Silakan bersibuk-sibuk menginginkannya, aku pun masih akan merepotkan diri untuk tetap menginginkanmu.
@dedesisi
Cosimo Galluzzi
Lint Roller? I Barely Know Her
Show & Tell
Jules of Nature
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣
No title available

ellievsbear
almost home
ojovivo
todays bird

JVL

roma★

Discoholic 🪩
we're not kids anymore.
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JBB: An Artblog!

No title available
🪼

Kaledo Art
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from Hong Kong SAR China

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from France

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Denmark
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Ukraine
@okumoru
Silakan bersibuk-sibuk menginginkannya, aku pun masih akan merepotkan diri untuk tetap menginginkanmu.
@dedesisi
Ine no Funaya, Kyoto
Kepada Yang Kalah Dengan Kena(n)gan
meninggalkan kenangan bukanlah pekerjaan sekali jadi. kau bisa membunuh apa saja yang mengingatkanmu akan kenangan itu. tapi ia akan tetap kembali sewaktu-waktu.
terkadang kau tak harus memenangkan sebuah perjuangan, begitu pula kepayahanmu atas segala yang kau usahakan. terkadang kau perlu menerima bahwa kau payah, tanpa perlu terus-menerus membuang waktu mati-matian melawan.
kau tak harus menjadi yang paling dewasa dan paling bijaksana saat itu juga.
terimalah keadaan dengan kesanggupanmu untuk menerima.
ada yang belum kau temukan pada dirimu sendiri. jalan saja dulu, meratapmu takkan mengubah apa-apa.
Aku berhenti mengukur kesuksesan hidupku dari seberapa banyak pencapaian dan penghargaan yang kuraih. Karena yang ada hanya keletihan keletihan tak berujung, selesai satu ambisi berlari ke ambisi yang lain. Belum lagi kala pencapaian yang ada sedang tak lebih hebat dari orang lain. Ukuran kesuksesan bagiku yang sekarang, menjelma menjadi seberapa banyak sujud yang kulakukan menghamba pada Tuhanku. Berapa banyak namaNya kurapal dalam lisanku. Dan seberapa banyak aku berdoa dalam setiap urusanku, sekecil apapun itu :)
Saya ingin cerita tentang perasaan saya,
Tentang 15/3 kemarin.
Tadi saya secara ga sengaja melihat postingan teman di FB yang membagikan postingan gambar-gambar ini..
Saat saya baca semua, saya menyadari betul, mereka memang bukan orang-orang New Zealand (NZ) asli.
Ya. Mereka adalah para imigran, orang -orang yang mencari perlindungan, yang pergi dari negara mereka sendiri, negara-negara yang membuat setiap detik hidup mereka dihantui perasaan hidup dan mati. Negara-negara penuh konflik, penuh perang dan penuh kesedihan. Tak ada rasa aman, apalagi bahagia.. (Meski mungkin di kehidupan kedua nanti mereka jauh lebih bahagia..)
Mereka, yang berasal dari negara-negara seperti syiria, pelestina, bangladesh, pakistan, india dan lain-lainnya tentu datang ke NZ bukan hanya untuk hidup yang lebih baik, namun juga untuk ibadah yang lebih tenang, ibadah yang lebih panjang karena adanya rasa aman.
Sesaat hati ini sesak membandingkan diri saya.
Seorang muslim yang tinggal di negara yang jauh puluhan atau bahkan ratusan kali lipat sangat aman dibanding negara-negara mereka.
Seorang muslim yang tinggal di negara yang hampir tiap 2 kilometernya punya tempat beribadah, masjid atau mushola kecil yang terletak di banyak sekali tempat, sungguh sangat mudah menemukan masjid di Negeri ini. Dengan rasa aman kita bisa berlama-lama di dalamnya, bahkan dengan tambahan waktu panjang untuk mengobrol denganNya. Ya. Semua dengan rasa aman..
Berbeda dengan mereka, ya Allah, sungguh berbeda. Mereka, di negara asal mereka, sholat dan berdiam diri di MasjidMu tak bisa selama kami disini, karena panggilan Jihad tentu tak mampu membuat mereka egois meninggalkan teman-temannya bertempur sedang mereka duduk dengan tenang, tak ikut turun tangan.
Mereka, di negara asal mereka, tak mampu berlama-lama duduk dengan tenang karena tentu mereka khawatir dengan keluarga di rumah, barangkali saat mereka pergi ke Masjid untuk menunaikan panggilanNya, rumah mereka beserta sosok-sosok tercintanya di habisi oleh orang-orang ‘itu’.
Akhirnya mereka pun memutuskan pergi ke suatu tempat yang mereka anggap lebih aman untuk kehidupan yang lebih baik. NZ menjadi salah satu pilihan.
Namun takdir berkata lain, aman dan tenang saat beribadah hanya mimpi bagi mereka, bahkan hingga jauh ke Negara yang disebut-sebut menjadi salah satu negara teraman dan ter-ramah untuk muslim, mereka masih saja dirasa oleh sebagian orang sebagai beban, menjadi imigran di negara terbaik dan terindah tanpa perangpun tetap saja membuat mereka ‘tak diterima’. Bahkan hanya untuk sekedar sujud padaNya..
Ya Rabb.. sungguh malu… Dan sedih menengok diri ini…
Saya sedih melihat diri saya yang masih sangat jauh dari maksimal saat beribadah, masih tidak selama itu saat duduk menghadapNya, masih kurang ini dan kurang itu dalam beribadah..
Padahal sungguh, keberadaan saya di negara yang aman untuk beribadah menjadikan saya bukan berada di jalur yang tepat untuk tidak maksimal dalam beribadah.. Ya Rabb…. rabbighfirli….
Apa yang akan saya katakan ketika di hari itu kelak, dihari kita semua dikumpulkan, Allah bertanya sudah sejauh mana saya berjuang untuk maksimal dalam beribadah kepadaNya.. Padahal Allah telah memberiku nikmat hidup di Negara yang aman.. Padahal Allah telah memberikan nikmatNya untuk terlahir di Negara tanpa peperangan.. di Negara yang tak ada alasan untuk tak bisa maksimal dalam beribadah….
“Dan… sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Ya Allah…
rabbighfirli… 😔
#sebuahrenunganpribadi
Semarang, 17 Maret 2018
Selamat ulang tahun, kamu!
selamat tanggal 27 mei untuk yang ke 27 kalinya 🎉🎉🎉 Barakallah pertambahan usianya.... semoga selalu dalam lindungan Allah, tetap bahagia walau dalam kondisi terburuk sekalipun.. Semua doa terbaik untukmu #HappyBirthday
“Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.”
— (Q.S Al-Muzzammil 73 : 6)
aku mungkin akan benar2 melupakan, jika suatu saat nanti mendengar kabar hari bahagiamu... aku hanya menunggu waktu untuk itu 😢
Aku rindu. Tetapi aku memilih diam.
Karena aku tahu, rindu ini tak pernah layak untuk kuberikan pada kamu.
Hatimu sudah penuh dengan rasa rindu yang dia suguhkan; hatimu sudah tak bercelah untuk menampung rasa rindu dari seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa.
— Arief Aumar Purwanto
apa ada yg lebih bodoh dari ini?? 😢😢😢
😢😢😢😢
“Aku tidak pernah memilikimu. Namun, hilangnya dirimu dari hari-hariku membuat luka besar yang menganga di dalam hatiku. Bukankah seharusnya aku baik-baik saja kehilangan seseorang yang bukan milikku?”
—
Then why does it hurt so much? // A.W.
Bandung, 30 April 2018.
“Aku tidak pernah memilikimu. Namun, hilangnya dirimu dari hari-hariku membuat luka besar yang menganga di dalam hatiku. Bukankah seharusnya aku baik-baik saja kehilangan seseorang yang bukan milikku?”
—
Then why does it hurt so much? // A.W.
Bandung, 30 April 2018.
Kyoto in spring