Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sebuah kebetulan yang amat kebetulan adalah tetap rencana Tuhan yang tidak pernah meleset walau sepersejuta mili. Maka, orang2 yang kita temui, kejadian2 yang dilewati, pagi, siang, malam, selalu menyimpan misteri. Ada tujuannya, ada maksudnya. *tere liye Ya, saya percaya bahwa tidak ada kebetulan di muka bumi ini. Bahwa semua sudah rencana Tuhan. Maka, bukan kebetulan juga ketika saya dengan tololnya asal pilih pada pilihan kedua lokasi penempatan tes CPNS. Dengan begonya langsung pilih BBKSDA NTT, dengan pikiran yg penting ibukota, jadi nggak sengsara-sengsara amat. Dengan pikiran NTT itu deket dengan Provinsi Bali dan NTB, jadi ntar bisa puas juga jalan-jalan. Tanpa pikir panjang. Tanpa cari tahu dulu. Tanpa tahu kalo terpisah pulau sangat jauh, tanpa tahu tiket ke Bali atau ke NTB kalo dari Kupang tetep aja mahal. Tanpa tahu kalo Kupang susah air, listrik dan sinyal. Dengan begonya juga pilih formasi Pengendali Ekosistem Hutan, yang dari judulnya sepertinya keren. Lalu kemudian saya sadar setelah melihat Peta Indonesia, bahwa Kupang teramat jauh dari Bali dan Lombok! Yang kemudian disambut tawa massal teman-teman saya yang sebenernya nggak beda jauh begonya dengan saya. Mungkin cuma saya yang ketika TKB (Tes Kemampuan Bidang) CPNS malah berdoa supaya nggak keterima sekalian di pilihan kedua maupun ketiga. Tapi sepertinya sejak awal Tuhan memang punya rencana melempar saya ke kota ini. Voila! Saya justru diterima di pilihan kedua, sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di BBKSDA NTT. Dan yang lebih aneh lagi, saya punya kesempatan untuk mengundurkan diri, tapi justru saya terima tawaran untuk dilempar ke Kupang. Pun bukan suatu kebetulan ketika teman saya (Muhammad Ikbal Putera) suatu pagi rempong menelpon saya, karena ketololannya salah input nama temannya pada tiket pesawat perjalanan dinasnya. Yang kemudian mengharuskan saya membantu si rempong Ikbal, karena memang ada pos jaga BBKSDA NTT di Bandara El Tari Kupang dan teman kantor yang bisa membantu masalah seperti ini. Mungkin alasan saya harus bekerja di Kupang lalu alasan si rempong Ikbal salah input nama adalah alasan yang sama untuk bertemu Erik Miguna di Bandara El Tari, sesosok pria pembawa kardus di kedua tangannya, khas sekali pemudik Indonesia. Ya, pertemuan pertama kami adalah di Bandara El Tari, akibat ketololan saudara Muhammad Ikbal Putera, meski kami satu kantor, meski dia senior saya. Sudah pasti bukan kebetulan juga ketika Ikbal mengajak saya makan di S*laria, karena di tempat Ikbal bekerja memang lebih terpencil dari tempat saya bekerja, melepas rindu ingin kembali mencicip sedikit peradaban sambil menunggu pesawat transit. Tadinya saya pikir mungkin Tuhan marah dan saya mendapat adzab karena saya yang hari itu berniat puasa, lalu batal karena godaan syaithon Muhammad Ikbal Putera kemudian mulas, sakit perut. Tapi kemudian saya sadar, itu bukan adzab Tuhan. Karena di tengah keterburu-buruan saya mencari toilet, saya kembali bertemu dengan sesosok pria pembawa kardus yang tadi. Walaupun saat itu saya sewot setengah mampus, orang lagi buru-buru cari toilet, harus bertemu orang yang kemudian sok akrab menyapa, "Eh, ketemu lagi. Mau kemana Sin?", lalu saya jawab, "Mau eek!" sambil lari terbirit-birit mencari toliet. Dan anehnya justru kata-kata "Mau eek!" itu yang membuat dia jatuh hati. Aneh!