Melangkah Cepat, Dunia Melesat
Aku merasa cemas menulis dan membuat keputusan ini, tetapi jika tidak sekarang, kapan lagi dapat mendorong diri untuk berkembang dan semakin termotivasi. Langkah ini nampaknya aga sulit, tetapi aku harap dapat melihat perubahan positif dalam diri kedepannya.
Aku sering berpikir, mengawali tahun baru ingin rasanya mereset (mengatur ulang) diri agar menjadi pribadi yang baru. Menjadi pribadi yang lebih terbuka akan perubahan-perubahan positif dan lebih cekatan dalam menangkap peluang baik.
Setiap akhir tahun, aku selalu punya rencana besar. Dan rencana di tahun depan lebih menargetkan diri untuk menjadi pribadi yang cekatan. Rasanya semangat itu sudah membara sekali dalam diri, tapi berbicara soal cekatan dan perubahan kenapa ya harus nunggu momen tahun depan?.
Alhasil aku jadi berpikir, untuk menjadi cekatan kenapa tidak mulai dari besok atau bahkan sekarang saja? Makna cekatan bahkan akan lebih terasa, dan agar tidak lagi-lagi perubahan hanya menjadi wacana.
Aku pun membulatkan tekad dan memutuskan untuk ngambil langkah pertama menuju kehidupan yang lebih cekatan. Esok pagi, aku akan mencoba cekatan dengan mulai menyiapkan list aksi yang harus dilakukan hari itu, akan mengerjakan tanpa tapi dan permisi, dan segera bergegas dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.
Jadi teringat ayat yang menyuruh manusia untuk segera bergegas dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dan merupakan seruan untuk tidak terjebak dalam kepuasan diri setelah berhasil, melainkan untuk terus mencari pencapaian yang lebih tinggi.
Yaitu dalam firman Allah, Surah Al-Insyirah ayat 7 : "Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bersungguh-sungguh untuk (mengerjakan) urusan yang lain."
Dan ayat ini menyiratkan makna bahwa manusia tidak boleh terlalu sering melihat kebelakang. Melihat lah ke depan, serta pahami masih ada banyak aspek kehidupan yang membutuhkan perhatian dan usaha.
Tidak usah mikir terlalu lama dan tidak usah ragu kalu mengabil tindakan apalagi sampai terjebak dikubangan masa lalu. Toh kalau salah bisa diperbaiki atau diulang lagi. Jangan juga terfokus padah hal-hal besar, mulai saja dulu dari meng-handle tugas-tugas kecil yang sudah lama terulur, sambil merealisasikan keputusan besar yang selama ini hanya menjadi wacana.
Ibuku sering sekali mengingatkan soal cekatan. Beliau selalu bilang, "Hidup itu seperti air yang mengalir, kalau kamu tidak cekatan, kamu bisa terbawa arus atau bahkan tenggelam." Dan katanya, "Dunia luar itu lebih ganas, kalau tidak cepat tanggap bisa tertinggal banyak hal".
Lihat saja, zaman sekarang sudah canggih sekali kan?. Teknologi juga cepat sekali merambah ke ruang kehidupan. Aku tidak mau dong jadi kayak kapal karam yang ketinggalan zaman.
Setelah dipikir-pikir ada benarnya, untuk tidak tertinggal harus mengikuti arus. Bukan berarti harus mengejar apa yang kita tidak punya. Hanya mengikuti ritme, meski tidak bisa meng-handle segalanya paling tidak jadilah yang setara.
Pesan-pesan tersebut sebetulnya selalu terngiang-ngiang. Aku sepakat!, nampaknya kalau tidak mau jadi korban arus kehidupan harus belajar cekatan. Tidak perlu meluangkan waktu berpikir terlalu lama, karena waktu itu sangat berharga.
Jadi, dimulai besok pagi aku akan mencoba memulai hari dengan langkah pertama yang lebih cekatan. Tidak mau lagi menunda-nunda, sudah capek terlalu banyak menunda.
Aku pun percaya, dengan menjadi lebih cekatan, aku bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan tahun depan dengan lebih mantap dan matang.
Siap-siap ya dunia, aku akan menjadi yang lebih gesit!