020416 to infinity and beyond
Di hari pernikahan saya dan suami bulan April lalu, Alhamdulillah segalanya berjalan lancar. It was a blissful day, karena banyak teman dan keluarga yang datang mendoakan kebahagiaan kami (doa yang sama juga untuk kalian semua *kecup*). It was a blessed day too, karena saat akad nikah kami berkesempatan mendengarkan khutbah yang sangat sangat indah, dari seorang guru yang saya hormati.
Mengingat isi khutbah tersebut jadi kojo di saat hal-hal terasa rumit. Bahwa esensi pernikahan itu sederhana: berkhidmat, menghormati, dan menyayangi.
So I’m gonna share his writing; a self reminder. Dan bagi yang sedang akan menikah, I think this will ease your mind. (karena, yah, biasanya kalau mau nikah semua orang kasih nasihat segambreng-gambreng sampai tertekan. Stay strong!).
“One day, you will come to me and ask, which one is more important: my life or yours? I will say, ‘my life.’ And you will walk away from me not knowing that…you ARE my life…” (Khalil Gibran)
Bismillahirrahmanirrahim Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Untuk kali kedua, saya membubuhkan tandatangan di lembar pernikahan. Don’t get me wrong, kali ini saya menjadi saksi pernikahan. Sejarah. Saya belum pernah jadi saksi resmi sebelumnya. Terima kasih dan selamat untuk pasangan Nurlina Khairunnisa dan Arief Maulana Fajrin. Nurlina adalah lulusan SMA Plus Muthahhari bersama adik dan kakaknya. Adalah kehormatan bagi saya, Nurlina meminta saya menjadi saksi hari bersejarahnya.
Ia meminta saya memberikan khutbah nikah pula. Bagi saya, bukan kali yang pertama. Tapi entah mengapa, baru kali ini saya deg-degan. Baru kali ini saya merasa, puluhan mata yang hadir tajam memandang saya. Pengantin pria di sisi lain, cukup relaks dan santai. Ia beberapa kali tersenyum dan tertawa.
Saya mencoba mencairkan suasana. Saya sampaikan hadis Baginda Nabi Saw, tentang empat saat ketika pintu langit terbuka: di waktu hujan, di waktu pintu Ka’bah terbuka, pada saat orangtua memandang pada anaknya dengan pandangan kasih dan pada saat pernikahan. Bila tidak sedang hujan, maka pada pernikahan ada dua saat pintu langit terbuka: pandangan kasih orangtua dan diucapkannya ijab dan kabul.
Karena itu, ketahui benar kadar menghadiri majelis pernikahan. Kepada pengantin juga saya sampaikan bahwa pernikahan mengajarkan pada kita perkhidmatan. Keluarga yang jauh datang, yang sibuk menyempatkan pulang. Mereka bersolek yang terbaik untuk membahagiakan kita. Orang yang membantu pernikahan, dapat pahala tak terkira. Bayangkan pahala Bapak KUA.
Inti dari khutbah nikah saya. Satu, hormati suami karena ia memikul tanggungjawab seberat para nabi. Kalau ia tergelincir, ia bisa dikutuk seperti Bani Israil yang melanggar perjanjian. Dua, sayangi istri. Karena tidak memuliakan istri kecuali seorang shiddiq, syahid, atau orang yang Allah Ta’ala kehendaki baginya kebahagiaan di dunia dan akhirat (Al-Bihar 104:132); dan tiga, meski benar ada paradigma hak dan kewajiban antar suami-istri, mari kedepankan paradigma perkhidmatan. Bahwa satu sama lain berlomba: siapa di antara mereka yang paling baik pada sesamanya. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarga.” Sabda Baginda Nabi Saw.
Usai dari menghadiri majelis pernikahan itu, saya menghadiri Majelis Wiladah Sayyidah Fathimah sa. Milad putri terkasih Nabi Saw itu adalah ungkap bentuk kecintaan pada Rasulullah Saw. Saya percaya inti dari agama adalah empati: berbahagia dengan kebahagiaan sesama, berdukacita dengan penderitaan sesama. Bila Baginda Nabi Saw bersedih, kita pun wajib bersedih. Bila Baginda Nabi Saw berbahagia, kita lebih dari wajib bersukacita. Ketika putri kerajaan langit dan bumi itu lahir ke dunia, bagaimanakah Baginda? Tentu beliau sangat bersukacita. Karena itulah, kita juga sampaikan ungkap cinta.
Di beberapa tempat, ungkap cinta pada Nabi Saw ini terkendala. Santriwati di Bangil di demo kelompok intoleran. Peringatan yang sama di Bondowoso pun tak lepas diganggu oleh mereka yang berseberangan. Bila milad putri Nabi Saw dilarang, bagaimana dengan Hari Kartini, 21 April yang akan datang? Akankah mereka demo juga? Tanya istri saya mengutip seorang kawan.
Yang saya tahu, ungkap cinta pada Baginda mesti didahulukan bahkan dari diri sendiri. Dan saya belajar itu dari anak-anak kelas XII SMA Plus Muthahhari yang menghadapi Ujian Nasional. Berulangkali mereka minta doa. Terakhir, mereka berdoa bersama di Pesantren Babussalam bersama KH. Muchtar Adam. Semoga Allah Ta’ala panjangkan usia Pak Kyai dalam keberkahan dan kesehatan. Saya berangkat umrah, mereka titip doa singkat. Saya bacakan doa itu di Madinah dan Makkah.
“Sudah siap ujian?” Sering saya bertanya. Mereka menjawab, “Insya Allah. Do’akan ya.” Dan kalau berkumpul saya katakan, “Tahukah kalian siapa yang akan lulus? Yaitu mereka yang siap tidak lulus.” Anak-anak bingung memaknainya.
Sama seperti pernikahan, yang perlu anak-anak lakukan adalah memberi yang terbaik. Do your best, God will take care the rest. Hanya sakinah yang dapat dilakukan manusia. Mawaddah dan rahmah adalah anugerah Allah Ta’ala setelah itu. Hanya ungkap cinta pada Sang Putri Rasul Saw yang dapat dilakukan, perkenan Baginda adalah anugerah yang datang setelah itu. Anugerah tiada terkira.
Untuk Lina dan Arief, saya kutipkan Khalil Gibran. Itu pula yang saya titipkan untuk anak-anak kelas XII yang akan ujian, teriring doa kesuksesan yang akan menyertai mereka di langkah ke depan, “One day, you will come to me and ask, which one is more important: my life or yours? I will say, ‘my life.’ And you will walk away from me not knowing that…you ARE my life.”
Hidup seorang guru adalah untuk muridnya. Hidup seorang suami-istri adalah untuk pasangannya. Dan hidup seorang umat adalah untuk junjungannya. Di atas semuanya Allah Ta'ala meridhoi.
Selamat menempuh ujian, dalam berbagai bentuknya: di rumah tangga, di sekolah, dalam beragama. Semua ujian adalah tanda cinta. Sungguh, Allah Ta’ala mencintai seorang mukmin. Tidaklah lewat empatpuluh hari, kecuali ada ujian yang menderanya. Mari saling berdoa untuk sesama.
Miftah F. Rakhmat, 2 April 2016










