memanfaatkan ketuaan(?) mereka, kemudian mereka parkir di dalam kampus, then, what?
Nggak tau deh, ya. Kita lihat dan kita kawal aja kebijakan baru ini bersama-sama. Untuk dedek-dedek maba, saya cuma bisa bilang, "Kamu sabaro," hehehe. Dan saya juga pengen bilang, "Untung saya jadi maba-nya tahun kemaren!" ehehehehehehe, peace broh!
Love,
Maaf posting-nya kepanjangan. Maaf lahir batin ya :)
This is where we end
It was very passionate
but eventually we couldn't avoid a farewell either.
It’s supposed to be this way,
don’t even bother with lingering feelings.
Just think of it as having watched a sad movie.
Hey, it has been twenty years since you were born into this world.
Look, you're now officially not a teenager anymore. I'm freakingly glad to see you grown up very well like that. My best wishes are always on your side--whether you still remember me or not. You know, I'm not obsessed with you--just, I'm a big fan of you.
I can't say anything else here, I just wanna say Happy Birthday!
Hai haaai~ haha sangat lama kita tak bersua. Kali ini saya kembali dengan tulisan yang (agak) berbobot (sedikit). Hehe. Check this out!
Kemarin saya berkunjung ke Museum Brawijaya yang berada di Kota Malang. Saya berkunjung ke sana dalam rangka mengisi day-off saya, hehe. *FYI, saya mengosongkan jadwal kuliah di setiap hari rabu.* Ah, informasinya penting sekali... -_-
Dari luar, museum ini tampak seperti kantor atau markas TNI dan semacamnya. Karena di depan museum tersebut terdapat beberapa tank (kendaraan perang berlapis baja, bukan tank yang berarti tangki, gentong, atau sejenis. Plis deh).
Oh, ya, bagi yang ingin berkunjung dan belum tau TKP-nya berada di mana, datanglah ke Jalan Besar Ijen, Kota Malang. Ingat, bukan Kabupaten Malang. Nanti Anda tersesat. Kemudian temukan Tugu Teratai yang berada di tengah Jalan Besar Ijen. Nah, berhentilah tepat di tugu-nya kalau Anda sudah menemukannya, kemudian silakan tengok kanan-kiri.
Anda akan menemukan bangunan besar berwarna kuning-oranye (untuk saat ini, bangunan tersebut di cat seperti itu) di sebelah timur jalan, Anda jangan masuk ke sana. Karena itu adalah Perpustakaan Kota Malang, bukan Museum Brawijaya. Sedangkan museumnya sendiri terletak di seberang Perpustakaan Kota. Iya, yang di depannya ada tank-tank tadi itu loooh.
Maaf saya nggak ngefoto depan museumnya, karena memang saya kelupaan buat ngefoto, maklum udah menua. Hehe.
Bangunannya di cat warna dan corak khas TNI. Saya jadi agak takut(?) untuk masuk. Tapi Anda sebaiknya masuk saja, jangan terpengaruh kata-kata saya. Masuk saja melewati pagar di sisi kanan bangunan (Anda tidak perlu melompat pagar, pagarnya dibuka lebar-lebar sama petugasnya). Kemudian parkirlah kendaraan Anda (jika membawa kendaraan sendiri) di lahan sebelah pos penjaga. Penjaganya bapak-bapak berseragam TNI-AD, loh. Keren dong.
Di depan museum terdapat patung (saya menyebutnya sebagai tugu mini) dengan postur Jendral Soedirman di atasnya. Anda boleh berfoto dengan patung tersebut, tapi lagi-lagi saya lupa ngefoto. -_-
Jika Anda menghiraukan patung tersebut, berjalanlah kembali untuk memasuki museumnya. Anda bisa mendapatkan tiket masuk museum di sebelah kiri pintu masuk. Harga tiketnya murrrraaaaahhhh banget. Cuma Rp 2.500 aja. Jadi, kalau Anda punya uang Rp 5.000, Anda bisa mengajak pacar Anda untuk masuk berdua. Eh, punya pacar nggak?
Setelah Anda mendapat tiket, masuk aja ke ruangan museum bagian kanan. Barang-barang yang ada di situ lebih cenderung ke zaman kemerdekaan Indonesia (zaman pendudukan Jepang). Ada lukisan tentara PETA dan seragammnya. Ada senjata-senjata yang digunakan tentara Indonesia selama masa perang. Di salah satu lemari kaca terdapat uang-uang kertas yang pernah digunakan oleh bangsa kita. Untuk yang ingin berfoto, di situ terdapat satu mobil antik yang dipajang. Saya foto di situ dongsss.
Sedangkan di ruangan museum bagian kiri, barang-barang yang tersimpan di sana lebih cenderung ke zaman pendudukan Belanda dan setelah kemerdekaan yang masih aja direcokin sama Belanda. Ada piala-piala, ada senjata-senjata, dan ada uang-uang rupiah yang digunakan setelah merdeka. Dan, ada komputer (atau mungkin kalkulator, atau mungkin komputer yang hanya digunakan sebagai kalkulator) yang ukurannya lebih gede daripada mesin tik. Gila, sama sekali nggak bisa bayangin kalo misalnya komputer nggak berkembang dan sampai sekarang ukurannya segede gitu. Gimana rasanya kuliah bawa komputer segede gitu? -_-
Oh ya, yang penting, ada foto-foto bersejarah. Nah, sebenarnya bagian ini yang saya cari dari museum ini.
Terdapat foto-foto Kota Malang tempo dulu—foto hitam putih yang keren. Rasanya pengen balik ke masa yang sama seperti di foto itu, cuma pengen ngerasain aja sih gimana kerennya bangunan-bangunan khas arsitektur belanda yang asli, dipadukan dengan hawa Kota Malang saat itu yang (jelas) masih asri. Penasaran kata orang Eropa zaman dulu, katanya Kota Malang adalah Switzerland-nya Jawa.
Sayangnya foto-foto itu cuma sedikit. Foto yang lainnya adalah foto masalah-masalah setelah kemerdekaan. Seperti penangkapan anggota PKI, relokasi pemakaman pahlawan, dan lain-lain.
Di bagian halaman tengah museum terdapat Gerbong Maut—satu dari tiga gerbong maut yang dulu digunakan untuk mengangkut tawanan (kita bisa menyebutnya dengan pahlawan) yang dipindahkan dari tahanan di Bondowoso ke tahanan di Surabaya oleh Belanda. Seratus orang tawanan yang berada di dalamnya, selama perjalanan, ada yang meninggal, sakit parah, dan yang sehat hanya dua belas orang. Bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya mereka. Duh, sepertinya saya salah untuk berfoto dengan senyum lebar di depan gerbong ini.
Ah, marilah kita mengenang jasa para pahlawan kita, guys.
Kembali membahas Museum Brawijaya, lantai atas museum ini dibiarkan kosong. Nggak ada apa-apa. Tapi dari situ kita bisa melihat situasi Jalan Besar Ijen, Perpustakaan Kota Malang, dan Tugu Teratai. Ini spot berfoto yang bagus, guys. Jadi saya foto di situ juga, hehe.
Nah, saya cuma bisa menceritakan Museum Brawijaya segini aja. Kalau pengen tau lebih jelasnya, silakan datang sendiri :)