Alhamdulillah, 12 Agustus lalu telah lahir putra pertama kami yang diberi nama :
Gimana rasanya jadi ibu? Sesungguhnya, saya belum siap. Ketika sudah masuk ruang bersalin dan bidan nanya gimana mba din perasaannya, saya cuma mrimbik-mrimbik dan jawab belum siap.
Yang saya pikirkan ketika itu adalah deadline proyek padahal belum selesai. Kalau hamil, saya tidak repot jaga anak jadi bisa kerja. Kalau punya bayi mah, makan aja bisa lupa.
Ketika hamil, ada satu sisi dalam diri saya yang sedih karena akan kehilangan moment pacaran sama suami. Iya, sesungguhnya saya seposesif itu sama suami. Ketika anak ini lahir, rasanya alasan untuk sedih juga ada. Waktu kami terkuras untuk popok dan menyusui, di saat biasanya bisa kami lakukan untuk Hal lain yang menurut saya lebih berguna.
Saya kehilangan kebebasan-kebebasan Dan kesenangan, saya bingung karena terlalu banyak yang saya pikirkan antara anak Dan kerjaan. Disitulah saya merasa belum siap jadi ibu yang dewasa.
Support system saya, terutama suami, teramat bagus. Ibu, ipar-ipar, saudara, mertua, sampai ke tetangga, sangat suportif. Ga ada kalimat-kalimat atau perlakuan yang terlalu gimana sampai membuat saya stress. Semua kesetresan muncul karena pikiran sendiri akan hal-hal yang saya anggap penting padahal duniawi. Apa kabar ibu-ibu baru yang support systemnya jelek?
Kadang saya takut suami lelah karena saya banyak ngeluh. Ya bener sih melahirkan itu capeknya luar binasa. Badan, dari ujung kepala sampai ujung kaki berasa diperas kekuatannya. Badan kayak habis dipukulin, kayak menstruasi tapi sakitnya ratusan Kali lipat. Belum lagi tekanan ancaman perubahan bentuk tubuh jika tidak dijaga blablabla. Lelah ya jadi perempuan, udah mah melahirkan aja segitu capeknya, masih ditakuti dengan kebutuhan menjaga estetika tubuhnya. Sampai di titik capek saya dengan semua ketakutan itu, sering ada pikiran udahlah kalau suami mau cari yang masih bagus Dan belum ternoda oleh bentuk habis lahiran ini. Hahaha.
Eniwey, I can't through all this without him. Iya sih itu tanggung jawabnya, tapi ketelatenannya sepanjang jadi suami, lalu saya hamil dan manja nyebelin, dan puncaknya ketika saya melahirkan kemarin. Masyaa Allah, semoga dibalas Allah dengan membaiknya saya sebagai istri yang mendampingi.
To have his arms behind me while I'm in the middle of labor which is teramat sakiiit Dan udah mau nyerah minta sesar aja atau dipotong aja biar cepet lahirnya, dia adalah kekuatan tersendiri. Beneran yang kalau saya ngomong 'mas, udah ga kuat' terus dia cuma jawab klise 'kamu bisa', itu berasa yakin dan jadi mikir ’o iya, aku bisa sih ini'. Terus lanjut ngeden Dan tidur di sela-sela kontraksi hebat.
Ketika mau nyerah, 3 bidan yang masih pada gadis itu kasih semangat dengan menempelkan tangan saya pada kepala bayik yang udah mulai nongol. Masih sempet juga suami bilang, 'tuh rambutnya kayak aku loh, lebat', yang bikin seneng Dan semangat. Haha.
Perlu Kali ya bikin tulisan sendiri cerita proses lahiran.
Kadang, lihat muka Bilal tuh pingin nangis. Antara sebel dengan pola hidup baru tapi bersyukur bahwa bocah ini ditakdirkan lahir dari saya yang serba terbatas. Mukanya yang polos bikin saya sedih juga kenapa merasa stress ketika punya anak. Padahal banyak yang berharap punya anak tapi belum diberi, dimana bisa jadi mereka lebih siap.
Ah ya sudah, kalau mau ngeluh mah, pasti ada aja keluhan. Dijalanin aja, semoga diberi kekuatan Dan kematangan mental. Bersyukur diberi partner hidup yang jiwanya seperti itu. Semoga dibimbing untuk jadi istri Dan ibu yang lebih baik.