Mundane life.
Duduk di hadapan saya dua remaja tuli yang asik saling bercengkerama sambil melakukan panggilan video pada mungkin temannya juga. Tawa dan senyum mereka meluluhkan hati saya yang sudah beberapa hari ini terasa mendung.
Ah, berapa lama saya tidak mensyukuri hal-hal kecil dalam keseharian saya?
Tidak, saya tidak bersyukur karena saya "normal". Saya bersyukur bisa menyaksikan adegan itu. Saya bersyukur karena itu membuat saya tersenyum dan menyadari bahwa saya harus bersyukur. Saya kemudian mengarahkan pandangan ke seluruh orang yang ada di gerbong kereta ini. Anak yang berbaring di bangku, anak2 kecil yang tertawa bersama orang tuanya, mas2 dan mbak2 yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing, bapak2 yang tertidur lelap. Pemandangan ini tampak biasa, tapi tidak bagi saya yang sudah lama tidak bisa 'menikmati' hal-hal biasa dalam keseharian saya.
Kesibukan, luka patah hati, stres pekerjaan, kejenuhan terhadap aktivitas dan kehidupan yang datang bertubi-tubi membuat saya hanya fokus pada 'apa yang tidak saya miliki', 'betapa menyakitkannya luka diri', hingga saya lupa kalau 'there's always beauty in every pain'.. It's kind of therapy by watching people..
Saya mematikan earphone saya, mencoba menyimak dan mendengar suara-suara yang hadir di sekeliling saya. Di samping saya dua ibu2 sedang mengobrol tentang keluarga mereka yang tinggal di tempat baru. Di depan saya, dua pasangan manula bergandengan tangan hangat saling menjaga. Mata saya berkaca-kaca. This is why I kinda love KRL with all its 'stories'. Tentu saja, tidak di jam sibuk haha.
Hati saya hangat. Terima kasih ya Allah. Saya tau perasaan ini belum sepenuhnya pulih. Saya tau suatu saat saya mungkin bersedih lagi. Tapi terima kasih sudah memberi saya kesempatan menyaksikan semua adegan ini.. Bimbing saya, rengkuh saya, dan lindungilah saya. Selalu...















