Dante et Virile by William-Adolphe Bouguereau, Musée d'Orsay, France c.1850
hello vonnie
Mike Driver
Three Goblin Art
Claire Keane
YOU ARE THE REASON
Sade Olutola
No title available
he wasn't even looking at me and he found me

pixel skylines
d e v o n
Not today Justin
Cosmic Funnies

#extradirty
DEAR READER
One Nice Bug Per Day
todays bird
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

@theartofmadeline

roma★
Show & Tell
seen from Maldives

seen from Malaysia

seen from Israel

seen from Türkiye

seen from South Korea
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Israel

seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@penafsiran
Dante et Virile by William-Adolphe Bouguereau, Musée d'Orsay, France c.1850
Agonia
ago·nia 1 n penderitaan berat; 2 a sekarat
Aksa dalam jurang yang sama Kita, hanya separuh raga dan ruh Jiwa nan tak utuh Roman penuh alufiru Aku, dengan kultus tentangmu.
Alexander Laksono Surabaya, 22 September 2021
Jeda
je·da n waktu berhenti sebentar
Sudikah waktu menjelma ruang tunggu?
Ingatan wangi dan lekuk tegas tubuh
Hangat bibirmu dan aku
bisakah satu?
Hanya kita tahu kapan Ia mengabu
atau menjadi ruh.
Alexander Laksono Surabaya, 12 Februari 2021
The Incredulity of Saint Thomas by Matthias Storm, Museo Nacional del Prado, Madrid c.1620
Karena sejatinya kasih sayang adalah sederhana.
Dia tidak pernah meminta apa-apa. Namun sekali pergi, membawa semua dan mengubahnya menjadi telah.
Alexander Laksono. Jurnal Kematian
Altar
al·tar n 1 Kris meja tempat kurban misa; 2 mazbah
Kulajukan kuda hitam di perjalanku menuju Nus Eden dengan kecepatan penuh. Dentuman-dentuman suara tapal kuda bertempur hening suara malam, dan roh-roh yang telah mati menemani perjalanan. Sejatinya, hari penghakiman telah ada di ujung kepala. Kuangkat tinggi-tinggi pedangku, mereka ingin merebutmu dari lindungan zirah dan rasa sayangku. Menyisir padang menuju selatan, kutemukan rumah ibadat penuh dengan bunga Higanbana.
Gereja tampak tua. Burung-burung gagak bertengger di jendela-jendela menatap tiap langkahku. Aku telah sampai pada tujuanku, di tepi pembaringanmu.
Parasmu tak ubahnya seperti dulu. Kudekatkan wajahku ke wajahmu. Kubisikkan pelan pesanku di telingamu. “Bagaimana Ia memberi rasa pada yang tak punya apa-apa? Bagaimana bisa kita mencinta pada yang tak mencinta?”
Kukecup bibir pucat itu untuk terakhir kali, anggaplah ini rasa cintaku padamu hingga ajal menjemputku.
Alexander Laksono Surabaya, 16 Desember 2017
Martyr’s Death of St. Sebastian by Louis Tytgadt, Museum voor Schone Kunsten, Gent c. 1841
Paras
pa·ras n rupa; wajah
Bagaimana mata selaras warna mahoni itu menjebak mataku?
Bagaimana sukma itu menjatuhkan tubuhku padamu?
Bagaimana jari-jemari itu menuntunku menuju lorong surga pada sela pahamu?
Bagaimana senyum itu menghauskan perasaan dan hasrat untuk selalu mencium bibirmu?
Alexander Laksono Surabaya, 17 Mei 2017
Peron Ketiga
Dan sore pun mengabu pada mata keramaian kota. Tebal dengan para pembual dan pembangkang yang dihidupkan tumpukan arang. Tercecarlah debu asap kereta dan cerita kota.
Pintu sudah terbuka, bergegaslah para yuwana dan orang tua memasuki gerbong-gerbong kereta.
Kita berdesak untuk pulang. Kita berdesak mencapai terang.
Sosok asing itu dengan ragu bertanya “Kota apa ini? Kemana kita harus pergi?” tapi kita belum boleh tahu. Waktu belum mengizinkan kita tahu. Jendela dan kursi usang ini terus menemani kita menyusur jalur kereta. Menyusur jalur menuju dosa.
Ini Hemistich perjalan ke stasiun berikutnya. Peron ketiga selanjutnya. ”Apakah kita tersesat?” tanya dia dan saya hanya tersenyum membalasnya. Entah untuk apa saya menunggu dan entah untuk apa saya mencari. Kita yang diganjal dengan rasa lapar dan haus tak pernah berhenti untuk berjalan terus. Begitu pula dengan rasa takut yang terus berdampingan berjalan lurus.
Alexander Laksono Surabaya, 03 Mei 2017
Puisi adalah hampa yang bersila di persimpangan.
Alexander Laksono. Menuju Tengah Malam, 11:13 pm
Elegi
ele·gi /élégi/ n syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita
Duduklah di belakang. Matamu memantulkan kilat seraya berkata dengan raut wajah amarah. “Jika itu yang kamu mau, maka aku akan melakukan itu.”
Di perjamuan terakhir, kita berdua berdebat tentang ayat-ayat kitab yang diwahyu kepada seorang Nabi. Tafsiran demi tafsiran dengan logika akal manusia tak cukup untuk apa yang kita mau. Katamu, dunia akan lebih indah dengan seorang yang paham apa yang sama dengan keyakinanmu. Aku harap kamu tidak berubah seperti Adonia, anak Hagit.
Karena kamu salah.
Terhitung jari kita hadir dalam Rumah Ibadat. Bertemu dengan Tuhan seakan terpisah oleh ribuan jarak cahaya, sama seperti menatap matamu. Bumi seakan mengelupas dengan kerak yang menggulung kearah pelarian kita berdua. Jadilah petang, jadilah pagi. Itu adalah hari ketiga. Tulah dan kejadian yang tertera sekarang telah menjadi nyata. Pada hari kesesakan yang melunjak hingga arteri jantungmu, darahmu memenuhi seluruh bilik dan menekan seakan kau tercekik oleh itu. Kamu akan memanggil namaku.
Duduklah di belakang. Saat Altar penuh dengan pendosa, kita berdua makan dari penghasilan para pekerja surga. Aku telah memakan serangga yang merayap, bersayap dan berkaki empat; kamu juga sama. Sejujurnya aku menikmati ini, jika kita berdua tetap bersama. Di hari pelarian kita yang tak terhitung, aku sungguh menikmati perjalanan menuju akhir cerita kita.
Duduklah di belakang. Aku akan segera pulang. Kita berdua telah berkelana sampai Yunani, bukan? Apakah kau ingat itu? Apakah kau mengingat ketika panah menembus kaki kananku dan aku hanya tersenyum saat kau bertanya “Mengapa kau menepis tanganku? Biarkan aku membantumu.” dengan tergesah dan ketakutan? Apakah kau tidak bisa merasakan jawabanku dalam hatimu? Apakah kau mengingat kita bertengkar bak ciuman-ciuman singkat yang beradu dengan waktu? Apakah kau juga melupakan itu? Aku tahu kau masih disana. Entah, kau menunggu untuk siapa.
Kita adalah dua manusia yang paling bahagia saat itu. Semua itu terasa menyenangkan, karena hanya akulah yang merasakan. Apakah aku benar?
Duduklah dibelakang. Besok adalah hari Misa. Apakah kamu masih mengingat namaku di sela kebahagiaan dan tawa manismu itu? Aku harap jawabmu adalah sama dengan apa yang sedang bergeriliya di pikiranku.
Aku masih menyayangimu, dengan satu jiwa tersisaku.
Aku akan pergi sekarang. Aku akan segera pulang.
Alexander Laksono Gresik, 17 Maret 2017
Jika definisi cinta adalah seperti ini, maka saya enggan untuk merasakan yang kedua kali.
Alexander Laksono. Menuju Tengah Malam, 12.00 am
Rindu itu susah ditebak. Kadang ia datang tak terduga, kadang juga perginya tak meninggalkan apa-apa.
Alexander Laksono. Menuju Tengah Malam, 11:46 pm
Teater
te·a·ter /téater/ n 1 sandiwara
Pertunjukan Monolog.
Tengah malam, sedang purnama.
Disuguhi emosionalitas. Digerus derai air mata tak tuntas. Diakhiri dengan tanya yang tak pernah melintas.
Kata tak sampai dua. Kalimat tanpa amanat. Paragraf tanpa ayat.
Sekarang langit sedang gerau, berparas parau. Waktu menunjuk tepat dua belas. Saat tak bersahabat. Senyum itu muncul sekelebat. Saat dimana pikiran dan hati sedang bergulat. Sungguh, sebenarnya kita manusia yang—tak—pernah ingin berdebat.
Alexander Laksono Surabaya, 01 April 2017
Kamu adalah pengkhianatan yang aku inginkan.
Seperti asas Pacta Sunt Servada, setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati oleh pihak yang mengadakannya. Tapi sayang, dalang dibalik pembuatan hanyalah aku. Dan dirimu, tak mau ikut andil dalam ikatan itu.
Alexander Laksono. Jurnal Kematian
Semakin aku meniadakanmu dari pikiranku, semakin kamu ada.
Ketika aku bercerita tentang bagaimana senja memeluk wajah samudera, pendengaranmu memudar seiring jalannya cerita. Bagaimana terbentuknya sebuah perasaan polos menjadi kompleks hanya karena satu raga. Pada akhirnya, aku bersimbah darah karena afeksi yang kuberikan tidak sebanding dengan bagaimana harusnya sebuah balasan dikembalikan.
Alexander Laksono. Jurnal Kematian
Intuisi
in·tu·i·si n daya atau kemampuan mengetahui atau mema-hami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati
Karena diriku hari ini telah kalah dengan perasaan dan egoku. Aku membiarkan diriku terjatuh dalam hal yang sama. Aksa kedalam jurang dengan tebing nan curam.
Abadiah, tidak menolongku untuk yang kedua kali. Dia—juga ikut terjatuh kedalamnya—menggapai tepian harapan dari sisa hidupnya. Jika saat ini adalah yang terakhir, izinkan aku untuk jatuh bersama tubuhmu.
Terlepas dari itu, izinkan aku untuk mencium wangi darahmu sekali lagi. Larutkan aku dalam puisi tengah malam yang selalu kau buat itu. Izinkan aku sejenak mengecup senyum sedihmu. Izinkan aku untuk menyentuh kulitmu dengan tanpa nafsu. Izinkan aku untuk menatap wajahmu dengan waktu yang tidak aku tahu. Izinkan aku untuk menikmati sisa hidupku bersamamu.
Semua musik sendu dalam daftar musikku telah habis bersamamu, lantunan dan dentuman menanggalkan desir harapan dan angan tentang waktu yang terbuang dulu.
Mereka mengalir menuju jazirah dan gerau samudra, perlahan, menyatu dan tenggelam secara bersamaan. Namun ingatan, dia tetap menunggu di pinggir dermaga. Menunggu, entah apa yang ditunggunya, hanya menatap ke arah warna senja benua.
Sungguh, alufiru, aku—dan jiwaku—masih terperangkap bersamamu. Jikalau memang kau tidak membalas imajinasiku, setidaknya masih ada afsun diantaramu untuk candu di saat mata & tubuhku bersama purnama malamku.
"Aku pikir kau juga merasakan hal yang sama denganku. Intuisi, dengan liciknya berbohong kepada pikiranku."
Namun, waktu terus berlalu.
Kali ini, yang tersisa hanya sedikit bayangan serta penyesalan diriku tentang menginginkanmu.
Alexander Laksono Surabaya, 06 November 2016