Alhamdulillah, Bapak, Sampai Jumpa :)
Hari itu tiba juga. Hari yang mungkin sebenarnya aku tidak pernah siap. Mungkin siapapun itu tidak pernah siap. Ketika orang tua meninggalkan anaknya untuk selamanya di sisa hidup dunia.
Rabu, 14 Januari 2026. Pukul 5 pagi, saat yang tidak akan pernah aku lupakan, begitu pun dengan adikku, atau pun juga pasanganku. Ketika melihat bagaimana bapak dijemput oleh qadarnya di rumah sakit.
Hingga saat ini, masih terngiang suara bapak yang mengatakan 'enak' ketika meminum teh manis hangat setelah sekian lama tidak meminumnya. Bapak yang minta anggur dan anak-anaknya tidak membolehkan karena kadar gula yang tinggi, dan rasa syukur sebagai penghiburku ketika tahu bapak masih punya jari-jemari kaki, atau bahkan kaki yang utuh saat berpulang kepada-Nya.
Aku hanya mengucap syukur saat tahu bapak benar-benar berpulang dengan diiringi tangis adikku dan ibuku di telefon. Apa aku jahat? Tidak. Aku adalah anak pertama, tidak boleh lemah di saat semuanya sedang begitu terpuruk. Aku harus kuat, itu yang bapak ajarkan selama awal hidupku mengenal bapak. Maka, saat bapak menampakkan rasa lemah dan putus asa, aku merasa tidak terima dan marah. Karena bapak gak boleh begitu di depan keluarganya. :(
Aku pun terbiasa mengucap hamdalah di saat keadaan buruk karena yakin atas janji Allah, sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT atas segala takdir-Nya, bentuk kerelaan diri, dan upaya menjaga hati agar tetap bersyukur dalam kondisi sedih maupun senang.
Allah Maha Baik, Dia tahu, hamba-Nya yang satu ini sudah cukup mendapat pelajaran, makna ikhlas-sabar, tidak akan kuat jika diuji lebih dari sebelumnya, dan begitu pun juga keluarganya.. Dia juga Maha Baik tidak membiarkan hamba-Nya tampak hancur, terutama karena Bapak begitu menghamba pada-Nya. Mungkin, kalau kelak Bapak bisa saja tidak masuk surga, aku orang pertama yang mau protes pada Allah.. karena dia begitu mencintai-Nya, lebih dari hidupnya sendiri atau keluarganya, jadi seharusnya Allah memang harus Tahu Diri. Haha. Duh lancang. Tapi beginilah mungkin batin seorang anak untuk orang tuanya. Allahumaghfirlahu Warhamhu Wa afihi Wa'fuanhu. Semoga Bapak ditempatkan di tempat terbaik untuk menunggu kami. Bapak hanya berpindah alam tinggal dan sangat bersyukur di detik-detik terakhirnya, ia menyadari banyak hal yang salah dari hidupnya dan memahami bagaimana cinta keluarganya, terutama ibu. Kendati demikian, banyak orang yang merasa sangat kehilangan, terutama orang-orang di tempat kerja Bapak. Begitu bapak sangat disenangi, tapi aku yakin, Bapak pasti senang di alam sana, mungkin ia akan punya rumah dan harta akhirat lebih besar dan banyak dibanding saudara-saudaranya, rumahnya lebih besar dan nyaman, serta bisa membuatnya punya kegiatan yang begitu ia senangi kendati belum pernah aku berikan, berkebun di halaman/tanah yang luas. Hmm.. Pasti bapak tidak akan bosan menunggu kami. :)
Life must go on. Adik masih harus sekolah, ada ibu yang masih berusaha kuat dan tidak rindu, beruntungnya si cucu yang masih punya nenek, dan kami yang harus membagi banyak hal antara waktu dan menghasilkan uang demi kehidupan keluarga yang nyaman dan terpenuhi.
Memang ada luka dalam hidupku karena bapak, tapi aku menyadari, setelah ia tiada, memang hidup jadi tidak pernah sama dengan sebelumnya. Aku masih malu-malu untuk menangis di depan umum karenanya, hanya saja, aku masih sering teringat dan rindu menyelip di antara pikiranku dan batinku. Saat rasa itu datang, aku hanya merasa sadar sangat membutuhkannya dan merindukannya, hingga hanya sanggup menyapanya dengan doa dan meminta maaf untuknya pada-Nya. Menangisinya saat shalat dan setelahnya pun masih aku rasakan tidak begitu cukup untuk menawar rasa rinduku. Terkadang masih sering buka chat Bapak, cari-cari video yang ada suara bapak, gimana beliau mengaji, memanggil ibu, memanggil nama anakku, atau saat bermain dengan anakku saat beliau masih sangat sehat.. Apa begitu ya anak perempuan yang rasanya belum berhasil membahagiakannya? Hhh.. Tapi, usia 58 tahun itu memang sudah jadi ketetapan (Qadar) Allah, aku tidak bisa sedih berlarut. Walau pun bapak pulih dari strok dalam waktu 2 bulan, kemudian bisa saja pergi kerja atau berkebun kemudian sakit kembali dan diakhiri dengan tetap terjadi qadar-Nya itu, tetap saja, batasnya hanya di Hari Rabu, 14 Januari 2026.
Bapak, baik-baik ya.. Insya Allah.. Tahun ini puasanya gak sama Bapak, hari rayanya juga.. Tapi di sana bapak punya rumah baru yang besar, lahan yang diidamkan juga, bapak pasti gak bosan nunggu kami, di waktu bapak tidak akan lama.. Tenang saja pak.. Lov banyak untuk bapak.. Sampai jumpa ya pak..