“Cinta itu harus berani dan memberanikan” – Mang Emon.
“Aku sudah di halte trans kampus. Kamu di mana?” Tulis Kiara pada seseorang via aplikasi whatsapp. Sudah 15 menit Kiara menunggu Ken yang tak kunjung membalas pesannya, ia sangat gelisah. Pasalnya sejak 1 jam yang lalu, Ken sudah berangkat dari rumahnya yang seharusnya hanya memakan waktu 30 menit dengan mengendarai sepeda motor.
Kiara menjulurkan lagi lehernya ke depan, berharap dengan cara itu ia bisa melihat Ken dengan helm hitam dan sepeda motor abu – abunya. Namun Ken belum juga nampak. Ia mulai frustasi.  Novel Agatha Christie di genggamannya tak lagi ia baca, sudah kehilangan fokus nampaknya. Kiara lebih tertarik memandangi Mamang tukang siomay langganannya yang sedang asik bercengkrama dengan sang pembeli. Mang Emon memang terkenal seantero kampus bukan hanya karena rasa siomaynya yang ciamik, tapi juga ingatan pada setiap pelanggannya.
15 menit lagi telah berlalu, Ken belum juga memberi kabar. Perutnya sudah mulai keroncongan.
“Lebih baik makan siomay dulu sembari nunggu Ken,” pikir Kiara. Ia berbalik menuju kios kecil di belakang halte. Mang Emon sedang seru bercerita tentang anak semata wayangnya yang baru bisa mengendarai sepeda. Kiara agak malu, ia sendiri sama sekali tidak mahir mengendarai kendaraan apa pun, termasuk sepeda. Ia masuk ke dalam kios berdinding putih milik Mang Emon. Meski ukurannya kecil, kios Mang Emon selalu bersih dan rapih. Tidak kalah dengan café mahal sekitar kampus.
“Eh, neng Kia. Duduk neng sok mangga,” ucap Mang Emon begitu Kiara masuk.
“Makasi mang, yang biasa ya mang. Jeruk limaunya jangan lupa!” ucap Kiara pada Mang Emon.
Menunggu pesanannya datang, pesan dari Ken pun akhirnya tiba. Katanya, ia baru saja sampai di parkiran kampus dan hendak mengembalikan buku terlebih dahulu ke perpustakaan sebelum menghampiri Kiara dan tak lupa menanyakan di mana keberadaan Kiara.
Kepalang kesal, Kiara hanya menjawab dengan emoji bergambar kepala seorang lelaki dengan kumis dan rambut abu – abu dan berkulit cokelat. Wajahnya mengerut membalas pesan itu. Bahkan Ken tak menjelaskan alasan keterlambatannya.
“Nih neng, Jangan cemberut gitu ah. Si aanya ngga kelihatan neng?” Mang Emon mengantarkan pesanan Kiara, lengkap dengan irisan jeruk limau.
Kiara terkesiap. “Eh, Mang. Hehe, iya nih biasa terlambat, janjian jam berapa sampainya jam berapa,” Kiara sungut.
“Hee.. Lalaki mah memang suka begitu neng. Tapi si aa pasti nepatin janjinya ke eneng. Aa mah kelihatannya setia sekali ke si eneng!”
Kiara hanya tertawa mendengar jawaban Mang Emon. Hal inilah yang menjadikan Mang Emon kesukaan seluruh mahasiswa, selain tempatnya yang bersih, siomay enak, dan penjual yang ramah, Mang Emon adalah orang yang curhatable alias bisa dijadikan tempat curhat yang asik. Logat sundanya menjadikan tiap kata – kata yang Mang Emon ucapkan menjadi lebih jenaka.
Kiara mengaduk – aduk siomaynya dan mulai melahapnya sembari membaca novel yang tadi ia lupakan karena sibuk memikirkan keberadaan Ken.
“Mang Emoon! Apa kabar Mang?” Terdengar suara bersahabat yang sangat di kenalnya.
Kiara menoleh ke arah gerobak di depan kios. Ken (lagi –lagi) mengenakan kaus berwarna hijau tosca dengan jaket jeans dan topi navy, menyelempangkan ransel hitamnya sedang merangkul pundak Mang Emon dan menertawakan lelucon yang dilontarkan Mang Emon. Setelah menyampaikan pesanannya (yang sudah dihapal Mang Emon), Ken beralih ke Kiara yang sedang duduk menatap novelnya seakan tak perduli dengan kedatangan Ken.
Ken tersenyum lebar dan memiringkan kepalanya tepat ke depan wajah Kiara. Kiara pun tak mampu menahan tawa ketika pandangan mereka tertaut.
“Apa siihh,” Kiara merajuk.
Ken menarik kursi di samping Kiara dan duduk. “Mang Emon, ada yang mau pesan es jeruk nih mang. Jangan lupa gulanya jangan banyak – banyak ya mang. Si eneng sudah manis soalnya,” teriak Ken pada Mang Emon.
“Mang Emon, si aa mau pesan es kelapa muda ya. Pakai gula merah yang banyak! Soalnya si aa kecut parah!” Balas Kiara.
Mang Emon berdiri tegak dengan telapak tangan di ujung alis. “Siap komandan,” ucapnya tegas, bak perwira perang. Mang Emon yang sedang menyiapkan siomay pesanan Ken, melanjutkan pekerjaannya sembari terkekeh dan menggelengkan kepala.
“Kalau aku kecut, kenapa masih suka es jeruk?”
“Memang, apa hubungannya es jeruk dengan kamu?” Kiara dengan wajah menantang.
“Kan kamu hanya perlu memilih satu jenis kecut dalam hidupmu Kiara.”
“Siapa yang bisa memilih apa yang boleh dan tidak boleh datang ke hidup kita?”
“Kita sendiri.” Ken tegas.
“Aku tak pernah bilang kamu harus melarang seseorang datang dalam hidupmu.”
“Kenny, es jeruk itu pilihanku. Kamu, dikirim Tuhan tanpa aku minta.”
“Jadi, kamu lebih memilih kecutnya es jeruk daripada aku?”
“Aku memang memilih es jeruk, tapi aku tak pernah menolak kehadiranmu.”
“Jadi keterlambatanku hari ini dimaafkan?” Simpul Ken.
“Yang datang, bakal tetap datang neng, a,” sambung Mang Emon sembari mengantarkan pesanan mereka. “Eta kumaha reaksi urang wae.”
“Tuh, denger Mang Emon.” Sahut Ken.
“Emang kamu ngerti Mang Emon bilang apa?”
“Yang datang, akan tetap datang. Tinggal bagaimana reaksi kita saja,” Ken menoleh ke Mang Emon yang cengar – cengir di sampingnya. “Betul Mang?”
Alis Mang Emon terangkat mendengar jawaban Ken. “Nah! Pinter maneh a.”
Ken mengangkat alis, meng-iya-kan ucapan Mang Emon dan mulai menyantap siomaynya.  Mang Emon tersenyum melihat tingkah sepasang muda – mudi itu lantas pergi meninggalkan mereka berdua.Â
Keadaan tiba – tiba hening. Tak ada debat di antara Ken dan Kiara, keduanya sibuk dengan pikirannya masing – masing.  Kiara menyeruput es jeruk pesanan Ken, novelnya sudah ia tinggalkan sejak Ken tiba. Siomaynya masih hampir utuh.  Â
Ken melirik novel yang tergeletak di samping gelas es kelapa muda. “Kamu sudah membaca Mrs. Mc Ginty Is Dead sejak SMA. Dan sudah tahu siapa pelaku pembunuhan dalam cerita itu. Kenapa masih juga kamu baca?” Ia tak meraih novel itu, tak juga menoleh untuk melihat si empunya buku. Sebaliknya, Kiara menoleh dan menggeser tubuhnya menghadap si penanya.
“Aku membaca bukan hanya sekadar untuk mencari tahu ujung dari cerita,” ujar Kiara. “Banyak hal yang perlu dinikmati dan dipahami pada setiap katanya.”
Ken mengangkat wajahnya dari siomay yang hanya tinggal sepotong. “Tapi kamu telah merampungkan buku ini tidak kurang dari 5 kali,” ia memberikan jeda pada dirinya sendiri. “Mau berapa kali lagi?”
Kiara bengah. Ia tak lagi ingin menjawab Ken. Rasa laparnya telah menguap seiring dengan beratnya atmosfer kios ini. Ia meraih bukunya dan mulai membaca lagi. Tak acuh pada Ken yang kini memperhatikam Kiara dalam diam. Ken tahu, Kiara tidak benar – benar sedang membaca saat ini.
Ken tenggelam dalam pemandangannya. Rambut Kiara yang panjang dikuncir kuda tanpa riasan, sepertinya tadi ia mengenakan topi. Penampilannya juga sederhana, kaus putih dengan jaket jeans.
“Ra,” panggil Ken. Kiara tak mengalihkan pandangannya dari buku. “Is there anything that love can do?”
Kiara menoleh dan menyunggingkan senyum tipis. “Terdengar seperti judul lagu.”
Ken memutar bola matanya dan mengembuskan nafas keras – keras, seakan udara di sekitar hampir habis saking menegangkannya pembicaraan mereka siang hari ini. “Bukan itu yang kumaksud,” ia sadar betul Kiara menghindari topik satu ini.
Ken tak lagi melanjutkan kalimatnya. Sejak awal, rencananya menemui Kiara hari ini memang untuk mencoba berbicara tentang hubungan mereka. Ken sadar, ini bukan kali pertama ia meyakinkan Kiara tentang hubungan mereka. Dan Kiara pun tetap teguh pada pendiriannya.
Semakin siang, udara semakin terik. Di dalam ruangan kecil ini tak ada pelanggan lain selain mereka berdua yang duduk berdampingan menghadap ke dinding berwarna putih bersih. Samar – samar terdengar gelak tawa Mang Emon yang asik bercengkarama dengan pelanggannya. Pada siapa pun yang datang, ia tak lupa menyampaikan kabar bahwa Intan, gadis cilik berusia 7 tahun anak semata wayangnya telah mahir bersepeda.
Pelan – pelan Kiara meraih sendoknya yang cukup lama ia tak acuhkan. “Kalau katamu, aku hanya harus menerima satu kecut dalam hidupku, bagaimana denganmu?”
Ken mengerutkan alisnya. “Bagaimana denganku?”
“Iya,” Kiara menoleh, menunjukkan ketenangan wajahnya. “Kecut macam apa yang kamu pilih dalam hidupmu?”
“Oh,” Ken menghela nafas yang sepertinya sempat tersendat. “Aku..”
“Astagfirullahal’adzim,” teriak Mang Emon dari depan. Sontak Ken dan Kiara menoleh dan bergegas menghampiri Mang Emon. Matanya merah menahan tangis menatap ponsel yang ia genggam hingga tangannya bergetar. Ken memapah Mang Emon ke kursi terdekat.
“Ada apa, Mang?” Kiara bertanya perlahan. Beberapa pedagang dan mahasiswa yang hendak membeli siomay nimbrung memperhatikan. Penasaran apa yang telah membuat Mang Emon histeris.
“Anu a,” Mang Emon terbata tak kuasa bercerita, namun ia menyerahkan ponsel miliknya pada Kiara. Ia menekan tombol ponsel. Seketika muncul pesan dari Pak RT.
“Punten Kang, si Eneng keserempet motor. Sedang dalam perjalanan menuju RS Harapan,” tulis Pak RT dalam pesan itu.
“Ya Ampun,” ucap Kiara. Ia tergugu sejenak, namun disadarkan oleh pertanyaan Ken.
“Intan,” jawabnya. “Kamu sama Mang Emon ke Rumah Sakit Harapan saja sekarang. Urusan kios aku yang tutup.” Sambungnya cepat.
Ken langsung memahami bahwa ada yang gawat. Mang Emon yang masih terkejut tak memberi komentar apa – apa. Ia memberikan kunci dan gembok pada Kiara, lantas bergegas menuju parkiran membuntuti Ken.
20 menit urusan menutup kios Mang Emon, rampung. Ia tak sendiri. Pak Dudung, pegawai fotokopi kios sebelah dengan sukarela membantu. Setelah berterima kasih dan berpamitan dengan Pak Dudung, Kiara segera menuju rumah sakit dengan menumpang ojek pangkalan depan kampus.
RS Harapan terletak tak jauh dari komplek kampus. 5 menit di perjalanan, bangunan rumah sakit sudah nampak. Setelah turun dan membayar ongkos ojek, Kiara segera menuju UGD. Rumah sakit adalah salah satu tempat yang paling Ia hindari, terlebih rumah sakit ini. Ruangan serba putih, bau alkohol dan wajah tegang setiap orang, sangat membuatnya tak nyaman. Bayangan almarhum Ayah yang terbujur kaku berkeliaran di benak Kiara.
Di sudut ruangan, Ken berdanguk seorang diri. Tak terlihat Mang Emon di dekatnya. Kiara bergegas menghampiri Ken.
“Ken,” panggil Kiara membuyarkan lamunan Ken. “Mang Emon mana? Intan bagaimana?” Serbu Kiara.
Ken meraih tangan Kiara. “Duduk.” pinta Ken.
Kiara menurut, Ia duduk di kursi sebelah Ken. “Intan baik – baik saja, pak RT baru saja pulang beberapa saat yang lalu,” Ken menarik nafasnya yang seakan sangat berat. “Mang Emon ada di dalam. Intan memang butuh rawat inap beberapa hari untuk pemeriksaan. Tapi tidak ada yang perlu dicemaskan,” Ken menatap wajah panik Kiara, mencari ketenangan. “Ini bagaimana ibuku pergi meninggalkanku dulu Ra,” Ia mengalihkan pandangannya dari Kiara seraya mengusap wajahnya. “Aku paham rasanya jadi Mang Emon.”
Kiara meraih tangan Ken, menggenggamnya dengan erat. “8 tahun lalu. Ayah dirawat di rumah sakit ini. Nggak lama, hanya 1 minggu. Meningitis. Ayah merahasiakan dari Ibu, sampai akhirnya satu bulan sebelum Ayah meninggal, Ibu tahu dari obat – obat yang tersimpan di tas kerja Ayah.” Jelas Kiara sembari tersenyum.
Ken segera menarik tubuh Kiara dalam dekapnya. “Sampai sana aja ya, ceritanya,” Ken mengusap pelan tempurung kepala Kiara. “Kita sama – sama tahu sisanya.”
Perlahan Kiara melepaskan tubuhnya dari pelukan Ken. Ken pun tak menahannya.
“Ketika aku tahu bahwa om Reza,”
“Sudah, Ra,” Ken memalingkan wajahnya.
Kiara berusaha meraih lagi tangan Ken, juga perhatiannya.
Ken menoleh memandang Kiara.
“Ketika aku tahu om Reza adalah ayahmu, aku juga sama terkejutnya,” Kiara mengangkat wajahnya balik memandang mata cokelat Ken. “Sejak ayahku pergi, Ibu selalu berusaha terlihat kuat Ken. Meski aku tahu sebenarnya enggak,”
“Aku juga ngga paham kenapa kita bisa sekuat ini lima tahun terakhir. Tapi bersahabat denganmu, aku sudah cukup. Bahkan sangat cukup.”
Ken menegakkan tubuhnya. “Ra, lima tahun aku sama kamu. Ibumu kenal aku Ra. Terus kenapa kedatangan Papa bisa sebegitunya menghancurkan lima tahun kita Ra? Mereka baru saja bertemu, tak seharusnya mereka..”
Kiara ikut menegakkan pandangannya pada Ken. “Yang kamu sebut mereka itu termasuk ibuku di dalamnya Ken.”
“Maaf,” Ken menunduk.
Ruang tunggu yang sepi ini seketika terasa sesak, Kiara telah menemui jalan buntu. Kiara telah mati dimakan harapan. Ia melayangkan pandang ke seluruh ruangan. Berharap dengan cara itu ia bisa menemukan ayahnya yang berdiri tegak dan menuntunnya pada jalan yang tepat.
“Lima tahun yang kamu agungkan itu tidak ada apa – apanya bila dibandingkan dengan komitmen mereka, Ken.” Ucap Kiara, dingin.
Ken merasa telak. Kata – kata Kiara tepat menghujam jantungnya.
“Ibu bilang, Ibu sangat sayang Ayah. Aku tak pernah meragukan cinta mereka. Sampai akhir hayatnya, Ayah masih erat menggenggam tangan Ibu. Aku saksinya,” Kiara mengubah posisi duduknya. “Ketika aku baru pulang sekolah selepas Isya, aku masih sering mendengar Ibu terisak dalam solatnya, Ketika aku hendak berangkat, tak jarang ibu melamun sembari mengoles selai pada rotiku. Aku ngga mau egoku menjadikan ibuku kesepian di sepanjang sisa hidupnya.”
“Tunggu,” Tukas Kiara. “Aku belum selesai.” Kiara bungkam sejenak.
“Aku mau kamu melihat ini dari sisi orangtua kita. Ibuku ngga akan kesepian lagi, dia akan senang kan? Ayahmu juga,” Kiara menyunggingkan senyum, meski matanya menatap kosong dan berair. “Lagi pula, kita masih bisa sama – sama Ken. Ngga akan ada yang berubah.”
“Beda, Ra.” Ken Lirih.
Kiara menoleh ke arah Ken. “Apa bedanya? Kita bersahabat lima tahun ini, apa lagi yang bisa lebih hebat dari kita yang menjadi sepasang saudara?”
Ken baru hendak menjawab Kiara ketika Mang Emon dengan wajah sedikit lega, keluar dari ruang UGD. Ken dan Kiara lekas berdiri dan menghampiri Mang Emon.
Mang Emon tersenyum tulus. “Syukur Alhamdulillah, neng Kia, a,” menoleh ke arah Kiara dan Ken secara bergantian. “Hatur nuhun, kalau teu aya eneng jeung aa. Saya teh,” Mang Emon mengusap wajahnya. “Meuni lieur pokokna mah.”
Kiara tersenyum. “Alhamdulillah, Mang. Kaya sama siapa aja. Oh, iya Mang,” Kiara merogoh saku tasnya, mencari kunci gembok Kios Mang Emon. “Ini kunci gemboknya dan bayar siomay aku dan Kenny,” Ia memberikan kunci dan beberapa lembar uang pada Mang Emon.
Mang Emon menerima kuncinya namun mengembalikam uang yang diberikan Kiara. “Atuh ngga usah bayar neng. Saya teh geus ngarepotkeun.”
“Ih, Mang Emon. Kalau ngga diterima, aku nanti berhenti jadi langganan Mang Emon.” Goda Kiara yang mengundang tawa di wajah Mang Emon. Ken ikut tersenyum mendengarnya.
“Terima Kasih sekali lagi, neng, a,” sekali lagi membungkuk ke Kiara dan Ken. “Si eneng, udah ditinggal ambuna dari dia baru lahir, dia satu – satuna nu Mamang punya,”
“Dulu, nininya Intan, nini teh nenek,” Mang Emon menjelaskan. “Ngalarang hubungan Mamang sama Ambu. Tapi kita nekat wae, hidup sederhana. Waktu ngelahirin Intan, bidan teh bilang. Berat bayina kurang. Kuduna mah disesar, Mamang belum ada uang,” Mang Emon menghela napas sejenak. “Neneknya sempat mau kasih bantuan biaya. Syaratna, Intan jeung ambuna harus tinggal sama keluarga mereka. Mamang pasrah a, jujur wae. Tapi si Ambu teh memang keras kepala. Keukeuh wae lahiran normal. Ngga mau pisah.”
Kiara dan Ken saling pandang selama beberapa jenak sebelum Mang Emon melanjutkan ceritanya.
“Cinta itu harus berani dan memberanikan. Mamang saat itu benar – benar terpukul. Mamang ngerasa kalau Ambu ngga menikah dengan Mamang, mungkin saat ini beliau masih ada,”
“Tapi itu namanya takdir neng. Meski sekarang Ambu sudah ngga ada yah, Mamang teh bersyukur pisan, masih ada Intan. Tuhan selalu memberikan kita nikmat di setiap pengorbanan yang kita berikan. Percaya wae, apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, geus aya nu ngatur,” Mang Emon tersenyum. “Kadang – kadang memang kita berpikir kalau hidup teh ngga adil. Jalanna beda sama  yang kita mau. Tapi, kita ngga pernah tahu neng, apa nu aya di depan. Boleh jadi, Mamang justru akan menyesal kalau dulu tidak menikah dengan Ambu.”
Setelah mendengarkan cerita Panjang soal kehidupan Mang Emon dan almarhumah istrinya, Ken dan Kiara berpamitan. Tentu saja setelah mereka menemui gadis kecil bermata bulat dan berkulit cokelat, Intan. Mang Emon masih bisa terus mencintai Istrinya melalui Intan. Ia tak pernah benar – benar kehilangan cinta dalam hidupnya.
Di lobby rumah sakit, Ken meraih tangan Kiara dan mengajak perempuan itu duduk di salah satu kursi tunggu yang kosong. Gadis itu tak menolaknya, Ia justru duduk dengan tenang menghadap Ken. Untuk beberapa menit, mereka hanya diam dengan tangan tertaut.
“Ngga akan mudah memang,” Kiara yang berbicara. “Tapi toh kita akan tetap bersama,” air mata pertama jatuh di pelupuk mata kirinya. “Aku janji, siapa pun pendamping hidupku nanti, dia akan jadi sahabatmu. Teman main playstation, karena kamu tahu aku sama sekali tidak mahir bermain game. Kamu juga harus janji. Siapa pun istrimu nanti, dia akan jadi teman diskusi masak yang seru untukku,” Kiara menyunggingkan senyum.
“Di antara aku, atau Ibu. Harus ada yang bahagia.  Sudah cukup mereka berkorban untuk kita. Mungkin ini saatnya kita berkorban untuk kebehagiaan mereka,” Kiara memberi ruang pada dirinya untuk bernafas. “Dan bila aku harus memilih satu kecut dalam hidupku, kekecutan itu adalah dengan tidak meninggalkan Ibu sendiri bersama duka, meski harus kehilangan kamu yang belum pernah kumiliki, Ken.”
Senyum Kiara tak mengundang senyum di wajah Ken. Kepalanya terasa begitu berat, seperti terhantam palu godam. Ia tak pernah menyangka bahwa arah hubungannya dengan Kiara harus menemui ujung seperti ini. Seperti ucapan Mang Emon, bahwa mungkin Ia akan menyesal kalau tidak menikahi ambunya Intan. Kini penyesalan itu hadir di permukaan hidup Ken. Banyak waktu yang Ia sia – siakan, mengapa tak lebih awal.
“Ken,” Kiara membuyarkan lamunan Ken. “Let’s pretend that feeling never exist.”
“Aku ngga janji, Ra.”
“Lagi pula aku ngga pernah tahu apa yang kamu rasain kan? Now, go look for another girl,” goda Kiara dengan wajah sembap. “Yasudah. Aku pamit ya, sampai bertemu nanti malam. Bilang ayahmu, jangan terlambat datang. Seperti aku, ibuku tak suka menunggu.”
“Aku antar?” Jawab Ken sebagai usaha terakhir.
Kiara menggeleng. “I’m good, Bye.” Kiara melambaikan tangan pada Ken yang bergeming di kursi panjang. Mata cokelatnya tak lagi hangat. Kini memerah menahan amarah. Entah harus ditujukan pada siapa. Pada waktu? Atau pada dirinya sendiri.  Ken harus belajar menerima, seperti Mang Emon. Tetap bersama pilihan hati, meski tak hidup seutuhnya.
Seperti aliran air pada sungai. Walau bermula pada satu hulu, tak berarti akan berakhir pada muara yang sama.