Bagaimana jika Tumblr ini saya jadikan secret diary tentang alur saya berkarir?
Karena kulihat ternyata isi Tumblr ku galau-galau Tuhaaannnn, maafkan hambamu.
Cosimo Galluzzi

Origami Around
wallacepolsom

Andulka
RMH

titsay

JBB: An Artblog!
Xuebing Du
noise dept.
No title available
taylor price

tannertan36
One Nice Bug Per Day
No title available
YOU ARE THE REASON
Stranger Things
KIROKAZE
Jules of Nature

blake kathryn

⁂

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from T1
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Poland

seen from United States

seen from Uruguay

seen from Canada
@penanya
Bagaimana jika Tumblr ini saya jadikan secret diary tentang alur saya berkarir?
Karena kulihat ternyata isi Tumblr ku galau-galau Tuhaaannnn, maafkan hambamu.
Oh, hai!
Long time no see, Tumbly.
Somehow we becoming air, north star, or wind which cannot define.
Whenever, it’s heavy poor rain, storm that could us blind,
we, always become the three parts at side.
Kau tak perlu melihat perjuanganku seperti apa di tengah riuh-rendah badai itu menerpa. Tapi lihatlah, bagaimana aku berdiri tanpa kau, aku bisa.
Terima kasih telah sampai pada tahap ini..
Akhirnya menyapa pada malam, hari dimana harus kembali kutanam.
Apa kabar?
Sebagian aku, adalah kamu dalam bentuk kepercayaan.
(via jalansaja)
Tak perlu menyesal jika kau telah menjalaninya secara sungguh-sungguh.
Tak ada yang perlu disesali meskipun akhirnya (di)pisah.
Tak ada yang perlu disesali meski mulutmu berkata “aku main-main” padahal hatimu tidak.
Ia menyangka bahwa pohon itu akan hilang karena ia telah menerpanya, bahkan telah mempermainkan dahannya, daunnya, temannya. Ia menyangka bahwa pohon itu lekas tumbangnya, lekas mati, lekas tersayat dan mengeluarkan kambiumnya lagi. Ia melakukan perlawanan, siasat untuk merontokkan yang tersisa dari pohon yang berdiri di sana. Tetapi apakah semudah itu? Yang pohon itu tau ia diciptakan, ia selalu dilihat pencipta-Nya, ia selalu dinaungi-Nya. Itu yang menjadi pegangannya.
ap
Sinfully Tempting Sweet Treats Of All Colors By Australian Baker
Australian based dessert aficionado Vickie Liu is a self-proclaimed amateur baker and professional eater who is conjuring up the most delectable sweet tooth fantasies on Instagram.
Keep reading
Menerima Masa Lalu
Tidak pernah ada yang menginginkanmu menjauh dari masa lalu. Tidak pernah ada yang memintamu untuk melupakan masa lalu. Namun, ini tentang bagaimana kita harus paham, bahwa kehidupan ini tidak perlu berjalan membawa beban berwujud masa lalu.
Masa lalu itu bagai hewan penghisap darah. Ketika kita memberinya kesempatan untuk hinggap dalam hidupmu. Perlahan ia akan menghisap segala kebahagiaanmu. Ia tidak akan segan mengganggu apapun yang kita jalani. Hingga tanpa disadari, dayamu habis dihujam tanpa ampun oleh masa lalumu sendiri.
Biarlah masa lalu tetap berada pada posisinya jauh di belakang sana. Biarkan kita memperjuangkan apa-apa yang dicari. Bukan masalah membesarkan ego, bukan juga membenci masa lalu. Namun, hanya berusaha menjaga untuk menjaga diri dari ketakutan-ketakutan yang bisa saja ditimbulkan dari masa lalu. Karena tantangan yang sesungguhnya adalah tentang hari esok, bukan dari masa lampau. Dan hari esok masih menyimpan banyak mimpi yang kita inginkan.
Kita tidak perlu mengemis pada Sang Waktu untuk menyembuhkan segala luka dari masa lalu. Karena waktu tidak pernah mampu mengobati luka apapun. Sebab, yang mengobati lukamu adalah dirimu sendiri, bukan waktu.
Jika sesuatu yang pergi itu memang telah ditetapkan untuk kita, maka pasti ia punya cara sendiri untuk kembali kepada kita pada nantinya. Dan ia akan hadir sebagai hadiah dari masa depan, bukan lagi masa lalu. Meski terkadang, ia hadir dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Masalah ini sesungguhnya sangat sederhana, bukan pada masalah kemauan untuk melupakan atau tidak. Melainkan kemauan untuk menerima. Jika hati mau menerima apa-apa yang pernah menyakiti kita di masa lalu, kita tidak perlu repot-repot untuk melupakan lagi. Semakin kita berusaha keras melupakan suatu hal, hanya akan semakin membuatnya susah lepas dari batin.
Tidak peduli nantinya dengan cara apa kita menerima, mungkin lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Toh takdir itu akan tetap hadir di depan kita. Meski kita berbalik arah ia akan tetap mengikuti. Ditolak pun mustahil, hingga lambat laun kita menyadari harus menerima takdir itu.
Tidak apa-apa, bukan?
Sebab hanya dengan menerima, kita mampu berdamai dengan masa lalu.
Bogor, 30 Agustus 2016 | Seto Wibowo
Masih ramai dengan hashtag nikahmuda
Tidak ada yang salah dengan pemuda-pemudi yang memilih jalan itu, pun mereka telah siap menjalani dengan segala konsekuensinya. Keyakinannya teguh, menurutku. Mereka adalah pasangan yang hebat dalam artian di usia yang sangat belia (yang sedang menjadi trending topic), demi menghindari zina mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah muda. Yakin dan mampu hidup mandiri dengan rezeki yang Allah beri, kesehatan yang Allah beri, kematangan pola pikir yang Allah beri.
Tetapi juga tidak salah bagi mereka yang memilih jalan untuk menikah “tidak muda”, kan? ya, itu adalah perbedaan prinsip. Perbedaan isi kepala. Mungkin bagi mereka yang berada di golongan di atas, berkeyakinan dengan membina rumah tangga secara dini demi kebaikan-kebaikan agama ya tidak apa-apa. Toh, itu pun dilakukan karena menjalankan sunnah. Sedangkan bagi golongan yang “menikah tua” ini pun mestinya memiliki cara pandang yang berbeda. Pasti. Bagi saya yang berada di haluan ini, selain belum punya calon masih memikirkan masa depan yang masih perlu saya perjuangkan, rasanya masih malu saja. Belum bisa memberikan apa-apa ke orang tua (dalam artian selain materi, dan semacamnya) namun lebih ke prestasi dan kebahagiaan yang benar-benar “mantap”. Rasanya masih malu, ketika kemandirian nanti benar-benar belum siap. Masih meminta-minta (jangan sampai) padahal sudah berkeluarga. Masih belum menemukan problem solving bagi permasalahan rumah tangga sendiri, masih dicampuri urusannya, masih sering curhat-curhat ke orang lain, misalnya. Rasanya belum siap saja. Hal-hal semacam itu yang masih mengganggu pikiran saya dan memantapkan hati bahwa saya belum siap menikah muda. Apalagi, namanya rumah tangga sama saja membangun mahligai-Nya kan? Bukan perkara main-main.
Jadi, tidak ada yang salah dengan kedua prinsip di atas. Cuma saya menyayangkan orang-orang yang hidup dengan mengikuti trend.
Apakah prinsip selunak itu?
Pacitan, 16-08-2016 15:06
Hening
Adalah caraku berpesan pada rasa,
agar ia melihat bahwa akalku tak salah menilai cara.
Menjadi Siap
Barangkali kita tak perlu mendewasa dengan tergesa-gesa. Hanya saja, kita perlu menjadi siap dalam segala hal.
Barangkali pasanganmu tak mempertanyakan bagaimana kau melewati masa sebegitu hebatnya. Atau, barangkali ia adalah detektif yang siap menerkam rekam jejak kita. Disana, kita harus menjadi siap.
Barangkali hari ini kau masih bisa tertawa-tawa. Memikirkan segala kemungkinan dengan mudah, maupun susah. Tetapi dengan mempersiapkan kemungkinan terbaik-terburuk, kita akan menjadi siap.
Barangkali suatu saat kita akan ditempa kembali tentang mempertahankan hubungan, namun dengan menjadi siap bukankah masalah seterjal apa bisa dilalui bersama?
Barangkali hari ini orangtua mu sedang mendoa-doa. Meratap rindu, meminta agar kita cepat diselesaikan dan dimudahkan dalam berbagai hal. Lalu dimana harimu mencapainya, bukankah lebih baik jika kita menjadi anak yang siap untuk segala?
Barangkali studimu sedang diujung waktu. Dimana dikau harus lebih sering membantu -- studi adik-adikmu, keluargamu. Apakah kita akan terus-terusan untuk tidak siap menjalani keadaan?
Menjadi siap.
Kita harus menjadi siap.
Apapun itu.
Yogya, 25-07-2016 10:15
Kau tidak akan pernah tahu segalanya. Jangan merasa istimewa, itu bukan inderamu.
Bagi beberapa orang, untuk benar-benar memaafkan terasa begitu sulit dilakukan.
terutama untuk kesalahan yang telah terulang, dua kali dan memaafkan diri sendiri
Kalau duniamu mulai resah,
Mungkin saat ini kau sedang berada pada genggaman yang fana Hati tak tenang pikiran kemana-mana Ada yang harus kau pahat perihal sesuatu yang bernama "cahaya" Batu pada hatimu tak akan begitu saja tersingkir bila kau tak mau mengambil andil Tetapi bilamana itu terasa berat untuk digulir maka perlulah orang lain untuk membantu. Tak apa Menunggu sesuatu yang berharga semestinya juga bukan dengan kita berdiam saja, pepatahnya begitu Tiga, lima, tujuh tahun bahkan lebih lamanya, tidak ada yang keliru Selama kau berpegang pada yang kau yakini, menjadi lebih baik dari versi sebelum dirimu Kurasa itu, Pantas.