Meng(HARGA)i Diri Sendiri
Sebagai Ibu Rumah Tangga, Jika melihat perempuan2 hebat diluar sana. Ada kalanya kumerasa minder & kurang bernilai. Tapi jika kumengeluhkan hidupku, itu sama saja denganku menyalahkan org2 yg membuatku berada di kondisi ini. Parahnya lagi itu berarti aku meyalahkan Tuhan .
Mana mungkin ku menyesali kehadiran mereka yg kusayangi dan tidak pantas ku memprotesNya, sedang Dia paling menyayangiku, dan taqdirNya selalu benar.
Jika kuhargai rasa lelahku dgn menghitung2 materi sebagai kompensasi (juru masak, cleaning service, guru les, akuntan keuangan, dll) maka itu takkan sepadan... Terlalu murah jika ku hargai diriku dengan dunia...
Sedangkan apa yang ada disisi Allah jauh lebih baik dan lebih pantas kuharapkan. Jangan sampai lelahku sekarang tak memberiku hasil apa2 di akhirat karena aku menghitung2nya dengan harga dunia yg ingin kudapatkan.
"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.""Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Hud :15-16)
Jika kuhargai diriku, dengan hanya memikirkan diri sendiri dan ingin menerima sesuatu dari orang lain... Maka hidupku tak ada gairah ...
Me time itu kadang kubutuhkan, tapi jika terlalu sering itu membuatku merasa kesepian, rasanya tak lebih bernilai dibanding ketika ku memberi dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Aku selalu merasa lebih bahagia bersama seseorang . Sehingga selalu butuh teman untuk berbagi kebahagiaan.
Jika kuhargai diriku dengan fokus mempercantik diri dan merawat penampilan saja maka hargaku hanya senilai cangkang.
Nyatanya rasa lelah tak hilang walau penampilanku cemerlang, rasa lelah akan kembali datang walau ku dapat uang.
Tapi kupikir bagaimana caranya agar tetap bisa bahagia dgn kondisi apa saja, tetap merasa bahagia walaupun merasa lelah?
Fix ... Tidak ada seseorangpun yang serupa dan bisa menjadi sama persis. Aku tak bisa memaksakan diri menjadi sehebat seseorang yang aku inginkan.
Memang begitu banyak hal bernilai yg dilakukan perempuan lain, yg juga ingin aku melakukannya, tapi hingga kini belum bisa kuwujudkan... Maka kini ku mencoba berpikir terbalik, bertindak yg paling realistis dengan mencoba maksimal melakukan hal2 yg sulit dilakukan perempuan yang tidak sepertiku.
Menghargai diri sendiri dengan apa saja yang bisa dikerjakan dengan kondisiku yg ada sekarang, yg bisa dilakukan dari rumah, yg sebaliknya mungkin jarang & sangat ingin dilakukan perempuan2 bekerja. Belajar berkebun, memasak, menulis, membaca buku, kajian, berbisnis rumahan, termasuk menjadi guru yang menyenangkan buat anak2ku. Karena menurutku Siapapun bisa unggul dengan perannya masing2. Setiap orang ada potensi bila ada kemauan, setiap keadaan ada peluang bila dimaksimalkan sehingga bisa meningkatkan nilai diri.
Karena bagiku Nilai seorang perempuan bukan hanya tentang apa yang nampak dalam dirinya semata. Nilai adalah sesuatu yang menetap, membentuk ciri/ karakter yang membiasa.
Nilai seorang perempuan adalah kedewasaan dan pola pikirnya. Nilai seorang perempuan adalah refleksi dari kondisi sekitarnya.
Bagi perempuan yang sudah berkeluarga, sakinnah hati suami adalah nilai seorang isteri .
Kesalehan Anak adalah nilai seorang ibu.
Rumah yang nyaman dan terrawat , tetangga yang baik adalah nilai seorang yang hidup bersama orang lain...(bermasyarakat)
Nilai dan rasa bahagia adalah sesuatu yang bisa diatur dan dikendalikan. Kita mungkin tak bisa mengubah beberapa kondisi tetapi kita dapat mengubah nilai dan perasaan kita dengan cara memaksimalkan peran dan syukur atas apa yang ada.