Lebih dekat dengan Suku Dayak #2: Tiwah, Ritual Mewah buat Arwah Ayah
Nama saya Sinde. Saya gadis dayak asli kelahiran Desa Tewang Rangas, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Genap sudah satu tahun ayah pergi ke hadirat Ranying Hatalla Langit. Meninggalkan saya, dua adik, dan ibu.
Tahun lalu, tepat hari Sabtu, 8 Agustus 2015, berkat bantuan Pemerintahan Kabupaten Katingan, saya dan keluarga bisa melakukan ritual tiwah buat mengantar arwah ayah. Tiwah kali ini diadakan secara massal. Selain kami, ada 19 keluarga lain juga ikut menggelar tiwah. Usia kematian ayah saya paling muda. Neneknya Tiul sudah 14 tahun meninggal dan baru kali ini keluarganya mampu melakukan Tiwah.
Terima Kasih, Pak Bupati.
Pemkab Katingan menghabiskan uang sekitar Rp 500 juta dalam gelaran tiwah massal kali ini. Sebagian besarnya digunakan untuk membeli sesembahan untuk nenek moyang. Buat arwah ayah, keluarga kami harus menyiapkan satu ekor kerbau atau babi. Jika dalam keadaan tidak mampu, ayam bisa jadi pengganti sebagai sesembahan.
"Akan disediakan kerbau atau babi," begitu kata Pak Yaben, SKPD utusan Pak Bupati, saat itu. Semua biaya pembelian hewan itu, sekali lagi, ditanggung pemerintah. Syukurlah, pikir saya.
Sebanyak 4 kerbau dan 16 babi disembelih pada hari pertama pelaksanaan ritual tiwah.
Pak Yaben, warga asli Tewang Rangas, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah ini didaulat Bupati untuk mengurusi tiwah massal bersama seorang pisor muda bernama Abdi. Keduanya bertanggung jawab atas ritual ini. Satu bulan sebelum pelaksanaan, Pak Yaben datang ke Balai Desa kami untuk memastikan jumlah keluarga yang berniat men-tiwah-kan arwah anggota keluarganya. Sebanyak 20 nama dicatatnya dalam secarik kertas.
"Dari 20 nama, didahulukan 14 ya, karena posisi makamnya lebih dekat," kata Pak Yaben.
Keenam sisanya, Pak Yaben menambahkan, akan dilakukan esok pagi karena letak kuburannya cukup jauh. "Harus nyebrang sungai, kah?" tanya Yaben pada Abdi. Abdi mengangguk tanda sepakat.
Letak kuburan ayah tak jauh dari rumah. Butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk sampai ke sana. Sore itu, adik saya memikul cangkul bersama tiga belas pria tangguh lain menuju ke pemakaman. Keluarga, sekalipun tetangga atau tamu boleh ikut sekiranya kuat menghadapi mayat.
Penggalian kuburan dimulai. Peti mati ayah mulai terlihat. Ibu mulai menitikkan air mata dan meminta adik perempuan saya mengantarnya ke rumah karena tak kuasa lagi menahan sungkawa. Saya mencoba bertahan sebisanya. Sesekali saya terisak. Beberapa anggota keluarga perlahan berhamburan pergi. Lagi-lagi karena tak kuat.
Adik lelaki saya mengangkat peti mati itu ke permukaan. Kelelakiannya rapuh. Pertahanannya ambruk. Dia tak kuasa membuka peti mati coklat yang dikerubuti rayap. "Biar kau saja, Kak," katanya. Matanya berkaca-kaca.
Pakaian yang dikenakan ayah terlihat lusuh. Baju dan harta bendanya dipenuhi tanah. Rambut ayah berserakkan. Hanya tulang tengkorak dan beberapa tulang lain yang masih utuh. Pisor Abdi menggelar sebuah kain batik tepat di sebelah peti mati ayah. Pelan-pelan dia memindahkan semua yang tersisa dari ayah ke dalam kain itu.
"Mana peti mati baru ayahmu?" tanyanya.
Ayah sudah di dalam peti barunya. Saya dan adik memangku peti itu ke Bale Raung, tempat peristirahatan sementara ayah sebelum beralih tempat ke haribaan yang lebih suci. Ibu dan adik sudah menunggu di balai. Potret ayah dalam figura setia dipelukkan ibu. Adik perempuan saya tergolek lemas di pangkuannya.
Hal yang sama tak hanya terlihat di mata ibu. Pak Rico, Bu Linde, dan Nenek Riam pun demikian. Kenangan bersama almarhum otomatis terputar di pikiran mereka. Tak jauh juga terjadi pada saya.
Tiga tahun sudah Pak Rico berusaha mengikhlaskan kepergian putra semata wayangnya yang meninggal karena tenggelam di Sungai Samba. Bu Linday masih terus terngiang rengekan bayi perempuannya yang meregang nyawa tak lama setelah tangisan perdananya di muka bumi. Nenek Riam masih memeluk potret jadul suaminya yang telah pergi 21 tahun lalu.
Tiwah sebetulnya tidak bertujuan untuk mengorek luka lama pedihnya ditinggalkan anggota keluarga tercinta. Masyarakat Dayak Ngaju, termasuk saya percaya, ritual ini bertujuan menyambut suka cita tibanya para arwah di sisi Ranying. Puluhan krat bir dan 25 liter baram didatangkan ke desa. Kami hendak berpesta nanti malam.
Mengantarkan sang arwah ke tempat peristirahatan abadinya dipercaya sebagai sebuah pesta. Ayah akan berada di tempat paling baik, di sisi Ranying Hatalla Langit. Tempat terbaik untuk para arwah.
***
Catatan penulis: Sebagai penulis amatir, saya mencoba menulis dengan kata ganti orang pertama 'saya' dengan lakon Sinde. Boleh ya?
Saya mewawancarai Sinde setelah prosesi ritual selesai. Sepanjang prosesi ritual, Sinde menolak ditanya-tanya. Dirinya hanya meminta saya memerhatikan dari jauh. Bagi saya, itu cukup untuk memenuhi kebutuhan reportase. Sayang, dia dan keluarga menolak dipotret. Alhasil, saya mengambil foto dengan angle medium dan keberadaan mereka tertutup sanak famili lain yang juga ikut melaksanakan ritual tiwah.
Kenapa baru saya posting hari ini? Jawabannya, butuh percaya diri tinggi untuk mempublikasikan tulisan ini ke dunia per-tumblr-an. Sedikit keberanian juga perlu. Pasalnya, saya tidak punya foto Sinde. Boleh ya itu jadi alasan saya kenapa selama ini ragu mem-posting tulisan ini?
Terima Kasih. Nantikan #Lebihdekatdengansukudayak seri ketiga.
-nyd-














