Ada perbedaan cara keluarga gw dan suami dalam berkomunikasi soal mimpi kepada anak-anaknya. Kalau di gw, mentalnya mental pegawai, kalau belum kerja yaaaaa jangan mimpi beli rumah apalagi pesawat. Pingin mimpi tinggi ya harus tahu risiko dan dananya seberapa besar. Realistis sih, tapi kadang gw merasa down dengan itu lalu menutup diri dari keinginan cerita soal cita-cita karena takut dibuat pesimis. Kalau di keluarga suami berbeda, kadang dilebih-lebihin ditambah bercandaan supaya semangat.
Otomatis untuk pembicaraan kami berdua mengelola keluarga juga terjadi asimilasi dong dengan dua habit yang berbeda ini.
Ketika pertama kali kumpul di Bandung, kami kos di Dipati Ukur, dan hanya bisa kos 3 bulan karena setelah itu harus bayar tahunan. Karena kami gamau bayar setahun sebab bisa pergi dari Bandung kapan saja, kami memutuskan pindah, mencari kontrakan yang lebih proper.
Waktu itu nemu kontrakan yang oke, tapi kos kami masih 2 bulan lagi, sehingga gak mungkin minta pemilik kontrakan baru ini untuk menunggu. Dia rugi dong. Sementara kami sudah sreg dengan kontrakan itu. Bismillah, dengan niat gamau merugikan, gw bilang ke yang punya kontrakan,
“mangga Teh, ke yang lain dulu aja. Kami masih butuh 2 bulan lagi, bisi nanti merugikan. Kalau rejeki kami mah insyaa Allah ntar bakal tinggal disitu.”
Qodarullah, kontrakan itu laku, ditempati sama pengantin baru. Lalu menjelang kami harus pindah, kami sendiri belum dapat kontrakan baru. Qodarullah lagi, si Teteh yang punya kontrakan nge-WA, bilang yang ngontrak waktu itu udah pindah soalnya yang perempuan lagi hamil muda jadi pingin tinggal sama orang tuanya. Jadilah kontrakan itu rejeki kami sampe harus pindah dari Bandung.
Dari pengalaman itu, gw belajar betul bahwa apa yang jadi rejeki kami ga akan kemana, bagaimanapun caranya. Gw jadi ikutan suami suka cek grup FB soal jual beli tanah dan rumah, jual beli mobil, walaupun uangnya belum cukup. Dulu ketika suami belum suka game HP gak penting sama nonton anime di kasur, kami sering tiduran sambil lihat-lihat grup kayak gitu. Terus milih-milih, mana ya rumah yang oke, mana ya mobil yang oke. Terus kind of excited gitu, sambil berdoa semoga segera dicukupkan, kami milih - milih seakan uangnya sudah cukup.
Kalau ada rumah oke yang belum laku-laku, kadang gw berdoa, “ih jangan-jangan ini rumah rejeki kita, siapa tahu ga bakal laku sampe uang kita cukup.” Kalau ada mobil oke dengan harga realistis pun, kami jadi semangat ngumpulin uang seharga itu, gw jadi semangat mencatat setiap rupiah yang bisa ditabung sambil berdoa semoga segera dicukupkan. Kalau lihat ide desain rumah yang asik, kami jadi semangat mau menerapkan seakan udah mau bangun rumah aja.
Keyakinan kalau rejeki ga akan kemana, membuat realita dan hitungan yang seakan gak masuk akal itu tidak membuat down. Di sisi lain, pengetahuan soal kondisi di luar sana, membuat keyakinan dibarengi dengan ikhtiar fisik yang realistis.
Semoga kita semua yang sedang mengupayakan sesuatu yang baik, diberikan semangat dan keyakinan sama Allah sekaligus keridhoan jika hal itu belum kita dapatkan. Ingat-ingat saja terus, yang ditakdirkan jadi rejeki kita, ga akan kemana.