âPak, boleh saya ikut kendaraan anda?â
âSilahkanâ
âLoh pak, kok tidak searah dengan tujuan saya?â
âOh begitu? Ya terserah, masih mau ikut, atau mau turun? saya kan tidak memaksaâ
Sebelum berbicara kendaraan, saya ingin membicarakan terlebih dahulu tentang tujuan. Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup?Â
Bagi saya, mendapatkan ridho tuhan adalah tujuan hidup paling utama. Karena seyogyanya, manusia memang diciptakan untuk beribadah, agar mendapatkan ridho tuhannya.
Tujuan hidup, sama seperti tujuan perjalanan. Tak ada bedanya, seperti pulau yang nampak dari kejauhan ketika kita akan berlabuh, atau gunung yang nampak dari kejauhan walau masih tertutup kabut, ya, itu adalah tujuan hidup, tidak bisa dicapai dengan cepat. untuk mencapai tujuan kita, kita perlu berjalan kesana, kita perlu menggunakan kendaraan yang tepat.
Bekerja, berteman, menikah, berkarya, segala kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, tanpa disadari, itu adalah kendaraan yang kita gunakan untuk mencapai tujuan hidup kita, itu adalah hal yang kita lakukan untuk menjadi lebih dekat dengan tujuan kita.
Pertanyaannya, apakah kendaraanmu membawamu ke tujuan yang benar?
Ada yang dulunya rajin beribadah, setelah dia diterima kerja, dia malah jadi jarang beribadah. Salat seperlunya, dzikir dipercepat, amalan sunnah ditinggalkan.
âBanyak kerjaanâ adalah alasan yang selalu dikeluarkan untuk menenangkan hati yang bertanya akan perubahannya. Apakah kerjamu ini membawamu ke tujuan yang benar? Atau malah dia berlawanan arah?
Ada yang dulunya rajin beribadah, tapi ketika bergaul dengan teman-temanya, dia malah sering menunda ibadah. Bahkan sesekali, melakukan apa yang memang dilarang di agamanya.
âGak enak bro, temen soalnyaâ adalah alasan yang dikeluarkan untuk meyakinkan bahwa pertemanan itu hal yang penting. Apakah pertemanan ini membawamu ke tujuan yang benar? Atau malah dia tidak mengarah ke tujuan hidupmu sama sekali?
Tak hanya itu, banyak pernikahan yang membuat kecintaan terhadap manusia semakin kuat, tapi malah membuat kecintaan terhadap sang pencipta semakin lemah. Dan masih banyak juga hal lainnya yang kadang tak kita sadari menjadi kendaraan kita.
âPertanyaannya, apakah kita sadar, bahwa kendaraan kita ini membawa kita mendekati tujuan kita, atau menjauhi tujuan kita?â
Jika kita naik taksi dan dia menjauhi tujuan kita, apakah kita akan turun, atau tetap diam sambil melihat argo yang terus naik yang tentunya menghamburkan waktu serta uang anda? Tentu anda akan turun dan ganti kendaraan yang lain.
Tapi banyak dari kita, yang tak sadar, bahwa kendaraannya ini tidak mendekati tujuan hidupnya sama sekali. Bisa jadi, kendaraannya terlalu nikmat, sehingga dia lupa tujuannya, dia lebih senang menikmati kendaraannya, tiduran, senang-senang, tak peduli kalau kendaraan itu tak searah dengan tujuannya. Atau, bisa jadi pula, karena kita memang tidak punya tujuan sama sekali. Kemanapun kendaraan itu membawa kita, kita tetap diam di mobil. Sampai akhirnya anda turun, dan bertanya, âKenapa saya bisa ada di sini?â, sambil melihat kendaraan anda pergi dan takkan kembali walau kita panggil hingga teriak sekalipun.
Menentukan tujuan hidup, adalah hal yang paling esensial dalam hidup. Dan memastikan kendaraan yang kita naiki, itu adalah hal lain yang juga utama.
Kita adalah penumpang dari kendaraan yang kita naiki, tapi kita adalah supir dari kehidupan kita sendiri. Urusan kendaraan, kita yang menentukan, bukan orang lain.
Maka, jangan sampai kita salah pilih kendaraan. Ingat, yang penting adalah sampai pada tujuan, bukan senikmat apa kendaraannya.
Semoga kita ini bisa menjadi manusia yang masih menjadikan tuhan sebagai tujuan akhirnya, bukan urusan dunianya.
KENDARAAN
Batam, 22 September 2016