cerita pendek : “dia dan jam tangan tua”
kebenaran adalah milik orang yang mempercayai nya, atau kebenaran adalah sosok yang kuat dimana pun ia berada. meskipun harus berdiri sendirian tanpa satu pun yang membela
Sore itu matahari sedang memamerkan semburat jingga, tak satupun yang dapat mencegah keindahannya. dan aku tak kunjung bosan memandangi langit seolah meminta dukungan yang aku tahu tak ada guna.
Pukul 5 sore dan dia masih saja sibuk membaca berkas berkas yang menumpuk di meja nya. entah kasus siapa kali ini, yang membuat ia harus menghabiskan malam-malam tanpa pernah absen dari sentuhan kopi.
Pandangan itu beralih kepada ku, kemudian lengkung bibir itu tak lagi bisa kuabaikan. aku berjalan menuju meja nya.
tanya ku sembari bersandar di atas meja kerja yang selalu terlihat berantakan itu.
“apakah kau akan terus menunggu ku?”
dia malah balik bertanya,
“tergantung, apakah kau layak untuk terus aku tunggu”
ku kerlingkan mata mencoba menggoda laki-laki itu, yang sudah kukenal lebih dari sewindu.
“apakah butuh uji kelayakan?” kemudian ia tertawa, entah kenapa aku hanya bisa menatap nya malas.
“kasus apa kali ini yang kau tangani?”aku memutar tempat stationary di depan ku, satu-satu nya barang favorit ku ketika aku mampir ke ruangan ini.
“bukan kasus miliaran, tapi cukup untuk memuaskan batin seseorang jika nanti nya akan menang” ia tersenyum
aku tebak orang itu pasti dirinya sendiri, kemudian aku mulai membaca berkas yang ada di depan ku, dan sepertinya tebakan ku benar.
“apa kamu ga pingin menangani kasus yang lebih besar?”
“apa menurut mu ini bukan kasus besar?”
“seperti nya bukan, hanya pencuri buah di kebun”
“akan berbeda jika kau tau siapa pencuri nya dan kenapa ia mencuri nya
sudahlah tak usah kau pikirkan, ayo mencari ketenangan sebentar”
“kopi mana hari ini?” aku langsung mengajukan pertanyaan yang selalu aku lontarkan setiap ia mengatakan pernyataan itu.
“aceh gayo” jawab nya singkat sembari berjalan menuju pantry, lalu meletakkan cangkir dan mulai membuat kopi untuk dua porsi.
“aku heran kenapa kau tak menjadi barista saja, seperti nya kau ahli”
“karena aku hanya membuatkan kopi untuk satu orang, dan malas jika harus membuatnya untuk satu kedai kopi”
“karena orang yang satu-satu nya ku buat kan itu, akan tambah bawel jika nanti aku semakin sulit membagi waktu ku”
aku tersenyum mendengar penjelasan nya, karena aku tau akulah sosok perempuan itu
“ya maksutku pindah haluan saja, pindah profesi”
“pengacara bukan profesi, tapi hidup ku dan sayang nya aku tak bisa memindah haluan nya”
aku tersenyum, seperti nya salah mengajak pengacara debat meskipun hanya perkara sepele.
aku menatap tangan nya yang mulai sibuk meracik kopi kemudian pandangan ku terhenti oleh jam tangan milik nya, aku tak tau sudah berapa kali aku meminta dia menggantinya. bahkan ketika aku belikan yang baru dan itu menghabiskan hampir seluruh tabungan ku, tak pernah sekalipun ia menyentuh jam tangan pemberianku. tentu aku kecewa, tapi dia selalu punya alibi untuk tetap mempertahankan nya.
“apa kamu ga bosen?” tanya ku iseng
“apa kamu mulai bosan?” ah selalu membalikan pertanyaan, batin ku.
“aku punya 3 pasang dan sering mengganti nya sesuai penampilan ku”
ia mulai terlihat bingung, mungkin apa yang sedang kami bicarakan berbeda.
“jam tangan maksut ku” aku memberinya sedikit pencerahan sebelum dahi nya mengkerut kebingungan.
“tidak” jawab nya singkat
aku hanya terdiam dan mendekati nya untuk mengambil cangkir kopi ku yang sudah terisi penuh dengan aroma yang sulit untuk ku tolak.
“apa kau ingin ku beri tahu sesuatu mengenai jam ini?”
“apa? itu warisan kakek moyang mu?”aku sudah pernah dengar sejarah pemberian nya
“ini bisa membuat mu kembali ke masa lalu” sedetik kemudian tawa ku pecah
“dan aku tahu pada akhirnya kau tak akan percaya” dia melanjutkan perkataan nya yang menurut ku omong kosong belaka.
“baiklah buktikan kalau begitu”
“tapi hanya bisa kembali tidak melebihi 12 jam waktu lampau mu”
“ha? seriusan? wah sayang sekali kalau begitu, aku kira itu seperti mesin waktu yang bisa mengajak mu kembali ke jaman penjajahan belanda sekalipun” aku tak henti-henti menertawakan pernyataan konyol itu.
“pejamkan mata mu, jika kau ingin bukti dari semua perkataan ku”
“baiklah, kembalikan ke waktu aku masih memandangmu dari situ” tunjuk ku ke arah balkon dimana aku menatap senja yang kini mulai redup.
“oke sekitar 45 menit yang lalu berarti, aku atur waktu nya dan kau pejamkanlah mata mu”
aku pun mematuhi perintah nya yang aku tau cuma candaan di kala ia sedang jenuh dengan pekerjaan nya.dan ia sibuk memutar jarum jam tangan tua itu.
aku mulai menutup mata ku.
Sore itu matahari sedang memamerkan semburat jingga, tak satupun yang dapat mencegah keindahannya. dan aku tak kunjung bosan memandangi langit seolah meminta dukungan yang aku tahu tak ada guna.
Pukul 5 sore dan dia masih saja sibuk membaca berkas berkas yang menumpuk di meja nya. entah kasus siapa kali ini, yang membuat nya menghabiskan malam-malam tanpa pernah absen dari sentuhan kopi.
Pandangan nya beralih kepada ku, kemudian lengkung bibir itu tak lagi bisa kuabaikan. aku berjalan menuju meja nya.
tanya ku sembari bersandar di atas meja kerja nya.