When You’re Financially Struggling
Setiap kali Nabi Zakariyya memasuki mihrab Maryam, beliau selalu menemukan buah2an yg bukan musimnya, yg secara logika seharusnya ngga ada di sana.
Suatu hari Zakariyya akhirnya bertanya,
“Maryam, dari mana semua ini datang?”
“Ini dari Allah. Allah provides for whom He wills without limit. Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa ukuran.”
Lalu apa yang dilakukan Zakariyya setelah melihat keajaiban itu?
Ia ngga datang kepada Allah hanya karena melihat “kesempatan”, tp terlebih dahulu bersyukur atas semua nikmat yang sudah ada. Zakariyya berkata kepada Allah,
“Dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.”
Karena sebenarnya, cara Allah memberi kita rezeki dlm kehidupan sehari2 aja sudah merupakan mukjizat yg sering kita abaikan.
Zakariyya ngga meminta anak sekadar utk memiliki. Ia ingin anak itu jd rezeki bagi agama dan membawa dirinya lebih dekat kepada Allah. Jadi ketika kita meminta sesuatu kpd Allah, entah itu harta, pekerjaan, posisi, atau harta, mintalah sesuatu yg bisa kita gunakan utk menyenangkan-Nya. Not just something to please ourselves, but something to please Him. Karena Rizq itu hubungan dgn nama Allah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki.
Seorang ulama bernama Hatim al-Asamm pernah berkata,
“Aku melihat manusia ragu tentang rezeki mereka.”
Semua orang gelisah. Semua orang takut kekurangan. Lalu ia berkata,
“Aku bertawakal kepada Allah.”
Mengapa? Karena ia membaca firman Allah bahwa tidak ada satu makhluk pun di bumi kecuali Allah yg menjamin rezekinya. (QS Hud:6)
Lalu ia sadar sesuatu bahwa I am one of those creatures. Aku juga makhluk itu.
Dan ketika ia menyadari hal itu, ia berhenti menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang sudah Allah jamin.
Tapi pertanyannya, gimana cara rezeki itu datang?
Perbedaannya bukan pada usaha kita, tapi pada hati di balik usaha itu. You work like it depends on you, but you rest like it's already written.
Para ulama menjelaskan bahwa rezeki datang melalui dua jalur.
Pertama, melalui usahamu sendiri. Kamu memperbaiki CV, bekerja keras, dtg tepat waktu, berusaha maksimal, lalu dpt gaji.
Kedua, rezeki yg dtg sebagai kejutan. From places you would never expect. Dari arah yang bahkan tidak pernah kamu rencanakan.
Keduanya berasal dari Ar-Razzaq. Kamu mengambil sebab, tp kamu percaya kl Allah memberkahi sebab itu.
Rasulullah SAW memberikan contoh yg sgt indah. Beliau bersabda bahwa “jika kalian benar2 bertawakal kpd Allah, Dia akan memberi rezeki kpd kalian sprt Dia memberi rezeki kepada burung.”
Burung keluar pagi hari dlm keadaan lapar, dan pulang sore hari dlm keadaan kenyang. Notice that the birds keep flying. Trust Allah controls the sky. But you still have to fly.
Kadang Ar-Razzaq bahkan memberi rezeki kpd seorang pendosa sebagai undangan utk kembali kepada-Nya.
Rasulullah SAW menceritakan kisah seorang lelaki yg keluar pada malam hari utk bersedekah secara sembunyi2. Keesokan paginya orang2 berkata bahwa sedekah itu jatuh kpd seorang pencuri.
Ia berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu.”
Malam berikutnya ia bersedekah lagi. Ternyata jatuh kpd orang kaya. Ia berkata lagi, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu.”
Malam ketiga ia bersedekah lagi. Kali ini jatuh kpd seorang pezina. Ia tetap berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu.”
Kemudian dalam mimpi, ia diberi tau bahwa mungkin pencuri itu akan berhenti mencuri karena sedekah tersebut. Mungkin pezina itu akan berhenti dari dosanya. Dan mungkin orang kaya itu akan belajar untuk berbagi.
Ar-Razzaq tidak hanya mengajarkan tentang sedekah. Dia mengajarkan bahwa manusia tidak perlu bermaksiat utk bertahan hidup. Dan bagi seorang mukmin, terkadang Ar-Razzaq memberi dgn cara menahan. Gimana tuh mksdny?
Kadang Dia menutup pintu yg kita mohon dibuka. Bukan karena Dia menolak kita, tapi karena di balik pintu itu ada sesuatu yg akan meracuni hati kita.
Sementara kita melihat org lain mendapatkan sesuatu dan kita bertanya, Why them?
Jgn sibuk memikirkan apa tujuan Allah memberi kpd org lain. Renungkan apa yg Allah sdg ajarkan kepadamu.
Dan kita perlu memperluas cara kita memahami rezeki.
Ketika mendengar kata rizq, kebanyakan kita langsung membayangkan angka, salary, financial freedom, padahal itu cara pandang yg sangat sempit terhadap Tuhan Yang Maha Dermawan.
Rizq itu segala sesuatu yg memberi manfaat bagimu.
Keluarga dan sahabatmu adalah rizq.
Dan yeaa… bahkan cinta itu pun juga rizq.
Rasulullah SAW pernah berkata ttg istrinya Khadijah,
“Aku dianugerahi cintanya. Her love was sustenance.”
Allah bahkan membagikan rezeki spiritual sebagaimana Dia membagikan rezeki materi.
Ada org yg sejak lahir diciptakan utk menjadi imam.
Ada yg hatinya tertarik pada kerja kemanusiaan.
Ada yg mudah berpuasa dan bersedekah.
Ada yg ringan bangun tahajud.
Ada yg mudah menangis saat mendengar Al-Qur’an.
Ada yg sabarnya luar biasa.
Imam Malik pernah dinasihati agar meninggalkan mengajar dan fokus beribadah saja. Ia menjawab “Allah membuka pintu ilmu untukku, dan aku ridha dengan itu.”
Apa yang Allah bukakan untukmu adalah rezekimu.
Jgn remehkan itu hanya krn bukan kyk milik org lain.
Nama Ar-Razzaq sendiri hanya disebut sekali dalam Al-Qur’an. Dan Allah memperkenalkannya dengan cara yang menutup semua alasan untuk meragukan-Nya
“Sesungguhnya Allah adalah Pemberi rezeki, Yang memiliki kekuatan, lagi Maha Kokoh.” (QS. Adz-dzariyat:58)
Mengapa rezeki disandingkan dgn kekuatan dan kestabilan? Karena hati manusia selalu memeriksa dua hal saat mencari penopang hidup
Apakah dia cukup mampu untuk memberi?
Dan apakah dia akan terus memberi?
Allah menjawab keduanya sekaligus.
Ketika kita merasa berhasil krn diri kita sendiri, saat itu kita sebenarnya sdg mengingkari Ar-Razzaq.
Itulah knp setelah makan kita diajarkan berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang memberiku makan dan rezeki ini tanpa daya dan kekuatan dariku.” It’s a reset button. Bahwa kita bukan sumbernya, kt hanya penerima. Dan betapa indah ketika Allah bukan hanya memberimu rezeki, tetapi menjadikanmu bagian dari rezeki org lain, padahal sebenarnya kamu bukan pemberinya. You were just the vehicle. Allah memuliakanmu dgn km jadi perantara utk menyampaikan rezeki yg sudah Dia tetapkan bagi org lain.
Di sinilah kita mengenal nama Allah Al-Karim.
Jika Ar-Razzaq memberi bagianmu, Al-Karim menunjukkan betapa indah cara pemberian itu.
Dia memberi lebih dari yang pantas kita terima.
Dan Dia memberi dgn cara yg memuliakan kita.
Dia memberi sebelum kita meminta, lebih dari yg kita minta, dan selalu dgn cara yg paling indah.
Lalu ada satu tingkat lagi dalam kemurahan itu: Al-Akram.
Jika Al-Karim membuatmu kagum pada apa yang Dia beri dan bagaimana Dia memberinya, maka Al-Akram membuatmu tunduk pada “mengapa Dia memberi.”
Purely because He loves to give.
Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan nama ini اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ (Al-’Alaq:3)
Allah bisa memulai dengan nama apa saja, tp Dia memilih Al-Akram, seolah ingin memberi tau Nabi bahwa apa pun yg beliau cari, beliau akan dpt dgn lebih dari yg beliau bayangkan.
Lalu bagaimana kita memaknai nama2 ini dlm keseharian?
Luruskan pemahaman ttg sebab rezeki.
Pekerjaanmu bukan sumber.
Kecerdasanmu bukan sumber.
Mereka hanyalah means. Mereka adalah sebab.
The One who created the means is Allah.
Ketika kamu paham konsep itu, kamu berhenti melihat org lain sebagai ancaman bagi rezekimu.
Apa yang ditetapkan untukmu akan datang.
Apa yang melewatimu memang tidak pernah ditulis untukmu.
Maka kamu belajar memberi dengan hati yang lapang. Bukan dari rasa takut kekurangan, tapi dari rasa percaya.
Dan Allah tidak akan pernah kalah dalam memberi dibandingkan hamba-Nya.
Kadang kemurahan Allah terlihat seperti pencegahan. Kadang Dia menutup pintu yang kamu mohon dibuka. Kadang Dia menunda sesuatu yang kamu kira penting.
Tapi kadang juga Dia mengganti kehilanganmu dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Dan dengan terus husnuzan kepada Allah, kamu mulai menemukan versi terbaik dari dirimu.
Engkau memberi kepada setiap makhluk dengan cara yang tak kami lihat.
Beri makan hatiku sebelum tanganku.
Jadikan kepercayaanku pada rezeki-Mu lebih besar daripada ketakutanku pada masa depan.
Karuniakan padaku rezeki yang mendekatkanku kepada-Mu, dan jangan biarkan apa yang kuperoleh membuatku lupa dari mana asalnya.
Engkau memberi melebihi yang pantas kuterima dan dengan kemuliaan yang tak sanggup kubalas.
Jadikan aku cermin dari kemurahan-Mu.
Mulia dalam memberi, tekun dalam bersyukur.
Jika Engkau menahan, ingatkan aku bahwa Engkau tetap memberi, meski dengan cara yang belum kupahami.
Anugerahkan kepadaku keridaan dalam setiap takdir. Jadikan bagianku di dunia ini cukup, dan bagianku di akhirat berlimpah.
Biarkan aku hidup dalam syukur atas kemurahan-Mu yang tak pernah mampu kubalas, dan wafat dalam pujian kepada Tuhan yang selalu memberi lebih.
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَاءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا