Semoga aku terlihat baik-baik saja.
TVSTRANGERTHINGS
occasionally subtle

shark vs the universe
Peter Solarz

★

Discoholic 🪩

roma★
🪼
KIROKAZE
trying on a metaphor

if i look back, i am lost
DEAR READER

tannertan36
taylor price
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

No title available
$LAYYYTER
Cosimo Galluzzi
noise dept.
ojovivo
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Canada
seen from Malaysia
seen from United States
@nissahusnulkh
Semoga aku terlihat baik-baik saja.
Kuatkanlah hatimu untuk menghadapi hari - hari sendiri. Tidak dekat dengan siapapun. Benar - benar merasakan semuanya sendiri. Sebab tidak semua yang kita sayangi akan meluangkan waktunya membersamai kita. Ada yang disibukkan dengan kehidupannya. Ada pula yang telah habis waktunya untuk menemani kita. Ada kalanya kita akan benar - benar menghadapi semuanya sendiri. Lalu masihkah belum merasakan keberadaan-Nya yang begitu dekat ? Yang tidak pernah datang dan pergi, namun selalu ada menemani. Allaah.
Menyapa Mentari (via menyapamentari)
Up and down
Pada-Nya.. Kutitipkan sebaik-baik harapan melalui doa dengan membaca setiap surah cinta-Nya. Sebab hanya Dia yang memahami bagaimana rindu harus diuntai agar bersemi indah pada waktunya.
Dan tidak ada cinta yang lebih manis saat mengetahui Ia lebih mencinta dari siapapun yang ada di dunia.
Maka sebaik-baik rindu ialah yang berlabuh pada-Nya.
Maka sebaik-baik cinta ialah yang berakhir pada ridho-Nya.
Dan sebaik-baik menitip salam ialah dengan membaca kalam-Nya. Semoga ia juga sama sedang dalam kondisi dimana jatuh cinta terhadap Al-Qur'an adalah jatuh cinta paling manis..
Apa kabar Al-Qur'an selepas Ramadhan?
© Ibn Syams
(via quraners)
Karena jarak Kita saling mendekatkan diri di dalam do'a Karena jarak Kita saling mencari di keheningan 1/3 malam.
Karena jarak Kita saling bertutur sapa pada angin Yang semoga saja Pesan itu tersampaikan pada pemiliknya.
Karena jarak Kita menahan rasa yang menggebu-gebu di dalam dada Karena jarak Kita mengenal arti dari rindu.
Benar, Jarak telah membuat raga kita terpisah Namun ada satu hal yang menjadikan kita begitu yakin.
Sejauh apapun jarak yang menjadi andil tuk merindu Pastikan saja, Jiwa kita dekat berkat do'a.
Saat ini kita memilih untuk diam Sebab jarak enggan mengerti Namun, Biarkan saja kita saling mengadu harapan.
Hingga jarak ini memberi kita kesempatan Dan sang waktu telah mengizinkan Aku dan kamu Melangkah bersama pada jalan yang ridhoiNya.
Aku tahu, Setiap impian yang terpendam Kadang kita memintanya dengan lirih Ataukah memaksa kepadaNya.
Namun bersabarlah, Inilah kita yang sedang berjuang dalam penantian.
Aku percaya, Bahwa do'a akan mengalahkan jarak Serta menjadi penawar rindu Ketika curahan hati itu melibatkan Sang Maha Pemilik Rasa.
Salam, @amaliahrh💙 Kontribusi oleh @amaliahrh
#duniajilbab
🍃Apa aku pantas bersedih akibat perubahanku? Jawabannya tidak.
Di senja kala matahari hendak kembali pulang, bak ombak yang sedang pasang menghantam batuan. Si Batu lah yang sedang berada diposisi ku saat ini.
Ya, perjalananku sedang berada pada tahap dimana belukar berduri menghujam relungku. Ternyata tak hanya meriam dan tombak yang dapat membunuh dan melukai, melainkan ‘kata-kata’.
Ya, tiba-tiba pendirian ku goyah seketika. Izinkan aku menyatakan ini secara tersirat dalam paragraf. Aku tahu. Panjang jilbab ku belum mencerminkan prilakuku. Tertutup nya kaki dan lenganku belum mencerminkan ke santunan ku.
Terlihat alim dalam hal berpakaian itu belum mencerminkan ahli ibadah atau ilmu agama tinggi yang kumiliki. Disanalah letak kesalahanku di mata mereka. Bukan maksud ku ber suudzon, tetapi kesinisan tatapan dan ketajaman perkataan mereka benar benar seperti hujan Batu yang sedang mnghantam.
Apalagi jika tidak air mata yang mengungkap kan rasa dan asa ku. Di hadapan mereka ku coba tak egois, mencoba untuk tak egois.
Ya, hantaman ombak yang sedang pasang menjelang ombak kembali tenang butuh waktu. Kenapa tak ku kadukan saja. Ku pinta Pada-Mu Ya Rabb.
Berada dijalanmu memang butuh perjuangan. Dan disanalah letak ujian keistiqomahan, apakah aku sanggup tetap merangkak, berjalan, berlari, atau berdiri dipijakan yang sama karena kesedihanku? Keep Istiqomah Sahabat☺ Akhirat menanti Allaah dihati.
Allaahu Akbar. Allaahu Akbar. Allaahu Akbar. ✨Surah (Yūsuf):86 - “……. Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,…….”. 📜@ukh_tiana . Design @berimanyuk @berimanyuk
#duniajilbab #berimanyuk
Ada kekhawatiran yang baiknya kamu sembunyikan sendiri, ada ketakutan yang baiknya kamu redam sendiri. Kamu cukup terlihat baik baik saja di hadapan siapapun, kamu berhak terlihat manis dengan wajah meneduhkanmu. Sebab, kamu berhak untuk terus belajar mendidik diri cukup mengadukan semua hanya pada Nya. Hanya Allah yang mampu menyelesaikan semua Nya. Dan semua jawaban atas begitu banyak pertanyaanmu, hanya Allah yang tahu.
Percayalah semua akan baik baik saja, dengan mempercayakan pada Nya. (via
menyapamentari
)
Maa Syaa Allah 😭
(via duniakuintrovert)
Distansi
Aku tidak punya apa-apa, selain jarak ini. Satu-satunya hal yang menautkan sekaligus membatasi. Semua yang ringan di awal mendadak menjadi sangat berat untuk dijalani. Tapi, rasanya sulit untuk berlalu begitu saja, ketika kita sudah mencintainya dengan terlalu.
Ada yang tertinggal, ialah sebentuk harapan untuk segera melepas rindu dengan senyata-nyatanya. Betapa aku ingin matanya adalah hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Dengan dekat. Dekat yang dekat sekali. Sayang, waktu tidak mau bersahabat baik dengan jarak. Belum diizinkannya aku mewujudkan keinginan terbesarku itu. Aku, sampai saat ini, harus terus bergerilya memelihara rindu ini sendirian.
Kadang, dia bertanya mengenai kapan dan berapa lama lagi. Aku tidak pernah punya jawabannya. Atau barangkali aku punya, namun aku hanya tidak ingin memberitahunya.
Kapan eksistensimu ada di sini agar bisa kunikmati dengan nyata? Berapa lama lagi aku harus menanti agar tubuh kita segera terpaut? Besokkah? Bulan depankah? Tiga tahun lagi? Atau tidak akan pernah ada hari baik itu?
Dia melontarkan pertanyaan itu berulang pada apa saja. Pada dinding kamarnya, langit-langit tempatnya menatap sebelum terpejam, meja kerjanya, cermin, dan padaku. Apa yang harus kukatakan padanya, ketika aku sendiri tidak berdaya untuk menyentuhnya dari jarak sekian?
Aku melamun, atau lebih tepatnya merenung. Sembari berandai-andai hari besar itu tiba. Hari pertemuanku dengannya. Yang tidak tahu kapan. Kalau saja bisa, aku sangat ingin menukarkan distansi ini dengan apa saja yang aku punya.
Sekarang juga.
I wish..
Semoga apapun yang sedang kita tunggu adalah sesuatu yang memang pantas untuk di tunggu, atau mungkin seseorang yang memang sama-sama berusaha untuk saling memperjuangkan… Karna katanya menunggu itu pasti ada ujungnya, pasti akan ada akhirnya, dan itu tidak akan selamanya. Hanya pastikan dia tahu bahwa kita sedang menunggunya, agar dia pun berusaha untuk tidak membuat kita menunggu terlalu lama untuknya.
Semoga kamu bisa menepati janji, aku do'akan. (via nurulghaidatsaniwiratami)
Kekhawatirannya
Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.
Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.
Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.
Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.
Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.
Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.
Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi
Allah menciptakan kesedihan bukan untuk menjatuhkanmu, melainkan Dia memberimu ruang untuk bersabar dan mengadu pada-Nya lebih khusyu dari hari-hari biasanya. Allah jua menciptakan kebahagiaan bukan untuk meninggikanmu, melainkan Dia memberimu ruang untuk bersyukur pada-Nya lebih khidmat dari hari-hari biasanya. Sabar dan syukur ibarat sebuah kendara yang mengantar ke surga. Jika mesti memilih, aku akan memilih apa saja, sebab keduanya akan mengantarku ke jannah-Nya, kata Umar bin Khattab melengkapi.
@edgarhamas (via edgarhamas)
Pernikahan itu Bukan Permainan
Ketika kita menyaksikan fenomena kawin cerai dalam kehidupan masyarakat, muncullah pertanyaan, sebenarnya apa yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan pernikahan, dan apa pula yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan perceraian ? Sangat mudah kita jumpai peristiwa perceraian, yang disebabkan oleh karena kebosanan, atau ketidakcocokan, atau alasan selera lainnya. Yang patut dipertanyakan adalah, bagaimana mereka memahami pernikahan dan kehidupan berumah tangga selama ini? Landasan Itu Harus Kokoh Keluarga bahagia, merupakan dambaan semua manusia. Namun ternyata sangat banyak yang tidak mau menempuh konsekuensinya. Mereka hanya ingin menikmati hasil akhir berupa kebahagiaan, padahal rasa bahagia justru muncul karena proses yang diikuti dengan konsisten. Keluarga bahagia bukanlah keluarga yang berdiri di atas ruang hampa. Justru ia menempatkan pondasi sebagai tempat berpijak yang kokoh, karena hendak membangun sebuah peradaban yang kokoh pula. Tidak ada bangunan kokoh, jika pondasinya lemah. Semua bangunan tinggi menjulang ke langit, harus disertai pondasi yang kuat menghujam bumi. Jika landasan berkeluarga hanya semata-mata materi, betapa mudah materi itu hilang dan musnah. Hari ini kaya raya, besok bisa menjadi orang miskin yang menderita. Hari ini memiliki banyak uang untuk membahagiakan pasangan, besok bisa merana karena tidak punya uang. Materi tidak bisa mengekalkan kebahagiaan, walaupun materi merupakan unsur penyusun kebahagiaan. Jika landasan pernikahan hanyalah kecenderungan syahwat, maka betapa mudahnya syahwat itu menghancurkan kehidupan keluarga. Hari ini tertarik dengan seorang perempuan cantik lalu dinikahi, besok sudah bosan dan mencari wanita lain yang lebih cantik. Hari ini bertemu lelaki tampan lalu menikah, besok sudah bertemu lelaki lain yang lebih tampan. Syahwat mengajak manusia berkelana, dan tidak pernah bisa dipuaskan oleh berapapun banyak wanita atau lelaki yang disimpannya. Jika landasan pernikahan hanyalah gengsi atau popularitas, betapa mudah tergoyahkan.Hari ini menikah dengan bangsawan yang terhormat, besok bisa kecewa karena ada posisi lain yang dianggap lebih tinggi. Hari ini menikah dengan artis yang tengah naik daun, besok sudah menyesal karena ada politisi yang lebih ngetop. Begitulah jika menikah hanya didasarkan kepada menjaga gengsi, maka akan selalu muncul pembanding yeng lebih tinggi. Keluarga bahagia diawali pembentukannya dengan pernikahan yang didasarkan motivasi ibadah. Lelaki dan perempuan bertemu dalam ikatan sakral, berjanji atas nama Tuhan, diresmikan dalam lembar dokumen pemerintahan, dan disaksikan oleh keluarga serta masyarakat. Mereka bertemu dalam ritual pernikahan karena kepahaman dan kesadaran yang utuh, bahwa menikah merupakan ibadah untuk memenuhi amanah Ketuhanan dan risalah Kenabian. Keluarga bahagia memahami sepenuhnya bahwa kebahagiaan itu datangnya dari dalam jiwa yang bersih, dari hati yang selalu bersyukur, dari pikiran yang selalu positif, sehingga segala sesuatu tampak jernih, bening, dan jelas. Mudah menguraikan permasalahan yang datang, karena tidak mengedepankan ego dan emosi. Semua anggota keluarga memiliki keinginan untuk merealisasikan kebaikan dalam kehidupan, karena meyakini adanya pembalasan Tuhan. Keluarga bahagia menjadikan motivasi ibadah sebagai pondasi dalam meniti hari-hari bersama semua anggota keluarga. Menjadikan tuntunan Tuhan sebagai pembimbing jalan kehidupan. Menjadikan Tuhan sebagai harapan untuk memberikan kekuatan, kebahagiaan, ketenangan, kesejahteraan, ketenteraman, kemuliaan dan keutamaan dalam hidup berkeluarga. Itulah sebabnya, keluarga selalu merasakan kebahagiaan, karena dilandasi oleh syukur. Mereka merasakan ketenangan dalam kehidupan keluarga, karena dilandasi hati yang bersih. Mereka mendapatkan keindahan, karena selalu berpikir positif. Mereka merasa kuat, karena bersandar kepada Dzat Yang Maha Kuat. Jangan Bermain-main dengan Tuhan Pernikahan adalah janji atau akad yang terikrarkan atas nama Tuhan, dituntunkan oleh agama dan dikuatkan oleh lembar dokumen pemerintahan, disaksikan oleh keluarga dan masyarakat. Pada peristiwa nikah, ada banyak ikatan sakral yang terjadi. Pertama, ikatan sakral atas nama Tuhan. Jangan pernah bermain-main dengan nama Tuhan. Saat ikrar pernikahan, sebuah ikatan yang kuat (mitsaqan galizha) telah terjadi, maka jangan mencoba mengurai kembali ikatan ini. Hanya karena persoalan sepele, hanya karena urusan kecil, hanya karena permasalahan teknis, seseorang mencederai ikatan yang telah dibuat atas nama Tuhan. Kedua, pernikahan dituntunkan oleh agama. Pernyataan “sah” saat akad nikah, dinilai dari kesesuaiannya dengan tuntunan agama. Maka jangan bermain-main dengan tuntunan agama. Hanya karena masalah komunikasi, hanya karena masalah ekonomi, tiba-tiba merusak ikatan yang menjadi tuntunan agama. Ini artinya menyepelekan agama. Ketiga, dicatat dalam lembar pemerintahan. Pernikahan diatur oleh negara, dan melibatkan pejabat pemerintahan dalam pelaksanaannya. Maka jangan mempermainkan aturan negara dan pejabat pemerintahan. Pernikahan harus dijaga dan dipertahankan, tidak boleh sembarangan dirusak dan dihancurkan. Keempat, disaksikan oleh keluarga besar dan masyarakat. Jangan kecewakan harapan mereka dengan ketidakharmonisan dan perceraian. Lengkap sudah nilai kesakralan sebuah pernikahan. Jangan bermain-main dengan pernikahan, karena jika menganggap remeh ikatan nikah, berarti mempermainkan Tuhan, tuntunan agama, pemerintah, keluarga besar dan masyarakat.
Oleh : Cahyadi Takariawan
Sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/12/pernikahan-itu-bukan-permainan.html
Bang, kenapa ya, akhir-akhir ini seperti ada yang hilang dari Saya. Saya futur. Saya solat, tp hny sekadar menghitung rakaat. Saya dzikir, tp hati saya fakir. Saya tidak ingin seperti ini terus. Mohon saran :'
(Self Reminder)
Mari kita selidiki lebih dalam.Tentang shalat, bagaimana kita akan rasakan manis dan indahnya khalwat dalam shalat, jika menjawab seruan adzanNya kita sering telat. Abang tidak berkata takbir dan rekaatnya telat, akan tetapi saat adzan telah dikumandangkan, namun kita belum siap di tempat kita shalat. Tentu akan berbeda rasanya di hati saat kita datang sebelum adzan, dengan sebelum iqamah.Tentang dzikir, barangkali sebab kenapa dzikir tidak terasa, sebab dzikir kita baru sampai di lisan, belum sampai pada azam untuk benar-benar mengamalkan dan merasakan.Benar bahwa kita mengucap kalimat istighfar, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk meninggalkan kesalahan.Benar bahwa kita mengucap kalimat tahlil nan agung, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk merasakan bahwa Allah itu Ahad (satu), hanya Allah yang kepadanya kita peruntukkan segala ibadah, hanya Allah tempat kita bersandar dan meminta. Kita memiliki Allah, tapi menjalani hidup seakan-akan tidak punya Allah.Kita percaya Allah, tapi bertingkah seperti orang yang tidak percaya Allah.Beribadah semaunya, bekerja semaunya, semuanya semaunya.Benar bahwa kita mengucap shalawat, tapi kita luput dari menghayati dan mengamalkan apa yang terabadikan dalam Al-Qur’an, serta yang baginda Nabi teladankan dan pesankan dalam hidupnya. Kita terlalu menganggapnya ringan, daripada bersemangat mengejar sunnah-sunnah yang sejatinya memiliki keutamaan.Semoga yang sedikit ini, mampu menjawab.Apa yang tertulis disini, tertuju untuk penulisnya terlebih dahulu.©Quraners
Yaa Allah......
Beragama itu bukan hanya sekedar bisa shalat, ngaji dan puasa, tapi tentang bagaimana menjadikan Allah sebagai cinta pertama, menjadikan Nabi sebagai panutan mulia, menjadikan Al-Qur'an sebagai rujukan pertama. Sudah?
©Quraners, Self Reminder (via quraners)
ig: ibtasempoetry (please do not remove credits in sha Allah)
Mana yang akan bertahan lama? Membangun cinta atau terlanjur jatuh cinta?
Cinta Yang Bertahan Lama
Saya agak kebingungan dengan pertanyaannya. Tapi kalau yang kamu pertanyakan perihal “cinta yang bertahan lama”, maka jawaban saya adalah: segala cinta yang membawa kepada keridhaan-Nya itulah yang bertahan lama. Immortal. Jika Tuhan ridha atas apa yang manusia lakukan, maka apapun akan bernilai dan bertahan lama. Api terasa dingin, luka terasa kecupan, sedih terasa tenteram. Percuma membangun cinta berdekade lamanya, namun tidak menuju kepada-Nya. Pseudo. Sebab itu, jangan tertipu dengan mereka yang menjanjikanmu cinta, tapi menjaga dirinya dari hal-hal tercela saja susah. Bagaimana bisa Ia mencintainya, jika dari pertama saja ia gagal mendefinisikan cinta yang sanggup bertahan lama?
Jadi, sebelum membangun atau terlanjur jatuh cinta, kenali dulu cinta yang seperti apa yang hendak kamu perjuangkan. Maaf jika tidak menjawab seutuhnya.