“Kau mulai menjadi apa-apa yang paling aku inginkan. Dan tak peduli apapun yang akan terjadi mulai dari sekarang, selama itu denganmu, aku tidak akan pernah menyesalinya.”
— (via mbeeer)

Product Placement

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.

Janaina Medeiros
Keni
No title available
AnasAbdin
d e v o n
will byers stan first human second
Alisa U Zemlji Chuda

shark vs the universe
art blog(derogatory)

No title available

No title available

JVL

titsay
wallacepolsom
styofa doing anything

Love Begins
No title available
seen from United States

seen from Argentina

seen from Germany
seen from India
seen from Australia

seen from Italy

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Switzerland

seen from Japan

seen from Ireland

seen from Switzerland
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from South Korea

seen from United States
@nkwritink
“Kau mulai menjadi apa-apa yang paling aku inginkan. Dan tak peduli apapun yang akan terjadi mulai dari sekarang, selama itu denganmu, aku tidak akan pernah menyesalinya.”
— (via mbeeer)
Bukan untuk Menyempurnakanmu
Kelak, aku ada bukan untuk menyempurnakanmu. Aku ada untuk menarik napas panjang menghadapi keras kepalamu, aku ada untuk melihat ke dalam matamu, lalu mengangkat satu alisku, ketika kamu mulai ragu terhadap sesuatu…
…aku ada untuk melihatmu dari sudut mata, ketika leluconmu salah tempat, aku ada untuk diam seribu bahasa ketika kamu mulai tidak peka, aku ada untuk menepuk pundak dan pipimu, mengangkat wajahmu yang mulai menampakkan lelah dan putus asa, kemudian berlagak hebat dengan mengatakan, “semua akan baik-baik saja.”
Jadi, tolong terima, keberadaanku bukan untuk menyempurnakanmu. Silakan kecewa. Tapi rasanya tidak perlu aku katakan, bahwa kamu, dan segala yang ada di sana (di dirimu), sudah merupakan takaran yang paling pas untuk dihadapi dengan kekuatan yang aku miliki.
– @dedesisi
Bisa-bisanya.
“Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. Semakin dalam lukanya ia akan dingin, kaku dan semakin membisu. Bukan karena tak memaafkan. Tapi lebih kepada ia takut menyakiti lebih dalam. Ia memeluk luka dan kesakitannya sendiri, ia telan sendiri semua rasa pilunya.”
—
kata Bapak, dibalik diamnya seorang perempuan, ia hanya ingin waktumu yang lebih lama dari biasanya; hanya ingin perhatianmu yang lebih hangat dari sebelumnya. Jangan malah didiemin-apalagi dicuekin, dia pasti tidak akan suka, dia pasti akan sangat membeku, dia pasti akan sangat terluka. (via andromedanisa)
Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. perempuan yang paham akan dirinya, dia akan riuh dalam doa. medoakan yang baik-baik, menjadi pendoa yang terbaik. ia tak akan rapuh namun ia akan memilih diam dan riuh doanyanya dilangit. demikianlah perempuan. ah, akupun seorang perempuan..:”))
“Kalau boleh tahu, berapa harga dari kesibukanmu? Aku ingin membelinya. Kalau boleh tahu, berapa harga dari rasa kepedulianmu? Aku ingin memilikinya. Kamu tahu? Aku sedang tak baik-baik saja. Semua beban akan dunia, terus saja menghantam jiwa. Bagai tak ada kesempatan untuk aku rehat dan coba memulihkan luka. Aku butuh kamu. Kehadiranmu adalah obat, pelukmu lebih hangat dari selimut tebal yang melekat. Tak ada yang aku inginkan dari melihat senyummu yang memikat. Tapi apa? Kamu hilang entah kemana, pun pedulimu kian pudar dimakan masa. Aku ditinggalkan, kabarmu bagai perihal yang mustahil tuk diinginkan. Dan tanpa disadari, kamu pergi meninggalkan diri. Menghadiahkanku sebuah luka, sebagai tanda bahwa kita pernah merajut kisah bahagia.”
— Arief Aumar Purwanto
“Entah bagaimana ceritanya, orang yang dulu terasa begitu asing kini menjadi seseorang yang paling kutakutkan kepergiannya dalam hidup.”
— (via mbeeer)
alter ego
kau benar. aku hanya punya satu golongan darah. satu dari empat. satu dari enam bahkan. aku hanya punya satu tanggal lahir, yang artinya hanya punya satu rasi bintang. satu dari dua belas. aku hanya punya satu dari enam belas kepribadian. aku hanya punya satu dari melankolis koleris sanguinis plegmatis–dua paling banyak.
tapi aku punya tak terhingga alter ego–aku sendiri sulit menghitungnya. kurasa itulah kenapa aku butuh banyak teman. kadang merasa tak pernah cukup dengan yang ada. kau tau, aku tak pernah menjadi diri yang berbeda di hadapan siapapun. aku hanya menampilkan sisi diri yang berbeda-beda. dan dengan demikianlah aku berteman. semua orang juga begitu kan?
ada teman senang-senang. ada teman centil-centilan. ada teman belajar. ada teman bekerja. ada teman untuk bicara ringan. ada teman untuk bicara dalam. ada teman yang mengetahui masa laluku. ada teman yang kuceritakan cita-citaku. ada teman rohani. ada teman jasmani. ada teman yang selalu mendengarkan. ada teman yang selalu mendoakan. ada teman yang selalu bisa menyemangati. ada teman yang selalu bisa memberikan solusi. ada teman yang–diam-diam kuidolakan. ada teman yang mengubah hidupku meski kecil-kecilan. juga besar-besaran. ada teman yang datang kepadaku saat butuh bantuan. ada teman yang selalu menghadirkanku, meski kenyataannya, aku tak sepenuhnya hadir kembali untuknya.
kadang aku berkhayal. seandainya semua jenis teman itu bisa berkumpul di satu badan… mungkin hidup menjadi lebih menyenangkan, sederhana, mudah. aku tak perlu repot mengganti-ganti muka. meski isi hatiku pada dasarnya tetap sama. apalagi isi kepala.
aku telah selalu menjadi diriku sendiri. tapi aku belum pernah menampilkan seluruh sisi diriku kepada seseorang. aku juga belum pernah punya–teman yang menampilkan seluruh sisi dirinya kepadaku. itulah kenapa aku butuh teman. satu saja.
بسم الله الرّحمان الرحيم
Memulai semua hal yg baru dengan seseorang yg baru, semoga ini adalah pilihan yg tepat dan Allah ridhoi, Amiin 🤲
Januari 2020
Semoga kebaikan saya ke kamu, akan mendatangngkan yang baik pula untuk saya ☺️
“Seminim apa saya dihargai, seminim itulah saya menghormati. Sebanyak apa saya dianggap ada, dianggap berguna. Sebanyak itu pula lah saya menjunjung respek untuk yang bersangkutan. Jadi, kalau respek saya memudar. Barangkali caramu menghargai saya yang mulai terasa sukar.”
—
“Pada akhirnya kita harus berlabuh, karena berlayar itu melelahkan, merasa diporak-porandakan badai di tengah lautan. Tidak munafik jika memilih penjangkar yang kuat, kan? Yang padanya, hati kita dikuatkan, diyakinkan, segala ragu hilang, yang ada hanya tenang.”
— bukan begitu dear, @halamanbercerita?
“Yang aku butuhkan hanyalah pedulimu terhadap segala masalahku. Aku hanya ingin didengar oleh kamu, diberi pengertian, lalu dibuat tenang dari rasa resah yang menggenang. Apakah semua kesibukan, membuatmu buta akan orang yang kamu sayang? Aku terluka sebab kamu tak ada. Perih menyita semua bahagia yang tertera. Aku hampa—kian diurai oleh duka. Tapi. Kamu dimana?”
— Arief Aumar Purwanto (via sajaksesak)
“Bisa dibilang, aku ini orang yang hemat. Namun anehnya, aku rela mengeluarkan berapa saja untuk satu hari yang ada kamu di dalamnya. Sebab kamu seistimewa itu.”
—
Hanya inginkan temu, tapi nyatanya semu.
Aku merasa sedang dalam musibah yang besar tapi tak ada satu orang pun yg mampu membantuku 😢
Untuk sementara ini, biarkan kita saling mendiamkan. Ya, anggap saja kita tengah kalah dengan keadaan. Aku memilih diam, sebab bicarapun takmerubah apapun termasuk sifatmu.
Tak pernah ada hari special, bahkan hari yg ku anggap special telewatkan dengan sangat biasa
What do you see in him?
Apa yang kamu cintai dari dia?
Hadir ketika kamu membutuhkan saja tidak.
Apa yang kamu cintai dari dia?
Dia hanya bisa mengecewakanmu ketimbang menyemangatimu.
Apa yang kamu cintai dari dia?
Dia hanya memanfaatkan kasih sayangmu tanpa mau berikatan.
Apa yang kamu cintai dari dia?
Dia saja tidak mencintaimu.