Aku sangat bersyukur atas rasa "bodo amat" yang Allah titipkan dalam diriku. Semakin bertambah usia, aku justru melihatnya sebagai salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan.
Bukan "bodo amat" yang membuatku tak peduli pada orang lain, melainkan yang membuatku tidak mudah ikut campur dalam hal-hal yang memang bukan urusanku. Ada rasa malas yang ternyata begitu menenangkan: malas mengurusi hidup orang lain yang tidak ada kaitannya dengan hidupku, malas mempercayai cerita yang belum jelas kebenarannya, malas mendengar hal-hal yang hanya berdasarkan asumsi, dan malas menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak membawa manfaat.
Rasanya hidup jadi jauh lebih ringan. Tidak semua hal harus diketahui, tidak semua pembicaraan harus diikuti, dan tidak semua pendapat harus ditanggapi. Cukup fokus memperbaiki diri, menjaga hati, dan menjalani apa yang memang Allah amanahkan untukku.
Semoga Allah menjaga sifat ini agar tetap berada pada tempatnya—menjadikannya benteng dari prasangka, gibah, dan hal-hal yang sia-sia, tanpa menghilangkan rasa peduli pada sesama ketika memang dibutuhkan.











