Banyak orang ga pengen jadi guru karena gajinya sedikit. Well, ini realita ya. Dulu kupikir hanya kabar burung belaka. Berdasarkan pengalaman yang mana background pendidikanku yang notabene kampus pencetak guru, yaa beneran kerasa "real" ketika lulus. Hanya segelintir dari teman-temanku yang memilih jalan hidupnya menjadi guru, dengan alasan gaji yang ditawarkan sedikit, mengingat kebutuhan hidup yang semakin tinggi.
Dulu aku sempet mikir gitu sebelum lulus, ga mau jadi guru, kalaupun harus jadi guru ya cukup informal aja dan bukan jadi pekerjaan utama. Bisa nyari dari keran utama lain, buat nambah penghasilan. Trus juga, aku ini nggak telaten orangnya, bukan tipe orang yang organized, jadinya ngerasa ga cocok kalau harus milih karir jadi guru.
Namun, setelah menapak tilas perjalananku semasa mahasiswi, jadi guru memang seru. Pertama kali ngajar jadi volunteer, trus iseng pengen ngelesin buat nambah uang jajan, dan nabung juga. Lama kelamaan kek semacam panggilan hati, ngerasa hampa kalo nggak ngajar. Pekerjaan seringkali datang sendiri tanpa kucari.
Dari pengalaman-pengalamanku mengajar, melihat realita pendidikan secara langsung, jadi semakin interest untuk andil dalam bidang pendidikan. Apalagi akutu paling gemas kalau ada murid yang susah diatur, atau males belajar, jadi kek tantangan sendiri buatku.
"Aku harus bisa bantu dia dan mengubahnya jadi lebih baik", pikirku dengan idealisme yang masih menyala-nyala wkwk.
Katingku juga pernah nasihatin, kalo passion itu bisa disadari ketika kita berani berjuang dan berkorban disana. Hooo, i see.
Pernah dulu dapet feedback dari atasan juga wali murid, kalau ada perubahan signifikan setelah aku andil mengajar. Pas denger malah menurutku kok berlebihan ya, kek nggak percaya aja. Dalam hati mikir, "oh, ternyata aku bisa ya jadi guru."
Akupun bertanya-tanya, masa sih aku cocok jadi guru? Wkwk. Akhirnya kucoba flashback sekitar tahun 2017, saat ikut test bakat diri dan kecerdasan. Ternyata kecerdasan interpersonalku paling unggul, sampai 92%. Nah, disini aku nemu benang merahnya, sebuah alasan kenapa aku bisa klik ketika mengajar. Aku seringkali memecahkan masalah di kelas dengan pendekatan interpersonal. Ketika aku mudah memahami orang lain, jadinya lebih mudah juga untuk menempatkan diri, juga ngasih treatment ke setiap individu anak.
Padahal kalo bahas telaten, sebenernya aku ngga telaten orangnya. Kalo dibilang sabar, aku juga bukan tipikal penyabar. Aku juga bukan orang yang rapi terhadap jadwal maupun data-data.
Kusadari, bahwa menjadi guru bukanlah sebuah keinginan semata, melainkan juga panggilan hati. Rasanya bisa sebahagia itu ketemu murid-murid yang polos dan seneng jugaaaa kalo dijadikan tempat curhat sama mereka. Pun aku juga belajar mendengar permasalahan keluarga yang dialami beberapa wali murid, yang bisa menjadi pelajaran berharga buatku.
Dulu awalnya ngerasa nggak pantes, ngerasa diri ini nggak layak untuk dijadikan teladan. Namun aku menyadari, bahwa menjadi guru sejatinya akupun juga belajar. Banyak sekali yang aku dapatkan dari berinteraksi dengan murid-muridku. Jadi guru pun akhirnya tambah pinter, karena dituntut untuk terus learn and grow sepanjang perjalanan.
Kalau kata salah satu mentorku, "Cukup menjadi sebuah selang yang berusaha menjadi baik, supaya bisa mengalirkan air yang bersih dan jernih."
Well, menjadi guru tidak harus di sekolah-sekolah ataupun dengan sistemasi yang transaksional. Bahkan siapapun yang kita kenal dan kita temui saja, bisa menjadi guru kita; memberikan banyak pelajaran yang tidak kita temui dalam buku-buku pelajaran.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu itu luas, dan jangan berhenti belajar hanya karena terbentur umur maupun status. Jangan pernah merasa terlambat untuk belajar hal-hal baru, juga upgrading kualitas diri.
Selamat menjadi guru bagi diri sendiri, bagi teman-teman, keluarga, juga orang-orang di sekitar kita!
Sidoarjo, 7 Februari 2021 | Pena Imaji