Yok ke http://globe.mosquelife.com/obendon
Kode verifikasi plwqti2ymv7rwphfmmnjqvvpya2q9m
j8s8naenkh
Xuebing Du
taylor price

JVL

JBB: An Artblog!
ojovivo
Game of Thrones Daily
cherry valley forever
dirt enthusiast
NASA

shark vs the universe

PR's Tumblrdome
we're not kids anymore.

Love Begins

oozey mess
Lint Roller? I Barely Know Her
Sade Olutola
h
Sweet Seals For You, Always
art blog(derogatory)
YOU ARE THE REASON
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Sweden

seen from United States

seen from United States

seen from Austria

seen from Russia

seen from Indonesia
seen from Denmark

seen from United States

seen from Brazil
seen from France

seen from Indonesia
seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Singapore
seen from Russia
@obendon-blog
Yok ke http://globe.mosquelife.com/obendon
Kode verifikasi plwqti2ymv7rwphfmmnjqvvpya2q9m
j8s8naenkh
Dieng Culture Festival, Ajang Jual Diri Pariwisata Dieng
Puncak Dieng Culture Festival (DCF) 2012, jatuh pada Minggu, 1 Juli 2012 diisi dengan acara Ritual Ruwatan Rambut Gembel. Rambut gembel atau gimbal adalah rambut yang tumbuh menggumpal yang ditemui pada beberapa anak di Dataran Tinggi Dieng. Dari Ibu Nur yang menyediakan dua kamar besar di lantai dua rumahnya untuk kami inapi karena tidak mendapatkan kamar di penginapan, saya mendapat pencerahan bahwa anak berambut gembel ini diyakini sebagai anak bajang titipan Ratu Kidul. Bila rambut gembal hendak dipotong maka sang anak perlu diruwat terlebih dahulu, agar rambut gembelnya bisa berganti menjadi rambut biasa. Gembel tidak muncul dengan tiba-tiba, biasanya diawali demam pada si anak. Dalam ruwatan tersebut, ada permintaan khusus dari sang anak yang harus dituruti oleh orang tuanya; jika tidak maka gembelnya akan tetap muncul biarpun sudah dicukur. Gembel yang telah dipotong kemudian dilarung di sungai menuju laut selatan tempat bersemayam Gusti Kanjeng Nyai Roro Kidul. Penuturan Ibu Nur, menambah semangat saya menyantap sarapan yang baru diangkat dari perapian berupa sajian kentang rebus, sayur kacang, orak-arik telur dan tahu pedes yang berpindah ke perut dalam sekejap sebelum beranjak dari Kapak Benteng ke Dieng. Tempat acara dibatasi dengan kain putih yang mengitari kawasan candi Arjuna hingga Puntadewa, pihak penyelenggara pun memberlakukan ketentuan yang tidak dipahami oleh pengunjung. Anehnya, ketentuan yang dituturkan oleh setiap panitia berbeda! Awalnya setelah mengambil tempat di depan Candi Puntadewa, para pengunjung yang telah memadati pelataran candi diusir keluar oleh beberapa panitia dengan alasan kawasan tersebut boleh dimasuki setelah arak-arakan tiba di lokasi. Setelah menunggu satu setengah jam akhirnya sesajian dan permintaan anak-anak yang akan diruwat dibawa masuk ke lokasi. Beberapa pengunjung yang memakai tanda pengenal yang dikeluarkan oleh panitia, diijinkan melintas di depan Arjuna ke depan Puntadewa, padahal dari seorang panitia lainnya saya mendengar yang boleh masuk saat itu hanya yang memakai tanda pengenal wartawan. Penjaga pintu mulai kewalahan didesak oleh pengunjung yang merasa berhak ikut melihat dari dekat acara potong rambut karena telah membeli tanda masuk seharga Rp 25,000 per orang. Meski tak memiliki tanda masuk karena baru mengetahui aturan tersebut dari celoteh orang-orang, saya pasang kuda-kuda untuk ikut melompati pagar pembatas bersama beberapa warga yang berdiri di dekat saya. Begitu petugas lengah, saya turunkan kain pembatas, melompat pagar dan berlari kencang mengambil posisi di depan candi yang dibatasi oleh tali rafia kuning dan digantungi tulisan fotografer.
Massa yang melintas pagar putih semakin banyak, teriakan petugas kemanan yang meminta pengunjung untuk menunjukkan kartu identitas wartawan sebagai persyaratan berada di dekat Puntadewa tak digubris sama sekali. Saya merasa aman berjongkok disamping jurnalis dari Global TV, tak jauh dari kameramen Metro TV dan beberapa jurnalis daerah yang serempak mengeluarkan catatan kecil ketika acara dimulai. Badan sudah tak bisa bergerak sama sekali, yang bisa dilakukan hanya menggeser pantat dan kaki setiap lima detik sambil tak lupa berucap kata maaf kepada cowok-cowok yang duduk di samping kiri kanan dan belakang menghindari kaki kram. Karena tak memiliki ruang gerak yang cukup nyaman untuk mengeluarkan blocknote andalan dari dalam tas untuk menulis, saya terpaksa mengandalkan memori untuk merekam rangkaian acara sambil sesekali mengambil gambar kegiatan yang berlangsung di depan mata.
Tawa dan sorak pengunjung terdengar riuh rendah setiap kali pembawa acara membacakan beragam permintaan 6 (enam) bocah yang diruwat hari itu. Ada yang meminta seekor kambing, sepeda dan sepuluh butir telur ayam, anting-anting emas, lima mangkok bakso plus seekor ayam jago, uang Rp 1,000 dan Rp 100 serta yang bikin geeeer pengunjung adalah permintaan Milkita dan Milkuat. Ruwatan rambut gembel, biasanya diadakan menjelang bulan puasa; dulunya dilangsungkan secara sederhana oleh keluarga tapi tiga tahun ini tradisi ruwatan dijadikan ajang untuk menarik pengunjung ke Kawasan Wisata Dieng oleh penggiat wisata dan Dinas Pariwisata Banjarnegara. Ya, semacam ajang jual diri pemerintah daerah setempat, dijadikan komoditi andalan pariwisata daerah dan sebagai acara puncak DCF setiap tahunnya.
Tak tahan kaki kram, usai pemotongan gembel anak ketiga saya beranjak dari kerumunan menembus lautan manusia mencari udara segar. Ternyata di belakang ada objek lain yang bisa dilihat, Rizi bocah berambut gembel yang menjadi primadona Dieng sedang dikerubuti pengunjung. Bocah berambut gimbal pari yang asik memainkan HP ini, menjadi pusat perhatian pengunjung yang berlomba menjangkau rambutnya, mengabadikannya dengan beragam kamera hingga Rizi berlari menghilang dari kerumunan.
Selain DCF, ada banyak objek wisata yang bisa disambangi saat berkunjung ke Kawasan Wisata Dieng. Beberapa diantaranya Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran dan Dieng Plateu Theater (DPT) yang berada dalam satu kawasan. Tiket untuk masuk ke lokasi Rp 6,000/pengunjung, seharga tiket masuk teater untuk menonton film dokumenter fenomena alam di DPT. Pengunjung dapat pula menikmati wisata candi dengan menyambagi candi Hindu dari Candi Bima, Gatot Kaca, Puntadewa, Semar hingga Arjuna. Bila tak ingin repot, silahkan membeli tiket terusan di pintu masuk kawasan wisata seharga Rp 15,000/pengunjung.
Berkunjung ke Dieng belumlah lengkap bila belum mencicipi kentang goreng, jamur krispi, manisan carica dan ramuan dewa purwaceng yang dipercaya dapat meningkatkan stamina lelaki serta menghalau dingin. Mungkin karena gak pas ceng-nya, malam sebelumnya setelah menenggak segelas purwaceng jahe saya tetap melangkah ke warung sebelah membeli sarung tangan dan celana wool untuk menghangatkan kaki dari dinginnya malam. Jajanan khas ini banyak ditemui di sekitar objek wisata.
Tanpa DCF, Dataran Tinggi Dieng sudah menjadi target kunjungan para pejalan dari dalam maupuan luar negeri. Kultur dan keindahan alamnya memikat mata, hadirkan kerinduan untuk mendatangi dataran tertinggi kedua dunia setelah Nepal ini. Sebagai pejalan yang selalu tertarik menikmati kultur dan budaya setiap tempat yang dikunjungi, harapan terbesar saya DCF tidak sekedar menjadi ajang pamer budaya dan mengisi pundi-pundi pemda serta penggiat wisata dengan menaikkan harga kala berlangsungnya DCF. Jadikanlah DCF sebagai ajang untuk memperkenalkan keunikan budaya dan kultur Dieng kepada para pengunjung dengan mengelola kegiatannya dengan baik. Ruwatan gembel adalah sebuah prosesi yang sakral bagi warga Dieng, jangan sampai kesakralannya terkontaminasi oleh pungutan dan peraturan tak jelas dari penyelenggara. Pesan buat para pengunjung, tolong jangan kotori Dieng dan sekitarnya dengan tangan jahil dan sampah anda! Dengan atau tanpa DCF, suatu hari nanti saya pasti kembali ke Dieng. [oli3ve]
Di Timur Matahari, Lagu Perjuangan yang Terlupakan
Pagi ini saya iseng bertanya pada Om Gugel, informasi apa yang bisa diberikan bila saya mengetikkan tiga kata “di timur matahari” ? Dalam waktu 0,08 detik ada sekitar 2,250,000 pilihan informasi ditampilkan di layar monitor dan 10 informasi teratas tentang film Di Timur Matahari yang sedang tayang di bioskop. Saya iseng lagi, dengan menambahkan dua kata di depan pencarian pertama menjadi “wr soepratman di timur matahari”, hasilnya? 100% informasi yang ditampilkan berbeda! Adakah orang seiseng saya yang terpikir untuk menambahkan dua kata terakhir di depan pencarian awal?
Dengan cara iseng ini terjawab sudah kegelisahan Jay Wijayanto di Goethe-Haus Concert Hall, Jakarta Selasa malam (26/6) lalu. Bersama The Indonesia Choir (TIC) dan The Indonesia Children Choir (TICC), Jay Wijayanto sang konduktor mempersembahkan sebuah lagu wajib nasional yang mungkin asing di kuping beberapa penonton berjudul Di Timur Matahari karya WR Soepratman. Lagu yang mengaduk-aduk perasaan jika kita bisa menikmati dan meresapi pesan yang disampaikan lewat syairnya yang sederhana:
di timur matahari mulai bercahya
bangun dan berdiri kawan semua
marilah mengatur barisan kita
pemuda pemudi Indonesia
Maka sangatlah wajar bila sehabis melantukan lagu di atas, Jay Wijayanto berbalik dan bertanya kepada penonton yang menyesaki ruang konser malam itu,”kenangan apa yang pertama kali terbersit di pikiran anda saat mendengar lagu ini?” Seorang ibu di deretan penonton dekat panggung menjawab, Di Timur Matahari mengingatkannya pada kenangan masa kecil d Ambarawa, pergi pulang sekolah dengan berjalan kaki terkadang tanpa alas kaki.
Bagi saya pribadi, lagu tersebut membawa pada kenangan masa kecil menanti dengan sabar jadwal tayang acara Kamera Ria, Parade Senja atau Upacara 17 Agustus di TVRI pada era 80-an. Di Timur Matahari menjadi salah satu lagu wajib nasional yang sering diperdengarkan pada parade lagu-lagu perjuangan seusai Upacara 17 Agustus di Istana Negara. Melalui acara tersebut saya banyak belajar, mengenal dan menghapal lagu-lagu perjuangan. Mengingatkan saya pada mata pelajaran kesenian sewaktu duduk di bangku SD hingga SMP, bernyanyi di depan kelas. Ketika teman-teman sekelas lebih banyak memilih lagu pop, saya berulang-ulang tampil membawakan Rayuan Pulau Kelapa yang dihapalin dengan terkantuk-kantuk menunggu berakhirnya siaran TVRI, Teguh Kukuh Berlapis Baja atau Nyiur Hijau. Lagu yang sering membuat teman sekelas bertanya darimana saya belajar lagu-lagu tersebut, kan bu guru belum mengajarkan lagu itu?
Kembali pada konser TIC yang bertajuk Manik-manik Khatulistiwa, seperti pada konser-konser sebelumnya selain lagu perjuangan TIC dan TICC juga tampil membawakan lagu daerah maupun pop. Menurut Jay Wijayanto apresiasi kekayaan dan karya anak negeri harus dimulai dari bangsanya sendiri, banyak orang yang ribut-ribut ketika terjadi klaim budaya tapi bagaimana apresiasi mereka terhadap budaya daerahnya sendiri? Hal inilah yang ingin diperkenalkan dan dibangkitkan melalui konser interaktif yang digelar TIC untuk keempat kalinya. Jay yang cukup kocak menimpali setiap penampilan TIC ataupun TICC menjadikan acara konser bergulir tanpa terasa. Di sela-sela berakhirnya sebuah lagu, Jay acap kali memberikan pertanyaan yang mungkin tak terpikirkan oleh penonton maupun anggota TICC. Pertanyaan seperti Rasuna Said itu perempuan atau laki-laki, apa kepanjangan dari kata AT di depan nama AT Mahmud? Untuk meyakinkan jawaban pada pertanyaan pertama, Jay meminta yang penasaran untuk datang ke Pasar Festival dan memperhatikan patung Rasuna Said yang ada di sana.
Sesuatu yang unik dari konser TIC ketika mereka tampil membawakan Ave Maria di Nusantara. Mereka memadukan Ave Maria - J.S. Bach yang dibawakan oleh solis Alice C. Putri ditemani seorang Qori yang tampil membacakan Surat Al Maidah ayat 116-118 dan diiringi kelompok paduan suara yang sayup-sayup mendendangkan Kalimat Syahadat dan Salam Maria. Ada medley Ambilkan Bulan, Pamanku Datang dan O Amelia karya AT Mahmud yang dibawakan oleh TICC. Untuk mengenang Bapak Paduan Suara Indonesia Nottier Simanungkalit yang berpulang pada 9 Maret 2012 lalu, TIC pun membawakan beberapa lagu gubahan almarhum seperti Api Ke
merdekaan dan Peralihan.
Yang membedakan TIC dengan konser paduan suara kebanyakan adalah ada satu sesi dimana konduktor selalu mengajak serta penonton untuk ikut bernyanyi. Maka penonton pun hanyut dalam syahdu turut melantunkan Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki.
TIC dan TICC meyakini musik sebagai media yang kuat untuk mengembangkan kepribadian dan membangun identitas bangsa yang dapat diterima oleh semua kalangan. Konser ditutup dengan menghadirkan Toni Sianipar yang tampil bersama TIC membawakan Puspa Indah Taman Hati karya Guruh Soekarno Putra dengan latar belakang gambar film berjudul sama yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Mari belajar mengapresiasi karya anak bangsa lewat seni budaya Indonesia. Salam budaya. [oli3ve]
Segelas Teh, Sejuta Kenangan di Peristirahatan Sang Maestro
Belumlah lengkap menulis tentang Raden Saleh Sjarif Bustaman tanpa menjenguk tempat peristirahatan terakhirnya di Desa Bondongan, Bogor. Sabtu pagi itu, saya bangun agak kesiangan karena malamnya pulang larut selepas menyaksikan konser puja-puji di Usmar Ismail, Jakarta. Jam dinding di kamar menunjukkan pk 08 tepat, dikurangi 10 artinya pk 07.50 (jamnya sengaja disetel lebih cepat 10 menit). Lasma yang bersemangat menerima ajakan bermain ke Bogor mengirimkan sms dirinya sudah otw ke stasiun Cawang. Setelah bersusah payah melawan rasa kantuk dan mengumpulkan nyawa, akhirnya badan ini bisa diajak bangun. Mengheningkan cipta sejenak mensyukuri napas hidup yang masih dikaruniakan Sang Khalik berikut pagi yang cerah sebelum menggeret paksa kaki ke kamar mandi.
Pk 09 saya baru beranjak ke halte TransJakarta (TJ) Senayan diantar Pak Kumis. TJ agak lowong, meski berdiri tapi kepala gak sampai menempel dengan ketiak penumpang di kiri kanan sehingga perjalanan agak nyaman. Sisa kepulan asap mie rebus spesial telor yang sudah dipesan lewat sms, menyambut kedatangan saya di Stasiun Cawang tandas dalam sekejap. Pk 09.30, dengan bersemangat kami masuk gerbong pertama commuter line bersama rombongan ibu-ibu pengajian yang tiada henti berkicau. Sepanjang Cawang hingga Cilebut kami berdiri terkantuk-kantuk dibuai angin cepoi-cepoi dari kipas angin yang menari-nari tak jauh dari kepala.
Di stasiun Bogor, kami diserbu para calo angkot yang berusaha menggiring siapa saja yang terlihat keluar dari stasiun untuk naik ke angkutan yang sudah sesak. Tip bagi pengguna jasa angkutan umum, bila berada di keramaian seperti stasiun kereta, terminal bis atau pangkalan angkot pasang tampang pede jangan tergoda tawaran abang-abang calo. Tapi jangan ke-pede-an bisa nyasar naik angkot yang berlawanan arah dengan tujuan hahaha. Super yakin karena tak satu pun orang yang kami tanyai tahu lokasi yang kami tuju, saya mengajak Lasma untuk naik angkot dari seberang stasiun.
“Bang, lewat Raden Saleh?”
“Iya.”
“Makam Pahlawan?”
“Iya neng.”
Sebenarnya saya melihat keraguan di mata sopir angkot trayek 03 jurusan Bubulak - Baranangsiang, entah kenapa kami tetap naik. Lima menit duduk di angkot, saya mulai memperhatikan jalanan yang dilalui. Meski belum pernah ke sana, tapi ada rasa gak nyaman yang membuat tangan merogoh ransel mencari HP dan menelepon Pak Isun. Dodol Garut! salah naik angkot! Harusnya naik 02, tapi server di otak sepertinya sedang ngebul sehingga angka yang dimunculkan oleh mesin pencari memori adalah 03. Kami turun dipadatnya antrian kendaraan di Gunung Batu, menyeberang jalan menunggu angkot trayek 14 sesuai info Pak Isun yang menuju Empang. Tak lupa saya mengomeli sopir sok tahu yang masih terus membela diri mengatakan, “Eeee … di ujung sana juga aya Raden Saleh, Neng.”
Baru sampai di seberang HP bergetar, “Neng, naik angkot dari lampu merah ya, tanyakeun ka Empang, nomor opat belas minta diturunkan ti Raden Saleh, habis tanjakan yang ada tower.” Baru dimatiin eh bergetar lagi,”Angkotna jangan yang ka Laladon, jangan salah lagi bilang ka Empang ya.” Saya mengiyakan aja, padahal saat itu tak tampak mana lampu merah, tower apa yang dimaksud hanya terbayang liwat tanjakan ada gang kecil yang hanya muat dilalui motor di kanan. Sebagai pejalan saya menikmati setiap perjalanan meskipun nyasar karena terkadang saat kesasar itu menemukan hal-hal yang baru dan unik. Pak Asep sopir angkot yang kami tumpangi lebih informatif, ramah dan asik diajak ngobrol. Di tengah jalan doi aplusan dengan rekannya yang lebih berumur dan diam seribu bahasa. Tinggal kami bertiga di angkot, hening hingga kendaraan berhenti setelah tanjakan, “Neng, gang Raden Saleh di seberang.”
Di depan gang dengan gapura bercat merah bertuliskan 17-08-45 dan 17-08-11 ini, seorang lelaki paruh baya tersenyum lebar melihat kami dari seberang jalan. Saya jadi terharu, ada yang khawatir kami tersasar untuk menemukan Gang Raden Saleh yang memang benar-benar kecil. Tak tampak tanda-tanda yang menunjukkan gang ini menuju ke makam seorang maestro lukis dunia. Tanda petunjuk baru terlihat saat menunggu kendaraan kembali ke Bogor mata saya kelayapan ke atas atap gapura melihat tulisan itu tertutup dengan papan reklame, spanduk dan terhalang bentangan kabel listrik. Dulu, mungkin plang itu terlihat besar tapi sekarang hanya akan terbaca bila kita berdiri di bawahnya.
Makam Raden Saleh sempat “hilang” dan baru ditemukan kembali pada 1923 oleh Adung Wirjaatmadja yang kemudian merawatnya dengan sukarela karena berada di lokasi pemakaman keluarga Raden Panoeripan. Pada 1953 makam direstorasi dan dibuka oleh Ir. Soekarno, Presiden R.I. kala itu dengan upacara sederhana. Makamnya diberi nisan dengan penambahan prasasti di sisi kanan makam rancangan Friederich Silaban arsitek yang juga merancang Masjid Istiqlal, Jakarta. Raden Saleh, putra dari Sayid Husen bin Alwi bin Alwal dan Raden Ayu Sarifah, lahir di Terboyo, Semarang. Tanggal kelahirannya tidak jelas, dan di prasastinya tercantum kira-kira 1813/1814. Raden Saleh menghabiskan masa kecilnya di Terboyo di bawah pengawasan pamannya Raden Adipati Surohadi Menggolo, Bupati Semarang yang kemudian mengirimnya belajar kepada para pemimpin Belanda di Batavia pada usia 10 tahun. Atas prakarsa Galeri Nasional, pada 2007 komplek Makam Raden Saleh dipugar untuk kedua kalinya dengan menambahkan bangunan saung yang dilengkapi dengan ruang kecil sebagai ruang istirahat penjaga serta toilet.
Raden Saleh mendapatkan beasiswa dari van der Capellen, Gubernur Hindia Belanda (1819-1826) dan dikirim ke Belanda untuk mendalami seni lukis pada 1829. Selama lebih dari 20 tahun melanglang buana di benua Eropa, pada 1851 Raden Saleh kembali ke Batavia bersama pasangannya wanita keturunan Belanda yang kaya raya. Mereka menempati rumah yang megah dengan halaman sangat luas di kawasan Cikini (sekarang RS Cikini). Halaman belakang rumahnya yang cukup luas dijadikan kebun binatang, dan sekarang telah menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Tahun 1875, Raden Saleh berangkat ke Belanda bersama istrinya Raden Ayu Danurejo. Tiga tahun berkelana di Eropa, mereka kembali ke Hindia Belanda dan menetap di Bogor pada 1878 karena kesehatan istrinya yang menurun setelah menjalani operasi di Paris. Pada 23 April 1880, Raden Saleh meninggal karena pembekuan darah atau trombosis, disusul istrinya pada 31 Juli 1880.
Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda, sebuah tulisan yang terpatri di nisan Raden Saleh ketika ditemukan ini, banyak menuai perdebatan seputar nasionalismenya. Pameran lukisan Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia merupakan pameran yang pertama kali di lakukan di Indonesia setelah lebih 200 tahun kelahirannya. Maestro lukis yang karyanya diminati para kolektor dunia ini akhirnya diterima di tanah airnya. Saya teringat sambutan Wapres Boediono pada malam pembukaan pameran di Galeri Nasional (3/6) lalu, beliau mengatakan,”Sebuah momentum berkesenian terukir dalam sejarah untuk pertama kalinya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, terjadi malam ini. Bapak Modernitas Jawa yang melintas batas kesukuan dan tempat. Raden Saleh Syarif Bustaman adalah contoh ke-bhinnekaan.”
Tak banyak yang tahu informasi tempat ini, sama halnya tak banyak yang tahu siapa Raden Saleh. Gagap sejarah yang menyebar di masyarakat menjadi sebuah momok yang seharusnya bisa dikikis lewat pengenalan dini atas tokoh-tokoh sejarah bagi generasi muda. Di salah satu sudut Saburasa (=Saung Raden Saleh), bertiga pak Isun kami duduk melingkar menikmati semilir angin menuntaskan obrolan siang ditemani segelas teh tawar dan cemilan kue kering. Sepanjang pengalaman saya bertandang ke makam tua atau ke pemakaman mana pun, baru kali ini saya mendapati tuan rumah menyuguhkan makanan buat tamunya. Itu terjadi hanya di tempat peristirahatan sang Maestro, Raden Saleh.[oli3ve]
Mengunjungi Kuhl & Hasselt di Buitenzorg
Matahari tepat di atas ubun-ubun saat langkah kami memasuki pelataran Kebun Raya Bogor (KRB) Sabtu (23/6). Akhirnya setelah empat atau lima tahun dari kunjungan terakhir, baru kali ini punya kesempatan lagi untuk bermain ke kebon besar. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 9,500/pengunjung kami memulai perjalanan berkeliling kebun. Jalan-jalan kali ini saya ditemani seorang kawan yang mauan diajak wisata makam ke Bondongan, Bogor. KRB sebenarnya tidak ada dalam daftar kunjungan, hanya saja karena masih malas untuk balik ke Jakarta kami iseng aja mampir setelah mengisi perut di Suryakencana.
Adalah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1811-1816) yang merintis KRB. Raffless yang senang dengan tanaman menyulap halaman di belakang istana Buitenzorg yang luas menjadi sebuah taman. Tak jauh dari pintu masuk, terdapat monumen untuk mengenang Olivia Mariamne, istri Raffless yang meninggal pada 1814 karena sakit. Makamnya sendiri berada di Kebon Jahe Kober atau sekarang Museum Taman Prasasti, Jakarta. Kami terus melangkah ke dalam KRB hingga sampai di depan monumen Reinwardt (Prof.Caspar George Karl Reinwardt), ahli botani Jerman yang mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman untuk diteliti di kebun botani yang menjadi cikal bakal KRB pada 18 Mei 1817, juga seorang perintis pembuatan herbarium. Pada 1816, Reinwardt diangkat menjadi Menteri Bidang Pertanian, Seni dan Ilmu Pengetahuan di Jawa.
Johan Conraad van Hasselt (kiri) dan Heinrich Kuhl bersahabat hingga ke liang kubur (sumber gambar : www.tropenmuseum.nl)
Teringat makam Belanda yang tanpa sengaja kami temukan pada kunjungan lima tahun lalu, saya lalu mencari-cari jalan kecil menuju pemakaman tersebut. Papan penunjuk makam yang kecil baru terbaca setelah keluar dari dalam hutan bambu karena mendengar seorang anak kecil membacanya keras-keras. Ohhh, ada toh petunjuknya? Di komplek pemakaman yang diberi nama Dutch Graveyard atau Makam Belanda ini, terdapat 42 makam namun hanya 38 yang memiliki identitas. Letak makam di tengah hutan bambu membuat banyak pengunjung kurang tahu tempat ini. Kalau bukan karena rasa penasaran dengan jalan setapak di antara pohon bambu, bisa jadi sampai sekarang saya pun tak akan tahu di situ ada makam. Karena petunjuk makamnya juga kecil di balik sebuah pohon menempel dekat pagar istana. Harap maklum, jika masuk ke sini bisa jadi anda hanya seorang diri atau berpapasan dengan dua atau tiga orang yang bisa jadi kesasar. Oleh karenanya waspadalah …waspadalah!
“Hei loook! Seee, Kuhl and Hasselt!” seru seorang pengunjung yang tiba-tiba muncul di samping saya. Seruan perempuan muda berjilbab itu membuat saya penasaran menanti apa yang akan dilakukannya. Saya berdiri di luar pagar mengamatinya masuk ke dalam pelataran komplek, duduk di depan makam dan meminta kawannya untuk mengabadikan momen bersejarah “perjumpaan dengan idola” itu.
Siapa Kuhl dan Hasselt yang sepintas terdengar seperti Hansel and Gretel di kuping?
Heinrich Kuhl dan Johan Conraad van Hasselt adalah dua sahabat ahli biologi muda yang tergabung dalam The Netherlands Commission for Natural Sciences. Mereka dikirim ke Hindia Belanda pada 1820 untuk bekerja di KRB, untuk mempelajari aneka spesies flora dan fauna sebagai bahan penelitian yang kemudian dikirim ke Museum Leiden. Kuhl meninggal delapan bulan setelah kedatangannya di Bogor karena infeksi liver menjelang usianya yang ke-24 pada 14 September 1821. Sepeninggal sahabatnya, Hasselt terus melanjutkan penelitian namun karena sakit dia pun meninggal pada 1823. Untuk mengenang profesornya di Universitas Groningen, Theodore van Swinderen; Kuhl menamai spesies burung beo Afrika yang ditemukannya pada 1820 dengan Agapornis swindernianus. Nama Kuhl melekat di sejumlah spesies burung, ikan maupun mamalia. Persahabatan Kuhl dan Hasselt ternyata tidak hanya di dunia nyata, hingga ke liang kubur pun mereka tetap bersama.
Makam lain yang ada di KRB diantaranya makam D.J. de Eerens Gubernur Jenderal ke-45 (1836-1840), Cornelis Potmans administrator toko obat dan A.Prins seorang ahli hukum yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Hindia Belanda (Raad van Nederlandsch Indie). Tak jauh dari rimbunan bambu sebuah monumen berdiri di tengah taman untuk mengenang Johannes Elias Teijman, Direktur KRB (1830-1869) yang juga merintis Kebun Raya Cibodas.
Sebelum pulang, kami sempatkan untuk mampir ke bekas rumah dinas Kepala KRB yang sekarang menjadi Guest House Nusa Indah dan masuk ke Museum Zoologi. Pk 16.15 kami berjalan kaki memyusuri Jl Juanda ke Stasiun KA Bogor menanti commuter line membawa kami kembali ke Jakarta. [oli3ve]
Andi Natassya Bawakan Gellu’ Toraja di Miss Asia Pasific World 2012
Tadi pagi sambil sarapan bubur ayam, saya iseng mencet-mencet tombol remote di depan tivi mencari tontonan yang cukup menyegarkan. Setelah pindah dari satu channel ke channel yang lain, gak tahunya semua barengan iklan ;). Yasudah, saya biarkan saja tivi-nya stand by di Indosiar hingga selesai iklan ternyata bagian akhir Kisah Seputar Selebritis aka KISS tentang Putri Pariwisata Indonesia 2011. Lumayan bukan gosip ;)
*****
Andi Tenri Natassya, Putri Pariwisata 2011 terpilih untuk mewakili Indonesia ke ajang Miss Asia Pacific World (MAPW) 2012 yang akan berlangsung di Seoul, Korea Selatan. Jebolan kontes Putri Indonesia 2011 asal Sulawesi Selatan yang juga menyandang gelar Putri Berbakat dan Putri Favorit dari ajang tahun lalu ini, memulai masa karantinanya di Seoul hari ini 11 – 15 Juni 2012.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia, Putri Kuswinuwardhani menjelaskan Caca nama kecil Natassya pada malam unjuk bakat nanti akan mengenakan busana adat Toraja serta membawakan Tari Gellu’. Disamping itu, Caca juga akan mengenakan busana rancangan Hian Tjen bertema hutan tropis sebagai gaun malam pada acara gala dinner. Enam bulan sebelum berangkat, Caca juga sudah dipersiapkan oleh tim Yayasan Puteri Indonesia untuk bersaing di Seoul nanti.
Andi Natassya, Putri Pariwisata Indonesia 2011 dengan busana adat Toraja (sumber : www.antarafoto.com)
Karena dari kecil akrab dengan sajian tari Gellu’, sambil menyuap bubur saya senyum-senyum sendiri. Gerakan Caca sangat kaku, bahkan untuk salah satu gerakan memberi hormat aja antara tangan kiri dan kanan tidak serempak dilipat ke dada. Begitu pun cara duduknya, main langsung jongkok hahaha. Tapi tak mengapa, kostumnya sudah bikin orang melirik koq!
MAPW adalah ajang yang digagas oleh Lawrencw Choi, President Miss Asia Pacific World Competition, dan untuk kedua kalinya Indonesia mengirimkan perwakilannya setelah tahun lalu Puteri Indonesia Pariwisata 2010, Alessandra Usman mengikuti MAPW 2011. [oli3ve]
Raden Saleh, Perancang Busana Pertama Indonesia
Pernah tinggal 22 tahun (1829 - 1851) ditambah 3 tahun pengembaraan (1875-1878) di Eropa, hidup bergaul dengan kalangan bangsawan, menjadi pelukis kerajaan Belanda yang lukisannya digemari kolektor lukisan Eropa; membuat Raden Saleh Syarief Bustaman terbiasa dengan pakaian ala Eropa. Tahun 1851 ketika kembali ke Tanah Air, Raden Saleh sempat bingung dengan kostum yang layak dikenakannya sehari-hari. Meski lama hidup di negeri orang, dalam dirinya tetap menggebu jiwa nasionalis sebagai seorang keturunan Jawa Arab sehingga terpikir olehnya untuk membuat rancangan bajunya sendiri agar bisa tampil beda. Maestro Lukis dan Bapak Modernitas Jawa ini, ternyata juga fashion designer atau perancang busana pertama Indonesia! Hasil rancangannya berupa perpaduan dari busana tradisional Jawa dan busana Barat yang tampak inovatif pada masa itu. Paduan antar jas bersulam ala bangsawan Eropa dengan modifikasi tutup kepala berupa blankon dari Indonesia.
Masih dalam rangkaian peringatan 60 tahun kerjasama Jerman Indonesia (JERIN) dan sebagai bagian dari Pameran Lukisan Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia; Goethe-Institut mengajak para perancang muda Indonesia berpartisipasi dalam lomba rancang busana yang terinspirasi dari karya Raden Saleh. Sebelas perancang yang lolos seleksi pakar seni dan mode dari Indonesia maupun mancanegara, Sabtu malam (9/6) mempresentasikan busana rancangannya di depan dewan juri dan undangan. Acara yang digelar di halaman Galeri Nasional Indonesia, Jakarta bertajuk Raden Saleh Goes Fashion ini, dinilai oleh para juri al: Auguste Soesastro, Diaz Parzada, Helena Abidin, Lenni Tedja, Taruna K. Kusmayadi, Tubagus Andre Sukmana dan Dr. Werner Kraus.
Rancangan yang diperagakan oleh para peragawan dan peragawati di atas catwalk semalam, semuanya menarik dan mengundang decak kagum hadirin. Namun pada akhirnya tetap harus dipilih pemenang dari kompetisi ini. Desainer senior Indonesia, Taruna K. Kusmayadi menjawab pertanyaan pembawa acara Iwet Ramadhan mengatakan rancangan para desainer muda ini ada yang terlihat simpel namun sangat detail cenderung rumit, ada yang terkesan rumit tapi pembuatannya sederhana; sehingga tidaklah sukar bagi para juri untuk menentukan pemenang. Rini K. Konitatin pun dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang lomba rancang busana Raden Saleh Goes Fashion. Rini berhak atas hadiah perjalanan selama seminggu ke Berlin untuk menghadiri Berlin Fashion Week. Disamping Rini, Cynthia Kurniawan mendapatkan hadiah dari BMW yang menjadi sponsor kegiatan sebagai juara favorit pilihan penonton. Pameran Lukisan Raden Saleh sendiri, masih akan berlangsung hingga Minggu, 17 Juni 2012 di Galeri Nasional, Jakarta. [oli3ve]
*****
Tulisan lain yang berhubungan dengan Raden Saleh:
Raden Saleh, Seniman yang Dilupakan Kembali ke Tanah Air
Wapres Boediono Membuka Pameran Monografi Raden Saleh
Putu Anindita Terpilih Sebagai Miss Coffee Indonesia 2012
Dewan juri pada malam Grand Final Miss Coffee Indonesia 2012 yang dihelat di Convention Hall SMESCO Building Jakarta Selasa malam (04/06), akhirnya memilih Putu Anindita sebagai Miss Coffee Indonesia 2012. Anindita, Miss Coffee Bali 2012 ini tersenyum bahagia saat mahkota disematkan di atas kepalanya. Ia berhasil menyisihkan 32 peserta lainnya, para kontestan perwakilan dari 33 propinsi di Indonesia.
Putu Anindita, Miss Coffee Indonesia 2012 (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Ajang pemilihan Miss Coffee Indonesia 2012 diselenggarakan atas kerjasama antara Asosiasi Duta Indonesia dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Di babak lima besar Anindita bersaing dengan kontestan dari Gorontalo, Sulawesi Selatan, Yogyakarta dan DKI Jakarta 2. Ketika diberi pertanyaan apa yang akan dilakukannya untuk mengambangkan kuliner kopi jika terpilih menjadi Miss Coffee Indonesia 2012, dengan lantang Anindita memaparkan akan berbagi manfaat dari minum kopi diantaranya mencegah kanker payudara, melindungi dari penyakit parkinson, mencegah kanker usus dan lain-lain.
33 finalis perwakilan dari 33 propinsi Indonesia di Malam Grand Final Miss Coffee Indonesia 2012 (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Pemenang Miss Coffee Indonesia 2012 bergambar bersama Dewan Juri sesaat setelah penyerahan hadiah (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Kontes Miss Coffee Indonesia 2012 diselenggarakan sebagai salah satu wujud untuk menguatkan pencanangan agrowisata Indonesia. Petikan dari laman Miss Coffee Indonesia 2012, ajang ini merupakan rangkaian dari ajang Miss Coffee Internatioinal yang digagas oleh Indonesia dan sekaligus menjadi tuan rumah untuk tingkat internasional. Diharapkan pula pemenang dari kontestan ini dapat menjadi duta Indonesia untuk mempromosikan produk kopi unggulan Indonesia.
Dari perhelatan semalam dipilih pula Miss Congeniality yang dianugerahkan kepada Yuliana Natalia Manofando (Papua), Miss Talent Mutiarini (Jambi), Miss Inteligent Rizkha Monica Dewi (Banten). Runner Up 4 diraih oleh Risky Anindya - Gorontalo, Runner Up 3 Andi Aisyah Sinta Devi - Sulawesi Selatan, Runner Up 2 Winda Ayu Mandalasari - Yogyakarta dan Runner Up 1 Bianca Beatrice dari DKI Jakarta 2.
Dengan terpilihnya sebagai Miss Coffee Indonesia 2012, maka Putu Anindita akan maju mewakili Indonesia dalam ajang Miss Coffee International 2012 yang akan berlangsung di Bali pada Oktober 2012 mendatang.[oi3ve]
Wapres Boediono Membuka Pameran Monografi Raden Saleh
Sebuah momentum berkesenian terukir dalam sejarah untuk pertama kalinya di Indonesia bahkan mungkin di dunia, terjadi malam ini. Bapak Modernitas Jawa yang melintas batas kesukuan dan tempat; Raden Saleh Syarif Bustaman adalah contoh ke-bhinnekaan. Keturunan Jawa Arab yang besar dalam keluarga bupati di daerah Jawa Tengah, pada usia 22 tahun berangkat ke Eropa untuk mendalami seni lukis dan tinggal di sana selama lebih dari 20 tahun. Demikian disampaikan Wakil Presiden Boediono dalam sambutannya pada pembukaan pameran Raden Saleh dan Awal Lukis Modern Indonesia di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu malam (2/6).
Wapres Boediono di depan lukisan Penangkapan Diponegoro, masterpiece Raden Saleh (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Tampil sebelum Boediono, Dr. Norbert Baas, Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia menyampaikan bahwa Raden Saleh adalah pelukis besar yang dikagumi di Jerman. Lukisannya membuat banyak orang Eropa tertarik dengan kebudayaan Jawa. Sedang Direktur Goethe Institut Indonesia, Franz Xaver Augustin membuka sambutannya dengan membacakan buah pikiran Raden Saleh tahun 1848 yang terpatri di ambang pintu Rumah Biru (Balue Haeusel) di Maxen, Dresden - Jerman, “Hormatilah Tuhan dan cintailah manusia. Give glory to God and love the people”
Sebelum pengguntingan pita sebagai tanda dibukanya pameran, Taufiq Ismail tampil membacakan puisi Penangkapan Diponegoro. Usai pembukaan, Wapres yang datang bersama ibu Herawati Boediono didampingi Norbert Baas, Franz Xaver Augustin, Mantan Presiden B.J. Habibie, Direktur Galeri Nasional Indonesia - Tubagus Andre Sukmana meninjau pameran dan melakukan tur dipandu oleh Werner Kraus, kurator tunggal lukisan Raden Saleh.
Ki-ka: Drs. Tubagus Andre Sukmana-Direktur Galeri Nasional Indonesia, Franz Xaver Augustin-Direktur Goethe Institut Indonesia, Dr. Norbert Baas-Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia & ibu, mantan Presiden BJ Habibie, Wapres Boediono dan ibu serta Dr. Werner Kraus (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Di akhir acara, para tamu undangan pun mendapat kesempatan untuk menikmati malam bersejarah dan melihat dari dekat sekitar 40 (empat puluh) karya Raden Saleh yang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. Tampak diantara undangan: mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, sejarawan dari Oxford University Peter Carey, mantan Menteri KLH Sarwono Kusumaatmadja, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Arif Rahman Hakim, Setiawan Djody, para pejabat teras EKONID dan lain-lain. Malam pembukaan ditutup dengan pamentasan wayang Penangkapan Diponegoro yang naskahnya disadur berdasarkan buku Peter Carey,” The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008)” oleh Sanggar Wayang Kancil pimpinan Mbah Ledjar Subroto dari Yogyakarta.
Foto bersama sebelum pulang ki-ka: Franz Xaver Augustin, Fauzi Bowo, BJ Habibie, Norbert Baas, Wapres Boediono dan ibu, Wener Kraus dan Andre Sukmana (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Pameran Raden Saleh, akan dibuka untuk umum mulai Minggu, 3 Juni 2012 pk 10.00 hingga 17 Juni 2012 dan tidak dipungut biaya. Pameran ini merupakan kegiatan puncak sekaligus menutup perayaan 60 (enam puluh) tahun kerjasama Jerman Indonesia (JERIN) yang berlangsung selama hampir setahun yang mengusung tema kreativitas dalam keberagaman.[oli3ve]
*****
Berita yang terkait:
Raden Saleh, Seniman yang Dilupakan Kembali ke Tanah Air
Informasi tentang JERIN dan Pameran Raden Saleh bisa dilihat di SINI
J.C. van Drongelen, Buah Tangan Khas Surabaya sejak 1923
Saya termasuk orang yang paling malas membeli dan menenteng-nenteng sesuatu ketika sedang bepergian. Kalau pun berbelanja, paling beli selembar kaos atau pernak-pernik lucu dan mungil sehingga bisa diselipin ke dalam tas. Maklum, mau pergi kemana pun berapa hari pun diusahakan hanya membawa satu backpack dan satu tas selempang. Itu soal bawaan, jika menyangkut tempat yang wajib dikunjungi maka sebisanya sehari sebelum berangkat; saya sudah memegang sedikit info satu tempat khusus yang sangat jarang dikunjungi orang. Tempat yang unik hingga sering kali warga di kota tujuan pun tak pernah mendengar namanya apalagi bertandang ke sana.
Maka, ketika berencana untuk transit di Surabaya dalam perjalanan mengisi liburan long week end akhir Mei lalu; saya pun sibuk menjelajah dan bertanya pada om Gugel. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di sini, niat awal mampir di Surabaya adalah untuk menikmati Surabaya Heritage Track (SHT)-nya House of Sampoerna (HOS). Nah, dari hasil mencari info di laman HOS, dapat bonus informasi program khusus SHT pada bulan Desember 2011 lalu kunjungan ke pabrik kecap dan pabrik sirup tertua di Surabaya. Ahaaa! ini dia yang dicari-cari. Setelah mengintip pabrik kecap tertua di Tangerang (tentang kecap benteng dari 1882 ini, saya ceritakan lain waktu) seminggu sebelumnya, satu kunjungan ke pabrik sirup tertua di Surabaya jadi pelengkap paket kunjungan wisata sejarah di bulan Mei 2012. Maka J.C. van Drongelen pun menjadi target pertama dalam itinerary kunjungan singkat di kota Pahlawan.
Pabrik Limoen J.C. van Drongelen & Hellfach, Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Seperti sudah dijelaskan di awal tulisan, terkadang tempat yang ingin saya kunjungi tak dikenal dan terdengar asing di kuping warga yang lahir besar di kota tujuan. Sebelum sampai di depan pintu J.C. van Drongelen, kami mesti mengitari tempatnya sebanyak dua kali, bertanya ke orang-orang di sekitar lokasi sebanyak 3 (tiga) kali dan tak satu pun menunjukkan arah yang benar! Terlaluuuuu!
Pabrik rumahan yang sudah berproduksi dari tahun 1923 ini, bentuk bangunannya masih sama seperti aslinya dengan tulisan “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH” di atasnya.
Didirikan tahoen 1923 oleh JC. van Drongelen.Pabrik Siropen Telasih meroepakan pabrik sirop pertama di Indonesia. Beberapa kali pindah tangan. Pada tahoen 1942 diambil alih oleh Djepang. Setelah pendjadjahan oleh Djepang selesai, pabrik dikoeasai kembali oleh Belanda sampai ada Program Nasionalisasi tahoen 1958, jaitoe semoea peroesahaan Belanda diambil alih oleh Indonesia. Tahoen 1962, diserahkan ke Perusahaan Industri Daerah Makanan & Minuman jang dileboer mendjadi P.D. Aneka Pangan tahoen 1985. Akhirnya pada tahoen 2002 masoek PT Pabrik Es Wira Jaatim. - [disadur dari lembar informasi Siropen Telasih]
Kedatangan saya disambut oleh bapak Syaiful Hidayat, Bussiness Development di Siropen Heritage. Awalnya gak diijinkan untuk berkeliling namun dengan segala daya upaya, akhirnya saya diajak ke dapur dan melihat pengemasan sirup yang semuanya masih dikerjakan secara manual. Kuali besar untuk memasak gula pun masih menggunakan peninggalan jaman Belanda, sedang kayu bakarnya sudah berganti dengan gas. Pabrik ini masih berproduksi dalam skala kecil sehingga pengunjung dapat melihat langsung bagaimana napas industri dari jaman Belanda ini berjaya. Untuk produksi massal, menurut pak Hidayat mereka juga sedang menjajaki untuk menambah pabrik baru selain yang ada di Pandaan. Siropen meluncurkan dua jenis produk yaitu Siropen Telasih dan Siropen Premium. Sebagai produk yang dikhususkan untuk oleh-oleh khas Surabaya, Siropen Premium pun dikemas dengan apik, bentuk botol seperti botol wine dan dilengkapi dengan kotak kemasan yang entengn untuk ditenteng sebagai buah tangan. Dari segi rasa, siropen menawarkan 8 (delapan) jenis rasa yaitu Mawar, Frambosen, Vanili, Cocopandan, Jeruk Keprok, Lychee, Arbei dan Melon.
Terkenal sejak 1923 (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Siropen Telasih dan Siropen Premium dari J.C. van Drongelen (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Puas berkeliling dan berbincang santai dengan pak Hidayat, saya pun pamit sembari tak lupa membeli dua botol Siropen Premium rasa Lychee sebagai buah tangan untuk kenalan di Surabaya dan buat keluarga di Malang. Murah, meriah, nikmat dan menambah pengetahuan itulah yang saya dapatkan dari kunjungan singkat ke Siropen Telasih. [oli3ve]
Haru Biru Berjumpa Oei Hui Lan di The Sugar Baron Room
Ini kali keempat saya berkunjung ke kota Apel, Malang, Jawa Timur dalam 4 (empat) tahun berturu-turut. Kota impian sedari kecil yang akhirnya berhasil dipijak saat tugas kantor akhir 2009 lalu, meski hanya 24 jam tanpa tidur dan tanpa sempat kemana-mana. Yang penting sudah sampai Malang, TITIK! Paling tidak memecahkan rekor gaya nekat saya di 1997 kala rasa bosan mulai menggerayangi padahal baru dua minggu magang di salah satu kontraktor industri kimia di Anyer. Sabtu pagi saat libur tak tahu mau kemana, saya bela-belain antri tiket feri di Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Bakauheni karena sangat ingin menginjak Sumatera. Sampai di seberang, saya bingung mau kemana? Haus dan lapar mengantarkan langkah ke salah satu warung makan Padang. Saya duduk menikmati santap siang sembari liatin orang mondar-mandir di pelabuhan menunggu feri yang akan kembali ke Pelabuhan Merak. That was my 1st solo travelling hahahaha.
Kembali ke Malang. Setelah kunjungan pertama, tahun 2010 saya datang lagi kali ini waktunya lebih lama. Gak kemana-mana juga karena selama dua malam dihabiskan di rumah duka. Barulah pada kunjungan ketiga September 2011, bisa bebas pergi jalan-jalan setelah sebelumnya mengikuti prosesi kawinan teman. Meski sudah jalan-jalan, masih ada yang kurang karena belum kesampaian bertemu Hui Lan padahal sempat nongkrong menikmati wedang secang-nya Und Corner, Hotel Tugu.
Lalu siapa sih Hui Lan?
Saya “mengenal” Oei Hui Lan pertama kali karena tergoda bukunya Agnes Davonar yang dipajang di toko buku langganan pertengahan November 2009 lalu. Benar saja, novel sejarah berjudul Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia ini, membuat saya merem melek melahapnya hingga habis dalam penerbangan pp Jakarta-Surabaya. Hui Lan adalah putri kesayangan dari Oei Tiong Ham, Raja Gula dari Semarang.
Kalau nama ayahnya sih sudah sering dengar, bahkan saat pertama kali mutar-mutar di kota tua Semarang th 2005 pun sempat mengambil gambar di sekitar gedung tua yang dulunya perkantoran Oei Tiong Ham. Tapi kalau anaknya belum pernah tahu ceritanya, itu sebabnya buku tadi langsung disambar hehehe. Meski beberapa lembarannya penuh noda karena tinta cetakannya mleber bahkan agak buram, tak mengurangi kenikmatan mencicipi lembar demi lembar hingga usai. Sedang buku tentang Oei Tiong Ham sendiri baru saya dapatkan di Bengkel Deklamasi-nya Jose Rizal Manua awal Maret 2012 kemarin. Harganya jangan ditanya murah banget, tapi cara bertutur penulisnya gak seasik Agnes Davonar *upz, gak bermaksud membandingkan lho ;)*
Buku yang menginspirasi perjalanan (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Hui Lan lahir di Semarang sebagai anak bungsu dari dua bersaudara (keduanya perempuan) pada th 1889. Usia 11 tahun, ayahnya menghadiahi Hui Lan berlibur ke Singapura ditemani ibu dan kakaknya serta dipesankan kamar di hotel Raffles. Usia 18 tahun, Hui Lan mengikuti ibunya pindah ke London menjadi ratu pesta, bergaul dengan para sosialita serta bersahabat dengan keluarga kerajaan dan kaum bangsawan Eropa. Hui Lan menikah dengan Wellington Koo, diplomat China yang dikenalkan padanya saat mereka berlibur ke Perancis. Tahun 1936 Wellington Koo diangkat sebagai Duta Besar China yang pertama untuk Perancis.
Malang, 18 Mei 2012
Roof top Kampong Turis yang tadinya ramai kayak pasar mendadak sepi. Sahabat-sahabat saya yang biasanya rusuh di kamar sedari tadi sudah berangkat dengan hebohnya ke Bromo. Mereka pergi membawa gembolan masih dalam kostum lengkap yang dikenakan ke acara akad nikah pagi tadi. Kini di dormitory berisi 19 ranjang susun ini, tinggal saya dan seorang cowok bule yang lebih betah jadi cowok rumahan bergoler di ranjangnya yang palig atas.
Setelah menyantap pancake pisang di cafe Kampong yang berada tepat di sebelah kamar, saya pun cabut dari hotel menuju Hotel Tugu diantar abang becak. Seperti saat masuk Majapahit Surabaya, kali ini saya pun berlagak sok tahu walau sempat ditanyain juga sama satpam di lobby karena ‘nenteng gembolan kayak mak-mak habis dari pasar.
“Selamat sore, mau kemana mbak?”
“Sore pak, saya mau masuk keliling-keliling boleh kan?” siyaaaaaaaal, sebagai orang yang paling susah berbohong; kalimat polos itu meluncur dengan mulus dari mulut saya yang tentunya dihiasi senyum lebar. Untungnya satpam di Jawa lebih welcome sama turis lokal hahaha.
“Oh, silahkan mbak, hanya saja nanti kalau mau foto jangan diarahkan langsung ke objeknya ya.”
Yess!! Setelah berterima kasih tanpa perlu basa-basi lebih lama saya melangkah ke dalam hotel, menyusuri lorong-lorong yang membuat penasaran. Dari selasar yang terang benderang, asik menikmati berbagai hiasan dinding hingga tertegun di sebuah ruangan yang gelap gulita dengan aroma melati yang menyengat. Di tengah ruangan terdapat meja kayu panjang dilengkapi dengan bangku yang tersusun rapi, lalu di sekeliling ruangan dihiasi berbagai patung dan lukisan yang dari penampakannya saja sudah bisa dibaca ini adalah koleksi kuno! Oouuuwwwww, where am I? Bukannya buru-buru kabur, saya malah mencoba mengambil gambar di ruangan gelap itu dengan HP. Dari situ baru keluar mencari toilet, tempat yang suka bikin penasaran saat masuk ke dalam gedung tua. Keluar dari toilet, baru deh ketemu dengan seorang staff hotel yang berjalan memeluk tumpukan kain. Pak Ilham ini yang akhirnya menuntun ke jalan yang benar dan mengantarkan saya ke depan Hui Lan.
The Sugar Baron Room, Hotel Tugu Malang. Tampak di ujung kiri foto Oei Tiong Ham dan di kanan pintu lukisan Oei Hui Lan (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Kami masuk ke sebuah ruangan bernama The Sugar Baron Room, ruangan untuk mengenang sang Raja Gula dari Semarang Oei Tiong Ham. Masuk ke ruangan yang dipenuhi dengan pajangan koleksi kuno ini membuat badan sedikit gimanaa gitu. Penasaran belum melihat yang dicari, saya menyerang pak Ilham dengan pertanyaan,”Oei Hui Lan-nya mana pak?”
“Mari, mari mbak adanya di sebelah pintu ini“, tangkis pak Ilham sembari mengajak saya mengintip lukisan yang tergantung di balik pintu besar. Ahaaa, rupanya karena masuk dari arah lobby lukisan tersebut tidak terlihat langsung. Pak Ilham pamit melanjutkan pekerjaannya dan mempersilahkan saya menikmati ruangan raja gula setelah sebelumnya dimintai tolong untuk jepret.
Senang berjumpa dengan Oei Hui Lan. Banyak yg takut foto bareng Hui Lan, tapi ini buat bukti perjumpaan dengan beliau ;) (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Hui Lan meninggal di usia 93 tahun pada 1992. Setelah melanglang buana dari satu negeri ke negeri lainnya, bergaul dengan kaum elite dari berbagai negara; di akhir hayatnya Hui Lan mengatakan:
“Berkenalan dengan kaum ningrat dan orang-orang berduit tidaklah penting, otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita harus menghargai orang-orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu saya, kita harus puas dengan apa yang kita miliki“- [Oei Hui Lan]
Sebuah pertemuan yang mengharukan ya. Di depan lukisan Hui Lan, saya memandang kagum pada wanita pintar yang ujung matanya memandang penuh selidik tepat ke kornea mata saya. [oli3ve]
Raden Saleh, Seniman yang Dilupakan Kembali ke Tanah Air
Raden Saleh tak dapat dipisahkan dengan Diponegoro, keduanya saling terkait. Demikian pendapat Dr. Werner Kraus, ahli sejarah seni asal Jerman dan pakar seni Asia Tenggara dalam jumpa pers di Galeri Nasional Jumat (25/05). Apa yang disampaikan Kraus, mengingatkan saya pada pementasan opera Diponegoro, Java War 1825-0000 yang digarap oleh Sardono W. Kusumo bulan November tahun lalu di Teater Tanah Air, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Turut hadir malam itu Peter Carey sejarawan dari Oxford University, penulis buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008).
Raden Saleh's Homecoming (dok. koleksi pribadi)
Merujuk pada pendapat Kraus di atas, hal ini tentu tidak lepas dari lukisan Penangkapan Diponegoro yang menjadi salah satu masterpice Raden Saleh. Peter Carey pun sempat memaparkan bagaimana Raden Saleh seorang maestro yang tidak diaku di negeri sendiri menempatkan dirinya dalam 3 (tiga) sosok berbeda pada lukisan yang menjadi latar belakang panggung tersebut. Kraus yang sedang mempersiapkan peluncuran buku monografi dan buku seni Raden Saleh, menjadi kurator tunggal Pameran Lukisan Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia yang akan berlangsung pada 3 -17 Juni 2012 mendatang. Selain Kraus, pembicara lain yang hadir pada jumpa pers al. Drs. Tubagus Andre Sukmana - Direktur Galeri Nasional Indonesia, Gunawan Muhammad sebagai Penasehat, Franz Xaver Augustin - Direktur Goethe Institut Indonesia dan Direktur Regional Wilayah Asia Tenggara, Australia & Selandia Baru, Christoph Seemenn - Kepala Bagian Kebudayaan & Pers Kedubes Jerman dan Helena Abidin - BMW Group Indonesia.
Ki-ka : Drs. Tubagus Andre Sukmana, Gunawan Muhammad, Franz Xaver Augustin,Christoph Seemenn dan Helena Abidin dalam jumpa pers di Galeri Nasional, Jakarta (dok. koleksi pribadi)
Gunawan Muhammad atau akrab disapa GM yang bertemu Kraus di Passau 10 (sepuluh) tahun lalu berharap dengan adanya pameran ini, masyarakat Indonesia bisa mengenal sosok dan mengapresiasi karya Raden Saleh. Momen ini juga sebagai pengingat bagi pemerintah Indonesia yang selama ini agak buta huruf dengan kesenian agar sadar bahwa masalah ini penting sebagai bagian dari khasanah dan artistik. Tak banyak telaah yang dilakukan oleh sejarawan tentang Raden Saleh seperti yang dilakukan oleh Kraus, imbuh GM.
Pada kesempatan yang sama, Franz Xaver menyayangkan seorang seniman yang namanya tersohor tidak hanya di Indonesia tapi hingga ke mancanegara seperti Raden Saleh; tak banyak dikenal bahkan tidak dihargai di negerinya sendiri. Untuk itulah Kraus dan Franz Xaver bekerjasama dengan JERIN (Jerman Indonesia) menggagas untuk mengadakan pameran karya Raden Saleh sebagai puncak kegiatan Kreativitas dalam Keberagaman. Dalam pameran nanti, selain lukisan turut dihadirkan sketsa-sketsa serta 6 (enam) lembar buku pedoman menggambar yang pernah ditulis Raden Saleh. Untuk pertama kalinya karya Raden Saleh akan dipamerkan di negerinya, Indonesia.
Karya-karya Raden Saleh sebagian besar dikoleksi oleh para kolektor seperti Bung Karno maupun kolektor di luar negeri. Lebih dari 40 (empat puluh) lukisan cat minyak Raden Saleh termasuk 4(empat) lukisan yang ditemukan di Istana Bogor dan Yogya telah direstorasi dan akan mengisi ruang pameran. Franz Xavier menambahkan, besarnya resiko untuk membawa karya berusia 200 tahun serta tidak diijinkannya karya tersebut dibawa keluar dari Eropa; maka sebagian koleksi yang dipamerkan mengintegrasi reproduksi lukisan aslinya.
Hal berbeda disampaikan oleh Christoph Seemenn, dua tahun sebelum bertugas ke Indonesia dirinya menyempatkan diri untuk memahami siapa Raden Saleh dengan berkunjung ke Maxen, Dresden. Di sana Seemenn dibuat terpesona oleh Rumah Biru (Balue Haeusel) dengan tulisan dalam huruf Jawa di pintunya. Kurangnya apresiasi terhadap peran dan karya Raden Saleh berdampak juga pada tak terpeliharanya peninggalan Raden Saleh termasuk makamnya, kata Tubagus Andre. Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 dan dimakamkan di Bondongan Bogor. Makamnya baru sempat dipugar sebanyak dua kali, pertama oleh Soekarno tahun 1953 dan yang kedua pada tahun 2007.
Pameran yang rencananya akan dibuka oleh Wapres Budiono ini, melibatkan pula 40 (empat puluh) volunteer dari mahasiswa/i Paramadhina dan IKJ yang telah dibekali pengetahuan seputar Raden Saleh akan bertugas sebagai pemandu selama berlangsungnya pameran. Kegiatan lain yang akan digelar selain pameran diantaranya : Lokakarya Seni Penyajian Seni, Pertunjukan Wayang, Lokakarya Wayang untuk Anak-anak, Lomba Mengarang untuk Anak Sekolah dan Peragaan Busana Raden Saleh. Kita berharap melalui pameran ini pesan yang ingin disampaikan oleh mereka yang peduli pada jejak sejarah Indonesia, dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat Indonesia. Semoga ke depannya bangunan peninggalan dan karya Raden Saleh mendapat apresiasi serta tempat di hati masyarakat Indonesia terutama dikenal oleh generasi muda. [oli3ve]
*****
Tulisan lain terkait dengan JERIN:
Jennifer Chrysantha Salim, Terpilih Mewakili Indonesia ke Asia Pacific Steinway Regional Final
Batik Indonesia Warisan yang Hidup
Menyusuri Jejak Pertempuran Surabaya November 1945
Jakarta, 4 Pebruari 2012
Sebuah perjalanan menyusuri sejarah bangsa diawali dari Menteng Pulo, tepatnya dari makam Brigadir Jenderal AWS Mallaby, Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds dan Letnan Philip Osborne. Mallaby tewas dalam pertempuran di depan Gedung Internatio, Surabaya pada 30 Oktober 1945; beberapa jam setelah tercapai kesepakatan antara Indonesia dan Inggris untuk mengakhiri kekacauan di Surabaya. Hingga kini tak diketahui dengan pasti Mallaby tewas karena terkena peluru pejuang Indonesia ataukah terjangan peluru dari pasukannya sendiri. Sedangkan Loder-Symonds dan Osborne meninggal dalam kecelakaan pesawat yang jatuh dan terbakar di bandara Morokrembangan, Surabaya pada 10 November 1945.
Kunjungan singkat yang berlangsung pada suatu pagi di awal Pebruari 2012 itu, menyisakan kerinduan untuk menyusuri jejak pertempuran Surabaya 1945.
Juanda, 16 Mei 2012
Pk 08.20 singa udara yang membawa saya dari Cengkareng mendarat dengan mulus di landasan Juanda. Terbang tanpa bagasi, saya langsung keluar dari terminal kedatangan. Di luar saya mencari pak Teguh supir dari travel yang sudah dipesan dua hari sebelumnya; yang akan membawa berkeliling kota Pahlawan. Tujuan pertama adalah mencari tempat untuk mengisi tanki yang mulai kriuk-kriuk, Pecel Murni pun dipilih dengan pertimbangan berada di pinggir jalan besar yang dilalui saat menuju ke kota. Saya begitu bersemangat karena akan memulai sebuah petualangan seru ala saya dengan menggiring pak Teguh mengikuti itinerary sederhana yang telah dipersiapkan. Niat awal mampir ke Surabaya hanyalah transit setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan Malang. Andilala, saya malah tergoda tawaran seorang sahabat untuk mewakilinya berziarah ke makam Opanya di Kembang Kuning. Let’s get rock Soerabaja!
Sebelum ke Kembang Kuning, saya telah membuat janji dengan pihak Sampoerna untuk mengikuti wisata Surabaya Heritage Track (SHT) pada pk 13 dengan rute Hok Ang Kiong Temple - Chinesche - Arab Kamp. Sebenarnya kawasan tersebut bisa didatangi sendiri, tapi ternyata saya punya sifat norak tingkat tinggi dan tergoda untuk naik SHT keliling kota. Sayangnya niat tersebut hanya sampai tertuang di itinerary karena jadwal kunjungan menjadi ngaco bin ajaib setelah berkeliling kota, tergoda dan keasikan mengunjungi tempat yang tak tercantum dalam daftar tempat yang hendak dikunjungi. Salah satu godaan tersebut adalah Hotel Majapahit!
Dwi warna tetap berkibar dengan gagah setelah insiden bendera di Hotel Oranje, Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Hotel yang dulu dikenal dengan Hotel Oranje (atau Hotel Yamamoto pada jaman penjajahan Jepang), adalah tempat terjadinya insiden bendera pada 19 September 1945. Kala itu pemuda Soerabaya marah melihat Merah Putih Biru mengangkasa di hotel yang menjadi tempat penginapan tentara Sekutu setelah mendarat di Morokrembangan. Seorang pemuda nekat naik ke atas atap merobek warna birunya dan menaikkan sang Dwi Warna berkibar di angkasa. Tiang bendera tersebut masih tetap berdiri gagah, dan di dinding bagian bawahnya tercantum sebuah prasasti tentang insiden bendera yang menjadi awal meletusnya api revolusi. Kami pun menyusuri hotel dari belakang hingga ke lobby, keluar masuk toilet, melihat detail ornamen yang ada dan tentunya mengambil beberapa gambar. Di shopping center, saya bertanya kepada seorang petugas untuk memastikan letak Gedung Internatio agar tidak salah jalan sehingga terjadilah percakapan berikut:
“Siang mbak, pernah dengar Gedung Internatio? Posisi persisnya di sebelah mana Jembatan Merah ya?”
“Gedung Internasional? gedung apa itu mbak?”
“Hmmm….maaf mbak asli Surabaya?” si mbak mengangguk dengan pasti
“Pernah dengar pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang terjadi di sekitar Jembatan Merah dan menewaskan seorang jendral Belanda, Mallaby?”
Si mbak menggeleng sambil menyahut dengan penuh semangat,”Ooooh, mungkin adanya di sekitar kota tua mbak! di sana banyak gedung tua yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding. Ini ada beberapa foto lama mungkin mbak kenal salah satunya.”
Jawaban si mbak shopping center membuat gerakan tangan pura-pura membenarkan posisi bandana yang sebenarnya tidak bergeser sedikit pun, demi menghalau rasa nano-nano yang tiba-tiba menusuk ulu hati. Saya kembali ke mobil dengan tetap berpikir positif, mungkin si mbak tadi bersekolah di luar negeri sehingga kurang mengenal sejarah kotanya sendiri. Tapi logatnya koq medok Jawa Timuran ya? ;)
Gedung Internatio dilihat dari Jembatan Merah Plaza, Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Dari Majapahit, kami mengitari Grahadi sebelum memutuskan untuk masuk dan memarkir kendaraan demi melihat sekelompok anak TK sedang asik berlatih untuk persiapan Parade Senja yang akan digelar esok sore. Parade Senja digelar setiap bulan pada tanggal 17 dan pada hari tersebut masyarakat diperkenankan untuk masuk ke Grahadi. Berhubung esok harinya saya sudah harus sampai di Malang, maka kenapa tidak mencoba hari ini? Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1796 sebagai rumah peristirahatan pejabat Belanda, saat ini difungsikan sebagai Gedung Negara untuk resepsi, pertemuan dan menerima tamu negara. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari laman Aroeng Binang Project serta berkirim surat listrik dengan Mas Aroeng, ada ketentuan kunjungan ke Grahadi. Sebelum kunjungan, pengunjung diminta berkirim surat tiga hari sebelumnya ke Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum Setwilda Tk. I Jawa Timur, Jl. Pahlawan 110 Surabaya. Sayangnya surat yang saya layangkan dengan layanan kilat seminggu sebelum kunjungan maupun surat listrik untuk mencari informasi ke Disbudpar Propinsi Jawa Timur tak mendapat tanggapan hingga saya kembali ke Jakarta.
Gedung Grahadi menjadi saksi bisu sejarah tempat dilangsungkannya perundingan antara tentara Sekutu dan Indonesia pada 29 - 30 Oktober 1945. Sekutu diwakili oleh Panglima Divisi 23 Inggris Mayor Jenderal Hawthorn,Brigadir Jenderal Mallaby, Wing Commander Pugh. Sedang juru runding Republik diwakili oleh Soekarno, Moh. Hatta, Amir Sjarifoeddin, Soedirman, Doel Arnowo, Soengkono, Atmadji, Soemarsono dan Bung Tomo. Hadir pula TD Kundan, warga keturunan India yang bertindak sebagai penerjemah. Di seberang Grahadi berdiri tegap patung RM Soeryo, mantan Gubernur Jawa Timur yang banyak memegang peranan penting semasa terjadinya Pertempuran Surabaya 1945.
Siswa/i RA Perwanida Blitar sedang berlatih untuk Parade Senja di Gedung Grahadi dengan latar belakang patung RM Soeryo (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Keasikan mengaso di Grahadi, kami ngebut makan siang di daerah Genteng demi mengejar waktu ke Sampoerna. Saya baru tahu, ternyata lalu lintas Surabaya hampir serupa dengan Bandung yang kebanyakan satu arah! Jika anda salah belok, silahkan berputar-putar untuk kembali pada jalan yang benar! Apes, keluar dari Genteng kejebak macet di sekitar Bubutan padahal sopirnya sok yakin hanya butuh 15 menit untuk sampai di Sampoerna. OK, jadwal kembali berubah, saya minta diantarkan ke Kembang Kuning. Sampai di gerbang Kembang Kuning, pak Teguh melirik bingung saat saya memberi aba-aba petunjuk arah hingga sampai di depan gerbang Ereveld (Makam Kehormatan) Kembang Kuning.
“Mbak pagarnya digembok. Waaah ada preman, mbak!” saya mengikuti pandangan pak Teguh melirik keluar jendela. Ternyata kami disambut oleh sekelompok preman Kembang Kuning, dua orang yang tadinya mengaso di atas sebuah makam menghampiri dengan berjalan kaki dan seorang tiba-tiba muncul bertelanjang dada meraung-raung di atas sadel motor berputar di depan mobil. Bukannya sok berani, tapi saya harus turun dari kendaraan untuk membunyikan bel agar dibukakan pintu oleh penjaga. Melempar senyum manis, bersikap sopan, menyapa selamat siang meski dipandangi dengan penuh curiga oleh preman kuburan.
“Mau kemana mbak?”
“Besuk pak!” sambil terus melangkah dengan hati-hati hingga tangan meraih tali lonceng dan membunyikanya dengan keras. Saya kembali masuk ke kendaraan, mengunci pintu dan menanti petugas yang bergegas dengan motor ke depan gerbang. Melihat tujuan kami benar ke Makam Kehormatan, para preman lalu bubar jalan.
Saya disambut oleh pak Edy yang mengantarkan ke blok yang nomornya saya dapat dari staff OGS Jakarta sehari sebelum berangkat. Sampai di depan makam saya kirim pesan singkat ke sahabat yang sedang diayun Lorena dari Jakarta menuju Malang, mau titip salam apa buat sang Opa? Berlutut di depan makam, saya memanjatkan doa dan berbisik lirih,”Opa selamat siang, saya datang mewakili sahabat saya, cucu Opa yang tidak sempat hadir menyampaikan sun sayang buat Opa tercinta. Selamat beristirahat, saya pamit ya Opa.” Sebelum mengitari makam yang lain sesuai permintaan, saya pun minta bantuan pak Teguh untuk mengambil gambar saya di depan makam Opa sebagai barang bukti.
Monumen Karel Doorman, tampak diantara nisan di Makam Kehormatan Kembang Kuning, Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Ereveld Kembang Kuning satu dari 7 (tujuh) makam kehormatan Belanda yang ada di Jakarta, Bandung, Cimahi, Surabaya dan Semarang dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS). Di tengah-tengah taman pemakaman berdiri monumen Karel Doorman untuk mengenang para korban dalam Pertempuran Laut Jawa (Slaag in de Java Zee). Pertemuran Laut Jawa adalah salah satu pertempuran laut terlama di awal Perang Pasific yang dimulai pada 27 Pebruari 1942 di Utara Surabaya-Selatan Bawean dan berakhir di Teluk Banter pada 1 Maret 1942. Di salah satu plakat monumen tertulis : Setelah jatuhnya Manila dan Singapura, Surabaya menjadi pangkalan Angkatan Laut terbesar yang terakhir di Kawasan Asia Tenggara. Dari pelabuhan laut inilah pada 26 Pebruari 1942 eskader sekutu yang terdiri dari kapal-kapal perang Belanda, Inggris, Amerika dan Australia dibawah pimpinan Laksama Muda Karel WFM Doorman, berangkat untuk menggagalkan pendaratan balatentara Jepang di Jawa Timur. Pertempuran dengan armada Jepang pada 27 Pebruari 1942 menyebabkan tenggelamnya tiga kapal perang Belanda Hr.Ms. Java, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr.Ms. De Ruyter. Untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam pertempuran di Laut Jawa tersebut, maka monumen Karel Doorman ini diresmikan pada tahun 1954. Kini monumen ini menjadi lengkap dengan dicantumkannya 915 nama prajurit tersebut. Pembuatan plakat ini didanai oleh: Stichting Het Gebaar dan Karel Doorman Fonds.
Usai berpanas ria di Kembang Kuning, kami menuju Peneleh dan kembali harus berputar arah karena salah belok gara-gara mengikuti jalan beraspal. Penampilan Makam Belanda Peneleh sangat bertolak belakang dengan Makam Kehormatan Kembang Kuning. Meski pada papan kusam yang berdiri di samping pintu masuk tercantum kompleks pemakaman ini berada di bawah pengawasan Dinas Pertamanan Pemkot Surabaya, ternyata kondisinya sangat terlantar. Kumuh, terbengkalai, rusak parah dan menjadi tempat tinggal para tuna wisma yang seenaknya menjemur pakaian di atas makam serta menjadi tempat mangkal sekawanan kambing yang buang hajat sesuka hati. Makam Peneleh adalah salah satu makam modern abad ke-18, 20 tahun lebih muda dari Kebon Jahe Kober atau Taman Prasasti di Jakarta. Dibuka pada 1814, kompleks ini dilengkapi dengan krematorium yang masih berdiri kokoh di sisi belakang taman disanggah empat pilar yang tinggi. Sejam mengitari tempat ini saya menemukan beberapa makam tokoh-tokoh pada masa lalu seperti PJB de Perez - wakil ketua Dewan Hindia Belanda (Raad van Indie Gouvernments), Frederik Jan Stokhuyzen - Laksamana Madya yang memimpin ekpedisi Belanda ke hulu Krueng Tamiang dan memegang komando di sekitar perairan Aceh selama Perang Aceh. Lalu ada makam para suster Ursulin yang mendarat pertama kali di Hindia Belanda pada 1856 dan membuka sekolah TKK di Kepanjen sebagai cikal bakal berdirinya Santa Maria serta makam Pdt Martinus van den Elzen, salah satu pastur Yesuit yang pertama datang ke Hindia Belanda pada 1859.
Yang paling menarik dari semua makam di atas adalah, makam Gubernur Hindia Belanda ke-47 Pieter Merkus yang memerintah pada 1841-1844. Makam yang berdiri di sisi TePeEs alias Tempat Pembuangan Sampah ini, saya sambangi setelah dirayu dan diajak dengan paksa oleh seorang kakek yang tiba-tiba muncul di depan saya saat melangkah masuk ke makam Peneleh. Rasa penasaran mengalahkan rasa was-was karena mendengar ada makam gubernur Perancis di sana, membuat langkah mengikuti si kakek dengan menjaga jarak biar tak terlalu kelihatan semangatnya. Sedih melihat pagar makam yang hitam berkarat terkena asap dan api dari pembakaran sampah, ditambah aroma busuk dari tumpukan sampah serta kotoran kambing yang bertebaran di sekitar makam. Merkus meninggal karena sakit pada 2 Agustus 1844 di Huize Simpang atau yang sekarang dikenal sebagai Gedung Grahadi. Pernah ada wacana revitalisasi makam Peneleh menjadi kawasan terbuka untuk publik pada th 2008 dengan bantuan dana dari PBB dan Pemerintah Belanda. Namun sayang, hingga hari ini tak ada perubahan yang berarti di kawasan tersebut.
Makam Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-47 Pieter Merkus di Makam Peneleh Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Mengusir rasa sedih yang tiba-tiba menyelimuti, saya lanjut mengunjungi rumah HOS Tjokroaminoto di Jl Peneleh VII yang pernah menjadi tempat kost Bung Karno. Di rumah ini saya hanya bertemu dengan seorang tukang yang sedang membongkar ubin di ruang tamu. Ia mengijinkan saya untuk melihat isi rumah yang sedang direnovasi serta tak lupa mengangsurkan buku tamu. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya sempatkan untuk mampir ke toko buku Peneleh yang ada di seberang rumah HOS Tjokromanito dan mengobrol singkat dengan Muhammad cucu dari yang empunya toko buku. Menurut Muhammad, toko buku Peneleh awalnya adalah percetakan pertama yang ada di Surabaya; namun dia tak tahu pasti tahun berapa tulisan percetakan diganti menjadi toko buku. Di toko buku inilah dulu para tokoh Sarikat Islam sering berkumpul dan berdiskusi termasuk Soekarno muda.
Penjual jamu keliling melintas di depan rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Senja mulai menghampiri kota Pahlawan saat kami meluncur ke Tugu Pahlawan. Terhalang padatnya lalu lintas di lampu merah karena bertepatan dengan jam pulang kerja, kami sampai di lokasi tepat saat satpam yang bertugas bersiap untuk menggembok pintu masuk. Ternyata saya datang telat, karena waktu kunjungan hanya sampai pk 14.30; sementara saya berdiri di depan pagar pada pk 16.00. Ya sudah, setelah memotret patung Soekarno Hatta dari luar pagar saya mengajak pak Teguh untuk beranjak dari sana. Tiba-tiba satpamnya memanggil, mempersilahkan saya untuk masuk dan berkeliling menikmati kawasan Tugu Pahlawan sementara pengunjung lain diminta bergegas untuk keluar. Horeeeeeee! Meski Museum 10 Nopember telah tutup tak mengapa, mungkin di hari Minggu saya masih punya kesempatan untuk bertandang ke sini. Jadilah di kawasan seluas 1,3 ha ini saya berjalan sendiri sampai bertemu pasangan yang sedang melakukan sesi foto prewedding di bawah Tugu Pahlawan.
Senja di Tugu Pahlawan, tampak kiri depan atap Museum 10 Nopember dan di bagian belakang kantor gubernur Jatim (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Monumen Tugu Pahlawan didirikan pada 10 Nopember 1951 untuk mengenang keberanian para pejuang Surabaya pada Pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945. Di kawasan ini juga terdapat Makam Pahlawan Tak Dikenal dan beberapa patung tokoh pergerakan seperti Soedirman, R.Muhammad, Mayjend Soengkono, Bung Tomo serta Gubernur Soeryo. Minggu pagi (17/05) ketika iseng mampir ke sana, ternyata museumnya juga tutup dengan alasan yang dikemukakan oleh seorang petugas sedang ada loading perlengkapan pameran. Koq bisa? Padahal empat hari sebelumnya, satpam baik hati yang memperkenankan saya masuk hanya mengatakan akan ada pameran di halaman luar bukan di dalam museum!
Padamu generasi: tanpa pertempuran Surabaya, sejarah bangsa dan negara akan menjadi lain.
Tulisan pada batu prasasti yang teronggok di depan pintu masuk museum mengiringi langkah saya menuju gerbang, berterima kasih pada pak Satpam yang tak mau memberitahu namanya namun telah memperkenankan saya menikmati dari dekat kawasan Tugu Pahlawan.
Bahan Bacaan: Pertempuran Surabaya November 1945, 2012 - Des Alwi
Pk 17.30 meleset jauh dari janji 15 menit berkeliling, kami pun undur diri dari Tugu Pahlawan menuju HOS Sampoerna. Bukan untuk naik SHT tapi sekedar memotret bis wisata itu dan memenuhi janji saya mengajak pak Teguh mengunjungi museum Sampoerna. [oli3ve]
Merah Putih Tak Mengangkasa di Hari Kebangkitan Nasional
Sejatinya hari ini adalah hari besar nasional yang menjadi salah satu tonggak bersejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mungkin karena hari ini adalah hari Minggu (20/05) yang secara kebetulan beriringan dengan libur panjang akhir pekan, maka tak terlihat adanya kegiatan khusus di tempat-tempat yang menurut saya cukup strategis di kota Pahlawan, Surabaya.
“Nasibkoe soedah begini. Inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal saja ichlas.Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti Merdeka“
Saya membaca pesan terakhir dari seorang komposer kondang Indonesia yang terpatri di sebuah monumen dalam taman pemakaman pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman. Ya, kemarin di sela waktu terbang kembali ke Jakarta saya sempatkan untuk bertandang ke tempat peristirahatan beliau di Jl Raya Kenjeran, Surabaya. Di depan pusaranya, kesenyapan menyengat tanpa sadar bibir saya melantunkan Indonesia Raya dengan setengah suara hingga bulu kuduk merinding dan sebening air menggenang di ujung mata. Ketika memandang ke sekeliling kompleks, mata saya terantuk pada tiang bendera yang telanjang lalu bertanya pada sang kuncen,”pak, koq merah putih gak dikibarkan? hari ini kan hari kebangkitan nasional?” Si bapak hanya tersenyum dengan muka bantal dan mengeluarkan jawaban kumur-kumur dari celah bibirnya.
Pusara WR Soepratman berbentuk biola (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Taman pemakaman ini terbuka untuk umum, namun dari data di buku tamu tercatat dalam satu atau dua hari hanya ada satu atau dua pengunjung saja. Ketika kami datang dan menghampiri gerbang pun pintunya digembok, untung ada bapak yang baik hati memanjat pagar tembok memanggilkan bapak kuncen untuk membuka pagar. Lucu juga sih melihat pak Gufron berlari-lari dengan bersarung handuk berusaha mengenakan kaos mendekati gerbang dengan mata merah baru bangun tidur.
Setelah dipugar taman pemakaman ini diresmikan 9 (sembilan) tahun lalu oleh Megawati pada 18 Mei 2003, dengan pusara unik berbentuk biola alat musik yang dipegang oleh WR Soepratman demikian juga pagar taman pemakaman diberi ornamen biola. Biola bersejarah tersebut kini tersimpan dan menjadi koleksi Museum Sumpah Pemuda, Jakarta. Sebuah patung perunggu sang maestro sedang memainkan biola berdiri di halaman samping dengan latar belakang teks lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan pada Kongres Pemuda II di Jakarta 27-28 Oktober 1928.
Kompleks pemakaman WR Soepratman, Surabaya tampak patung dan tiang bendera yang kosong (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Di tengah masih tersisa kontroversi tidak adanya keterkaitan antara gerakan Budi Utomo dengan Hari Kebangkitan Nasional, bagi saya pribadi makna kebangkitan adalah ketika kita mau mencoba untuk meresapi perjalanan sejarah bangsa yang kita cintai. Mencoba mengenang perjuangan yang telah ditorehkan oleh para pendahulu hingga bangsa ini tetap berdiri kokoh. Mengenal sejarah bangsa sendiri adalah salah satu cara untuk membangkitkan rasa cinta, kepedulian dan penghormatan akan negeri ini.
Melangkah keluar dari taman pemakaman saya teringat obrolan pagi seputar hari Kebangkitan Nasional di Suara Surabaya dalam perjalanan dari Juanda. Seorang narasumber menyampaikan perenungan hari ini dengan mengacu pada buah pikiran Soekarno yang terpatri di rumah pengasingan bung Karno di Ende berikut:
Di kota ini kutemukan lima mutiara, di bawah pohon sukun ini kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila. [Soekarno]
Ketika menanti di ruang keberangkatan Juanda, saya tersenyum sendiri menguping pembicaraan sekelompok anak muda yang duduk di belakang saya tengah asik membahas perjalanan mereka ke Secret Zoo dan Bromo. Sambil memejamkan mata, hati berbisik lembut,”another mission accomplished.” Juanda, 20 Mei 2012, salam wisata sejarah. [oli3ve]
Citaku, Menyusuri Jejak Afrika
Suatu hari saat mencuci mata di toko buku langganan, sebuah buku di tumpukan rak buku baru menggoda perhatian saya. Sampulnya masih rapi tersegel dengan plastik belum ada satu pun yang dibuka. Hmmmm … karena teramat sangat penasaran, saya cek satu per satu untuk menemukan buku dengan plastik yang sudah tersibak sedikit. Sreeeeet! Dalam sekejap plastik bagian atas pun menganga sehingga bukunya bisa ditarik keluar *saya ngebayanginnya kayak melepas baju gitu hehehe*
Kenapa buku ini begitu menggoda sehingga saya perlu merobek pembungkusnya?
Pertama, entah sejak kapan saya tergila-gila dengan sesuatu yang berbau Afrika. Kemungkinan besar dimulai sewaktu saya masih di bangku SD tak pernah absen duduk di depan tivi yang menyiarkan Dunia dalam Berita dengan gambar Pdt Desmond Tutu atau Nelson Mandela di dalamnya.
Kedua, tahun 2009 saya menghabiskan sekotak tissue membaca buku Left to Tell, Mengampuni yang Tak Terampuni biografi Immaculée Ilibagiza seorang survivor dari Rwandan Genocide. Lalu Hotel Rwanda dan Sometimes in April film tentang peristiwa genosida tersebut menjadi santapan yang tak terlewatkan.
Ketiga, saya ngiri melihat foto perjalanan kakak sepupu saya yang dipamerin sepulang dari perjalanan dinas di Afrika Selatan dengan latar indah seperti Cape of Good Hope dan Table Mountain. Ohhhhh, pengeeeeen!
Terakhir, buku di tangan saya berjudul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 karya Inneke van Kessel.
Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 yang menggoda (dok.koleksi pribadi/Olive Bendon)
Lalu apa hubungannya Indonesia, Afrika dan Belanda?
Duluuuu, sekitar tahun 1831 – 1872 Belanda mendatangkan 3,085 pria dari Afrika Barat untuk diangkat menjadi prajurit militer atau tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) di Hindia Belanda. Mereka dibekali pendidikan militer di Jawa sebelum disebar mengikuti perang ke Sumatera, Borneo (sekarang Kalimantan), Celebes (sekarang Sulawesi), Bali, Timor dan Aceh. Status para prajurit asal Afrika ini sama dengan prajurit Eropa. Para serdadu Afrika ini hidup di tangsi, menikah dengan wanita pribumi dan memiliki anak keturunan Indo-Afrika.
Awal abad 19, para veteran dari generasi pertama banyak yg mengalami homesick dan ingin kembali ke kampung halamannya. Dikarenakan generasi yang lebih muda sudah merasa lebih nyaman di Hindia Belanda, mereka banyak yang memilih untuk tinggal dan beranak pinak. Dimanakah mereka? Pernah saya melihat sepintas acara ethnic runaway di salah satu stasiun swasta yang menampilkan penduduk keturunan Afrika di daerah Sulawesi Selatan. Sayangnya informasi tentang mereka kurang banyak tersaji, saya malah menemukan tentang Gang Afrika dan kerkhoff di Purworejo, Jawa Tengah. Lalu ketika secara iseng saya juga mencari informasi yang terkait dengan KNIL, saya malah diarahkan ke satu tulisan tentang Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda. Wawwwww, ternyata ini adalah museum militer yang juga menyimpan cerita sejarah KNIL di Indonesia.
Foto keluarga salah satu keturunan Indo Afrika pada th 1930 di depan rumah mereka di Purworejo, Jawa Tengah (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Suatu hari pengen deh ke Museum Elmina Java di Elmina, Ghana (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945, hanyalah satu dari sekian banyak buku yang bercerita tentang sejarah Indonesia dan ditulis oleh penulis asing. Saya jadi heran, kenapa begitu banyak peneliti asing termasuk Belanda yang begitu getolnya menggali sejarah di negeri ini sementara yang hidup di negari ini seakan cuek aja tuh. Kenapa tidak kita, bagaimana dengan anda, bagaimana dengan saya? Buku ini telah lama menginsipirasi dan menggelitik semangat bertualang saya untuk segera menyusuri jejak Afrika. Karena belum kesampaian terbang ke benua Afrika dan menjajal Negeri Kincir Angin, kenapa tidak saya mulai perjalanan di negeri sendiri? Doakan persiapan yang sementara dilakoni dapat berjalan dengan baik. Genbate! [oli3ve]
Mochtar Soemodimedjo, Sutratadara Kereta Api Terakhir Berpulang
Pagi ini seperti pagi pagi sebelumnya, saya membuka beberapa media sosial sekedar untuk melihat berita terkini yang dihembuskan oleh para penggiat di medsos. Dua buah status bernada serupa yang disampaikan oleh dua orang teman terkait berada di urutan teratas, langsung menarik perhatian:
Innalillahi wainailaihi raji’un .. Telah berpulang ke Rahmatullah ayahanda kami tercinta, Ir. Mochtar Soemodimedjo MA, pada hari Senin, 14 Mei 2012 pukul 02:25 dini hari ini. Mohon doa dan mohon maaf sebesar2nya kepada para kerabat, handai taulan dan rekan2 sekalian. Kami haturkan terima kasih yang sebesar2nya.
Bp Mochtar Soemodimedjo didampingi menantunya Rafly saat diinterview oleh Kompas TV di Beos (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Mochtar Soemodimedjo yang dimaksud adalah sutradara film sejarah kolosal Kereta Api Terakhir yang menempuh pendidikan selepas SLA - B (1960) dengan meneruskan ke Fakultas Arsitektur, Universitas Diponegoro di Semarang (1960-1963). Meraih gelar Master of Arts of Cinematography dari Faculty of Film Feature Direction, All Union Institute of Cinematography, Moskow (1964-1971). Memasuki dunia film pada tahun 1964 dan memulai debutnya sebagai sutradara untuk film The Night Flight (1968). Max Havelaar (1975) adalah film dimana beliau menjadi sutradara pendamping Vons Rademaker yang sempat diblokir oleh Badan Sensor Film Indonesia selama 12 tahun sebelum akhirnya dikeluarkan pada 1987 tanpa sensor. Film yang sebelumnya berjudul Saidjah dan Adinda ini, diangkat dari novel karya Dowes Dekker. Film-film beliau yang lain adalah Paparacio (1971), Hutan Tantangan (1972), Seruling Senja (1974), Inem Nyonya Besar (1977), Tuan Besar (1977), Buaya Deli (1978) dan Saman & Salmah (1979).
Bertemu langsung dengan beliau pada Pebruari lalu ketika menggelar acara Nobar : Kereta Api Terakhir di Beos (08/02/12) atas kerjasama Sahabat Museum (Batmus) dan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Belum sempat kami memenuhi undangannya untuk mendengarkan kuliah tentang perfilman dan menonton bersama Max Havelaar di kediaman beliau, pagi ini beliau telah kembali ke pangkuan Sang Khalik.
Batkapiten Batmus bergambar bersama pak Mochtar Soemodimedjo selepas acara nobar Kereta Api Terakhir di Beos (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Peraih penghargaan Lifetime Achievement FFI 2006 yang lahir di Ambarawa pada 1 Juli 1941 ini adalah ayahanda dari kompasianer Anom Mochtar. Selamat jalan pak Mochtar, semoga tenang di sisiNya dan keluarga yang ditinggal diberi ketabahan serta kekuatan.[oli3ve]
Jennifer Chrysantha Salim, Terpilih Mewakili Indonesia ke Asia Pacific Steinway Regional Final
Pada Selasa (08/05) saya menerima surel yang dilayangkan oleh Goethe Institut Jakarta berisi undangan untuk menghadiri Malam Final Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2012. Kompetisi piano ini adalah salah satu kegiatan JERIN (Jerman Indonesia) yang penyaringan babak semifinalnya dilakukan di 3 (tiga) kota masing-masing Surabaya (31 Maret 2012), Medan (28 April 2012) dan Jakarta (5 Mei 2012). Dua juara dari masing-masing kota dipilih untuk berlaga di final yang diselenggarakan di Goethe Haus, Jakarta - Sabtu, 12 Mei 2012.
Kompetisi piano yang diselenggarakan oleh House of Piano dan PT Citra Intirama sebagai distributor Steinway & Sons di Indonesia, dibagi dalam 2 (dua) kategori utama yaitu:
Talentum Piano Competition (TPC) dibagi 2 (dua) kategori masing-masing Kategori A untuk usia dibawah 10 tahun dan Kategori B untuk usia dibawah 13 tahun.
Indonesia Steinway Youth Piano Competition untuk usia 10 - 17 tahun
Pemenang yang terpilih dari Indonesia Steinway Youth Competition 2012, mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia bertanding pada Asia Pacific Steinway Regional Final yang akan berlangsung 27-29 Juli 2012 di Singapura. Di kompetisi Asia Pasifik ini, wakil Indonesia akan bersaing dengan Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Thailand memperebutkan satu tiket ke The International Steinway Festival Hamburg, Jerman. International Steinway Festival adalah ajang dua tahunan bagi para pianis muda berbakat dari berbagai belahan dunia untuk unjuk kepiawaian bermain dengan tuts-tuts piano. Tahun ini Asia Tenggara diberi kesempatan turut serta dalam festival Steinway bersaing dengan Belgia, Cina, Denmark, Perancis, Belanda, Swedia, Spanyol dan Jerman September mendatang.
Jennifer Chrysantha Salim memukau dengan permainan pianonya di Malam Final Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2012 di Goethe Jakarta (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Muka Jennifer Chrysantha Salim, murid kelas IV SD Mitra Universal dari Surabaya berseri-seri menaiki panggung saat namanya dipanggil sebagai juara pertama Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2012. Jennifer yang dijuluki Jaya Suprana 1/2 manusia 1/2 malaikat, dinilai sebagai peserta yang hebat, optimis harus menang dan memiliki talenta yang luar biasa. Pantas bila permainannya berhasil memikat hati para juri yang terdiri dari Adelaide Simbolon, Fabiola Chaniago, Frank DeMeglio, Glenn Bagus Zulkarnaen, Heboch Kristianto, Iswargia R. Sudarno, Jaya Suprana, Johannes S. Nugroho, Kazuha Nakahara, Levi Gunardi, Ruth Wibisono dan So Kim Wie. Setelah penyerahan hadiah, para juara dari masing-masing kategori unjuk kebolehan ditutup oleh permainan Jennifer yang memukau membawakan Nocturne in B Major karya Chopin. Gurat bahagia dan bangga pun terpancar di wajah sang mama, Ibu Lani yang menemani Jennifer ke Jakarta.
Para pemenang Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2012 berfoto bersama juri setelah penyerahan hadiah (dok. koleksi pribadi/Olive Bendon)
Semua finalis Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2012 mendapatkan kesempatan mengikuti Masterclass Piano dari Frank DeMeglio. Sedang pemenang pertama dan kedua juga berkesempatan mengikuti Masterclass Piano dari Dr. Steven Spooner.
Beragam kegiatan JERIN dengan motto “Kreativitas dalam Keragaman” diselenggarakan dari Oktober 2011 hingga Juni 2012 di beberapa kota besar di Indonesia yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Jerman dan menampilkan Jerman sebagai mitra Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut diorganisir oleh Goethe Institut Jakarta, EKONID (Kamar Dagang Jerman-Indonesia) dan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Kalender kegiatan lainnya bisa dilihat di SINI. [oli3ve]