Cosimo Galluzzi

tannertan36
★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Mike Driver

roma★

pixel skylines
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
hello vonnie
d e v o n

❣ Chile in a Photography ❣
Lint Roller? I Barely Know Her
official daine visual archive
occasionally subtle
🪼

Discoholic 🪩
Monterey Bay Aquarium

Product Placement
No title available
noise dept.

seen from United States
seen from Austria
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from India

seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Indonesia

seen from Netherlands

seen from T1

seen from Venezuela

seen from United States

seen from Pakistan

seen from Maldives
seen from Germany

seen from India

seen from United States

seen from United States

seen from India
@officialshanon-blog
APA KALIAN MASIH MANUSIA?!
Coba bayangkan.
Kamu seorang buruh yang sedang bekerja lembur. Baru bekerja 8 bulan. Kamu tugasnya mengepress barang-barang otomotif.
Hari itu, ada yang aneh dengan mesin press yang kamu gunakan. Kamu melaporkan ini pada atasanmu dan bagian perusahaan yang bertugas menangani mesin.
Namun atasanmu bilang, "Sudah, kerja saja."
Jadi kamu melanjutkan kerja. Menyalakan mesin press dan menjalankan tugas.
Dan ketika itulah mesin press memotong jari di tangan kananmu.
Kamu teriak, panik. Seharusnya kamu bisa langsung ditangani klinik di tempat kerja, namun kliniknya sudah tutup sore tadi. Padahal kamu kerja dua belas jam.
Jadi kamu dibawa ke rumah sakit terdekat. Mereka bilang jarimu harus dioperasi. "Kartu BPJS-nya ada, mas/mbak?"
Sayangnya, walau upahmu telah dipotong selama 8 bulan ini untuk BPJS, perusahaan tidak pernah memberikan kartu itu. Entah kartunya fiktif atau tidak. Akhirnya, operasimu harus ditunda.
Kamu menghubungi bagian HRD, dengan keadaan yang sekarat itu di rumah sakit. Kamu harus segera ditangani, bukan? Belum lagi menahan rasa sakit yang bukan main.
Namun pihak HRD enggan mengantarkan kartu BPJS yang ada di kantor (katanya). Karena sudah bukan jam kerja dia. Jadi, kamu harus menunggu hingga esok hari pukul 13.00, tepatnya 19 jam setelah kecelakaan, dengan tangan yang berdarah, agar HRD mengantarkan kartu BPJS-mu.
Sayangnya, karena menunggu terlalu lama (19 jam), jarimu tidak bisa disambung kembali. Padahal kalau dioperasi dalam jangka waktu sekitar 8 jam, menurut dokter, jarimu bisa diselamatkan.
Bukan, ini bukan salah perusahaan. Mereka tidak pernah salah. Yang salah adalah kamu, pekerja.
Dan kamu akhirnya di-PHK.
Ini adalah kejadian yang dialami Atika Nafitasari, 23 tahun, yang bekerja di PT. Nanbu Plastics Indonesia, perusahaan yang menyuplai alat-alat otomotif untuk Toyota. Selengkapnya:
http://metaruang.com/luka-buruh-nanbu-dalam-rantai-produksi-industri-otomotif-jepang/
repost from line, jaga-jaga kalau di line di banned
ANANTA
Sore ini berwarna oranye. Aku dengan bangga menggenggam tangan Atria saat berjalan-jalan di taman kota. Kami duduk di bangku taman, memperhatikan anak-anak kecil mengejar-ngejar burung merpati yang singgah di sekitar air mancur.
“Udah mau malem loh, kamu gak mau pulang gitu?” tanya Atria lembut. Aku menggeleng.
Atria mengelus puncak kepalaku dengan lembut, aku bisa merasakannya, dia sangat menyayangiku. Aku sangat bersyukur telah mengikat janji sehidup semati dengan satu-satunya lelaki yang bisa dengan sabar menghadapi wanita pengidap bipolar sepertiku.
Orang-orang di sekitar menatap kami dengan serius, mungkin mereka iri, melihat betapa bahagianya aku duduk dengan pria tampan yang penuh kasih sayang.
“Udah mau hujan Ana, pulang yuk” ajaknya lagi, kini aku mengangguk mengiyakan.
“Tapi aku mau beli martabak dulu ya pas pulang” rengek ku manja, Atria tersenyum lebar.
Hari-hari ku berlalu dengan baik. Ritual terapi bipolar ku sudah dihentikan, aku sudah dinyatakan sembuh, meski belum 100%. Semua berkat Atria, tanpa dia, mungkin aku sudah mati waktu itu.
Atria pagi ini berangkat kerja, dia ingin membawa bekal nasi goreng kesukaannya untuk makan siang. Dia bilang, nasi goreng ku adalah yang terbaik. Sebagai bukti bahwa makanan ku layak dimakan, Atria tidak pernah membeli makan di luar, walaupun dia harus pulang tengah malam.
Sore nanti, Atria akan pulang cepat. Kita sudah memesan satu meja di sebuah restoran sederhana untuk merayakan ulang tahun pernikahan ku yang ke-2. “Gak usah yang mahal ya restorannya, di tempat pertama kali kita kencan aja, mau gak?” aku pun dengan semangat mengiyakan ajakan Atria. Bagaimana tidak, tempat itu menyimpan banyak kenangan tentang aku dan Atria. Aku tidak sabar menunggu malam ini.
Hari ini aku berjalan-jalan di taman kota bersama Atria, ia membelikan ku es krim kesukaan ku. Seperti biasa, kami duduk di dekat air mancur. Cukup tahu, di bangku ini lah Atria melamar ku, 3 tahun yang lalu.
Orang-orang menatapi kami dengan serius. Entah mengapa, setiap kali aku kesini, semua orang memperhatikan ku, dengan tatapannya yang tidak bisa aku artikan. Mungkin mereka iri? Aku tidak pernah tahu.
“Mas, tau gak sih, perempuan yang duduk di bangku deket air mancur itu, kok ngomong sendiri terus, kenapa ya?” seorang ibu menatap heran pada Ananta yang sedang bermonolog di bangku taman.
Tukang es krim itu menjawab dengan lirih, “Suaminya meninggal setahun yang lalu bu, tepat di taman ini, korban tabrak lari. Dan disitu tempat dia dilamar, saya liat proses suaminya itu ngelamar dia”
Semua orang menatap Ananta bingung, sebagian menganggapnya gila, dan yang tahu penyebabnya – seperti tukang eskrim itu, menatap prihatin dan berdoa untuk kebahagiaan Ananta.
Should I shoot him?
Ananta: Kenapa cowo suka gombal, rela menghalau badai segala macem? Tapi, cuma gerimis aja mundur.
Atria: Aku enggak loh! Kamu gak inget, aku rela relain nyebrang jakarta yang lagi banjir cuma buat jemput di mall?
Ananta: Engga tuh!
Atria: Oh, itu ke mantan aku deng, hehe.
ZAFRAN, AKU, DAN BAJU
Ada sebuah siang yang sial, saat aku ditabrak Mas-Mas di pintu masuk kantin fakultas tetangga. Namaku dipanggil seseorang entah dimana, dan saat aku berhenti untuk menoleh, tiba-tiba saja aku ditubruk!
Aku menghantam tubuh lelaki itu sampai batang hidungku sakit terbentur kacamata. Hanya butuh sedetik untuk langsung melangkah mundur, tapi butuh empat detik untuk menunduk dan sadar--- bahwa kemeja putih favoritku telah dinodai saus pentol milik dia!
"Woy!" bentaknya. Aku tersentak dan reflek mendongak--- menatap lurus ke mata Mas-Mas itu. Badannya besar seperti lemari, dengan tinggi setidaknya dua puluh senti dari kepalaku.
"Jalan tuh pake mata!" serunya sambil mengumpat sampai air liurnya muncrat semua. Aku kesal--- ini orang sudah brengsek, jorok pula. Aku bersumpah kalau aku tahu nama orang ini, akan aku teror sampai dia beranak tujuh.
Tapi saat aku baru saja akan membela diri, dia--- Mas-Mas hoodie abu-abu itu--- dengan kurang ajarnya berjalan keluar lorong kantin dan meninggalkanku dengan sepuluh pasang mata memandang. Ah! Orang itu--- benar-benar ya--- awas kalau wajahnya tertangkap mataku lagi!
Sepanjang langkahku menuju ke tengah kantin, nafasku terus-terusan menderu. Aku benci menjadi sorotan publik di keadaan tidak enak begini. Ditambah lagi, Mas-Mas yang merusak bajuku itu tidak minta maaf. Aku juga kesal pada orang yang berteriak memanggilku tadi.
Aku kesal pada Zafran!
"Ini semua gara-gara kamu!" tuduhku, begitu batang hidungnya muncul di hadapanku.
"Apa..."
"Lihat!" aku menarik kain bajuku, menunjukkan noda saus (yang terdiri atas 20% tomat dan 80% pewarna). Nodanya cukup besar dan warnanya keterlaluan.
Zafran terbelalak tapi tak mengatakan apa-apa. Ketika aku menuntutnya untuk meminta maaf, ia malah tanya, "kamu yang numpahin, aku yang salah?"
Aku mendengar teman-teman Zafran menertawakanku, dan aku takut wajahku akan memerah sampai senada dengan saus di bajuku.
"IIIHH!" keluhku, sedikit manja. "Bukan aku yang numpahin! Ini ada cowok makan pentol, terus nabrak aku! Udah gitu dia ga minta maaf trus malah marahin aku, dan pergi gitu aja, AKU SEBEL!"
Ketika itu mataku sudah berkaca-kaca karena terlalu marah tapi tak bisa apa-apa. Kalian pasti paham perasaanku. Banyak perempuan menangis ketika kesal, karena mereka tahu membunuh orang itu ilegal.
Aku mengambil tisu basah yang Zafran berikan, membersihkan noda di tulang selangkaku, dan berkata dengan lemas, "sekarang kemeja putihku kotor..."
Zafran membeli tisu di kantin untukku, kemudian ia hanya berdiri dan memperhatikan. Selama beberapa detik, yang ada hanya suara sendok-garpu bertubrukan, tatapan tajam Zafran, dan noda saus yang tidak hilang.
"Untuuung aja kotornya di situ," dagu Zafran menunjuk ke bajuku. "Turun dikit--- pasti aku cari, deh, orang itu. Aku tonjok."
.
Singkat cerita, hariku berjalan buruk meskipun Zafran selalu ada di sampingku. Ia duduk di sebelahku saat kelas jurnalistik, tapi yang aku ingat adalah bahwa ia tidak terlalu paham tentang jurnalistik dan sedang memanfaatkanku untuk mengajarinya.
Zafran membelikan aku terang bulan mini rasa coklat-kacang, tapi yang aku ingat adalah bahwa aku membenci kacang dan aku membenci Zafran.
Zafran menawarkanku untuk pulang bersamanya selepas kuliah, tapi yang aku ingat adalah bahwa langit sedang mendung dan si orang egois ini pasti hanya mencari teman untuk hujan-hujanan.
Aku pulang sendirian, dengan kesal yang tidak hilang-hilang seperti saus tomat artifisial yang terpampang di kemeja putih tulangku.
Sampai di rumah, yang aku ingat hanyalah bahwa aku tidak punya kemeja putih lagi dan aku harus menyisihkan uang untuk itu. Aku tak tega melihat dompetku kurus.
Ibuku, yang asyik bermain Sims Freeplay di hapenya, bahkan sempat mengangkat wajah karena dapat merasakan aura negatifku. Seperti ibu-ibu lainnya, yang sangat peka dan perhatian, ibuku tanya, "Kakak kenapa?"
Aku menceritakan semuanya secara emosional, dan sekarang (enam bulan setelah kejadian), ketika aku melihat ke belakang, aku setuju pada ibuku bahwa tingkahku hari itu memang seperti anak kecil.
Aku terlalu terikat dengan apa yang kumiliki saat itu, sehingga aku tak siap ketika suatu hari barang itu direnggut. Padahal barang bisa rusak kapan saja, uang bisa hilang, dan orang bisa meninggal. Sikapku yang menyalahkan orang lain adalah bentuk ketidakikhlasanku--- tidak ada alasan lain atas perasaan itu.
Aku mengerti, dan diam seketika. Sudah waktunya mengikhlaskan kematian kemeja putih tulang yang kusayangi itu, dan bersiap-siap untuk tidur.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa saat itu Zafran sedang menunggu di depan pintu!
Dia tidak bilang--- tidak menelpon atau apa--- dan aku sungguh heran mengapa Zafran selalu tahu cara membuat kejutan.
Aku benar-benar tinggal selangkah lagi menuju jam tidur--- aku sedang mengoleskan krim malam--- saat tiba-tiba ibuku memanggilku dengan nama panjang, "Rev? Revanya!"
Dan umat manusia se-Indonesia Raya tahu betul--- kalau ibu/ayahmu memanggilmu dengan nama lengkapmu, kau berhak untuk panik, karena pasti kau akan dimarahi.
Aku bergegas keluar kamar dan lari ke dapur, (lalu ternyata ibuku tak ada di sana), jadi aku ke kamar orangtuaku, (untuk menemukan adikku yang paling kecil sedang menonton televisi), dan terakhir aku ke ruang tengah untuk tanya ayahku, dan (sungguh ya, Zafran, sialan kamu, membuatku bingung), ayahku menjawab kalau ibuku di teras depan.
Aku ke sana, menemukan ibuku, dan kalimat pertama yang menyambutku adalah, "Kakak habis ngapain?"
"Ngapain apanya?" (di sini aku mulai keringat dingin.) (Ibuku menggunakan nada tinggi.)
"Ngapain sama Saufan?"
"Saufan?!"
(Saufan itu siapa...)
"Udahlah, jawab jujur, Mama ga akan marah! Kakak habis ngapain sama dia?"
Detik ini, ibuku melangkah mundur dari pintu, berdiri di teras, dan memperlihatkanku wujud manusia yang aku cintai dengan seperempat hati. Zafran--- dengan jaket yang tidak diganti-ganti, berdiri canggung bersama senyum aneh yang tersungging.
"Ma," ucapku dengan sabar. "Dia itu namanya Zafran!"
"Iya, iya, Mama kan ngomong Zafran!"
Aku mengabaikan fakta bahwa ibuku tak mau disalahkan. Yang lebih penting adalah, "ngapain dia kesini?"
"Kakak jawab dulu! Kakak habis ngapain?" tegas ibuku. "Kenapa dia dateng-dateng bilang dia siap tanggung jawab?"
"HAH? TANGGUNG JAWAB APA?"
"Tante..." Zafran mau menjelaskan tapi dipotong.
"Sebentar! Biar anak saya yang jawab!"
(Aku malu sekali menjelaskan kisah yang ini, tapi perlu aku akui, episode ini berpengaruh bagi keseluruhan cerita.)
"Tanggung jawab apa sih..." aku malah tanya balik. Entahlah wajahku saat itu meringis atau bagaimana. "Emang Zafran habis ngapain?"
Ibuku menoleh ke Zafran dan anak itu reflek menjawab, "saya itu cuma ngotorin dia, Tante!"
"HAH?"
"EH MAKSUDNYA NGOTORIN BAJUNYA."
"BAJUNYA?"
Astaga, aku ingat betapa canggungnya situasi ini. Aku bersumpah akan mencari pacar yang pandai berkomunikasi agar tidak terjadi salah paham yang memalukan seperti hari itu.
Zafran menutup wajah dengan kedua tangan, (pasti karena malu berat), kemudian menatap mataku, setengah memohon, "mana sini, kemeja putih kamu."
"Buat apa?"
"Udahlah, sini, aku ga akan bisa tidur kalo belum tanggung jawab."
Jadi aku masuk ke rumah, meninggalkan Zafran dengan ibuku untuk meluruskan keadaan. Aku merogoh ke dalam keranjang baju kotor dan mengambil kemeja putih yang sebenarnya telah kuikhlaskan itu.
Ketika sampai di teras, suasana sudah kembali hangat. Dan sebelum aku memberikan kemeja putihku ke Zafran, aku bilang, "sebenarnya aku sudah ikhlas."
"Ya, itu kan urusanmu. Sekarang biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa menghilangkan masalahmu."
"Pakai apa?"
"Sabun cuci piring dan tepung jagung."
Aku dan ibuku--- sebagai wanita yang sering mencuci baju dan pernah berhadapan dengan noda saus--- tertawa spontan.
"Kamu tahu itu dari mana, Mas?"
"Dari Google, Tante."
Ibuku makin tertawa, bilang bahwa itu tak akan berhasil, dan aku memberikan kemejaku ke Zafran agar ia bisa membuktikan bahwa ibuku salah.
Ketika Zafran pulang, dan aku kembali ke kamar, aku mendadak tidak ngantuk dan malah gelisah di atas kasur. Aku masih kaget atas kejutannya. Aku lega karena telah memberikan Zafran kesempatan. Aku lega telah memberikannya bajuku.
Padahal Zafran, lega karena telah mendapat nomor WA ibuku.
.
Surabaya, 8/4/18 #AkuDanZafran #DontListenToJunor
Indonesia butuh lahan lagi? Solusinya?
Beberapa hari yang lau, saya ikut Sem-Nas, yang membahas Indonesia mau jadi lumbung pangan dunia.
Tapi, ada hambatannya.
Apa? Indonesia kurang lahan buat bertani.
Dihadiri oleh mantan DPR-RI, rektor dari sebuah universitas, dan satu lagi saya lupa.
Mereka berspekulasi, yang pada akhirnya menemukan solusi, YANG SANGAT INSTAN.
Apa solusinya? BUKA LAHAN BARU DI MERAUKE.
Dengan testimoni dari mereka, dengan yakin mereka ingin mewujudkan buka lahan di Merauke.
Yaampun deh pak, wong di Jawa aja masih banyak loh itu lahan, kenapa gak diberi kebijakan, malah seenak jidat aja dikasihin ke orang-orang yang mau bikin apartemen lah, hotel lah, mall lah. ESENSINYA APA PAK?
liat deh karawang, itu sawah lebar banget waktu saya kecil, SEKARANG? Gede banget itu hotel yang nyambung ke mall, berdiri sombong di atas sawah punya rakyat.
Paling juga ujungnya itu Merauke jatoh ke tangan tetangga.
“Kamu mikirnya jangan negatif!”
Lah saya mah, cuma mengambil contoh dari masa lalu aja sih pak, hehe. Kan, experience is the best teacher. Bahkan quote itu tertulis di buku sinar dunia. Bapak gak pernah pake buku tulis ya? Pakenya ponsel mulu sih :(
Nah, buat kite-kite yang masih muda, pikirannya jauhin lagi dikit, mungkin para sibapak berpikir gitu faktor umur.
Ohiya, SELAMAR HARI KARTINI!
Selamat malam.
Bandung, 21 April 2018.
[Behind the scane]
Bermodalkan kamera ponsel, dengan ‘timer’ sebagai fotografernya.
Ber-berantem dulu sebelum foto.
Saling ganggu saat mau foto sendiri.
Bertempatkan di saung pinggir jalan, dengan segelas kopi yang lumayan mahal - yang membuat gua ngomel setelah bayar.
Cukup hal-hal kecil yang manis, hal-hal konyol yang praktis.
Gua, bersyukur dengan sangat luhur, meski langit belum mensetujui apa yang gua miliki saat ini.
No matter how hard it is, I truly want to be with you
your unpredictable girl
UMUR.
Helaw.
Perkenalkan, gua seorang cewe, yang sebentar lagi, genap 19 tahun. Sekitar 1 bulan lagi lah. Apakah peringatan gua 19 tahun itu penting? Iya dan tidak.
Iya.
Gua merasa orang-orang tersayang (ortu-pacar-sodara/temen) gua harus wajib pake banget, setidaknya, ngucapin gua walaupun cuma “Happy birth day sayang” yaa.. walaupun gua berharap dapet ucapan yang spesial, yang walaupun panjang gua seneng bacanya. Gua gak perlu kado, kalau mau kasih kado, cukup transfer aja uangnya, atau beliin gua makanan kesukaan gua, hehe.
Tidak.
Gua gak perlu seluruh dunia ngucapin, karena ya, gua yakin, sebagian besar formalitas aja. Gak masalah kok, kalian gak tau, atau lupa, toh ucapan kalian gak gua tunggu. Hehehehehe. SERIUS. Aku gak memaksa dari kalian untuk membuang energi untuk ngucapin gua ulang taun, meskipun cuma “hbd ya”.
TERUS, urgensinya apa dari ulang tahun ini sebenernya?
Umur gua yang tambah tua:( Bukan anak muda lagi, bukan bocah yang nangis dikasih permen diem, bukan bayi yang hidupnya makan-pup-tidur.
Dengan umur gua yang nambah banyak ini, masalah pasti nambah banyak juga. Dan masalah masalah itu pasti menuntut untuk diselesaikan sama gua, padahal gua gak minta mereka untuk dateng, kan?
(Walaupun, ada yang gua syukuri dengan sangat dari bertambahnya umur gua, SEBENTAR LAGI GUA BISA NIKAH! Hehe, padahal nikah juga masalah - yang diundang)
Seiring bertambahnya umur dan bertambahnya masalah, fakta lain adalah, semakin tuanya umur orang tua gua. Setelah gua pikir-pikir, i can’t live without them :( Udah mana gua belom bisa nyari duit sendiri, kalo ortu gua pass-away, gua makan dari mana woy?
Dan, sesungguhnya, gua belom siap buat jadi lebih ‘tua’ hehehe. Selain perubahan fisik yang, you know what i mean ya para cewe, jadi keriput, ini itu, apalagi nanti udah nikah terus punya anak, bisa aja gua yang selama hidup gak bisa kurus tiba tiba gua jadi bongsor :( MY NIGHTMARE :(
Ya, jadi kesimpulannya adalah, gatau. Silahkan simpulkan sendiri, hehe.
Yang jelas intinya adalah, perayaan ulang tahun itu gak penting ya dek adek yang kalo rayain ulang tahun kaya nikahan -_- Ya, gapapa sih, duit duit situ wkwk
Yang penting adalah, lu, udah umur segitu, UDAH LAYAK BELOM?
Admiral House
Molina Designs