dua cards
No title available

@theartofmadeline

roma★
todays bird

Discoholic 🪩

Origami Around
Misplaced Lens Cap
occasionally subtle

No title available

blake kathryn

Kaledo Art
ojovivo
One Nice Bug Per Day

#extradirty
Peter Solarz
AnasAbdin
DEAR READER

祝日 / Permanent Vacation

oozey mess
wallacepolsom

seen from Italy

seen from Switzerland

seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Argentina
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from Canada
@nurwiryantisihantomo
dua cards
Dulu, aku bersekolah di SMP Muhammadiyah dekat rumahku. Jaraknya lebih dekat SMPku dari rumah ketimbang SDku dari rumah. Aku biasa pulang jalan kaki kalau tidak dijemput.
SMPku dulu baru, tapi bukan baru bangunannya. Aku termasuk angkatan kedua atau ketiga (?) di sekolah itu tapi harus menempati gedung lama, yang mana gedung itu adalah bekas SMP yang dulu sempat dibubarkan karena kekurangan murid.
Satu angkatanku berisikan 21 orang, satu kelas saja. Guru-gurunya disubsidi dari guru SD Muhammadiyah di dekat situ juga. Karena muridnya sedikit, aku sempat merasakan menjadi ketua IRM atau OSIS kalo di sekolah negeri. Haha. Waktu dipilih, aku menangis di hadapan guruku. 'Ndak sanggup pak, kenapa harus saya? Saya kan cewek, masih ada yang cowok' begitu kataku dulu. Tapi yaudah dijalani saja. Paling pontang panting waktu dulu bikin acara lomba dan harus cari dana. Pekerjaan macam apakah ini? Administrasi, humas, acara, diborong semuanya. Haha. Untung masih dibantu guru-guru. Dari situ belajar dikit-dikit bahwa hidup ndak cuma sekedar baca komik dan jajan di Pak Bas yang punya warung samping sekolah.
Terus karena kami sekolah baru yang muridnya sedikit, jadi suka tiba2 ditunjuk buat ikutan lomba aneh-aneh. Biar apa? Biar sekolah kami dikenal juga lah. Tiap kali ditanya pas lomba, 'dari smp mana dek?' Kujawab nama sekolahku, pasti gaada yang tau haha. Lomba yang biasa diikuti kayak semacam lomba ngaji, cca, mading, musikalisasi puisi, olimpiade, dll. Tapi karena sumberdaya sekolah juga terbatas, ya diajarinnya juga seadanya. Satu hal yang membedakan setelah kami sering ditunjuk adalah hilang urat malunya. Aku ini dasarnya introvert lho, cuma karena banyak melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses, ya gitu, urat malunya cuma muncul kadang-kadang aja, seringnya malu-maluin. Mikroskop pun kami cuma punya satu buat ganti2an ujian praktek ipa kelas sembilan. Tapi kami jadi sering belajar di luar, di halaman, di sungai, di kebun orang, di jalan, kayak sekolah alam yak? Haha. Tapi kami bahagia lho. Santai bener hidupnya. Yaa hasil akhirnya kayak aku begini. Aneh. Tapi ya gitu, ngangenin.
Pas aku kelas 2 SD, kadang kalo ga dijemput ibuk dari sekolah aku pulang naik kopades. Tau kopades? Itu lho kalo di Kendari namanya pete-pete. Dulu aku dikasih duit buat naik kopades 500 rupiah sama ibuk.
Pernah suatu ketika, aku duduk di depan pintu. Waktu itu agak penuh sih kopadesnya. Eh baru jalan 100 meter, recehan 200 rupiahnya jatoh, ke jalanan. Ga mungkin dong aku salto keluar. Yaudah langsung keringat dingin. Padahal kalo dipikir-pikir mah yaudah sih jalan aja terus kalo nanti dimaki-maki sama sopirnya terima aja gitu kan. Tapi dasar aku polos banget waktu itu. Setelah setengah jalan aku memutuskan untuk berhenti dan pulang dengan jalan kaki. Masih ada 2 kilo waktu itu. Hahaha. Bayangin ada anak kecil, jalan sampe rumahnya panas-panas. Tapi dalam pikiranku waktu itu, ya aku harus bayar sesuai dengan uang yang aku punya. Uangku tinggal 300 rupiah, maka jarak yang berhak kutempuh dengan kopades ya sekian kilo begitu 😆
Di jalan pulang, ketemu Pak Muzaki, temen gaulnya bapak, nawarin nganterin pulang naik motor. Langsung keingetan bapak ibuk pernah bilang gaboleh ngerepotin orang, yaudah kutolak saja. Padahal kalo dipikir-pikir lagi mah yaudah sih bareng aja haha. Dulu polos banget, sekarang udah terpapar kerasnya dunia jadi ya begini 😆
Menjadi Kembang Api yang Terlambat Dinyalakan
Malam itu 30 Desember 2019. Aku bersama teman-temanku berada di bawah lampu untuk dijajakan. Kepada orang yang lewat di depan kami, Eyang berkata “Mari kembang apinya, sayang anak, sayang anak”. Malam itu dingin sekali memang, tidak banyak orang di keluar, apalagi setelah hujan seperti hari ini.
Malam mulai larut, sepasang ayah dan anak mendekat, melihat-lihat kami, menunjuk diriku, menawar, membeliku, dan kemudian membawaku pergi. “Dadah Eyang, terima kasih telah menjualku”, kataku sambil melihat Eyang yang tidak melihatku lagi. Aku adalah kembang api yang memiliki ekspektasi dinyalakan saat pergantian tahun dini hari. Aku akan menjadi penyemarak pergantian tahun bersama teman-temanku yang lain. Begitu pikirku. Anak kecil yang membawaku pergi tertawa riang sambil mendeskripsikan rencana malam tahun barunya bersamaku kepada ayahnya. Aku pun bahagia membayangkannya. Tujuan hidupku akan tercapai esok hari!
Esoknya aku melihat anak itu sangat menantikan malam tahun barunya. Tidak henti-hentinya dia memamerkanku kepada kawan-kawannya sambil bermain sepeda sesiangan. Dibawanya aku mengelilingi kompleks rumahnya, dari blok satu ke blok yang lain. Girang sekali.
Malam tiba, pukul 9 malam, dan aku melihat anak kecil itu sudah tertidur sambil memegangku erat. Sepertinya aku tidak akan bertemu dengan teman-temanku untuk menyemarakkan pergantian tahun malam ini. Sedih. Tapi tidak apa-apa. Toh besok-besok aku masih bisa dinyalakan. Toh hari ini anak kecil itu sudah tertawa kegirangan. Toh bukan berarti aku tidak dapat dinyalakan karena kehujanan.
Tanggal 1 Januari 2020. Anak kecil itu bangun dengan hati yang sedih. “Kenapa aku bisa ketiduran” gumamnya. Hari itu dia membuat resolusi pertama dalam hidupnya.
Dear, My Future Husband
Dear, My Future Husband. Jika esok kamu dapati aku banyak ngomelnya, mengomentari banyak hal tentang dirimu, ketahuilah hal itu bukan karena aku tidak menerimamu apa adanya. Bukan pula karena aku tidak bersyukur. Aku ingin kita bertumbuh, melangkah maju dan semakin baik bersama.
Kamu pernah berkata “Ayo ke Surga bersama-sama.” maka menjadi tanggungjawabku pulalah untuk mengingatkanmu ketika lalai. Mengritik atau bahkan mendebatmu terkait sesuatu yang kurang pas menurutku. Kita bisa berdiskusi seperti kawan karib yang sama-sama ingin menjadi baik. Sebab jika aku berdiam diri sedangkan kulihat kamu berjalan ke arah yang salah, cita-cita kita bisa saja jadi isapan jempol belaka. Kita jelas tak menginginkannya.
Pun ketika kamu mendapati kekhilafan ada padaku, jangan sungkan menasihati. Kita bisa membahasnya sambil minum kopi dan melihat senja. Seperti anak indie pada umunya wkwkwk.
Ketika memutuskan bersama, kita sadar jalan di depan tidak mudah, tapi tidak juga akan selalu sulit. Naik turunnya perasaanku atau ketidakpekaan dirimu suatu hari pasti kita hadapi. Yang kita butuhkan hanya saling bicara, saling mengerti, menghormati, memahami dan menasihati. Sebab memang begitulah manusia, tidak sempurna.
Dear, My Future Husband. Surat ini, ditulis dulu saja. Siapa kamu esok, biar Allah yang menjawab. Tapi, doaku masih dan selalu, semoga kamu adalah yang kuusahakan kini.
(Beberapa kali melihat Ibuk ngomel-ngomel sama Bapak (memberi masukan terkait perkara yang baik), jadi terpikir hikmah ini. Menulis ini menahan geli. Tapi, karena kalimat-kalimatnya menari-nari di pikiran sedari tadi, jadi dituliskan saja.)
Jatuh cinta, bagi sebagian orang, bukan cuma urusan perasaan, tapi juga perjalanan iman.
Perkenalan seseorang dengan seseorang (dari kemungkinan 7 milyar manusia yang ada di bumi), kemudian tumbuh kecenderungan yang (entah dengan cara apa Allah menjadikanya) tidak bertepuk sebelah tangan adalah peristiwa besar. “Bagaimana mungkin kamu?” “Kenapa bukan orang lain?” Semesta bergerak dan menyusun cerita hanya agar dua orang bisa bertemu.
Ada pula saat-saat di mana hati sudah mengikhlaskan, sebab dilihat dari sisi manapun nampak-nampaknya tak mungkin bisa diperjuangkan. Cukup. Sudah. Selesai. Tidak mau lagi bertemu. Namun, di waktu yang sama Allah justru datangkan lagi dia, membuat bingung. Doa-doa yang sebelumnya telah menyublim ke udara itu tiba-tiba menjelma menjadi kenyataan yang dibayar kontan. Membuat gelagapan “Apa maksudnya semua ini???”
Lalu, saat perasaan sedang membuncah, ketika apapun tentangnya selalu mengisi hari-hari, membuat rona merah di wajah, tersipu nan malu-malu, Allah beri ujian yang membuat keadaan menjadi seakan-akan “Sedekat apapun kalian, belum tentu satu tujuan.” Lantas keadaan menjadi serba membingungkan “Kenapa jadi seperti ini?”
Mari coba kita renungi.
Ketika kita hilang harapan, menggerutu, merutuki nasib dan perasaan, hampir menyerah, patah hati, tidak punya semangat, Allah kabulkan doa-doa kita yang mengendap di langit. Seakan hendak menyampaikan “Jangan putus asa, tetaplah berdoa, Aku mendengarnya.”
Saat kita terbawa perasaan, terlena dengan keadaan, menganggap sempurna ia yang kita cintai, hingga semua rencana indah bersama nampaknya akan kita gapai dengan mudah, Allah tegur kita. Seakan-akan memberikan nasihat “Tidak ada yang pernah menjadi milikmu, semua hanya titipan. Kamu tahu siapa yang kekal? Aku. Maka cintailah Aku saja, sedalam-dalamnya. Akan Aku persatukan kelak mereka yang sama-sama mencintaiku, sedalam-dalamnya.”
Betapa Allah ingin kita selalu dekat. Allah tumbuhkan rasa harap agar kita tetap berdoa, sebab kehilangan harapan membuat kita jauh.
Betapa Allah ingin kita selalu dekat. Allah juga beri rasa khawatir agar kita selalu ingat, berharap kepada manusia akan selalu tiba masa kecewanya. Sebaliknya, berharap kepada Allah tidak pernah menemui kekecewaaannya. Pun, terlalu terlena dengan keadaan bisa membuat kita jauh.
Maka benar nampaknya jika jatuh cinta, bagi sebagian orang, bukan cuma urusan perasaan, tapi juga perjalanan iman.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” [QS. Adz Dzariyaat (51):49].
Ya, intinya gitu. Hehe.
Di balik indahnya kisah cinta dan pertemuan seseorang dengan seseorang, ada Allah dan kebesaran-Nya. Allah ingin kita berpikir dan percaya, mengimaninya dengan hati yang utuh. Kelak, rasa percaya itu akan menjadi alasan mempertahankan di saat perasaan tidak lagi kuat menjadi sandaran.
Terima kasih yayak, ini super sekali..
Tentang Perantauan
Hampir setahun saya di pulau seberang, mempelajari bahasa dan logat orang-orang agar lebih membumi, mengikuti kebiasaan orang-orang agar tak dipandang terlalu aneh atau terlalu sok. Antara mudah hingga tak mudah kadar kesulitannya.
Masalahnya, seminggu ini saya berusaha menemukan niche saya. Seperti kutu loncat dari satu agenda ke agenda lain. Banyak mencoba hal baru. Where do i belong to?
Hari pertama saya ikut pengajian, rasanya sudah jadi makhluk paling aneh. Mbak2 yang lain pakai gamis besar warna gelap dan sebagiannya bercadar. Saya? The only one yang datang pakai gamis full color kembang-kembang. Dilihatin banyak jamaah..
Hari ketiga saya ikut acara volunteer, tidak seperti yang lain saya kurang merasa nyaman dengan energi yang terlalu menyeruak diantara mereka. Saya kan kalem anaknya. Tertatih saya mengikuti sesuai batas energi saya. Akhirnya menyerah sendiri.
Hari keempat diajak nonton film hits superhero, gasuka.. gak ikutan..
Hari kelima ikut konser, band nya saya suka. Tapi terlalu ramai buat saya. Too crowded. Too small to see. Buat saya yang under 150hektar tingginya, itu adalah little hell. Saya harus pandai menyesuaikan diri biar gak diketekin para raksasa.
Dan.. sebenernya saya suka semua agendanya, hanya belum sesuka itu. Apakah ujaran witing tresno jalaran seko kulino akan terbuktikan disini? Atau witing tresno jalaran ra ono liyo yang akan menang? Mau gamau akan cinta karena tidak ada yang lain? Atau akan muncul karena terbiasa?
Sepertinya, untuk sementara saya nikmati dulu apa yang ditawarkan teman-teman disini. Selama no harmful keknya its oke deh. Kalo kata ibuk dijalanin dulu aja. Ye gak?
Paling tidak, dari misi pencarian niche ini -meski belum ditemukan- saya sudah menemukan orang-orang baik dan luar biasa yang saya tahu punya kadar sayang lebih hingga saya kecipratan. Sebagai balasannya, saya ingin guyur mereka dengan kasih sayang saya juga. Wkwk.
Maafkan kalo kata2nya aneh. No edit2. Ini cuma sampah otak.
Salam kocak!
Kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk mampu memahamimu. Bila saja di saat yang sama dia memang tidak mau memahamimu.
Percuma bersikeras menjabarkan ini itu kepadanya. Jika saja yang kamu lakukan tetap tidak diinginkannya.
Jangan memaksakan seseorang untuk mengerti kamu, jika saja di saat yang sama dia memang tidak peduli inginmu. Dia hanya ingin didengar, dia hanya ingin memenangkan egonya sendiri.
Kamu hanya akan lelah bicara, tanpa pernah diserap apa yang kamu katakan. Kamu hanya akan lelah menjabarkan, sementara dia memang tidak butuh apa yang kamu katakan.
Pergilah. Mungkin dengan pergi hidupmu lebih berfaedah.
–boycandra
cukup
Suatu sore waktu KL, mama saya berpesan seperti ini :
“hidup adalah tentang kecukupan, sebab hanya langit yang tanpa batas”.
Saya terdiam mencerna dalam-dalam makna kalimatnya.
“Makan secukupnya tidak perlu mewah dan mahal. Punya baju secukupnya, tidak perlu yang serba branded. Liburan secukupnya, sesederhana pulang ke rumah untuk melaraskan pikiran dan hati. Hidup itu secukupnya, jangan terlalu tinggi, jangan juga terlalu rendah"
“Sebab, semua yang kita miliki saat ini adalah titipan, sewaktu-waktu bisa diambil tanpa permisi oleh penciptaNya. Kalau sudah begitu apa yang tersisa ?”
Saya masih terdiam di ujung telepon
“Hmm, gak ada ma” jawabku pelan
Mama menghela napas lembut di ujung sana sambil melanjutkan kalimatnya ” yang tersisa adalah kamu dan kebaikan-kebaikan yang pernah kamu lakukan” ” mulai sekarang, segala hal tentang dunia harus belajar untuk dicukupkan mbak, mama juga masih belajar nih. Bukan berarti pelit atau antipati, harus belajar menekan hawa nafsu, harus ingat bahwa semua di dunia ini hanyalah titipan, ngapain beli banyak-banyak kalau yang lama masih layak”
“Iyaa ma”
“cukup itu kunci kedamaian hati. Uang bisa di cari, tapi ketentraman hati tidak. Mulai sekarang harus belajar cukup ya mba, tidak kurang tidak lebih”
“Termasuk dalam hal mencari pasangan hidup. Cari yang sederhana terhadap urusan dunia, namun cintanya besar untukmu dan kepada Tuhan”
Klik, telepon dimatikan
Aku duduk di pinggiran tempat tidur sambil terus bergumam, apa sih yang dikejar Lin…
Hidup adalah tentang kecukupan, sebab hanya langit yang tanpa batas..
Sedang galau masalah ini, semoga terus istiqomah dengan hati yang penuh syukur..
Tentang Menikah
Bagi saya, memutuskan untuk menikah adalah tentang mendudukkan dua kalimat ini dengan adil: “kalau ga siap, mending jangan nikah” dan “kalau nunggu sempurna, kapan siapnya.” Dua sudut pandang yang fatal akibatnya kalau saya memihak salah satunya membabi buta.
Tak ada yang salah. Tapi tentu setiap pilihan ada resikonya. Dan cara meminimalisirnya adalah dengan bersikap tengah-tengah. Menyegerakan tapi tak buru-buru. Menyiapkan tapi tak buang-buang waktu.
Memang pada akhirnya kembali ke diri masing-masing orang jika yang kita bicarakan adalah perihal ukuran. ‘Segera’ itu kapan waktunya, dan 'siap’ itu apa batas minimumnya.
Menjustifikasi orang dengan bilang, “Lo kelamaan, nunggu apa lagi sih,” atau, “gila cepet amat, mau dikasih makan apa ntar istrinya,” tak akan memecahkan masalah apa-apa.
Ukuran kita tak sama. Kamu tak tau pasti beban apa yang seseorang tanggung sehingga dia masih belum menikah. Sama halnya kamu tak mengerti seberapa besar tekad seseorang dan seberapa yakin dia dengan rencana hidupnya sehingga dia berani menikah dalam kondisi yang menurutmu terlalu dini.
Sangat cepat atau sangat siap bukan jaminan dan bukan satu-satunya parameter kebaikan. Bersikaplah pertengahan.
Jika ini tentang dirimu, jangan tertekan dengan kata orang. Dari semua manusia, kamu yang paling mengerti dirimu. Jika ini tentang orang lain, sebelum bicara hendaknya kamu do'akan dulu. Sudah?
— Taufik Aulia
Mylog : Pergi Melamar
Hari kemarin setahun lalu, aink pergi melamar.
Berangkat dari Bandung sama keluarga inti dan beberapa kerabat trus ketika nyampe majalengka, saudara-saudara mamah yang orang pribumi juga ikut mengiringi lamaran. Alhamdulillah lamaran diterima.
Kalo dipikir pake logika dan kondisi dompet saat itu, kok aink berani ngelamar? Dengan modal yang kata sebagian orang seadanya, aink maju ngelamar. Bukan karena aink nyepelein pernikahan sehingga bawa modal seadanya, tapi sebisa-bisa aink ngemodal harta ketika itu ya emang segitu.
Alhamdulillah, menjelang hari lamaran dan pernikahan semua kebutuhan yang di atas kertas masih kosong pendanaannya tiba-tiba cukup. Aink jadi menikah. Disini aink bilang tiba-tiba karena memang aink dan istri yang waktu itu masih calon memang ga punya dana yang mencukupi. Kami cuma siapin planning, butuh apa aja, acaranya gimana, cuma kayak gitu. Itu kami persiapkan dari awal pacaran sebelum tujuh bulan kemudian resmi menikah.
Ketika proses, satu persatu to-do-list mulai kami cicil. Kenalan sama keluarga inti, ramah tamah dengan keluarga besar, planning lamaran dan nikah, sampai minta restu sama wali. Semua dikebut tujuh bulan, dengan keyakinan Allah yang nanti menyiapkan dananya.
Nekat? Engga, kalo kata ustad Hanan, ini namanya Faith.
Ketika mengusahakan sesuatu yang baik karena Allah, modal utamanya bukan ikhtiar tapi keyakinan. Ikhtiar yang terbaik cuma kewajiban kita. Belum tentu berkorelasi dengan hasil untuk bisa dijadikan modal.
Selama proses, aink cukup stress. Sebagaimana lelaki pada umumnya yang hendak menikahi anak orang lain, aink selalu bertanya-tanya. Gimana nafkahinnya ntar, dapet darimana modal nikahnya, tinggal dimana ntar, kalo usaha ga lancar gimana dst,. dll,. wr.wb..
Ketika itu, istri yang masih calon selalu mengingatkan “Allah pasti nolong, kita ga akan dibiarin gitu aja. Sesusah apapun insya Allah ga akan ampe ga makan”. (ini nih calon istri idaman, daebak. Coba ditiru ya akhwat-akhwat).
Dan begitulah, ucapannya terbukti. Se-ga-punya-uang-gimana juga kita masih tetep bisa makan. Meskipun sebab-sebab rejeki yang kasat mata seperti bekerja dan berdagang hasilnya lagi ga bagus, rejeki tetap jalan terus. Sering banget di rumah tiba-tiba banyak makanan tanpa harus keluar uang.
Kayak minggu kemarin, istri pengen makan buah-buahan. Besoknya beli jambu batu sekilo (ini ikhtiarnya), besok-besoknya tiba-tiba datang alpukat mentega, dukuh, kedongdong, manggis dan pepaya. Yang diikhtiarin segimana, yang dikasih segimana. Ga meching emang.
Sama kayak lagi usaha. Uda nyoba ini itu, uda ikhtiar segala dicoba tapi kalo belum waktunya rejeki turun ya omset segitu-gitu aja. Tapi ketika ga diusahain, rejeki malah dateng.
Jangan berpikiran sempit dengan menyimpulkan kalo rejeki datang dengan meninggalkan ikhtiar. Rejeki kapan turun dan segimana banyaknya harus diyakini terserah Allah. Suka-suka Allah. Manusia ikhtiar sebagai pemenuhan kewajiban dan ladang amal.
Bisa aja ada orang ga kerja tapi bisa hidup 80 tahun tanpa kekurangan makanan. Tapi nanti di hari akhir dia ga punya pahala dari kerja keras mencari penghidupan yang halal di dunia. Padahal kata nabi ada dosa yang ga bisa dihapus kecuali dengan bekerja keras mencari nafkah.
Yakin dan paham konsep ini ga bisa sekali jadi. Aink pun masih terbata-bata dalam memahami ini. Tapi sekalinya paham betul, insyaAllah ujian hidup ga akan jadi beban. Kaya miskin nikmatin aja.
Sama halnya dengan menikah,.
Kalau memang uda punya keinginan yang baik dan mau menjalani prosesnya, InsyaAllah dibantu. Aink ga bisa ngasi banyak tips ke temen-temen aink yang belum dan pengen nikah. Cuy, perihal keyakinan ga bisa disampaikan semata via lisan.
Banyak kok yang lebih berada dari aink menunda nikah karena merasa belum cukup modal meski uda ada calon. Atau uda punya modal tapi belum juga nemu calon. Kebanyakan menetapkan ‘standar’ sendiri yang cenderung menyulitkan dan belum tentu berdampak besar ke kehidupan pasca pernikahan. Satu tips dari aink, sebaik apa pun orang punya persiapan sebelum nikah, ujian pasca nikah akan selalu ada.
Ada yang mesti punya kerjaan tetap baru mau nikah. Eh, ternyata baru beberapa lama nikah di-PHK. Ada yang ga punya kerjaan tetap, serabutan dan masih kuliah, trus nikah eh sekarang uda punya anak dua dan hidup tenang.
Planning memang mesti ada. Wajib. Tapi menggantungkan nasib sama sebab-sebab duniawi melebihi rasa percaya kita sama Allah itu yang ga boleh.
Throwback setahun lalu ketika mau nikah. Kalo dipikir-pikir, modal utama aink menikah memang bukan harta benda. Tapi, kerelaan untuk diuji dan kesiapan untuk berbaik sangka pada Allah. Modal yang ga aink kumpulin sendiri tapi dirintis dan dikumpulin bareng-bareng sama calon istri yang sekarang uda jadi istri.
Tulis hapus tulis hapus gitu aja terus sampe kiamat
Saya kembali, boleh ya, Tumblr?
Luluslah sebelum kampusmu menjadi terlalu asing bagimu, sebelum teman-temanmu tergantikan oleh mahasiswa baru
Dalam sebuah obrolan suatu sore, seorang ibu dari teman saya mengatakan kepada anak perempuannya, “Dia nikahnya nanti dulu, biar habis dulu egonya.”
Kalimat itu terngiang-ngiang dan saya mau menuliskan hikmah yang saya dapatkan. Perihal menghabiskan ego ini menarik dan saya berkaca pada diri...
Aku bahkan sudah lupa kapan kita berkenalan.
Ayok unyi semangat. Walau lambat asal konsisten. Segera dimulai dengan baik biar segera diakhiri dengan baik pula.
Unyi, edisi menyemangati diri sendiri