Saya telah membaca banyak buku tetapi melupakan sebagian besar dari mereka. Apa tujuan membaca?
Suatu ketika saya tengah duduk termenung di sudut ruangan marbot masjid dengan tumpukan banyak buku dan berserakan penuh tak beraturan. Itu kebiasaan baru saya semenjak jatuh hati dengan buku. Setiap bulan sekali selalu diusahakan untuk menyisihkan uang hanya untuk berbelanja buku. Entahlah, itu seperti sebuah ritual bulanan. Padahal masih banyak buku yang belum saya tuntaskan. Itu minusnya, jarang sekali menyelesaikan satu buku full kecuali novel, seringnya meloncat-loncat dari satu buku kepada buku yang lain.
Dalam keluarga, mungkin hanya saya yang senang sekali membaca buku, tiap kali ada paket datang, seringkali ditebak oleh ibu, pasti itu buku. Tapi berselang waktu kemudian saya sadari ternyata terhadap hal yang saya senangi saya tetap bisa merasakan kejenuhan juga ya. Haha tapi nampaknya saya tidak benar-benar kehilangan kesenangan saya terhadap sesuatu, cuma mungkin saya perlu mencari hal lain dari yang biasanya. Dan dalam membaca, mungkin di bacaan terakhir saya menemui kejenuhan, saya sepertinya hanya perlu mencari bacaan lain yang lebih menarik.
Di satu sisi saya telah membaca banyak buku, tetapi saya tidak ingat penuh dengan hal yang berada dalam buku itu sampai saya melupakan sebagian dari mereka sampai pada munculnya suatu pertanyaan.
Apa tujuan dari membaca jika tidak bisa mengingat apa yang telah dibaca?
Pertanyaan yang tiba-tiba muncul acapkali saya sedang membaca, tidak jarang juga akibat pertanyaan itu, bacaan saya jadi berhenti, seolah di sibukkan dengan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Dan memakan waktu lama mencarinya, hingga akhirnya saya mencoba menanyakan hal itu pada guru-guru saya.
Tapi anehnya bukan jawaban yang di dapat, guru memberikan saya sebuah saringan yang sangat kotor dan dalam kondisi yang buruk. Dan meminta saya untuk membawa air dari sumur dan memindahkannya ke tempat penampungan menggunakan saringan ini. Saya sebenarnya tidak suka, tapi apa boleh buat, saya tak kuasa menolak permintaan apalagi dari seorang guru.
Kemudian saya mencoba mengisi saringan dengan air dan mencoba mengisinya perlahan. Tentu hal ini sulit karena tak kunjung penuh dan memakan banyak waktu, ditambah penampungannya yang cukup besar. Lantas saya menyerah dan tak mampu menyelesaikan tugas itu.
Saya kembali menemui guru saya dengan kondisi basah dan wajah semrawut, ditambah rasanya sedikit sedih sambil berkata,
“Saya tidak bisa mengisi penampungan menggunakan saringan ini, maaf guru saya telah gagal.”
Guru hanya menatap sambil tersenyum kepada saya seolah tidak ada kesan bahwa saya telah melakukan kesalahan. Dan beliau berkata,
“Kamu tidak gagal di, coba tengok saringannya. Sadar atau tidak, saringan ini yang awalnya saya berikan dengan kondisi yang sangat kotor, kini berubah menjadi lebih bersih sebab kamu gunakan untuk memindahkan air. Sebelum itu kamu bertanya apa tujuan dari membaca jika tidak bisa mengingat apa yang telah dibaca. Sekarang ambil pelajaran dari saringan ini. Saringan ibarat pikiran, air adalah pengetahuan, sedang sumur adalah buku. Meskipun kamu tidak bisa mengingatnya itu bukan jadi masalah. Tetapi, membaca pasti akan membuat pikiran kita menjadi tajam di.”
Mulai detik itu, saya menyadari bahwa membaca punya dampak yang mendalam di dalam pikiran dan otak. Meskipun saya sudah membaca ratusan buku sampai sekarang dan tidak ingat betul semua hal yang didalam buku itu. Tetapi, saya tentu tau bahwa saya lebih baik dari sebelumnya dan karena itu saya akan terus membaca.
Tangerang, 25 Juni 2020 | 14.00 WIB
Baik, aku jadi ngga merasa bersalah amat lupa banyak isi buku :b
Terjawab sudahhhh..
Deep~

















